Jazz

Nial Djuliarso Bawa Jazz Indonesia ke African Jazz Village Ethiopia

Published

on

Pianis jazz Indonesia Nial Djuliarso mencatatkan sebuah momen bersejarah dalam perjalanan musiknya ketika tampil di African Jazz Village, Ghion Hotel, Addis Ababa, Ethiopia, pada 22 Juli 2026. Melalui pertunjukan bertajuk “Jazz Journey with Nial Djuliarso”, Nial menjadi pianis jazz Indonesia pertama yang tampil di Addis Ababa, kota yang dikenal sebagai salah satu tempat penting dalam sejarah perkembangan Ethio-jazz. Penampilan tersebut sekaligus menjadi penampilan pertama Nial di benua Afrika, menandai ekspansi signifikan dalam karir internasionalnya.

Pertunjukan Bersejarah di Loka Budaya

Pertunjukan ini digelar oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Addis Ababa melalui ruang budaya yang baru diluncurkan, Loka Budaya. Lebih dari 120 penonton hadir untuk menyaksikan acara tersebut, terdiri dari kalangan diplomatik, tokoh budaya Ethiopia, pencinta jazz, serta diaspora Indonesia. Kehadiran yang begitu meriah menunjukkan antusiasme tinggi terhadap pertunjukan jazz Indonesia di benua Afrika, serta pentingnya momen ini bagi komunitas budaya di Addis Ababa.

Bagi Nial, pemilihan Addis Ababa terasa istimewa karena Ethiopia merupakan rumah bagi salah satu bahasa jazz yang paling khas di dunia, terutama melalui karya-karya Dr. Mulatu Astatke, tokoh yang dikenal luas sebagai salah satu pelopor Ethio-jazz. Kota ini memiliki warisan musik yang kaya dan mendalam, menjadikannya lokasi yang sempurna untuk mempertemukan tradisi jazz Indonesia dengan keunikan jazz Ethiopia. Keputusan untuk tampil di kota ini bukan sekadar pilihan venue, tetapi juga pernyataan artistik tentang pentingnya dialog antar budaya melalui musik.

Kolaborasi Lintas Negara dalam Satu Panggung

Nial tidak tampil sendirian dalam acara bersejarah ini. Ia berkolaborasi dengan vokalis Indonesia Tia Mutiasari dan penyanyi Ethiopia Rebka Getachew, didukung sejumlah musisi Ethiopia berbakat, yakni gitaris Girum Gizaw, double bassist Mebratu Shewa, drummer Muse Mekonen, dan saxophonist Girum G/Meskel. Kolaborasi lintas negara ini menciptakan dinamika unik yang memungkinkan penonton merasakan perpaduan autentik antara tradisi jazz Indonesia dan Ethiopia dalam satu pertunjukan yang kohesif.

Repertoar yang dipilih menjadi bagian penting dari dialog musikal tersebut. Konser dibuka dengan perpaduan “Indonesia Pusaka” karya Ismail Marzuki dan komposisi Nial, “Moscow Morning”, yang langsung menetapkan nada untuk malam yang akan menggabungkan elemen-elemen dari berbagai tradisi musik. Selanjutnya, Rebka dan Tia membawa penonton menikmati sejumlah jazz standard dan lagu dari Indonesia, termasuk “Mercy Mercy” dan “Juwita Malam”, menciptakan jembatan emosional antara penonton lokal dan internasional.

Salah satu momen paling menarik hadir ketika musik Indonesia dan Ethiopia benar-benar dipertemukan dalam sebuah medley yang menakjubkan. “Yekermo Sew” karya Mulatu Astatke dipadukan dengan lagu rakyat Sunda “Es Lilin”, sebelum kemudian mengalir menuju “St. Thomas” karya Sonny Rollins. Perpaduan ini bukan sekadar penggabungan lagu, tetapi sebuah percakapan musikal yang mendalam, menunjukkan bagaimana jazz dapat menjadi bahasa universal yang menghubungkan berbagai budaya dan tradisi.

Jam Session Spontan dan Kolaborasi Tak Terduga

Pertunjukan kemudian berkembang menjadi jam session yang lebih spontan dan organik, mencerminkan semangat sejati dari tradisi jazz. “Caravan” membuka sesi kedua, disusul penampilan vokal pada “Route 66” dan kemunculan sejumlah musisi tamu yang menambah energi panggung. Penyanyi jazz Ethiopia Hilina Berta bergabung bersama Rebka untuk membawakan “L.O.V.E.” karya Nat King Cole, menambah dimensi vokal yang kaya pada pertunjukan.

Tidak berhenti di sana, seorang penyanyi asal Kolombia bernama Guillermo, yang awalnya datang sebagai penonton, ikut naik ke panggung dan berkolaborasi dengan Nial. Momen spontan ini menunjukkan kekuatan musik jazz dalam menyatukan orang-orang dari berbagai latar belakang dan negara. Malam itu kemudian bergerak dari Ethiopian waltz menuju Latin jazz, “Bésame Mucho”, hingga “Moliendo Café (Kopi Dangdut)” dan ditutup dengan “Watermelon Man” milik Herbie Hancock. Perjalanan musikal ini mencerminkan sifat universal jazz sebagai bahasa yang dapat dipahami dan dinikmati oleh semua orang, terlepas dari asal-usul mereka.

Workshop dan Dampak Budaya Jangka Panjang

Sehari sebelum konser, Nial juga memberikan Jazz Workshop di Loka Budaya, Kedutaan Besar Indonesia di Addis Ababa. Workshop tersebut mempertemukan musisi jazz Ethiopia, mahasiswa, dan pencinta musik lokal dalam sesi yang membahas improvisasi, teknik, serta tradisi jazz. Inisiatif edukatif ini menunjukkan komitmen Nial tidak hanya untuk memberikan pertunjukan berkualitas tinggi, tetapi juga untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan komunitas musik lokal, menciptakan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan.

Penampilan di African Jazz Village ditutup dengan standing ovation yang meriah. Seusai konser, para musisi dan penonton berbaur dalam sesi meet-and-greet yang hangat. Salah satu yang hadir adalah Melaku Belay, penari, koreografer, serta pendiri Fendika Cultural Center di Ethiopia. Bagi Belay, pertemuan tersebut merupakan sesuatu yang lebih panjang daripada satu malam pertunjukan biasa. Baginya, kolaborasi antara musisi Indonesia dan Ethiopia dapat menjadi fondasi hubungan budaya yang berkelanjutan, membuka peluang untuk pertukaran artistik dan budaya di masa depan.

Ketika sebuah lagu Indonesia seperti “Es Lilin” bisa bertemu dengan “Yekermo Sew” di Addis Ababa, di situlah perjalanan jazz Indonesia ke dunia menemukan percakapan baru yang bermakna. Penampilan Nial Djuliarso tidak hanya menandai pencapaian pribadi, tetapi juga merupakan langkah penting dalam memperkuat posisi jazz Indonesia di panggung dunia, membuktikan bahwa musik Indonesia memiliki daya tarik dan relevansi universal yang dapat diapresiasi oleh audiens internasional.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version