Jazz

Noah Gilrandy Menghadirkan Workshop Jazz Piano di Festival JAKSTRINGS 2026

Published

on

Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan ekosistem musik tanah air dengan menggelar Chamber Music Festival 2026 yang bertajuk “JAKSTRINGS”. Festival musik kamar yang dinantikan ini dijadwalkan berlangsung pada tanggal 28 hingga 30 Agustus 2026 di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Mengusung tema besar “Tiga Generasi, Satu Resonansi”, rangkaian program ini dirancang untuk mempertemukan berbagai pendekatan artistik terhadap instrumen bersenar sekaligus membuka ruang dialog yang hangat antara musik, pengalaman estetis, dan lintas generasi.

Salah satu agenda utama yang paling menarik perhatian publik dan komunitas musik adalah sesi workshop piano bersama musisi berbakat Noah Gilrandy Revevalin. Sesi edukatif dan interaktif ini akan diselenggarakan pada hari terakhir festival, yaitu Minggu, 30 Agustus 2026, mulai pukul 14.00 hingga 17.00 WIB. Kehadiran Noah dalam festival ini diharapkan mampu memberikan warna baru dan memperluas cakrawala pemahaman peserta mengenai aplikasi instrumen piano dalam berbagai genre musik.

Profil dan Rekam Jejak Musikal Noah Gilrandy Revevalin

Bagi Noah Gilrandy Revevalin, piano bukan sekadar instrumen musik biasa, melainkan sebuah medium ekspresi yang telah menyatu dengan perjalanan hidupnya. Sebagai seorang pianis dan musisi profesional, ia memiliki rekam jejak yang sangat solid di bidang musik, khususnya dalam genre jazz dan pop. Noah merupakan lulusan Sarjana Seni Musik dengan spesialisasi Musik Jazz dan Pop dari Universitas Pelita Harapan (UPH). Latar belakang akademis yang kuat ini ia padukan dengan keterlibatan aktif dalam berbagai pertunjukan panggung, kompetisi bergengsi, sesi rekaman studio, hingga proses produksi musik di balik layar.

Perjalanan musikal Noah sebenarnya telah terpupuk sejak usia yang sangat muda. Ia menempuh pendidikan musik formal dan nonformal melalui institusi-institusi ternama seperti Yamaha Music Foundation, Aminoto Kosin Music School, dan D’Jazz Music School. Dedikasi dan kerja kerasnya sejak dini membuahkan berbagai prestasi gemilang di kancah nasional. Beberapa pencapaian penting dalam karier kompetisinya antara lain meraih gelar juara dalam Festival Musik Joy 2006 untuk kategori piano solo, serta berhasil keluar sebagai pemenang utama dalam ajang MLD Dare2Perform Season 4 untuk kategori pianis.

Tidak berhenti di situ, Noah juga menunjukkan konsistensinya di panggung kompetisi jazz lainnya. Ia tercatat pernah menjadi runner-up finalis dalam ajang MLD Jazz Wanted pada tahun 2017 dan 2018, masing-masing bersama grup Six Kind dan Quick Sensation. Selain itu, ia juga sukses menyabet juara kedua dalam kompetisi bergengsi Jazz Goes To Campus (JGTC) pada tahun 2016 saat tampil bersama Kryamana Trio. Rentetan prestasi ini membuktikan kapasitas Noah sebagai salah satu pianis muda yang patut diperhitungkan di industri musik Indonesia.

Konsep JAKSTRINGS dan Eksplorasi Bunyi Lintas Generasi

Kehadiran Noah Gilrandy Revevalin dalam festival JAKSTRINGS 2026 menjadi sebuah kolaborasi yang sangat menarik. Festival ini tidak hanya memandang piano sebagai instrumen mekanis semata, melainkan sebagai sebuah alat yang dinamis untuk menemukan konteks sosial dan bahasa musikal yang baru. Nama JAKSTRINGS sendiri merupakan sebuah perpaduan kreatif dari kata “Jakarta” dan “Strings” (senar). Dalam konsep kuratorialnya, Jakarta tidak hanya diposisikan sebagai tempat penyelenggaraan acara secara geografis, melainkan sebagai ruang peleburan bagi berbagai gagasan, pelaku seni, dan perkembangan musik kontemporer.

Sementara itu, istilah “strings” atau senar dipahami secara lebih luas dan filosofis. Senar tidak hanya merujuk pada fisik dawai, melainkan sebagai medium yang memiliki karakter getaran yang khas, tekstur suara yang kaya, resonansi yang mendalam, serta membuka kemungkinan yang tak terbatas untuk eksplorasi bunyi baru. Meskipun program utama JAKSTRINGS tahun ini memberikan fokus yang cukup besar pada instrumen cello dan gitar enam senar, kehadiran instrumen piano dalam rangkaian program ini memberikan perspektif pelengkap yang sangat kaya.

Piano, yang secara teknis juga menghasilkan suara melalui getaran senar di dalamnya, memiliki sejarah panjang yang melintasi berbagai era musik, mulai dari musik klasik Barat, jazz, pop, hingga bentuk-bentuk musik kontemporer eksperimental. Dalam konteks workshop yang dipandu oleh Noah, instrumen piano akan menjadi pintu masuk yang ideal untuk mendiskusikan teknik permainan, kedalaman musikalitas, seni improvisasi, sekaligus berbagi pengalaman praktis dalam bermain musik secara kolektif maupun solo.

Membangun Jembatan Musik Kontemporer dan Perspektif Nusantara

Sebelum sesi workshop piano bersama Noah dilangsungkan, JAKSTRINGS 2026 telah menyiapkan serangkaian program menarik lainnya yang memperlihatkan pendekatan berbeda terhadap musik instrumen bersenar. Pada hari pertama, Jumat, 28 Agustus 2026, penonton disuguhi penampilan dari musisi senior Asep Hidayat yang menghadirkan lecture performance serta pertunjukan solo cello yang memukau. Keesokan harinya, Sabtu, 29 Agustus 2026, giliran Hery Budiawan bersama komunitas Jakarta Enam Senar yang tampil membagikan ilmu melalui lecture performance dan pertunjukan ansambel gitar yang harmonis.

Rangkaian kegiatan edukatif dan performatif tersebut kemudian ditutup secara apik pada hari Minggu melalui workshop piano interaktif bersama Noah. Ketiga program utama ini secara jelas merefleksikan gagasan besar JAKSTRINGS mengenai pentingnya perjumpaan lintas generasi dan keberagaman pendekatan musikal. Di satu sisi terdapat pengalaman panjang dalam pengembangan musik kontemporer, di sisi lain ada eksplorasi instrumen dan ansambel yang segar, serta tersedianya ruang pembelajaran inklusif yang mempertemukan para musisi profesional langsung dengan publik pecinta musik.

Menurut penjelasan dari Ketua Komite Musik DKJ, Muhammad Taufiq, pelaksanaan program JAKSTRINGS ini berangkat dari sebuah kesadaran kolektif mengenai kondisi musik kontemporer di tanah air. Ia mengungkapkan bahwa karya-karya musik kontemporer Indonesia, khususnya yang ditulis untuk instrumen bersenar solo maupun ansambel, saat ini masih memiliki ruang pertunjukan yang relatif terbatas. Selain itu, karya-karya berharga tersebut juga belum terdokumentasikan secara utuh dan sistematis dalam sebuah kerangka kuratorial yang mapan dan berkelanjutan.

Senada dengan hal tersebut, Mellody Arben selaku PIC Chamber Music Festival 2026 menekankan pentingnya reposisi instrumen musik dalam konteks lokal. Menurut Mellody, instrumen seperti cello, gitar, dan piano tidak boleh hanya dipandang sebagai instrumen Barat yang melulu memainkan repertoar klasik Barat yang kaku. Sebaliknya, instrumen-instrumen global tersebut harus mampu diadopsi menjadi medium yang dinamis untuk membaca, menafsirkan, dan memperkaya khazanah serta pengalaman musikal Nusantara yang sangat kaya dan beragam.

Melalui penyelenggaraan JAKSTRINGS 2026 dan kehadiran para mentor berpengalaman seperti Noah Gilrandy Revevalin, Dewan Kesenian Jakarta berharap dapat terus memicu lahirnya karya-karya baru yang inovatif. Festival ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang unjuk gigi para musisi, tetapi juga menjadi pemantik diskusi yang produktif bagi perkembangan musik kamar di Indonesia. Dengan demikian, resonansi musik yang dihasilkan dari festival ini dapat terus bergema dan menginspirasi generasi musisi masa depan untuk terus mengeksplorasi batas-batas kreativitas mereka.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version