Connect with us

Jazz

Noah Gilrandy Menghadirkan Workshop Jazz Piano di Festival JAKSTRINGS 2026

Published

on

Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan ekosistem musik tanah air dengan menggelar Chamber Music Festival 2026 yang bertajuk “JAKSTRINGS”. Festival musik kamar yang dinantikan ini dijadwalkan berlangsung pada tanggal 28 hingga 30 Agustus 2026 di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Mengusung tema besar “Tiga Generasi, Satu Resonansi”, rangkaian program ini dirancang untuk mempertemukan berbagai pendekatan artistik terhadap instrumen bersenar sekaligus membuka ruang dialog yang hangat antara musik, pengalaman estetis, dan lintas generasi.

Salah satu agenda utama yang paling menarik perhatian publik dan komunitas musik adalah sesi workshop piano bersama musisi berbakat Noah Gilrandy Revevalin. Sesi edukatif dan interaktif ini akan diselenggarakan pada hari terakhir festival, yaitu Minggu, 30 Agustus 2026, mulai pukul 14.00 hingga 17.00 WIB. Kehadiran Noah dalam festival ini diharapkan mampu memberikan warna baru dan memperluas cakrawala pemahaman peserta mengenai aplikasi instrumen piano dalam berbagai genre musik.

Profil dan Rekam Jejak Musikal Noah Gilrandy Revevalin

Bagi Noah Gilrandy Revevalin, piano bukan sekadar instrumen musik biasa, melainkan sebuah medium ekspresi yang telah menyatu dengan perjalanan hidupnya. Sebagai seorang pianis dan musisi profesional, ia memiliki rekam jejak yang sangat solid di bidang musik, khususnya dalam genre jazz dan pop. Noah merupakan lulusan Sarjana Seni Musik dengan spesialisasi Musik Jazz dan Pop dari Universitas Pelita Harapan (UPH). Latar belakang akademis yang kuat ini ia padukan dengan keterlibatan aktif dalam berbagai pertunjukan panggung, kompetisi bergengsi, sesi rekaman studio, hingga proses produksi musik di balik layar.

Perjalanan musikal Noah sebenarnya telah terpupuk sejak usia yang sangat muda. Ia menempuh pendidikan musik formal dan nonformal melalui institusi-institusi ternama seperti Yamaha Music Foundation, Aminoto Kosin Music School, dan D’Jazz Music School. Dedikasi dan kerja kerasnya sejak dini membuahkan berbagai prestasi gemilang di kancah nasional. Beberapa pencapaian penting dalam karier kompetisinya antara lain meraih gelar juara dalam Festival Musik Joy 2006 untuk kategori piano solo, serta berhasil keluar sebagai pemenang utama dalam ajang MLD Dare2Perform Season 4 untuk kategori pianis.

Tidak berhenti di situ, Noah juga menunjukkan konsistensinya di panggung kompetisi jazz lainnya. Ia tercatat pernah menjadi runner-up finalis dalam ajang MLD Jazz Wanted pada tahun 2017 dan 2018, masing-masing bersama grup Six Kind dan Quick Sensation. Selain itu, ia juga sukses menyabet juara kedua dalam kompetisi bergengsi Jazz Goes To Campus (JGTC) pada tahun 2016 saat tampil bersama Kryamana Trio. Rentetan prestasi ini membuktikan kapasitas Noah sebagai salah satu pianis muda yang patut diperhitungkan di industri musik Indonesia.

Konsep JAKSTRINGS dan Eksplorasi Bunyi Lintas Generasi

Kehadiran Noah Gilrandy Revevalin dalam festival JAKSTRINGS 2026 menjadi sebuah kolaborasi yang sangat menarik. Festival ini tidak hanya memandang piano sebagai instrumen mekanis semata, melainkan sebagai sebuah alat yang dinamis untuk menemukan konteks sosial dan bahasa musikal yang baru. Nama JAKSTRINGS sendiri merupakan sebuah perpaduan kreatif dari kata “Jakarta” dan “Strings” (senar). Dalam konsep kuratorialnya, Jakarta tidak hanya diposisikan sebagai tempat penyelenggaraan acara secara geografis, melainkan sebagai ruang peleburan bagi berbagai gagasan, pelaku seni, dan perkembangan musik kontemporer.

Sementara itu, istilah “strings” atau senar dipahami secara lebih luas dan filosofis. Senar tidak hanya merujuk pada fisik dawai, melainkan sebagai medium yang memiliki karakter getaran yang khas, tekstur suara yang kaya, resonansi yang mendalam, serta membuka kemungkinan yang tak terbatas untuk eksplorasi bunyi baru. Meskipun program utama JAKSTRINGS tahun ini memberikan fokus yang cukup besar pada instrumen cello dan gitar enam senar, kehadiran instrumen piano dalam rangkaian program ini memberikan perspektif pelengkap yang sangat kaya.

Piano, yang secara teknis juga menghasilkan suara melalui getaran senar di dalamnya, memiliki sejarah panjang yang melintasi berbagai era musik, mulai dari musik klasik Barat, jazz, pop, hingga bentuk-bentuk musik kontemporer eksperimental. Dalam konteks workshop yang dipandu oleh Noah, instrumen piano akan menjadi pintu masuk yang ideal untuk mendiskusikan teknik permainan, kedalaman musikalitas, seni improvisasi, sekaligus berbagi pengalaman praktis dalam bermain musik secara kolektif maupun solo.

Membangun Jembatan Musik Kontemporer dan Perspektif Nusantara

Sebelum sesi workshop piano bersama Noah dilangsungkan, JAKSTRINGS 2026 telah menyiapkan serangkaian program menarik lainnya yang memperlihatkan pendekatan berbeda terhadap musik instrumen bersenar. Pada hari pertama, Jumat, 28 Agustus 2026, penonton disuguhi penampilan dari musisi senior Asep Hidayat yang menghadirkan lecture performance serta pertunjukan solo cello yang memukau. Keesokan harinya, Sabtu, 29 Agustus 2026, giliran Hery Budiawan bersama komunitas Jakarta Enam Senar yang tampil membagikan ilmu melalui lecture performance dan pertunjukan ansambel gitar yang harmonis.

Rangkaian kegiatan edukatif dan performatif tersebut kemudian ditutup secara apik pada hari Minggu melalui workshop piano interaktif bersama Noah. Ketiga program utama ini secara jelas merefleksikan gagasan besar JAKSTRINGS mengenai pentingnya perjumpaan lintas generasi dan keberagaman pendekatan musikal. Di satu sisi terdapat pengalaman panjang dalam pengembangan musik kontemporer, di sisi lain ada eksplorasi instrumen dan ansambel yang segar, serta tersedianya ruang pembelajaran inklusif yang mempertemukan para musisi profesional langsung dengan publik pecinta musik.

Menurut penjelasan dari Ketua Komite Musik DKJ, Muhammad Taufiq, pelaksanaan program JAKSTRINGS ini berangkat dari sebuah kesadaran kolektif mengenai kondisi musik kontemporer di tanah air. Ia mengungkapkan bahwa karya-karya musik kontemporer Indonesia, khususnya yang ditulis untuk instrumen bersenar solo maupun ansambel, saat ini masih memiliki ruang pertunjukan yang relatif terbatas. Selain itu, karya-karya berharga tersebut juga belum terdokumentasikan secara utuh dan sistematis dalam sebuah kerangka kuratorial yang mapan dan berkelanjutan.

Senada dengan hal tersebut, Mellody Arben selaku PIC Chamber Music Festival 2026 menekankan pentingnya reposisi instrumen musik dalam konteks lokal. Menurut Mellody, instrumen seperti cello, gitar, dan piano tidak boleh hanya dipandang sebagai instrumen Barat yang melulu memainkan repertoar klasik Barat yang kaku. Sebaliknya, instrumen-instrumen global tersebut harus mampu diadopsi menjadi medium yang dinamis untuk membaca, menafsirkan, dan memperkaya khazanah serta pengalaman musikal Nusantara yang sangat kaya dan beragam.

Melalui penyelenggaraan JAKSTRINGS 2026 dan kehadiran para mentor berpengalaman seperti Noah Gilrandy Revevalin, Dewan Kesenian Jakarta berharap dapat terus memicu lahirnya karya-karya baru yang inovatif. Festival ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang unjuk gigi para musisi, tetapi juga menjadi pemantik diskusi yang produktif bagi perkembangan musik kamar di Indonesia. Dengan demikian, resonansi musik yang dihasilkan dari festival ini dapat terus bergema dan menginspirasi generasi musisi masa depan untuk terus mengeksplorasi batas-batas kreativitas mereka.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jazz

Sandhy Sondoro Menghadirkan Konser A Soulful Odyssey di Berlin

Published

on

Penyanyi solo kenamaan Indonesia, Sandhy Sondoro, kembali menginjakkan kakinya di Berlin, Jerman, untuk menggelar konser istimewa bertajuk Liebe in Concert – A Soulful Odyssey. Pertunjukan yang berlangsung di Bunker West pada Sabtu (19/9) ini menjadi momen emosional sekaligus ajang pembuktian musikalitasnya di kancah internasional. Dalam penampilannya kali ini, Sandhy tidak tampil sendiri, melainkan didampingi oleh dua musisi hebat tanah air, yaitu pemain bass legendaris Indro Hardjodikoro dan musisi etnik kontemporer Muhammad Fajar Nurihsan yang akrab disapa Jarwo.

Reuni Musikal dan Nostalgia Sandhy Sondoro di Berlin

Berlin memiliki tempat yang sangat istimewa di hati Sandhy Sondoro. Kota ini bukan sekadar destinasi wisata atau panggung biasa, melainkan tempat di mana fondasi karier musiknya dibangun. Sejak memutuskan menetap dan mengembangkan karier musiknya di Berlin pada tahun 1998, Sandhy telah melewati berbagai fase perjuangan yang membentuk karakternya sebagai seorang musisi sejati. Ia memulai perjalanannya dari bawah, bernyanyi dari jalanan, bar-bar kecil, hingga klub malam di sudut-sudut kota Berlin yang terkenal sangat kompetitif.

Pengalaman hidup yang keras namun kaya akan inspirasi tersebut membentuk karakter vokal dan gaya bermusiknya yang khas. Salah satu karya monumentalnya, Down on the Streets, lahir dari refleksi mendalam atas pengalamannya menyusuri jalanan Berlin yang dingin namun penuh dengan dinamika kehidupan. Kembali ke kota ini dengan sebuah konser tunggal berskala besar tentu membawa rasa nostalgia yang mendalam sekaligus rasa syukur atas pencapaiannya sejauh ini. Konser ini menjadi bukti nyata bahwa dedikasi dan konsistensi dalam bermusik akan selalu menemukan jalan untuk kembali ke tempat di mana semuanya dimulai.

Kolaborasi Lintas Genre Bersama Indro Hardjodikoro dan Jarwo

Konser A Soulful Odyssey kali ini menawarkan sesuatu yang sangat berbeda melalui kolaborasi lintas genre yang sangat dinamis. Kehadiran Indro Hardjodikoro memberikan dimensi baru pada aransemen lagu-lagu Sandhy yang bernuansa soul. Sebagai salah satu pencabik bass terbaik di Indonesia, Indro membawa pengalaman panjangnya yang melintasi berbagai genre musik, mulai dari jazz, pop, rock, hingga musik tradisional seperti keroncong dan dangdut. Permainan bass Indro yang solid dan penuh improvisasi mampu mengimbangi vokal soul Sandhy yang bertenaga dan penuh penghayatan.

Di sisi lain, kehadiran Jarwo memberikan sentuhan magis yang unik pada keseluruhan pertunjukan. Sebagai komposer dan pemain perkusi etnik asal Jawa Barat, Jarwo memasukkan elemen-elemen ritme tradisional Sunda dan nusantara ke dalam aransemen musik modern. Kolaborasi ketiganya menciptakan sebuah dialog musikal yang harmonis, di mana musik soul barat bertemu dengan kehangatan jazz dan eksotisme perkusi tradisional Indonesia. Penonton yang hadir disuguhi sebuah pertunjukan yang tidak hanya memanjakan telinga, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia dalam kemasan yang modern dan universal.

Diplomasi Budaya dan Dukungan Pemerintah Indonesia

Pertunjukan ini bukan sekadar hiburan bagi komunitas Indonesia di Jerman, melainkan sebuah misi diplomasi budaya yang sangat penting. Melalui A Soulful Odyssey, musik Indonesia diposisikan sebagai entitas yang mampu bersaing dan dinikmati oleh publik global di salah satu pusat kebudayaan Eropa. Berlin dikenal sebagai kota yang sangat menghargai keberagaman seni dan budaya, sehingga menjadi tempat yang sangat tepat untuk memperkenalkan identitas musik Indonesia yang kaya dan beragam.

Suksesnya acara ini tidak lepas dari kolaborasi erat antara Bunker West Berlin dengan Ajang Mas Kreatif. Selain itu, acara ini juga mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak seperti Gekraf Jerman, SOCreative, SON Video Works, dan 1st Pictures. Dukungan yang sangat signifikan juga datang dari pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia serta Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui program Dana Indonesia Raya atau Dana Indonesiana. Dukungan ini menunjukkan komitmen nyata pemerintah dalam mendorong ekspansi industri kreatif dan talenta lokal ke panggung dunia.

Dengan suksesnya konser Liebe in Concert – A Soulful Odyssey, Sandhy Sondoro bersama Indro Hardjodikoro dan Jarwo telah membuktikan bahwa musik adalah bahasa universal yang mampu melampaui batas-batas geografis dan budaya. Pertunjukan di Berlin ini diharapkan dapat membuka jalan yang lebih lebar bagi musisi-musisi Indonesia lainnya untuk tampil di panggung internasional. Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa karya anak bangsa memiliki kualitas yang sejajar dengan musisi global dan layak mendapatkan apresiasi di tingkat dunia. Perjalanan musikal Sandhy di Berlin kali ini tidak hanya menjadi sebuah nostalgia pribadi, tetapi juga sebuah catatan sejarah baru bagi perkembangan musik Indonesia di Eropa.

Continue Reading

Jazz

Musisi Jazz Global Merilis Puluhan Album dan Single Baru pada Agustus 2026

Published

on

Perkembangan musik jazz di tingkat global terus menunjukkan dinamika yang luar biasa, dan bulan Agustus 2026 menjadi salah satu periode paling produktif bagi para musisi genre ini. Berbagai karya terbaru, mulai dari album penuh (LP), mini album (EP), hingga single, resmi diperkenalkan ke publik untuk memberikan warna baru dalam lanskap musik dunia. Kehadiran rilisan-rilisan ini membuktikan bahwa jazz tetap menjadi wadah eksplorasi yang subur bagi para komposer dan instrumentalis lintas generasi.

Keberagaman Estetika dan Kolaborasi Lintas Batas

Pada bulan Agustus ini, para pencinta musik jazz disuguhkan dengan variasi gaya yang sangat kaya. Salah satu rilisan yang sangat dinantikan adalah kolaborasi antara pianis Ayumi Tanaka, pemain kontrabas Thomas Morgan, dan pemain drum Thomas Strønen lewat album berjudul Windflower di bawah naungan label legendaris ECM Records. Kolaborasi trio ini dikenal dengan pendekatan mereka yang sangat intuitif, tenang, dan penuh ruang kosong yang puitis, sebuah ciri khas yang selalu berhasil dihadirkan oleh ECM Records dalam menjaga kualitas produksi audio yang jernih dan atmosferik.

Selain itu, kekuatan musisi perempuan dalam kancah jazz modern juga semakin bersinar melalui kolaborasi antara pemain bas Linda May Han Oh dan pemain saksofon Melissa Aldana dalam album Beneath Lifted Skies yang dirilis oleh Biophilia Records. Kedua musisi ini dikenal memiliki teknik permainan yang luar biasa serta visi komposisi yang visioner. Kehadiran album ini mempertegas posisi mereka sebagai figur penting yang terus mendorong batas-batas musik jazz kontemporer ke arah yang lebih segar dan relevan dengan perkembangan zaman.

Bagi pendengar yang menyukai kehangatan melodi tradisional dengan sentuhan eksotis, Miguel Zenón kembali hadir dengan El Arte del Bolero, Vol. 3 melalui Miel Music. Melalui seri album ini, Zenón secara konsisten mengeksplorasi keindahan musik bolero Latin yang dikawinkan dengan improvisasi jazz yang rumit namun tetap nyaman di telinga. Sentuhan ritme yang hangat ini menjadi penyeimbang yang sempurna di tengah gempuran eksperimentasi jazz modern lainnya.

Eksperimen Elektronik dan Penghormatan Terhadap Tradisi

Perkembangan teknologi dan pergeseran zaman juga memengaruhi bagaimana jazz diproduksi dan dinikmati pada tahun 2026. Proyek musik seperti Acoustic Electronica dari grup The Court at Versailles menjadi contoh nyata bagaimana instrumen akustik konvensional dapat berpadu harmonis dengan elemen elektronik modern. Eksperimen semacam ini menciptakan dimensi suara baru yang lebih luas, menjembatani batas antara musik dansa elektronik, ambient, dan improvisasi jazz murni.

Di sisi lain, penghormatan terhadap tradisi jazz klasik tetap terjaga dengan baik. Kehadiran pianis legendaris Larry Goldings lewat album Rhombus di bawah Smoke Sessions Records, serta Sullivan Fortner dengan karya terbarunya Leave That In There, menunjukkan bahwa esensi permainan piano jazz yang berakar pada tradisi swing, blues, dan bebop masih sangat diminati. Album-album ini menawarkan keahlian teknis tingkat tinggi sekaligus kehangatan musikalitas yang intim, sangat cocok untuk dinikmati dalam berbagai suasana.

Tidak ketinggalan, format ansambel besar juga mendapatkan tempat khusus bulan ini melalui karya Martin Iaies yang bertajuk People. Places. Music For Large Ensemble. Komposisi untuk ansambel besar selalu menawarkan tantangan tersendiri dalam hal aransemen, dan Iaies berhasil menyajikan narasi musikal yang megah namun tetap memberikan ruang bagi setiap instrumen untuk menonjolkan karakter uniknya masing-masing.

Daftar Lengkap Rilisan Jazz Terpopuler Agustus 2026

Berikut adalah daftar lengkap album, EP, dan single jazz yang dirilis sepanjang bulan Agustus 2026 yang wajib masuk ke dalam daftar putar Anda:

  • Ayumi Tanaka, Thomas Morgan, Thomas StrønenWindflower (ECM Records)
  • Ben Crosland QuintetNorth York Skies (Jazz Cat Records / Music Connection / ECN Music)
  • Clark SommersWaBaSH (Calligram Records)
  • Danny KeaneKinesis (MVKA)
  • East of WestVelella (4000 Records)
  • Enoch Smith Jr.This Is What Love Does (Misfitme Music)
  • Frank LondonTouzle Your Kurchy (Adhyâropa Records)
  • Henry ThreadgillFifteen (Nonesuch Records)
  • Irene ArandaMAY (Relative Pitch Records)
  • John DonaldsonWe Were Together, I Forget the Rest (Hexagonal Records)
  • Larry GoldingsRhombus (Smoke Sessions Records)
  • Linda May Han Oh & Melissa AldanaBeneath Lifted Skies (Biophilia Records)
  • maTrigalBetween Homes (Svitzer Music)
  • Martin IaiesPeople. Places. Music For Large Ensemble (Challenge Records)
  • Miguel ZenónEl Arte del Bolero, Vol. 3 (Miel Music)
  • Mike ClarkKuon Ganjo (Time Without Beginning) (Wide Hive Records)
  • Mike JonesMike Jones With Strings (Capri Records)
  • Ricardo BacelarAqui, Oh! (Jasmin Music)
  • Rite of StringsDust and the Moon (Bright Shiny Things)
  • Sam Sadigursky-ish (Adhyâropa Records)
  • Stephanie BorganiMímica: Música para Quatro Instrumentos (Yb Music)
  • Stephen Philip HarveyGolden Hour (Hidden Cinema)
  • Sullivan FortnerLeave That In There (Artwork Records)
  • Terence CollieDNA (Adhyâropa Records)
  • The Court at VersaillesAcoustic Electronica (Handcrafted Records)
  • The Vinyl SessionThe Vinyl Session (Self Produced)
  • Zaccai CurtisSonoluminescence Vol. 1 (TRRcollective)

Banyaknya rilisan berkualitas tinggi pada bulan Agustus 2026 ini membuktikan bahwa industri musik jazz global tidak pernah kehabisan energi kreatif. Dari proyek solo yang intim hingga aransemen orkestra yang megah, setiap karya menawarkan pengalaman auditif yang unik bagi para pendengarnya. Kehadiran album-album ini tidak hanya memperkaya khazanah musik dunia, tetapi juga memberikan inspirasi baru bagi perkembangan musik jazz di masa depan. Pastikan Anda meluangkan waktu untuk mengeksplorasi karya-karya luar biasa ini di platform musik digital favorit Anda.

Continue Reading

Jazz

Rifki Soeria dan Neea Rachma Ungkap Karya Baru di WartaJazz

Published

on

Dua musisi jazz berbakat tanah air, Rifki Soeria dan Neea Rachma, menjadi sorotan utama dalam program WartaJazz Monday Launch edisi 119. Dalam kesempatan ini, keduanya membagikan kisah inspiratif serta proses kreatif di balik pembuatan karya terbaru mereka yang menghadirkan warna segar bagi kancah musik jazz Indonesia.

Melalui obrolan mendalam di panggung WartaJazz, para penikmat musik diajak untuk menyelami latar belakang pembuatan lagu, kolaborasi antar-musisi, hingga eksplorasi genre unik yang mereka usung. Kehadiran karya dari kedua musisi ini semakin memperkaya khazanah musik Tanah Air yang terus berkembang pesat dan semakin inklusif bagi berbagai kalangan pendengar.

Eksplorasi Romansa Bossa Nova dalam Lagu “Berdua Saja”

Rifki Soeria kembali menunjukkan produktivitasnya di belantika musik lewat peluncuran lagu terbaru bertajuk “Berdua Saja”. Dalam karya teranyarnya ini, Rifki menggaet penyanyi Keshya Valerie untuk mengeksekusi sebuah lagu duet yang kental dengan nuansa romantis. Lagu ini memadukan balutan musik Jazz Pop Indonesia dengan sentuhan Bossa Nova yang lembut, menghasilkan sensasi easy listening yang kaya akan nuansa nostalgia.

Gagasan awal penciptaan “Berdua Saja” lahir secara alami dari sebuah obrolan santai di studio antara Rifki Soeria dan Abraham Song. Dari diskusi organik tersebut, terciptalah sebuah komposisi yang merayakan momen-momen sederhana namun penuh kenyamanan saat seseorang jatuh cinta. Tanpa perlu narasi drama yang berlebihan, lagu ini berhasil menangkap esensi kasih sayang yang tulus, hangat, dan menenangkan.

Aransemen yang hangat serta alunan melodi yang mengalir membuat “Berdua Saja” menjadi pendamping yang sangat pas untuk berbagai situasi. Komposisi ini dirancang agar nyaman menemani perjalanan di malam hari, memberikan ketenangan saat beristirahat di rumah, maupun sekadar menjadi musik latar ketika bersantai bersama orang terdekat. Sentuhan Bossa Nova yang elegan berpadu harmonis dengan karakter vokal Keshya Valerie, menciptakan warna musik yang ramah di telinga pendengar awam maupun penikmat jazz setia.

Nuansa Dixieland Segar dalam “Waktu Takut Nonton Film Horor”

Sementara itu, Neea Rachma menghadirkan pendekatan musik yang tidak kalah menarik melalui lagu terbarunya yang berjudul unik, “Waktu Takut Nonton Film Horor”. Tak tanggung-tanggung, dalam proyek ini Neea melakukan kolaborasi lintas negara dengan menggamit pianis kenamaan asal Jepang, Yukako Yamano. Sinergi antara keahlian bermusik kedua seniman ini menghasilkan jalinan nada yang lincah, dinamis, dan penuh energi.

Keindahan lagu ini juga didukung oleh jajaran musisi andal yang mengisi instrumen pendukung. Ricky Firmansyah dipercaya untuk memegang posisi bass yang menjaga ritme tetap stabil, sementara Shaku Hachi mengisi dentuman drum yang mantap. Nuansa khas semakin diperkuat oleh permainan tiupan trompet dari Benn Yapari. Kolaborasi solid ini melahirkan karya bergenre Dixieland—gaya jazz klasik asal New Orleans yang dikenal dengan sifatnya yang riang, penuh improvisasi, serta kaya akan permainan instrumen tiup.

Meski mengusung genre Dixieland yang identik dengan struktur musik kompleks, Neea Rachma dan tim berhasil menyajikannya dengan lirik yang sangat sederhana dan membumi. Pendekatan ini membuat lagu “Waktu Takut Nonton Film Horor” menjadi sangat mudah dicerna oleh berbagai lapisan pendengar. Tema yang unik namun sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari berhasil dibungkus dengan aransemen yang ceria, membuktikan bahwa musik jazz bisa tampil jenaka, menyenangkan, dan tidak selalu terkesan rumit.

WartaJazz Monday Launch sebagai Ruang Apresiasi dan Inspirasi

Program WartaJazz Monday Launch edisi 119 memberikan wadah yang sangat krusial bagi para musisi untuk menceritakan kisah di balik layar dari karya-karya hebat mereka. Melalui platform ini, publik tidak hanya disuguhkan hasil akhir berupa rekaman audio, tetapi juga dibawa untuk memahami perjuangan, eksperimen, dan pemikiran kreatif yang melandasi lahirnya setiap karya seni.

Kehadiran kolaborasi internasional seperti yang dilakukan Neea Rachma bersama Yukako Yamano, serta eksplorasi genre lokal yang dibawakan Rifki Soeria, menegaskan bahwa ekosistem jazz di Indonesia sangat dinamis dan terbuka terhadap berbagai pengaruh positif. Pertukaran budaya dan ide musik seperti ini menjadi bukti bahwa jazz adalah bahasa universal yang mampu menyatukan berbagai elemen seni tanpa batasan geografis.

Bagi para penggemar yang penasaran dengan detail pembuatan lagu, perbincangan seru di dalam studio, serta rencana karier kedua musisi ini ke depan, tayangan WartaJazz Monday Launch edisi 119 menjadi tontonan yang sangat menginspirasi. Kehadiran karya-karya segar ini diharapkan dapat terus memicu semangat para musisi lokal untuk terus berkarya dan memperluas jangkauan musik jazz Indonesia di kancah nasional maupun internasional.

Continue Reading

Trending