Musik

Shaggydog Menghadirkan Kelas BE29AS Guna Berbagi Ilmu Industri Musik

Published

on

Kelompok musik legendaris asal Yogyakarta, Shaggydog, kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap regenerasi industri musik tanah air. Sepanjang bulan September 2026, mereka menggelar program bertajuk Kelas BE29AS, sebuah rangkaian lokakarya intensif yang mengupas tuntas berbagai dimensi dunia musik. Kegiatan edukatif ini diselenggarakan di berbagai ruang kreatif di Yogyakarta sebagai bagian dari perayaan hari jadi mereka yang ke-29 tahun.

Filosofi “BE29AS” dan Perjalanan Tiga Dekade

Program Kelas BE29AS bukan sekadar perayaan biasa, melainkan sebuah langkah nyata Shaggydog dalam menyongsong tiga dekade perjalanan karier mereka di belantika musik Indonesia. Nama “BE29AS” sendiri diambil dari plesetan kata “bergas” yang dipadukan dengan angka 29, merepresentasikan usia band saat ini. Menurut vokalis Shaggydog, Heruwa, dalam bahasa Jawa kata “bergas” memiliki arti sehat, kuat, dan penuh energi secara fisik. Konsep ini sejalan dengan tema besar ulang tahun mereka yang diperkenalkan pada 1 Juni 2026 lalu, yaitu “Sehat, BE29AS, Waras”.

Sebelum meluncurkan program edukasi ini, Shaggydog telah memulai rangkaian perayaan ulang tahun mereka bersama komunitas lokal di Sayidan. Kawasan Sayidan memiliki nilai historis yang sangat mendalam bagi Shaggydog, karena di sanalah fondasi bermusik mereka pertama kali terbentuk hingga akhirnya tumbuh menjadi salah satu pelopor musik ska, reggae, dan dub yang disegani di Indonesia. Dengan membawa semangat kebersamaan tersebut ke dalam Kelas BE29AS, Shaggydog ingin membagikan energi positif dan pengetahuan yang telah mereka kumpulkan selama hampir tiga puluh tahun berkarya kepada generasi muda.

Detail Program dan Kolaborasi Lintas Musisi

Melalui Kelas BE29AS, para peserta diberikan kesempatan langka untuk belajar langsung dari para praktisi yang telah lama berkecimpung di industri musik. Materi yang diajarkan sangat komprehensif, mulai dari teknik dasar bermain instrumen, pengolahan vokal, penataan suara (sound engineering), proses kreatif penciptaan lagu, manajemen band, hingga pemahaman mendalam mengenai dinamika industri musik modern. Untuk memberikan perspektif yang lebih luas, Shaggydog tidak bergerak sendirian. Mereka menggandeng sejumlah musisi dan praktisi lintas genre dari kancah musik independen.

Beberapa nama yang turut terlibat sebagai pemateri antara lain Siddha dari unit indie rock Skandal, Raissa Noverine dari Lealona, kelompok perkusi Leca Percussion, serta Uya Cipriano yang dikenal lewat kiprahnya bersama LastElise dan Majelis Berduri. Kolaborasi ini memastikan bahwa materi yang disampaikan tidak hanya teoretis, tetapi juga praktis dan relevan dengan tantangan riil yang dihadapi oleh musisi independen saat ini.

Rangkaian lokakarya ini dibagi ke dalam beberapa sesi yang tersebar di berbagai titik di Yogyakarta sepanjang September 2026. Sesi perdana telah dibuka pada 9 September dengan fokus pada materi pemasaran band (band marketing) dan olah vokal yang bertempat di JRNY Coffee & Records. Selanjutnya, kelas mengenai eksplorasi suara gitar diadakan pada 15 September di Piezo Kopi. Bagi para penabuh drum, kelas khusus instrumen perkusi ini diselenggarakan pada 23 September di Milli Sayidan. Rangkaian program ini kemudian akan ditutup pada 30 September dengan materi krusial mengenai manajemen band dan aransemen lagu di On The Pop.

Pentingnya Edukasi Kolektif dalam Ekosistem Musik

Pemilihan lokasi penyelenggaraan Kelas BE29AS di berbagai kedai kopi dan ruang kreatif independen bukanlah tanpa alasan. Tempat-tempat tersebut dipilih karena dinilai aktif dalam mendukung dan menghidupkan ekosistem musik serta seni di Yogyakarta. Shaggydog ingin memastikan bahwa kegiatan ini juga memberikan dampak ekonomi langsung bagi ruang-ruang kreatif lokal yang selama ini konsisten menjadi wadah berkumpulnya para komunitas seni.

Meskipun seluruh rangkaian kelas ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya pendaftaran alias gratis, panitia menerapkan sistem yang unik dan edukatif. Para peserta yang hadir hanya diminta untuk membeli makanan atau minuman di lokasi acara. Langkah ini merupakan bentuk apresiasi dan dukungan nyata terhadap keberlangsungan ruang kreatif yang menjadi tuan rumah. Konsep subsidi silang seperti ini menunjukkan bagaimana ekosistem musik independen dapat saling mendukung dan tumbuh bersama tanpa harus bergantung pada sponsor besar.

Yogyakarta sendiri sejak lama dikenal sebagai rahim dari berbagai gerakan seni dan musik yang revolusioner di Indonesia. Kehadiran Kelas BE29AS mempertegas posisi kota ini sebagai pusat kolaborasi kreatif yang dinamis. Inisiatif dari Shaggydog ini diharapkan dapat memicu komunitas musik di kota-kota lain untuk menyelenggarakan kegiatan serupa, sehingga transfer pengetahuan antar-generasi dapat terus berjalan dengan sehat dan berkelanjutan.

Sebagai salah satu band yang telah bertahan lebih dari seperempat abad, Shaggydog membuktikan bahwa eksistensi sebuah grup musik tidak hanya diukur dari karya rekaman atau panggung konser saja, melainkan juga dari seberapa besar kontribusi mereka terhadap komunitas di sekitarnya. Kelas BE29AS menjadi warisan berharga yang mereka bagikan sebelum melangkah ke dekade ketiga karier mereka. Dengan membekali para musisi muda dengan pengetahuan teknis dan non-teknis yang mumpuni, Shaggydog sedang mempersiapkan fondasi yang kokoh bagi masa depan industri musik Indonesia yang lebih mandiri, kreatif, dan tentu saja, bergas.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version