Jazz
Pekan Komponis Indonesia 2026 Gelar Diskusi Ekologi Bunyi dan Musik Spasial
Pekan Komponis Indonesia 2026 resmi meluncurkan perhelatan tahunannya dengan menyoroti hubungan mendalam antara bunyi, tubuh, memori, dan lingkungan sosial. Melalui rangkaian pertunjukan kuliah (lecture performance), forum tahunan ini tidak hanya merayakan kuantitas karya musik kontemporer, melainkan juga menandai pergeseran mendasar tentang bagaimana ruang dan ekologi bunyi diperlakukan oleh para komponis lintas generasi.
Visi Spasial Lima Miliar Tahun Dion Nataraja
Komponis Dion Nataraja membuka perdebatan musikal dengan mempresentasikan proyek visioner bertajuk Sandikala atau Palastra. Karya ini tidak sekadar membicarakan struktur lagu konvensional, melainkan mengartikulasikan konsep waktu secara radikal. Mengutip bait Bhagavad Gita kala asmi loka-ksaya-krit—yang bermakna “Aku adalah waktu, penghancur dunia”—Dion justru melahirkan gagasan musik yang dirancang untuk melintasi batas rentang hidup manusia dan eksis melampaui zaman.
Palastra dirancang sebagai sistem musik masa depan untuk rentang waktu lima miliar tahun ke depan. Melalui kalkulasi matematis yang presisi berupa penalaan poliritme dengan rumus 29 x 510 yang menghasilkan angka 9.765.625, karya ini dijadwalkan dimulai pada 22 Juli 2028 dan baru akan usai pada 22 Juli tahun 5.000.000.000. Layaknya pembangunan gereja Sagrada Familia di Barcelona yang melampaui umur perancangnya, Dion menyusun klasifikasi penalaan baru seperti Max Diversity, Med Diversity, dan Max Uniformity guna menghasilkan ratusan sistem laras gamelan yang futuristik namun tetap berakar pada tradisi.
Eksplorasi ini didukung perancangan instrumen khusus berbusa akustik oleh Mochamad Febriyanto, yang menempatkan musik pada wilayah expanded field. Pendekatan ini mencakup aspek ketubuhan, intertekstualitas, dan pemikiran ulang terhadap infrastruktur sosial musisi. Proyek ini tidak lagi berfokus pada pertunjukan konser sesaat, melainkan pada penciptaan ekosistem berkelanjutan seperti inklusivitas gender, jaringan kolaborasi global, hingga pembangunan gedung khusus pementasan.
Kreativitas AI dan Interaksi Musikal Bersama Mesin
Di sisi lain, persoalan teknologi modern ditanggapi secara mendalam oleh Stevie J. Sutanto melalui sesi Komposisi Musik Berbasis Kecerdasan Buatan (AI). Jika Dion membangun struktur musikal berskala raksasa dalam jangka panjang, Stevie menelusuri bagaimana sistem komputasional mampu berdialog secara intim dalam proses kreatif penciptaan karya sehari-hari.
Dalam karyanya yang berjudul Kecapi Angklung Khayalan, Stevie mempertemukan rekaman instrumen kecapi tradisional yang ekspresif dengan korpus 350 suara angklung hasil olahan generatif AI. Dengan mengutip konsep structured uncertainty, Stevie menegaskan bahwa keterlibatan mesin tidak menghilangkan peran kepengarangan seorang komponis. Sebaliknya, peran komponis bergeser menjadi seorang kurator relasi yang memilih, menyusun, dan menentukan batas keterlibatan teknologi dalam membentuk narasi musikal yang baru.
Generasi Muda dan Eksplorasi Gamelan di Surakarta
Perspektif historis dan statistik sejarah komposisi gamelan baru di Surakarta turut dipaparkan oleh Wahyu Thoyyib Pambayun. Ia mencatat lonjakan signifikan karya gamelan eksperimental, dari 59 karya pada periode 1980–1990 menjadi 121 karya sepanjang periode 2019–2026. Pertumbuhan ini juga didukung oleh lebih dari 400 mahasiswa aktif di ISI Surakarta yang mengadopsi tradisi sebagai sistem operasi untuk merespons masa depan.
Semangat inovasi ini tecermin kuat dari karya-karya komponis Generasi Z Surakarta. Merak Badra Waharuyung menghadirkan Nabuh Immersive 2026 dengan tata suara quadraphonic empat titik yang membalik cara pandang penonton terhadap panggung. Totti Wahyu Bathara membawa karya Kreteg 2025 ke tengah masyarakat desa melalui pengolahan Reyog Kendhang Tulungagung yang partisipatif dan ramah anak. Sementara itu, Rizal Al Maruf menggarap Upeksha 2025 sebagai karya site-specific di area sungai, serta Yofan Firnanda dan Zildhan Wisnu yang memodifikasi instrumen siter hingga memanfaatkan material harian seperti bathok kelapa untuk membedah ulang lagu dolanan Sluku-Sluku Bathok.
Kerangka Ekologi Mendengar dan Ruang Spasial
Rangkaian gagasan spasial dan kontekstual ini akhirnya dirumuskan oleh Gatot Danar Sulistiyanto sebagai sebuah ekologi mendengar. Menurut Gatot, audio spasial merupakan bentuk relasi dinamis antara praktik mendengar, perancangan artistik komposisi, dan teknologi audio yang beroperasi dalam ruang serta konteks tertentu. Kerangka kerja yang melibatkan dimensi ruang, praktik, perhatian, konteks, dan pembadanan (embodiment) menempatkan tubuh pendengar serta instrumen sebagai bagian utuh dari karya itu sendiri.
Eksplorasi ekologi mendengar ini juga diperkaya oleh pementasan M. Hario Efenur melalui karya Candasuara, yang menggali pemetaan gerakan seni bela diri Silek (silat) ke dalam wujud ekspresi bunyi spasial. Perhelatan Pekan Komponis Indonesia 2026 pun menegaskan bahwa musik kontemporer Indonesia tidak hanya hadir sebagai hiburan auditori, tetapi juga sebagai medan pemikiran intelektual yang terus berkembang dan responsif terhadap ruang, masa depan, serta lingkungan sosialnya.
Jazz
Jeremy Monteiro Rayakan 50 Tahun Berkarier Lewat Konser Megah di Esplanade
Maestro jazz, komponis, dan pendidik musik terkemuka asal Singapura, Profesor Jeremy Monteiro, bersiap merayakan pencapaian emas berupa 50 tahun berkarier di panggung musik profesional. Momen bersejarah ini akan diabadikan dalam sebuah pertunjukan musik megah bertajuk Jeremy Monteiro: 50 Years of Jazz yang dijadwalkan berlangsung di panggung Esplanade Concert Hall.
Perjalanan Panjang Lima Dekade dan Pengaruh di Asia Tenggara
Perjalanan musik Jeremy Monteiro dimulai pada tahun 1976, ketika ia pertama kali melangkah ke dunia seni pertunjukan profesional sebagai pianis dan pemain organ di usia remaja. Berkat dorongan serta dukungan penuh dari sang ayah, dedikasi dan bakat alaminya terus berkembang pesat hingga menempatkannya sebagai salah satu figur paling berpengaruh dalam kancah musik Asia Tenggara. Selama setengah abad, Jeremy tidak hanya menjadi penampil di atas panggung, tetapi juga arsitek utama yang membangun dan memperkuat ekosistem jazz di Singapura dan kawasan regional.
Julukan sebagai salah satu ikon jazz terkemuka Asia tidak didapatkan begitu saja. Dedikasi Jeremy terlihat dari konsistensinya merilis album, menggubah karya-karya orisinal, serta membawa warna musik jazz Singapura ke panggung internasional. Dari panggung-panggung klub hingga festival jazz kelas dunia, kontribusinya telah membakar semangat ribuan pencinta musik serta menginspirasi generasi musisi muda untuk menekuni genre ini dengan penuh integritas dan kedalaman seni.
Mendedikasikan Diri untuk Regenerasi Melalui JASS
Bagi Jeremy Monteiro, keberhasilan sebuah perjalanan panjang tidak hanya diukur dari megahnya tepuk tangan penonton atau deretan album yang berhasil diproduksi. Baginya, esensi sejati dari perjalanannya selama 50 tahun adalah memastikan keberlanjutan ekosistem musik jazz itu sendiri. Hal ini dibuktikan melalui peran aktifnya sebagai salah satu pendiri Jazz Association (Singapore) atau yang dikenal sebagai JASS, sebuah organisasi non-profit yang kini telah memasuki usia satu dekade dalam mengabdi pada pengembangan seni jazz.
Melalui JASS, Jeremy mendedikasikan sebagian besar waktunya untuk membina, membimbing, dan menyediakan platform bagi bakat-bakat muda. Upaya pementoran ini terbukti membuahkan hasil nyata dengan lahirnya musisi-musisi muda berbakat yang siap membawa nama kawasan ke tingkat global. Dalam konser 50 tahun mendatang, komitmen regenerasi ini akan tercermin dengan hadirnya talenta muda seperti saksofonis Sean Hong Wei dan vokalis Maya Raisha. Kedua musisi muda ini merupakan penerima beasiswa JASS yang saat ini sedang menempuh pendidikan pascasarjana di New York, Amerika Serikat. Kehadiran mereka di panggung utama berdampingan dengan musisi senior menjadi simbol penyerahan tongkat estafet yang krusial bagi masa depan jazz.
Panggung Reuni Internasional dan Karya-Karya Orisinal
Konser perayaan setengah abad ini dirancang bukan sekadar sebagai ajang pertunjukan biasa, melainkan sebuah reuni musikal lintas negara yang sarat akan makna persahabatan dan kolaborasi seni. Jeremy Monteiro akan berbagi panggung dengan jajaran musisi jazz internasional ternama yang telah menjadi bagian dari perjalanan karirnya. Di antaranya adalah peniup terompet andal asal Prancis, Nicolas Folmer; gitaris veteran ternama, Eugene Pao; pemain double bass, Ben Poh; serta penggebuk drum berpengalaman asal Thailand, Chanutr Techatananan (Hong).
Para penonton yang hadir di Esplanade Concert Hall tidak hanya akan menikmati interpretasi memukau dari standar jazz klasik, tetapi juga akan diajak menyusuri rekam jejak emosional Jeremy melalui deretan komposisi orisinal miliknya. Beberapa karya ikonik yang siap dibawakan antara lain From Paris to Segré, Alone in Paris, karya berirama penuh energi Samba Appasionata, hingga nomor musik terbaru yang segar berjudul Smell the Roses. Setiap komposisi menyimpan cerita tersendiri mengenai perjalanan hidup, refleksi pribadi, dan perjalanan intelektual sang maestro di dunia musik.
Informasi Tiket dan Perayaan Sejarah Musik Jazz
Konser istimewa Jeremy Monteiro: 50 Years of Jazz yang bakal digelar pada 14 November 2026 ini diprediksi menjadi salah satu agenda seni paling dinantikan di kawasan Asia Tenggara. Malam perayaan ini dijanjikan akan menyajikan perpaduan antara nostalgia masa lalu, perayaan masa kini, serta optimisme akan masa depan dunia jazz yang makin cerah.
Berdasarkan informasi resmi dari pihak pengelola venue Esplanade, tiket konser perayaan ini ditawarkan dalam beberapa kategori harga, dimulai dari $58 hingga $118. Pihak penyelenggara juga menyediakan program potongan harga khusus bagi kalangan pelajar, lansia, serta para pemegang kartu keanggotaan tertentu sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Esplanade.
Bagi para penggemar dan pencinta musik jazz yang ingin menjadi saksi sejarah perayaan 50 tahun perjalanan karir Jeremy Monteiro, pemesanan tiket dapat dilakukan secara daring melalui situs resmi Esplanade.com atau membelinya secara langsung di loket tiket Esplanade Mall serta jaringan SISTIC.
Jazz
JASS Mengumpulkan S$6,3 Juta dalam Perayaan Satu Dekade Musik Jazz
Jazz Association (Singapore) atau yang dikenal luas sebagai JASS merayakan perjalanan satu dekade kiprahnya di dunia musik melalui perhelatan Benefit Gala 2026 bertajuk “When You Wish Upon A Star – A Decade of Dreams”. Acara peringatan ulang tahun ke-10 yang berlangsung penuh khidmat ini menghadirkan Perdana Menteri sekaligus Menteri Keuangan Singapura, Lawrence Wong, sebagai Tamu Kehormatan. Perayaan ini sekaligus menjadi momentum bersejarah atas keberhasilan organisasi tersebut mengumpulkan total dana dukungan mencapai lebih dari S$6,3 juta sejak pertama kali didirikan.
Pencapaian Dana Hibah dan Penghargaan Filantropi Seni
Selama sepuluh tahun berdiri, JASS secara konsisten menunjukkan peran strategisnya dalam memobilisasi dukungan finansial guna menyokong keberlangsungan ekosistem musik jazz. Pada acara malam gala ulang tahun ke-10 tersebut, JASS berhasil memecahkan rekor penggalangan dana baru dengan mengumpulkan lebih dari S$1,4 juta dalam satu malam. Pencapaian luar biasa ini melengkapi total dana hibah dan donasi yang terkumpul selama satu dekade yang melampaui angka S$6,3 juta. Penggalangan dana ini membuktikan besarnya kepercayaan para donatur dan pemangku kepentingan terhadap misi kebudayaan yang diusung oleh organisasi.
Suasana perayaan malam gala semakin istimewa saat salah satu donatur utama, Bapak Roger Parellada, membawa pulang sebuah gitar listrik langka model Heritage H-535. Gitar yang sangat bernilai tinggi tersebut secara khusus ditandatangani langsung oleh Perdana Menteri Lawrence Wong sebagai bentuk apresiasi atas kepedulian terhadap seni budaya. Momen lelang dan penggalangan dana ini mempertegas pentingnya sinergi antara pemerintah, pelaku bisnis, dan tokoh masyarakat dalam menjaga keberlanjutan seni pertunjukan di kawasan Asia Tenggara.
Sebagai wujud apresiasi mendalam terhadap para penyokong gerakan ini, JASS juga meluncurkan Penghargaan Filantropi JASS untuk pertama kalinya. Penghargaan perdana ini dianugerahkan kepada sejumlah individu dan korporasi yang dinilai memberikan kontribusi luar biasa bagi tumbuh kembang komunitas jazz di Singapura. Di antara para penerima penghargaan tersebut adalah Albert Chiu, Composers and Authors Society of Singapore Ltd (COMPASS), pasangan Adrian dan Susan Peh, Profesor Jeremy Monteiro, pasangan Julian dan Sandra Chang, serta entitas bisnis Neo Group Limited dan EFG Bank AG.
Transformasi Pendidikan dan Regenerasi Musisi Muda
Perjalanan JASS dimulai pada tanggal 26 September 2016 ketika maestro jazz ternama sekaligus pendidik musik, Profesor Jeremy Monteiro, menggagas pembentukan organisasi ini bersama para tokoh pecinta jazz seperti Albert Chiu, Dr. Edmund Lam, dan Mrs. Susan Peh. Berawal dari visi bersama untuk memajukan seni jazz, JASS dengan cepat berkembang menjadi sebuah organisasi nirlaba dan lembaga amal terkemuka di Singapura. Komitmen utamanya berpusat pada perluasan aksesibilitas musik jazz, pemberian bantuan pendidikan melalui jalur beasiswa, serta pembentukan basis penonton baru di tingkat nasional maupun internasional.
Dalam kurun waktu sepuluh tahun, dampak sosial dan pendidikan yang dihasilkan oleh JASS terasa sangat signifikan. Melalui program Beasiswa Musik JASS, investasi senilai lebih dari S$500.000 telah disalurkan kepada 15 penerima beasiswa berbakat hingga bulan Maret 2026. Dukungan finansial dan pelatihan ini membuka jalan bagi para musisi muda untuk mengejar pendidikan musik formal dan memperdalam keahlian profesional mereka di panggung musik dunia.
Tidak hanya itu, JASS juga mendirikan dua badan orkestra utama, yaitu Jazz Association Singapore Orchestra (JASSO) dan orkes pemuda Jazz Association Singapore Youth Orchestra (JASSYO!). Kedua wadah musik ini telah menjadi sarana pelatihan intensif, pengalaman panggung profesional, serta program pendampingan bagi lebih dari 110 musisi muda. Secara keseluruhan, lebih dari 220 musisi profesional maupun pemula telah dilibatkan dalam berbagai proyek konser, festival musik, dan kegiatan edukasi komunitas yang diinisiasi oleh JASS. Dari sisi jangkauan pemirsa, program-program digital JASS berhasil meraih lebih dari 2,5 juta penayangan secara daring, sementara pertunjukan langsungnya telah dinikmati oleh lebih dari 62.800 penonton.
Diplomasi Kebudayaan dan Rencana Strategis Dekade Kedua
Selain memperkuat ekosistem lokal, JASS aktif menjalankan misi diplomasi budaya dengan membawa karya dan bakat musik jazz Singapura ke panggung internasional. Sepanjang dekade pertamanya, JASS tercatat telah menggelar 13 pertunjukan internasional di delapan kota yang tersebar di tujuh negara, termasuk Australia, Korea Selatan, China, Thailand, Malaysia, Britania Raya, hingga Amerika Serikat. Langkah ini berhasil menempatkan posisi Singapura sebagai salah satu simpul penting pertukaran budaya musik jazz di tingkat global.
Reputasi internasional JASS semakin diperkuat lewat kolaborasi tingkat tinggi dengan berbagai tokoh legendaris dan maestro jazz kelas dunia. Nama-nama besar seperti Randy Brecker, Benny Golson, Carmen Bradford, Laura Fygi, Roberta Gambarini, hingga para musisi dari Dizzy Gillespie Band di bawah pimpinan John Lee pernah berbagi panggung dan melakukan proyek kolaboratif bersama para musisi JASS. Kolaborasi ini memberi dampak positif berupa transfer pengetahuan serta peningkatan standar artistik musik jazz regional.
Menginjak dekade kedua perjalanannya, JASS tidak berencana untuk berhenti. Organisasi ini telah menyiapkan sejumlah inisiatif strategis baru untuk memperluas jangkauan dan dampaknya. Salah satu langkah terobosan yang diluncurkan adalah JASS Catalyst Fund, sebuah dana bantuan khusus yang dirancang untuk mendukung pengembangan profesional musisi, pendanaan proyek rekaman album, hingga memfasilitasi pementasan musisi Singapura di luar negeri. Di samping itu, ada pula program JASS Junior yang ditujukan secara khusus untuk pembinaan dan pemanduan bakat musisi muda berusia di bawah 18 tahun.
Melalui berbagai terobosan berkelanjutan ini, JASS optimistis dapat terus memperkokoh posisinya sebagai penggerak utama industri musik jazz. Langkah-langkah strategis ini diharapkan tidak hanya melahirkan generasi musisi jazz baru yang kompetitif secara global, tetapi juga makin mendekatkan visi besar untuk menjadikan Singapura sebagai salah satu pusat keunggulan dan inovasi musik jazz di dunia.
Jazz
Jeremy Monteiro Menggelar Konser 50 Tahun Berkarier Musik di Esplanade
Pemusik jazz ternama asal Singapura yang dijuluki “King of Swing”, Jeremy Monteiro, bersiap merayakan lima dekade perjalanannya di industri musik dunia melalui sebuah konser istimewa di Esplanade Concert Hall. Dalam wawancara mendalam, pianis, komposer, dan pendidik ini membagikan refleksi panjang mengenai awal kariernya di panggung lokal hingga visinya untuk masa depan musik jazz di kawasan Asia Tenggara. Perayaan tonggak sejarah 50 tahun berkarier ini menjadi momen penting yang menandai kepemimpinan dan dedikasinya dalam membina ekosistem musik lintas generasi.
Mengenang Awal Perjalanan dan Transformasi Ekosistem Jazz
Mengingat kembali awal langkahnya di dunia profesional pada tahun 1976, Jeremy merawat ingatan manis tentang panggung pertamanya di Country Club Hotel yang terletak di East Coast Road. Saat itu, ia bermain menggunakan piano dan organ Yamaha Electone yang disusun membentuk huruf L. Karena usianya yang masih di bawah umur untuk tampil di tempat pertunjukan malam sesuai aturan hukum yang berlaku, mendiang ayahnya selalu setia mendampinginya setiap malam tanpa pernah mengeluh. Kehadiran sang ayah serta gairah besar untuk terus bermain musik menjadi fondasi kokoh yang membentuk karakter dan kedisiplinannya sebagai seorang musisi papan atas.
Dalam kurun waktu lima puluh tahun terakhir, Jeremy menyaksikan perubahan drastis dalam ekosistem jazz, baik di Singapura maupun Asia Tenggara. Pada era awal kariernya, pendidikan formal jazz belum tersedia, sehingga para musisi generasi terdahulu harus belajar secara mandiri dari piringan hitam dan pengalaman tampil langsung bersama para senior di panggung. Saat ini, lanskap telah bertransformasi secara signifikan berkat tersedianya program gelar resmi di LASALLE College of the Arts serta kehadiran Jazz Association (Singapore) atau JASS yang aktif memberikan pembinaan, program latihan, dan beasiswa bagi talenta muda.
Kemudahan teknologi digital dan platform seperti YouTube kini memungkinkan generasi muda membedah solo dan mempelajari teknik para maestro secara mendalam. Meski demikian, Jeremy menegaskan bahwa esensi utama dari musik jazz tidak pernah berubah. Jazz adalah bentuk seni yang tetap bertumpu pada interaksi langsung, kejujuran performa di atas panggung, dan koneksi emosional dengan penonton yang hadir secara fisik di dalam satu ruangan.
Sinergi Lintas Generasi dan Kolaborasi Internasional
Konser di Esplanade ini juga menjadi panggung pembuktian bagi musisi-musisi muda berbakat yang telah mengukir prestasi di kancah internasional. Jeremy berkolaborasi dengan saksofonis Sean Hong Wei, yang pernah tampil bersama Dizzy Gillespie All-Stars Big Band serta memerankan peran penting pada John Coltrane Festival di New York bersama para legenda jazz dunia. Selain itu, hadir pula vokalis muda Maya Raisha, penerima beasiswa JASS yang saat ini sedang menempuh studi magister di New York. Bagi Jeremy, kehadiran mereka bukan sekadar regenerasi, melainkan sebuah pertunjukan keahlian tingkat tinggi dari para musisi yang sudah sejajar di panggung global.
Keberagaman warna musik dalam konser ini semakin diperkaya oleh kehadiran para kolaborator internasional yang telah menjadi sahabat dekat Jeremy selama puluhan tahun. Gitaris veteran asal Hong Kong, Eugene Pao, yang telah bermain bersama Jeremy sejak tahun 1985, turut ambil bagian dalam proyek ini. Pertunjukan ini juga melibatkan pemain terompet asal Prancis, Nicolas Folmer, drumer Chanutr “Hong” Techatananan asal Thailand yang mengajar di Silpakorn University, serta pemain bass berbakat asal Singapura, Ben Poh.
Penyatuan musisi dari berbagai latar belakang negara ini dilakukan tanpa memaksakan peleburan gaya yang artifisial. Jeremy memilih komposisi yang dirancang khusus untuk membebaskan setiap individu menampilkan karakter artistik terbaik mereka. Sinergi internasional ini mencerminkan betapa musik jazz mampu menjadi jembatan lintas budaya yang menyatukan berbagai warna musikalitas di atas satu panggung yang harmonis.
Eksplorasi Karya Orisinal dan Sentuhan Nostalgia
Dalam konser perayaan ini, penonton akan disuguhkan susunan lagu yang menggabungkan standar jazz klasik dengan sederet karya orisinal ciptaan Jeremy sendiri. Beberapa lagu penting yang akan dibawakan antara lain “From Paris to Segré”, sebuah komposisi yang ditulis bersama Eugene Pao melalui korespondensi surat elektronik usai perjalanan kereta api di Prancis, serta “Alone in Paris” (“Seul à Paris”) yang dibawakan oleh Maya Raisha dalam bahasa Prancis dan Inggris. Jeremy juga akan menghadirkan nuansa Latin melalui karya berbahasa Portugis berjudul “Samba Appasionata” (“Samba Apaixonado”) yang diciptakan bersama penulis lirik Juliana Da Silva.
Selain lagu-lagu legendaris tersebut, Jeremy berencana memperkenalkan komposisi terbarunya yang penuh dengan energi swing ceria berjudul “Smell the Roses”. Lagu ini membawa pesan filosofis mendalam tentang pentingnya berhenti sejenak untuk menikmati keindahan hidup di tengah hiruk-pikuk dan kesibukan sehari-hari. Eksplorasi karya ini menunjukkan bahwa daya cipta Jeremy tetap bergelora dan relevan meskipun telah berkiprah selama setengah abad.
Dari segi teknis, Jeremy akan memadukan permainan piano dengan organ Viscount Legend pada beberapa nomor lagu tertentu. Penggunaan instrumen organ ini menjadi bentuk penghormatan personal pada masa-masa awal kariernya di tahun 1976. Sentuhan organ memberikan karakter warna suara dan alur ritme yang berbeda pada grup instrumen. Namun demikian, Jeremy menekankan bahwa instrumen terpenting dalam perjalanan kariernya bukanlah sekadar peralatan teknis, melainkan orang-orang dan musisi yang berbagi jiwa di atas panggung bersama dirinya.
Membangun Warisan dan Masa Depan Jazz Asia Tenggara
Peran Jeremy Monteiro di kancah musik tidak terbatas sebagai komposer dan performer, tetapi juga sebagai tokoh kunci dalam pengembangan komunitas jazz melalui Jazz Association (Singapore). Melalui orkestra pemuda, program pendampingan, beasiswa, dan penyediaan panggung penampilan, JASS berkomitmen menciptakan keberlanjutan ekosistem musik jazz di wilayah Asia Tenggara.
Bagi Jeremy, pencapaian terbesar dalam 50 tahun kariernya bukanlah jumlah album yang dirilis atau banyaknya gedung pertunjukan yang telah disinggahi, melainkan warisan dan kepastian bahwa musik jazz akan terus tumbuh serta berkembang setelah era dirinya. Menampilkan para musisi penerima beasiswa JASS di panggung bergengsi seperti Esplanade Concert Hall menjadi bukti nyata dari keberhasilan misi pencerahan tersebut. Konser perayaan 50 tahun ini tidak hanya merayakan perjalanan panjang yang telah dilalui, melainkan juga meletakkan batu pertama bagi kemajuan musik jazz untuk 50 tahun ke depan.
Uncategorized4 hari agoJohn Paul Ivan Produseri Single Terbaru JAMSKY, Bantu Band Pop Rock Ini Bangun Identitas
Metal2 minggu agoSiksakubur Merayakan Tiga Dekade Eksistensi Bersama Andre Tiranda
Musik2 minggu agoDaily Breeze Merilis Dua Single Anyar Menuju Album Debut
Metal1 minggu agoBon Jovi Mengumumkan Konser di BST Hyde Park dan Tur Stadion 2027
Metal2 minggu agoNene Royal Tampil Bersama Avenged Sevenfold di Singapura untuk Wujudkan Impian
Metal2 minggu agoBrian May Ungkap Solo Gitar Favorit Sepanjang Masa dan Karya Terbaiknya
Musik5 hari agoBuitenstage Vol 17 Satukan Tiga Musisi Lintas Genre di Bogor
Musik2 minggu agoEtenia Croft Raih Dua Nominasi Bergengsi AMI Awards 2026






