Musik

TAX Merilis Album Mini Perdana Dead Routine Bertema Kehampaan Rutinitas

Published

on

Band punk asal Makassar, TAX, secara resmi meluncurkan album mini (EP) perdana mereka yang bertajuk Dead Routine pada 8 September 2026 melalui platform musik Bandcamp. Mengusung lima trek musik yang penuh energi, karya perdana ini menjadi wadah katarsis bagi para personel TAX dalam merekam rasa jenuh, alienasi, hingga puncaknya meledak menjadi kekacauan batin akibat himpitan rutinitas harian. Rilisan ini menandai langkah awal yang solid bagi grup musik independen asal Sulawesi Selatan tersebut di kancah musik nasional.

Proses Kreatif dan Penggarapan Narasi Siklus Kehampaan

TAX diperkuat oleh formasi lima personel yang terdiri dari Fadlu pada vokal, Syam pada gitar, Ai pada gitar, Ivan pada bas, serta Pungs pada drum. Album mini Dead Routine tidak tercipta begitu saja, melainkan melewati proses penggarapan organik yang bertahap. Pada mulanya, materi dalam album ini hanya berupa susunan progresi musik instrumen mentah yang terbagi ke dalam lima trek terpisah tanpa adanya bait lirik.

Guna mengisi ruang kosong tersebut, Fadlu dan Syam mengumpulkan catatan tulisan pribadi mereka yang merekam dinamika emosi dan kejenuhan hidup sehari-hari. Kumpulan draf tulisan tersebut kemudian dibahas dan diramu bersama seluruh personel di dalam studio rekaman. Ivan, pemain bas TAX, menceritakan bahwa lewat proses diskusi kelompok tersebut, kelima lagu yang ada secara alami membentuk satu garis narasi yang saling terhubung dan melingkar seperti sebuah siklus.

Narasi dalam Dead Routine dirancang untuk membawa pendengar mengarungi eskalasi emosi secara bertahap. Perjalanan diawali dengan hadirnya perasaan asing serta kehampaan terhadap rutinitas berulang, sebelum akhirnya tensi musik dinaikkan perlahan pada setiap trek hingga mencapai titik puncak ledakan emosional di lagu penutup. Penyusunan tempo dan struktur musik yang presisi menjadi kunci utama TAX dalam membangun atmosfer krisis batin tersebut. Kejenuhan akan pekerjaan, tekanan sosial, serta ritme hidup perkotaan yang monoton kerap menjadi pemicu emosional yang dialami oleh masyarakat modern, dan TAX berhasil menangkap fenomena sosial ini lewat aransemen yang tajam.

Estetika Musik Mentah dan Karakter Raw sebagai Identitas

Secara musikalitas, TAX memilih untuk tetap setia pada jalur musik punk yang mentah, kasar, dan abrasif. Mereka tidak berupaya memisahkan pesan puitis atau kritik emosional yang disampaikan dengan balutan karakter musik yang agresif. Distorsi gitar ala garage yang tebal, tempo drum yang cepat serta konstan, dan lirik yang lugas tanpa basa-basi dipertahankan sebagai cara paling jujur untuk mengekspresikan kegelisahan secara langsung kepada pendengar.

Pendekatan produksi musik yang dipilih TAX membuat Dead Routine terdengar sangat autentik dan bebas dari polesan studio yang berlebihan. Daripada membuang energi untuk memperhalus tata suara (sound engineering) agar terdengar sempurna secara komersial, TAX lebih mengutamakan penangkapan energi murni dan emosi riil saat proses rekaman berlangsung. Bagi mereka, kejujuran dalam menangkap ketidaksempurnaan suara justru menjadi fondasi utama dari identitas musik punk yang mereka perjuangkan.

Pilihan estetika ini selaras dengan filosofi musik punk klasik yang menekankan pada penyampaian pesan yang jujur dan tanpa sekat. Dalam era di mana industri musik modern sering kali didominasi oleh produksi yang terlalu bersih dan terukur, kehadiran suara mentah seperti yang ditawarkan TAX memberikan penyegaran serta alternatif yang menyengat bagi para penikmat musik bawah tanah.

Akar Komunitas DIY dan Kancah Musik Independen Makassar

Di luar urusan teknis rekaman dan materi lagu, keberadaan TAX tidak dapat dipisahkan dari ekosistem kancah independen serta kultur Do It Yourself (DIY) yang tumbuh subur di Makassar. Perkembangan musik TAX sangat dipengaruhi oleh keberadaan ruang-ruang kolektif lokal yang menjadi tempat bertemunya para musisi dan penikmat musik tanpa adanya batasan komersial.

Salah satu wadah penting bagi perjalanan TAX adalah kolektif NBOCHC, tempat para personel awal saling kenal, berinteraksi, berdiskusi, hingga akhirnya sepakat untuk mendirikan band. Selain NBOCHC, TAX juga mengapresiasi peran aktif kolektif lokal lainnya seperti Geladak Geng dan Mtown yang konsisten merawat ekosistem musik independen di Makassar melalui penyelenggaraan pertunjukan musik mandiri (gig).

Bagi TAX, keberadaan ruang kolektif semacam ini sangat krusial karena mampu menghadirkan ruang interaksi yang sangat intim dan inklusif. Di panggung-panggung kecil yang dikelola secara swadaya, batasan antara musisi di atas panggung dan penonton di depan panggung menjadi lebur. Suasana tanpa jarak ini memicu pertukaran energi emosional secara langsung, yang pada akhirnya memberi dampak besar terhadap cara TAX berkarya. Dead Routine pun terasa sebagai perpanjangan dari nilai-nilai kehidupan yang mereka jalani sehari-hari bersama komunitas: sederhana, jujur, langsung, dan terus bergerak bersama.

Melalui peluncuran Dead Routine, TAX berhasil membuktikan bahwa gelombang musik punk dari kawasan timur Indonesia, khususnya Makassar, memiliki potensi besar dan karakter yang sangat kuat. Album mini ini tidak hanya menjadi rekam jejak musikalitas TAX, tetapi juga menjadi cerminan dari semangat kolektif anak muda dalam merespons tekanan hidup modern lewat karya seni yang berani dan berdampak. Pendengar kini sudah dapat menikmati keseluruhan trek dalam Dead Routine melalui platform digital Bandcamp.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version