Musik
Kumiscacing Merilis Singel Giant Fish untuk Gambarkan Kisah Merantau
Proyek musik solo asal Jambi, Kumiscacing, yang dimotori oleh musisi berbakat Ahmad Hanif, secara resmi telah merilis singel terbaru mereka yang bertajuk “Giant Fish”. Karya teranyar ini resmi meluncur ke berbagai platform pemutar musik digital pada tanggal 23 Agustus lalu. Melalui lagu ini, Kumiscacing mencoba membawa para pendengar menyelami sebuah narasi yang sangat personal mengenai hubungan keluarga, memori masa lalu, serta esensi dari perjalanan merantau.
Lagu “Giant Fish” tidak hanya sekadar menjadi media ekspresi musikal bagi Ahmad Hanif, melainkan juga sebuah jembatan yang menghubungkan kisah personal keluarganya dengan sejarah migrasi yang jauh lebih besar. Menariknya, karya ini berhasil mengaitkan pengalaman perpindahan geografis sang kakek dan nenek dengan teori migrasi besar bangsa Austronesia yang menjadi cikal bakal masyarakat di Nusantara.
Menghubungkan Memori Keluarga dengan Migrasi Austronesia
Meskipun gagasan mengenai keterkaitan dengan migrasi bangsa Austronesia baru disadari dan muncul setelah seluruh proses produksi lagu “Giant Fish” selesai, Ahmad Hanif menemukan adanya benang merah yang sangat kuat. Ia merasakan adanya kesamaan semangat perjuangan antara kisah yang ingin ia sampaikan melalui lirik lagu tersebut dengan sejarah perpindahan manusia pada masa lampau.
Dalam sebuah kesempatan wawancara, Ahmad menjelaskan bahwa melalui “Giant Fish”, ia sebenarnya sedang menceritakan kisah perjalanan hidup kakek dan neneknya kepada sang buah hati yang bernama Bestari. Kisah tersebut berfokus pada bagaimana para leluhurnya memutuskan untuk merantau dari sebuah daerah terpencil demi menuju ke Jambi untuk menyambung hidup dan mencari masa depan yang lebih baik. Bagi Ahmad, konsep migrasi ini kemudian menemukan relevansinya yang lebih luas ketika disandingkan dengan sejarah migrasi bangsa Austronesia, yang sering kali disebut sebagai jawaban ilmiah atas asal-usul keberadaan bangsa Melayu di wilayah Jambi.
Konsep merantau atau hijrah memang telah lama menjadi bagian integral dari kebudayaan masyarakat di Sumatra dan Indonesia secara umum. Melalui lagu ini, Kumiscacing berhasil menangkap esensi emosional dari perpindahan tersebut—sebuah keputusan besar yang penuh dengan ketidakpastian, harapan, sekaligus kerinduan akan tanah kelahiran yang ditinggalkan demi kehidupan yang baru.
Eksplorasi Musikalitas yang Lebih Bebas dan Berisik
Dari segi musikalitas, “Giant Fish” menawarkan sajian yang cukup unik dan berbeda dari karya-karya Kumiscacing terdahulu. Lagu ini menghadirkan perpaduan yang berani antara ketukan polyrhythm yang kompleks dengan pengaruh musik blues yang kental, semuanya dibalut dalam estetika distorsi dan bunyi-bunyian bising yang berkarakter. Eksperimen suara ini memberikan dimensi emosional yang lebih dalam, seolah menggambarkan hiruk-pikuk dan dinamika perjalanan merantau itu sendiri.
Proses kreatif di balik pembuatan lagu ini juga menandai adanya perubahan metode kerja yang signifikan bagi Ahmad Hanif. Berbeda dengan proyek-proyek sebelumnya di mana ia terbiasa menulis dan merekam lagu bersama dengan format grup, pengerjaan “Giant Fish” kali ini memberikan ruang eksplorasi yang jauh lebih personal dan mandiri bagi dirinya.
Ahmad mengakui bahwa formula perekaman kali ini memakan waktu yang cukup lama justru karena ia memiliki kebebasan penuh untuk mengutak-atik aransemen lagu sesuai dengan visi idealisnya. Proses yang panjang dan intim ini pada akhirnya melahirkan karakter suara yang lebih matang, organik, dan penuh dengan detail-detail eksperimental yang mungkin tidak akan muncul jika dikerjakan dalam tekanan waktu atau kompromi kelompok.
Apresiasi terhadap Kolektif Musik Lokal Jambi
Di samping berbicara mengenai karya pribadinya, Ahmad Hanif juga memberikan perhatian khusus terhadap perkembangan ekosistem musik di tanah kelahirannya, Jambi. Ia menyoroti pentingnya keberadaan kolektif lokal yang aktif bergerak dalam mewadahi serta mendokumentasikan talenta-talenta baru di daerah tersebut. Salah satu nama yang ia sebut memiliki peran krusial adalah kolektif bernama Budak Ceka Ceka.
Menurut Ahmad, Budak Ceka Ceka bukan sekadar penyelenggara acara musik biasa, melainkan sebuah wadah yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kerja-kerja pengarsipan musik. Pengarsipan dinilai sangat penting agar sejarah perkembangan musik lokal tidak hilang begitu saja dan dapat diakses oleh generasi mendatang. Ia pun menaruh harapan besar agar kolektif-kolektif seperti ini dapat terus eksis dan kembali aktif menggelar berbagai kegiatan kreatif di masa depan.
Kini, singel “Giant Fish” sudah dapat dinikmati oleh para pencinta musik di seluruh Indonesia melalui berbagai layanan penyiaran musik digital. Melalui perilisan ini, Kumiscacing tidak hanya menyuguhkan sebuah komposisi audio yang memikat, tetapi juga sebuah refleksi mendalam tentang identitas, sejarah keluarga, dan bagaimana memori kolektif masa lalu akan selalu hidup berdampingan dengan realitas masa kini.