Metal
Roger Daltrey Mengungkap Kesulitan The Who Mencari Pengganti Keith Moon
Vokalis legendaris dari grup musik rock ternama asal Inggris The Who, Roger Daltrey, secara terbuka membeberkan perjalanan panjang dan tantangan besar yang dihadapi bandnya dalam mengisi posisi pemain drum sejak ditinggalkan oleh Keith Moon pada tahun 1978. Daltrey secara jujur mengakui bahwa warna musik dan energi panggung The Who tidak pernah benar-benar sama lagi setelah kepergian sosok drumer ikonik tersebut, meskipun mereka telah bekerja sama dengan sederet musisi berbakat selama puluhan tahun.
Dampak Besar Kepergian Keith Moon terhadap Energi Band
Dalam sebuah wawancara mendalam bersama Joann Butler dari LifeMinute TV, Roger Daltrey menyampaikan refleksi emosionalnya mengenai dinamika internal The Who pasca-kematian Keith Moon. Menurut musisi senior ini, keberadaan Moon bukan sekadar pengiring irama, melainkan mesin penggerak utama yang memberikan jiwa dan karakter unik pada karya-karya The Who di era keemasannya.
“Sangat jelas bahwa semuanya tidak pernah sama lagi sejak Keith meninggal dunia. Saya tidak bisa berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja atau sama seperti dulu,” ujar Daltrey. Ia menambahkan bahwa pada era Keith Moon, band selalu berada dalam performa puncak dan mampu mengeksekusi berbagai eksperimen musik secara spontan di atas panggung. Daya ledak dan kebebasan bermusik semacam itu perlahan memudar seiring berpulangnya sang drumer legendaris.
Keith Moon dikenal dalam sejarah musik rock sebagai salah satu drumer paling berpengaruh dan fenomenal. Gaya bermainnya yang tidak konvensional, penuh dengan variasi pukulan intens, serta penuh energi menjadi fondasi utama bagi lagu-lagu hits The Who. Ketika Moon meninggal dunia pada tahun 1978, The Who tidak hanya kehilangan seorang personel, tetapi juga pilar utama penentu identitas musik mereka.
Daftar Drumer Pengganti dan Tantangan Menemukan Karakter yang Tepat
Sepanjang sejarah perjalanan The Who setelah tahun 1978, beberapa nama besar di dunia perdruman telah direkrut untuk mengisi kekosongan tersebut. Musisi pertama yang mengambil tanggung jawab besar ini adalah Kenney Jones, mantan drumer grup band Small Faces dan The Faces. Jones bergabung dan mengawal instrumen drum The Who selama kurang lebih satu dekade.
Meskipun mengakui kehebatan teknis Jones, Daltrey menilai ada ketidakcocokan mendasar dalam gaya permainan. “Kami sudah mencoba Kenney Jones, dan dia adalah seorang drumer yang sangat hebat. Namun, seorang drumer dengan gaya permainan yang lurus dan konvensional secara teknis memang tidak cocok untuk karakter musik The Who. Itu tidak bisa bekerja dengan maksimal,” jelas Daltrey.
Setelah era Kenney Jones berakhir, posisi tersebut sempat diisi oleh drumer prolifik Simon Phillips untuk tur perayaan ulang tahun The Who di Amerika Serikat pada tahun 1989. Kemudian pada tahun 1996, Zak Starkey—putra dari drumer The Beatles, Ringo Starr—bergabung dengan band dan menjadi drumer dengan masa pengabdian terlama berikutnya di The Who, sebelum sempat berpisah baru-baru ini dan posisinya diisi oleh Scott Devours pada tur panggung belakangan ini.
Daltrey memberikan pujian tinggi kepada Zak Starkey, yang dinilainya paling mendekati keajaiban Keith Moon. “Zak Starkey memang bukan Keith Moon, tetapi permainannya sangat mendekati energi dan gaya Keith,” puji Daltrey. Walaupun demikian, perjalanan Starkey bersama band tidak selalu mulus akibat tekanan dinamika tur yang berat, hingga sempat memicu keretakan sementara.
Sesi Latihan Terbaru dan Prospek Konser Masa Depan
Di tengah rumor mengenai masa depan panggung The Who, Daltrey baru-baru ini memberikan kabar terbaru saat tampil dalam pertunjukan solonya di Encore Theater, Las Vegas. Ia mengungkapkan bahwa The Who baru saja menyelesaikan sesi latihan bersama Zak Starkey yang kembali bergabung dalam jajaran personel.
“Kami sangat menyayangi Zak. Namun terkadang, kehidupan di atas jalanan saat tur tidak bersahabat dengannya dan memberi beban berat, sehingga situasi menjadi rumit. Tetapi kami benar-benar mencintainya,” ungkap Daltrey. Ia menjelaskan bahwa latihan bersama tersebut bertujuan untuk menguji apakah band masih memiliki energi, dorongan ritme, dan kemampuan menyentuh nada-nada tinggi untuk menggelar pertunjukan di masa mendatang.
Daltrey menegaskan bahwa karakter musik The Who membutuhkan kekuatan dan dorongan ritmik yang luar biasa intens. Tanpa daya dorong tersebut, pertunjukan mereka akan kehilangan esensi utamanya. Menurutnya, menyajikan lagu-lagu The Who tanpa energi yang memadai akan merusak warisan musik yang telah mereka bangun selama lebih dari setengah abad.
Saat ini, Roger Daltrey tengah disibukkan dengan tur solo bertajuk “A Great Night Out” yang melintasi berbagai kota di Amerika Serikat serta jadwal pertunjukan di Brasil. Di tengah usianya yang makin matang, semangat sang vokalis untuk menjaga standar kualitas musik The Who tetap menjadi perhatian utama para penggemar musik rock di seluruh dunia.