Metal

Noddy Holder Mengulas Lagu Oasis hingga Smashing Pumpkins dalam Arsip 1996

Published

on

Mantan vokalis grup musik legendaris Slade, Noddy Holder, dikenal luas sebagai salah satu ikon budaya pop Inggris paling berpengaruh lewat vokal lantangnya. Namun, tidak banyak publik yang mengetahui bahwa sosok penyanyi glam rock era 1970-an ini ternyata memiliki ketertarikan mendalam terhadap kancah musik indie dan alternative rock era 1990-an. Hal ini terungkap kembali dari arsip majalah musik Inggris ternama yang telah tutup, Select, edisi Maret 1996 saat Holder diundang untuk menjadi pengulas rilisan lagu tunggal (single) dari berbagai band ternama pada masa itu.

Dalam sesi ulasan tersebut, vokalis yang terkenal dengan teriakan ikoniknya dalam lagu natal klasik “Merry Xmas Everybody” ini memberikan penilaian jujur terhadap karya-karya band besar. Beberapa nama yang mendapat sorotan Holder di antaranya adalah Oasis, Smashing Pumpkins, Red Hot Chili Peppers, The Flaming Lips, Nick Cave bersama PJ Harvey, hingga band shoegaze/britpop Lush. Ulasannya tidak hanya segar, tetapi juga menunjukkan keterbukaan telinganya terhadap eksplorasi genre musik baru yang tengah populer di pertengahan dekade 90-an.

Pujian untuk Oasis dan Kekaguman pada Smashing Pumpkins

Salah satu ulasan yang paling menarik perhatian adalah ketika Noddy Holder menilai penampilan band raksasa Britpop, Oasis. Pada waktu itu, Oasis baru saja merilis lagu daur ulang dari karya klasik Slade berjudul “Cum On Feel The Noize” sebagai trek sisi-B (B-side) untuk single hits mereka, “Don’t Look Back In Anger”. Holder tidak ragu melayangkan pujian hangat dan menyebut versi Oasis sangat luar biasa. Ia bahkan terhibur dengan aksi Noel dan Liam Gallagher yang menirukan aksen khas wilayah Black Country tempat Slade berasal. Baginya, penghormatan dari band generasi baru tersebut adalah bentuk pengakuan atas warisan musik glam rock 1970-an.

Namun, kejutan terbesar muncul ketika Holder mengulas karya unit alternative rock asal Amerika Serikat, Smashing Pumpkins. Saat diminta mendengarkan single “1979” yang diambil dari album ganda mahakarya mereka, Mellon Collie and the Infinite Sadness (1995), Holder secara terbuka mengaku sudah memiliki album tersebut di rumahnya. Ia sangat mengagumi struktur musik unik karya Billy Corgan dan kawan-kawan yang dinilainya tidak bisa dikotak-kotakkan ke dalam satu genre saja.

Menurut Holder, lagu “1979” bukanlah tipe rekaman yang dirancang hanya untuk diputar di radio-radio komersial arus utama. Musik Smashing Pumpkins memiliki kedalaman eksperimental yang tinggi, di mana pendengar akan selalu menemukan nuansa atau detail suara baru setiap kali mendengarkannya berulang kali. Keterbukaan musisi veteran seperti Holder terhadap aransemen modern yang kompleks ini membuktikan betapa luasnya wawasan musik sang vokalis legendaris.

Ulasan Jujur untuk Red Hot Chili Peppers, Nick Cave, dan Pengakuan bagi Lush

Komentar Holder terhadap grup asal Los Angeles, Red Hot Chili Peppers, terasa sedikit lebih kritis. Saat mendengarkan lagu “Aeroplane” dari album One Hot Minute—album yang kala itu menghadirkan gitaris Dave Navarro—Holder mengaku kurang terkesan. Ia merasa lagu funk rock tersebut bergerak agak tidak terarah, meskipun ia tetap menghargai upaya eksplorasi musik yang dilakukan oleh Flea dan kawan-kawan. Komentar serupa juga diberikan kepada band garage rock Rocket From The Crypt lewat lagu “Born In ’69”, di mana Holder menilai mereka masih membutuhkan lebih banyak waktu untuk berkembang.

Sebaliknya, nada positif kembali mengalir saat Holder mendengarkan lagu kolaborasi penuh nuansa gelap antara Nick Cave dan PJ Harvey berjudul “Henry Lee”. Lagu bergenre murder ballad tersebut dinilainya memiliki keindahan puitis yang mirip dengan karya-karya penyair legendaris Leonard Cohen. Holder bahkan menyatakan ketertarikannya untuk menyaksikan video musik dari lagu yang penuh atmosfer misterius itu.

Salah satu momen paling menggelitik terjadi ketika ia mendengarkan lagu eksentrik “This Here Giraffe” milik band eksperimental The Flaming Lips. Terpesona oleh keanehan struktur musiknya, Holder memberikan komentar jenaka yang sangat terkenal: “Apa pun obat yang sedang mereka konsumsi, saya minta sedikit!” Ungkapan tersebut menggambarkan betapa musik psikadelik 90-an mampu mengejutkan seorang veteran musik 70-an.

Meski mengulas banyak nama besar, penghargaan tertinggi berupa predikat Single of the Month justru jatuh kepada grup indie pop/shoegaze asal Inggris, Lush, lewat lagu mereka yang berjudul “Ladykillers”. Holder memuji struktur lagu yang adiktif dan mengaku akan terus menyanyikan melodi lagu tersebut hingga beberapa pekan ke depan. Ia memberikan catatan khusus pada penggunaan tepukan tangan (handclaps) di bagian tengah lagu, yang menurutnya merupakan elemen klasik yang tidak pernah gagal mempercantik sebuah lagu pop.

Warisan Slade dan Pengaruh Glam Rock pada Musik Alternatif 90-an

Interaksi antara Noddy Holder dan kancah musik alternatif 1990-an ini menegaskan posisi Slade sebagai salah satu grup musik paling berpengaruh dalam sejarah rock Britania Raya. Dibentuk pada akhir 1960-an, Slade mendominasi tangga lagu Inggris sepanjang dekade 1970-an dengan lagu-lagu hits yang energetik, lirik yang menangkap semangat kaum muda, serta gaya panggung yang eksentrik. Pengaruh mereka tidak hanya terasa di Inggris melalui gerakan Britpop seperti Oasis dan Blur, tetapi juga merambah hingga ke kancah musik Amerika Serikat.

Banyak pengamat musik mencatat bahwa grup-grup rock besar dunia, mulai dari band heavy metal Quiet Riot—yang meraih kesuksesan global lewat lagu daur ulang “Cum On Feel The Noize”—hingga tokoh-tokoh gerakan grunge seperti Kurt Cobain dari Nirvana, secara terbuka mengakui Slade sebagai salah satu inspirasi utama mereka. Energi mentah, struktur melodi yang kuat, serta keberanian untuk tampil beda menjadikan musik Slade sebagai fondasi penting bagi perkembangan berbagai subgenre rock di masa setelahnya.

Sikap ramah dan mengapresiasi musik generasi muda yang ditunjukkan oleh Noddy Holder dalam arsip majalah Select tahun 1996 tersebut menjadi contoh bagaimana seorang musisi senior menghargai evolusi seni suara. Hingga hari ini, ulasan sejarah tersebut tetap menjadi kenangan manis dan menggelitik dalam sejarah jurnalisme musik dunia, menunjukkan bahwa kecintaan terhadap musik berkualitas tidak pernah terbatas oleh perbedaan generasi atau batasan genre.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version