Metal
RØRY Merilis Album ‘Bloodletting’ dan Mengenang Transformasi Hidupnya yang Liar
Industri musik rock global kembali diguncang oleh kehadiran RØRY, solois berusia 41 tahun yang dengan bangga melabeli dirinya sebagai “ADHD bitch”. Melalui perilisan album terbarunya yang bertajuk Bloodletting di bawah label SadcØre, RØRY membuktikan bahwa tidak ada kata terlambat untuk mengejar mimpi dan mengubah keterpurukan menjadi karya seni yang luar biasa. Kisah hidupnya yang penuh dengan liku-liku, mulai dari tragedi keluarga hingga perjuangan melawan kecanduan, kini menjadi bahan bakar utama bagi musik rock alternatifnya yang jujur dan bertenaga.
Dari Akuntan Hingga Penulis Lagu Populer
Sebelum dikenal sebagai sosok ikonik berambut biru di atas panggung festival besar seperti Download Festival, RØRY—yang memiliki nama asli Roxy Emery—menjalani kehidupan yang sangat jauh dari dunia rock. Tumbuh dalam keluarga guru, ia sempat menempuh pendidikan tinggi di bidang Politik dan Filsafat, lalu bekerja sebagai akuntan magang demi mengejar karier yang dianggap mapan oleh masyarakat. Namun, takdir berkata lain ketika ibunya meninggal dunia akibat kanker saat RØRY baru berusia 22 tahun. Kesedihan mendalam membuatnya meninggalkan pekerjaan akuntansi dan kembali ke rumah untuk memproses duka melalui menulis lagu.
Langkah awal RØRY di dunia musik tidak langsung berjalan mulus. Album pertamanya yang bergenre folk akustik gagal di pasaran setelah label rekaman yang menaunginya bangkrut. Terlilit utang besar akibat mendanai rilisannya sendiri secara mandiri, ia sempat terjerumus ke dalam gaya hidup liar di kancah rave London, yang dipenuhi dengan pesta obat-obatan terlarang selama berhari-hari. Titik balik terjadi ketika ia memutuskan untuk bersih dari narkoba dan fokus bekerja sebagai penulis lagu di balik layar. Keputusan ini membuahkan hasil manis, di mana ia sukses menulis lagu-lagu hit untuk artis pop ternama seperti Charli XCX.
Menerima Diri dan Menolak Stigma ADHD
Memasuki usia kepala tiga, RØRY sempat merasa bahwa kesempatannya untuk menjadi penyanyi solo telah sirna. Rasa tidak percaya diri dan stigma usia di industri musik membuatnya ragu untuk kembali ke atas panggung. Namun, pertemuan dengan pasangannya pada tahun 2020 mengubah segalanya. Dengan dukungan penuh dari orang-orang terdekat, ia akhirnya memberanikan diri merilis singel solo pertamanya pada tahun 2021. Langkah berani ini terbukti sangat tepat, karena karakter vokalnya yang kuat dan liriknya yang blak-blakan langsung menarik perhatian para pencinta musik rock alternatif.
Selain musiknya yang bertenaga, RØRY juga dikenal karena keberaniannya menyuarakan isu kesehatan mental dan neurodivergensi, khususnya ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Melalui lagu seperti “Kids These Days”, ia dengan cerdas menyindir kaum konservatif yang meremehkan gangguan ADHD dengan menggunakan komentar-komentar negatif dari media sosialnya sebagai lirik lagu. Pendekatan yang sarkastik namun jujur ini membuat RØRY menjadi representasi penting bagi banyak penggemar yang juga berjuang dengan kondisi serupa, membuktikan bahwa keunikan diri bukanlah sebuah kelemahan.
Katarsis Emosional dalam Album ‘Bloodletting’
Kesuksesan album debutnya, Restoration, yang berhasil menembus posisi Top 10 di tangga album Inggris pada tahun 2025, ternyata membawa dampak emosional yang tidak terduga bagi RØRY. Alih-alih merasa puas, pencapaian mimpi yang telah ia kejar selama dua dekade tersebut justru memicu krisis eksistensial yang hebat. Untuk mengatasi tekanan mental tersebut, ia kembali melarikan diri ke dalam proses kreatif penulisan lagu. Hasil dari pergolakan batin ini adalah album Bloodletting, yang menampilkan aransemen musik yang jauh lebih gelap, berat, dan mendekati genre metal.
Singel seperti “Degradation” dan “Dead Girl Walking” menjadi bukti nyata dari evolusi musikalitas RØRY yang semakin berani mengeksplorasi rasa sakit, kebencian pada diri sendiri, dan kebangkitan dari keterpurukan. Dengan visual video klip yang teatrikal dan lirik yang tajam, ia menunjukkan bahwa seni terbaik sering kali lahir dari sisa-sisa kehancuran hidup seseorang. Bagi RØRY, album ini bukan sekadar kumpulan lagu, melainkan sebuah proses pembersihan diri yang membebaskannya dari beban masa lalu.
Melalui perjalanan hidupnya yang luar biasa, RØRY mengirimkan pesan kuat kepada dunia bahwa tidak ada batasan waktu untuk meraih kesuksesan dan kebahagiaan. Dari seorang akuntan yang berduka hingga menjadi salah satu ikon rock alternatif paling vokal saat ini, ia membuktikan bahwa kegagalan di masa lalu dapat diubah menjadi kekuatan yang menginspirasi banyak orang. RØRY mungkin menganggap dirinya sebagai orang yang selalu terlambat dalam segala hal, namun bagi para penggemarnya, kehadirannya di industri musik saat ini terasa sangat tepat waktu.