Jazz
BASS3 dan Sruti Respati Eksplorasi Fusion Rasa Sinden di Prambanan Jazz Festival 2026
BASS3 menjadi salah satu penampil istimewa di hari ketiga Prambanan Jazz Festival pada Minggu, 5 Juli 2026. Grup musik berbasis bass ini tampil di Langgam Lounge dengan membawakan komposisi-komposisi unik yang menggabungkan instrumen bass sebagai melodi utama dengan sentuhan vokal tradisional Indonesia. Penampilan ini menandai kelanjutan dari perjalanan panjang BASS3 dalam mengeksplorasi potensi bass sebagai instrumen yang tidak hanya menjaga ritme, tetapi juga membawa melodi dan harmoni yang kuat.
Personil dan Komposisi Istimewa di Panggung Prambanan
Penampilan BASS3 di Prambanan Jazz Festival 2026 melibatkan enam musisi berbakat yang masing-masing membawa keahlian khusus. Personilnya terdiri dari Bintang Indrianto sebagai bassist dan arranger utama, Roedyanto Wasito sebagai bassist kedua, Ibrani Pandean sebagai bassist ketiga, Yo Iqball sebagai drummer, Sruti Respati sebagai vokalis, dan Oxy Arya Wijaya sebagai keyboardist. Kombinasi personil ini menciptakan harmoni yang kompleks dan menarik, dengan tiga bass yang bekerja secara sinergis untuk menghasilkan tekstur suara yang belum pernah ada sebelumnya.
Dalam pertunjukan tersebut, BASS3 mempersembahkan empat komposisi instrumental yang cenderung ke arah fusion, yaitu Dolanan, Rimba Terakhir, Dialog Harmonic, dan Tiga Warna. Keempat lagu ini menampilkan eksplorasi harmoni yang mendalam dan permainan bass yang presisi. Selain itu, grup ini juga menyajikan tiga lagu dengan lirik bahasa Jawa, yaitu Lunging Rasa, Kelinci Ucul, dan Ole Olang, yang dinyanyikan oleh Sruti Respati dengan eksplorasi khas suara sindennya. Pendekatan ini menunjukkan komitmen BASS3 untuk menggabungkan elemen musik tradisional Indonesia dengan konsep jazz modern yang sophisticated.
Konsep Harmoni Bass dan Visi Artistik BASS3
Bintang Indrianto, sebagai founder dan visioner utama BASS3, menjelaskan bahwa konsep grup ini didasarkan pada pemahaman mendalam tentang harmoni. Menurutnya, penggunaan harmoni nada pada bass sebenarnya sama dengan vokal, namun pada bass terdapat frekuensi ciri sound dan permainan yang unik. Konsep ini memungkinkan ketiga bass untuk berinteraksi secara harmonis, menciptakan lapisan suara yang kaya dan kompleks. Visi ke depan BASS3 adalah untuk menyertakan elemen gamelan dan string dalam komposisi mereka, sehingga frekuensi tiga bass dapat digabungkan dengan suasana Indonesiana yang autentik dan mendalam.
Pendekatan artistik ini mencerminkan filosofi yang lebih luas tentang peran bass dalam musik kontemporer. Selama bertahun-tahun, bass sering dianggap sebagai instrumen pendukung yang hanya bertugas menjaga ritme dan harmoni dasar. Namun, BASS3 membuktikan bahwa bass dapat menjadi instrumen melodi utama yang mampu membawa cerita dan emosi yang sama kuatnya dengan instrumen lainnya. Dengan menggabungkan tiga bassist dengan gaya bermain yang berbeda-beda, BASS3 menciptakan dialog musik yang dinamis dan engaging.
Sejarah Panjang BASS3: Dari B-3 hingga Reuni 2026
Perjalanan BASS3 dimulai dari proyek B-3 (Bass-3) yang dibentuk oleh Bintang Indrianto pada awal era 2000-an. Proyek ini berawal dari ide cemerlang untuk menggabungkan tiga musisi bass kenamaan Indonesia dalam satu proyek rekaman yang kohesif. Hasilnya adalah album Jazzybass Light Jazz Instrumental yang dirilis pada awal 2002, menampilkan personil Bintang Indrianto, Indro Hardjodikoro, dan Ananda Soetrisno Mates (AS. Mates). Keunikan album ini terletak pada penggunaan ragam jenis bass yang berbeda, mulai dari bass enam senar fretted, bass akustik, hingga bass fretless, yang masing-masing memberikan warna suara yang distinktif.
Setelah kesuksesan awal B-3, grup ini tampil ikonik di panggung Java Jazz Festival pada tahun 2010, menunjukkan bahwa konsep bass-centric ini memiliki daya tarik yang berkelanjutan. Kemudian, setelah hiatus yang cukup panjang, BASS3 melakukan reuni besar pada akhir 2025 yang berlanjut ke tahun 2026 dengan merilis karya-karya baru. Era reuni ini menampilkan personil yang sedikit berbeda, dengan Bintang Indrianto tetap sebagai musisi, produser, dan arranger utama. Roedyanto Wasito, yang juga dikenal dari proyek Emerald, menghadirkan groove bass yang tebal dan stabil. Rindra Risyanto Noor, dari Padi Reborn, menyumbangkan melodi yang kuat dan emosional, melengkapi tekstur harmoni yang kompleks.
Karya-Karya Baru dan Pesan Sosial
Dalam era reuni ini, BASS3 merilis karya-karya baru yang tidak hanya fokus pada eksplorasi teknis, tetapi juga mengangkat pesan-pesan sosial yang relevan. Single-single seperti “Rimba Terakhir” dan “3WARNA” dirilis di bawah label Demajors dan menampilkan nuansa kritik sosial yang mendalam. “Rimba Terakhir” misalnya, mengeksplorasi isu-isu lingkungan dan konservasi alam, sementara “3WARNA” menyentuh tema-tema keberagaman dan harmoni sosial. Pendekatan ini menunjukkan bahwa BASS3 tidak hanya peduli dengan aspek teknis dan artistik musik, tetapi juga dengan tanggung jawab sosial mereka sebagai musisi.
Penampilan BASS3 di Prambanan Jazz Festival 2026 merupakan bukti nyata dari evolusi dan relevansi grup ini dalam lanskap musik Indonesia kontemporer. Dengan menggabungkan eksplorasi harmoni yang sophisticated, sentuhan tradisional Indonesia melalui vokal Sruti Respati, dan pesan-pesan sosial yang bermakna, BASS3 terus membuktikan bahwa bass adalah instrumen yang layak untuk menjadi pusat perhatian dalam komposisi musik modern. Penampilan ini juga menginspirasi generasi musisi muda untuk melihat bass bukan hanya sebagai instrumen pendukung, tetapi sebagai medium artistik yang penuh potensi dan kemungkinan tak terbatas.