Connect with us

Jazz

Tiga Negara Baltik Bersatu Menghadirkan Sejarah Jazz di Jazzahead! 2027

Published

on

Tiga negara Baltik, yaitu Estonia, Latvia, dan Lithuania, secara resmi diumumkan akan menjadi Partner Region dalam perhelatan jazzahead! 2027. Ajang ini dikenal sebagai pameran dan festival jazz terbesar di dunia yang dijadwalkan berlangsung pada 22 hingga 24 April 2027 di Bremen, Jerman. Penunjukan ini bukan sekadar pengakuan atas kualitas musik mereka saat ini, melainkan juga sebuah perayaan atas sejarah panjang perjuangan, kebebasan berekspresi, dan ketahanan budaya sebuah kawasan yang pernah berada di bawah bayang-bayang kekuasaan Uni Soviet.

Hubungan Historis yang Mendalam dan Pengaruh Louis Armstrong

Kisah perkembangan musik jazz di kawasan Baltik memiliki akar sejarah yang sangat unik dan bahkan bersinggungan dengan salah satu legenda jazz terbesar dunia, Louis Armstrong. Hubungan ini bermula pada tahun 1907 ketika keluarga Karnofsky, imigran Yahudi asal Lithuania yang menetap di New Orleans, merawat Armstrong kecil yang saat itu baru berusia enam tahun. Keluarga imigran ini memberikan pengaruh besar pada masa muda Armstrong, memperkenalkannya pada lagu-lagu Yiddish, dan bahkan meminjamkan uang sebesar lima dolar yang kemudian ia gunakan untuk membeli cornet pertamanya. Dalam autobiografinya, Armstrong mengenang bahwa pelajaran paling berharga yang ia dapatkan dari keluarga Karnofsky adalah nilai kegigihan atau determination.

Di tanah air mereka sendiri, benih-benih jazz di negara-negara Baltik mulai tumbuh sejak awal abad ke-20. Pada musim panas tahun 1918, sekelompok pelajar di Tallinn, Estonia, mendirikan sebuah kelompok musik dansa modern yang kelak bertransformasi menjadi orkestra jazz profesional pertama di negara tersebut. Sementara itu di Latvia, istilah “jaz” pertama kali tercatat dalam media cetak pada Oktober 1918 melalui surat kabar berbahasa Jerman, Libausche Zeitung. Pada masa-masa awal tersebut, jazz tidak langsung diterima dengan tangan terbuka. Sejarawan musik Indriķis Veitners mencatat bahwa jazz pada waktu itu sering kali dipandang sebelah mata sebagai “musik salon” yang bising, kacau, dan diasosiasikan dengan perilaku yang kurang pantas menurut norma sosial saat itu.

Perjuangan Melawan Sensor Soviet dan Era Singing Revolution

Tantangan terbesar bagi perkembangan jazz di Baltik terjadi pasca-Perang Dunia II, tepatnya setelah tahun 1945 ketika kawasan ini dianeksasi oleh Uni Soviet. Di bawah rezim Soviet, musik jazz tidak secara eksplisit dilarang, namun keberadaannya dicurigai secara ketat karena dianggap membawa pengaruh budaya Barat yang dekaden. Akibatnya, para pencinta musik dan musisi lokal harus menyelundupkan rekaman-rekaman jazz dari luar negeri demi menjaga api kreativitas mereka tetap menyala. Di tengah tekanan tersebut, Tallinn Jazz Festival yang didirikan pada tahun 1959 berhasil tumbuh menjadi salah satu mercusuar jazz paling penting di kawasan tersebut.

Puncak dari festival ini terjadi pada tahun 1967, ketika musisi dari ketiga negara Baltik tampil bersama di satu panggung. Festival tersebut bahkan berhasil mendatangkan Charles Lloyd Quartet asal Amerika Serikat, yang saat itu diperkuat oleh pianis legendaris Keith Jarrett. Kehadiran mereka menarik perhatian media internasional, namun sekaligus memicu kekhawatiran otoritas Soviet. Rezim kemudian berusaha mendiskreditkan musik ini dengan propaganda terkenal: “Siapa pun yang menyukai jazz hari ini, akan menjual tanah airnya besok.” Akibat tekanan politik ini, festival tersebut terpaksa dihentikan, dan jazz secara resmi diposisikan sebagai simbol perlawanan politik yang lebih dalam daripada sekadar genre musik.

Puncak dari ketegangan politik ini bermuara pada peristiwa bersejarah “Baltic Way” pada 23 Agustus 1989. Lebih dari dua juta warga Estonia, Latvia, dan Lithuania membentuk rantai manusia sepanjang hampir 700 kilometer sebagai aksi damai menuntut kemerdekaan dari Uni Soviet. Gerakan ini merupakan bagian dari “Singing Revolution”, sebuah periode di mana lagu-lagu kebangsaan yang lama dilarang kembali dinyanyikan secara massal di ruang publik. Di tengah pergolakan ini, jazz terus berevolusi. Pada era 1970-an dan 1980-an, Ganelin Trio yang dipimpin oleh pianis asal Lithuania, Vyacheslav “Slava” Ganelin, muncul sebagai salah satu pelopor free jazz paling berpengaruh di dunia, bahkan sering disejajarkan dengan kelompok legendaris Art Ensemble of Chicago.

Kebangkitan Modern dan Panggung Global di jazzahead! 2027

Kini, lanskap jazz di ketiga negara Baltik telah sepenuhnya keluar dari bayang-bayang gerakan bawah tanah. Jika dahulu mereka harus menyelundupkan musik dari Barat, kini giliran karya-karya musisi Baltik yang mengalir deras dan diakui di panggung internasional. Estonia kini bangga memiliki musisi seperti pianis Kristjan Randalu yang merilis album di bawah label prestisius ECM, serta Maria Faust, pemain saksofon yang kini berbasis di Denmark dan dikenal lewat proyek-proyek musiknya yang ambisius seperti Mass of Mary.

Latvia juga tidak kalah bersinar dengan kehadiran gitaris Matīss Čudars, yang pada tahun 2023 mencetak sejarah dengan memenangkan Latvian Grand Music Award—sebuah penghargaan tinggi yang biasanya didominasi oleh musisi klasik. Selain itu, ada Ella Zirina, gitaris muda kelahiran 1997 yang kini menjadi salah satu musisi paling dicari di berbagai panggung jazz Eropa. Sementara dari Lithuania, nama-nama seperti pemain trombon Jievaras Jasinskis dan pemain saksofon Liudas Mockūnas terus mendominasi festival internasional, didampingi oleh Vladimir Tarasoff dari Ganelin Trio yang masih aktif berkarya hingga hari ini.

Kehadiran Estonia, Latvia, dan Lithuania sebagai Partner Region di jazzahead! 2027 menandai babak baru bagi ekosistem musik mereka. Ketiga negara yang kini menjadi anggota Uni Eropa dengan mata uang Euro ini telah memiliki jaringan festival yang sangat mapan. Estonia memiliki Jazzkaar yang konsisten digelar sejak 1990, Latvia bangga dengan Rīgas Ritmi yang dimulai sejak 2001, sedangkan Lithuania memiliki Birštonas Jazz yang telah bertahan sejak era Perang Dingin pada tahun 1980. Bagi para musisi yang ingin ikut serta dalam momen bersejarah ini, panitia jazzahead! masih membuka kesempatan pendaftaran untuk tampil dalam sesi Showcase hingga tanggal 30 September 2026 pukul 23.59 waktu Bremen, Jerman.

Perjalanan panjang dari musik yang dicurigai sebagai ancaman ideologis hingga menjadi duta budaya di panggung global membuktikan bahwa jazz di negara Baltik bukan lagi sekadar tentang bertahan hidup, melainkan tentang merayakan kebebasan yang telah mereka rebut kembali. Di jazzahead! 2027 nanti, dunia tidak hanya akan mendengarkan satu cerita dari tiga negara, melainkan tiga perjalanan musikal berbeda yang menyatu dalam satu harmoni yang indah.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jazz

Jeremy Monteiro Rayakan 50 Tahun Berkarier Lewat Konser Megah di Esplanade

Published

on

Maestro jazz, komponis, dan pendidik musik terkemuka asal Singapura, Profesor Jeremy Monteiro, bersiap merayakan pencapaian emas berupa 50 tahun berkarier di panggung musik profesional. Momen bersejarah ini akan diabadikan dalam sebuah pertunjukan musik megah bertajuk Jeremy Monteiro: 50 Years of Jazz yang dijadwalkan berlangsung di panggung Esplanade Concert Hall.

Perjalanan Panjang Lima Dekade dan Pengaruh di Asia Tenggara

Perjalanan musik Jeremy Monteiro dimulai pada tahun 1976, ketika ia pertama kali melangkah ke dunia seni pertunjukan profesional sebagai pianis dan pemain organ di usia remaja. Berkat dorongan serta dukungan penuh dari sang ayah, dedikasi dan bakat alaminya terus berkembang pesat hingga menempatkannya sebagai salah satu figur paling berpengaruh dalam kancah musik Asia Tenggara. Selama setengah abad, Jeremy tidak hanya menjadi penampil di atas panggung, tetapi juga arsitek utama yang membangun dan memperkuat ekosistem jazz di Singapura dan kawasan regional.

Julukan sebagai salah satu ikon jazz terkemuka Asia tidak didapatkan begitu saja. Dedikasi Jeremy terlihat dari konsistensinya merilis album, menggubah karya-karya orisinal, serta membawa warna musik jazz Singapura ke panggung internasional. Dari panggung-panggung klub hingga festival jazz kelas dunia, kontribusinya telah membakar semangat ribuan pencinta musik serta menginspirasi generasi musisi muda untuk menekuni genre ini dengan penuh integritas dan kedalaman seni.

Mendedikasikan Diri untuk Regenerasi Melalui JASS

Bagi Jeremy Monteiro, keberhasilan sebuah perjalanan panjang tidak hanya diukur dari megahnya tepuk tangan penonton atau deretan album yang berhasil diproduksi. Baginya, esensi sejati dari perjalanannya selama 50 tahun adalah memastikan keberlanjutan ekosistem musik jazz itu sendiri. Hal ini dibuktikan melalui peran aktifnya sebagai salah satu pendiri Jazz Association (Singapore) atau yang dikenal sebagai JASS, sebuah organisasi non-profit yang kini telah memasuki usia satu dekade dalam mengabdi pada pengembangan seni jazz.

Melalui JASS, Jeremy mendedikasikan sebagian besar waktunya untuk membina, membimbing, dan menyediakan platform bagi bakat-bakat muda. Upaya pementoran ini terbukti membuahkan hasil nyata dengan lahirnya musisi-musisi muda berbakat yang siap membawa nama kawasan ke tingkat global. Dalam konser 50 tahun mendatang, komitmen regenerasi ini akan tercermin dengan hadirnya talenta muda seperti saksofonis Sean Hong Wei dan vokalis Maya Raisha. Kedua musisi muda ini merupakan penerima beasiswa JASS yang saat ini sedang menempuh pendidikan pascasarjana di New York, Amerika Serikat. Kehadiran mereka di panggung utama berdampingan dengan musisi senior menjadi simbol penyerahan tongkat estafet yang krusial bagi masa depan jazz.

Panggung Reuni Internasional dan Karya-Karya Orisinal

Konser perayaan setengah abad ini dirancang bukan sekadar sebagai ajang pertunjukan biasa, melainkan sebuah reuni musikal lintas negara yang sarat akan makna persahabatan dan kolaborasi seni. Jeremy Monteiro akan berbagi panggung dengan jajaran musisi jazz internasional ternama yang telah menjadi bagian dari perjalanan karirnya. Di antaranya adalah peniup terompet andal asal Prancis, Nicolas Folmer; gitaris veteran ternama, Eugene Pao; pemain double bass, Ben Poh; serta penggebuk drum berpengalaman asal Thailand, Chanutr Techatananan (Hong).

Para penonton yang hadir di Esplanade Concert Hall tidak hanya akan menikmati interpretasi memukau dari standar jazz klasik, tetapi juga akan diajak menyusuri rekam jejak emosional Jeremy melalui deretan komposisi orisinal miliknya. Beberapa karya ikonik yang siap dibawakan antara lain From Paris to Segré, Alone in Paris, karya berirama penuh energi Samba Appasionata, hingga nomor musik terbaru yang segar berjudul Smell the Roses. Setiap komposisi menyimpan cerita tersendiri mengenai perjalanan hidup, refleksi pribadi, dan perjalanan intelektual sang maestro di dunia musik.

Informasi Tiket dan Perayaan Sejarah Musik Jazz

Konser istimewa Jeremy Monteiro: 50 Years of Jazz yang bakal digelar pada 14 November 2026 ini diprediksi menjadi salah satu agenda seni paling dinantikan di kawasan Asia Tenggara. Malam perayaan ini dijanjikan akan menyajikan perpaduan antara nostalgia masa lalu, perayaan masa kini, serta optimisme akan masa depan dunia jazz yang makin cerah.

Berdasarkan informasi resmi dari pihak pengelola venue Esplanade, tiket konser perayaan ini ditawarkan dalam beberapa kategori harga, dimulai dari $58 hingga $118. Pihak penyelenggara juga menyediakan program potongan harga khusus bagi kalangan pelajar, lansia, serta para pemegang kartu keanggotaan tertentu sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Esplanade.

Bagi para penggemar dan pencinta musik jazz yang ingin menjadi saksi sejarah perayaan 50 tahun perjalanan karir Jeremy Monteiro, pemesanan tiket dapat dilakukan secara daring melalui situs resmi Esplanade.com atau membelinya secara langsung di loket tiket Esplanade Mall serta jaringan SISTIC.

Continue Reading

Jazz

JASS Mengumpulkan S$6,3 Juta dalam Perayaan Satu Dekade Musik Jazz

Published

on

Jazz Association (Singapore) atau yang dikenal luas sebagai JASS merayakan perjalanan satu dekade kiprahnya di dunia musik melalui perhelatan Benefit Gala 2026 bertajuk “When You Wish Upon A Star – A Decade of Dreams”. Acara peringatan ulang tahun ke-10 yang berlangsung penuh khidmat ini menghadirkan Perdana Menteri sekaligus Menteri Keuangan Singapura, Lawrence Wong, sebagai Tamu Kehormatan. Perayaan ini sekaligus menjadi momentum bersejarah atas keberhasilan organisasi tersebut mengumpulkan total dana dukungan mencapai lebih dari S$6,3 juta sejak pertama kali didirikan.

Pencapaian Dana Hibah dan Penghargaan Filantropi Seni

Selama sepuluh tahun berdiri, JASS secara konsisten menunjukkan peran strategisnya dalam memobilisasi dukungan finansial guna menyokong keberlangsungan ekosistem musik jazz. Pada acara malam gala ulang tahun ke-10 tersebut, JASS berhasil memecahkan rekor penggalangan dana baru dengan mengumpulkan lebih dari S$1,4 juta dalam satu malam. Pencapaian luar biasa ini melengkapi total dana hibah dan donasi yang terkumpul selama satu dekade yang melampaui angka S$6,3 juta. Penggalangan dana ini membuktikan besarnya kepercayaan para donatur dan pemangku kepentingan terhadap misi kebudayaan yang diusung oleh organisasi.

Suasana perayaan malam gala semakin istimewa saat salah satu donatur utama, Bapak Roger Parellada, membawa pulang sebuah gitar listrik langka model Heritage H-535. Gitar yang sangat bernilai tinggi tersebut secara khusus ditandatangani langsung oleh Perdana Menteri Lawrence Wong sebagai bentuk apresiasi atas kepedulian terhadap seni budaya. Momen lelang dan penggalangan dana ini mempertegas pentingnya sinergi antara pemerintah, pelaku bisnis, dan tokoh masyarakat dalam menjaga keberlanjutan seni pertunjukan di kawasan Asia Tenggara.

Sebagai wujud apresiasi mendalam terhadap para penyokong gerakan ini, JASS juga meluncurkan Penghargaan Filantropi JASS untuk pertama kalinya. Penghargaan perdana ini dianugerahkan kepada sejumlah individu dan korporasi yang dinilai memberikan kontribusi luar biasa bagi tumbuh kembang komunitas jazz di Singapura. Di antara para penerima penghargaan tersebut adalah Albert Chiu, Composers and Authors Society of Singapore Ltd (COMPASS), pasangan Adrian dan Susan Peh, Profesor Jeremy Monteiro, pasangan Julian dan Sandra Chang, serta entitas bisnis Neo Group Limited dan EFG Bank AG.

Transformasi Pendidikan dan Regenerasi Musisi Muda

Perjalanan JASS dimulai pada tanggal 26 September 2016 ketika maestro jazz ternama sekaligus pendidik musik, Profesor Jeremy Monteiro, menggagas pembentukan organisasi ini bersama para tokoh pecinta jazz seperti Albert Chiu, Dr. Edmund Lam, dan Mrs. Susan Peh. Berawal dari visi bersama untuk memajukan seni jazz, JASS dengan cepat berkembang menjadi sebuah organisasi nirlaba dan lembaga amal terkemuka di Singapura. Komitmen utamanya berpusat pada perluasan aksesibilitas musik jazz, pemberian bantuan pendidikan melalui jalur beasiswa, serta pembentukan basis penonton baru di tingkat nasional maupun internasional.

Dalam kurun waktu sepuluh tahun, dampak sosial dan pendidikan yang dihasilkan oleh JASS terasa sangat signifikan. Melalui program Beasiswa Musik JASS, investasi senilai lebih dari S$500.000 telah disalurkan kepada 15 penerima beasiswa berbakat hingga bulan Maret 2026. Dukungan finansial dan pelatihan ini membuka jalan bagi para musisi muda untuk mengejar pendidikan musik formal dan memperdalam keahlian profesional mereka di panggung musik dunia.

Tidak hanya itu, JASS juga mendirikan dua badan orkestra utama, yaitu Jazz Association Singapore Orchestra (JASSO) dan orkes pemuda Jazz Association Singapore Youth Orchestra (JASSYO!). Kedua wadah musik ini telah menjadi sarana pelatihan intensif, pengalaman panggung profesional, serta program pendampingan bagi lebih dari 110 musisi muda. Secara keseluruhan, lebih dari 220 musisi profesional maupun pemula telah dilibatkan dalam berbagai proyek konser, festival musik, dan kegiatan edukasi komunitas yang diinisiasi oleh JASS. Dari sisi jangkauan pemirsa, program-program digital JASS berhasil meraih lebih dari 2,5 juta penayangan secara daring, sementara pertunjukan langsungnya telah dinikmati oleh lebih dari 62.800 penonton.

Diplomasi Kebudayaan dan Rencana Strategis Dekade Kedua

Selain memperkuat ekosistem lokal, JASS aktif menjalankan misi diplomasi budaya dengan membawa karya dan bakat musik jazz Singapura ke panggung internasional. Sepanjang dekade pertamanya, JASS tercatat telah menggelar 13 pertunjukan internasional di delapan kota yang tersebar di tujuh negara, termasuk Australia, Korea Selatan, China, Thailand, Malaysia, Britania Raya, hingga Amerika Serikat. Langkah ini berhasil menempatkan posisi Singapura sebagai salah satu simpul penting pertukaran budaya musik jazz di tingkat global.

Reputasi internasional JASS semakin diperkuat lewat kolaborasi tingkat tinggi dengan berbagai tokoh legendaris dan maestro jazz kelas dunia. Nama-nama besar seperti Randy Brecker, Benny Golson, Carmen Bradford, Laura Fygi, Roberta Gambarini, hingga para musisi dari Dizzy Gillespie Band di bawah pimpinan John Lee pernah berbagi panggung dan melakukan proyek kolaboratif bersama para musisi JASS. Kolaborasi ini memberi dampak positif berupa transfer pengetahuan serta peningkatan standar artistik musik jazz regional.

Menginjak dekade kedua perjalanannya, JASS tidak berencana untuk berhenti. Organisasi ini telah menyiapkan sejumlah inisiatif strategis baru untuk memperluas jangkauan dan dampaknya. Salah satu langkah terobosan yang diluncurkan adalah JASS Catalyst Fund, sebuah dana bantuan khusus yang dirancang untuk mendukung pengembangan profesional musisi, pendanaan proyek rekaman album, hingga memfasilitasi pementasan musisi Singapura di luar negeri. Di samping itu, ada pula program JASS Junior yang ditujukan secara khusus untuk pembinaan dan pemanduan bakat musisi muda berusia di bawah 18 tahun.

Melalui berbagai terobosan berkelanjutan ini, JASS optimistis dapat terus memperkokoh posisinya sebagai penggerak utama industri musik jazz. Langkah-langkah strategis ini diharapkan tidak hanya melahirkan generasi musisi jazz baru yang kompetitif secara global, tetapi juga makin mendekatkan visi besar untuk menjadikan Singapura sebagai salah satu pusat keunggulan dan inovasi musik jazz di dunia.

Continue Reading

Jazz

Jeremy Monteiro Menggelar Konser 50 Tahun Berkarier Musik di Esplanade

Published

on

Pemusik jazz ternama asal Singapura yang dijuluki “King of Swing”, Jeremy Monteiro, bersiap merayakan lima dekade perjalanannya di industri musik dunia melalui sebuah konser istimewa di Esplanade Concert Hall. Dalam wawancara mendalam, pianis, komposer, dan pendidik ini membagikan refleksi panjang mengenai awal kariernya di panggung lokal hingga visinya untuk masa depan musik jazz di kawasan Asia Tenggara. Perayaan tonggak sejarah 50 tahun berkarier ini menjadi momen penting yang menandai kepemimpinan dan dedikasinya dalam membina ekosistem musik lintas generasi.

Mengenang Awal Perjalanan dan Transformasi Ekosistem Jazz

Mengingat kembali awal langkahnya di dunia profesional pada tahun 1976, Jeremy merawat ingatan manis tentang panggung pertamanya di Country Club Hotel yang terletak di East Coast Road. Saat itu, ia bermain menggunakan piano dan organ Yamaha Electone yang disusun membentuk huruf L. Karena usianya yang masih di bawah umur untuk tampil di tempat pertunjukan malam sesuai aturan hukum yang berlaku, mendiang ayahnya selalu setia mendampinginya setiap malam tanpa pernah mengeluh. Kehadiran sang ayah serta gairah besar untuk terus bermain musik menjadi fondasi kokoh yang membentuk karakter dan kedisiplinannya sebagai seorang musisi papan atas.

Dalam kurun waktu lima puluh tahun terakhir, Jeremy menyaksikan perubahan drastis dalam ekosistem jazz, baik di Singapura maupun Asia Tenggara. Pada era awal kariernya, pendidikan formal jazz belum tersedia, sehingga para musisi generasi terdahulu harus belajar secara mandiri dari piringan hitam dan pengalaman tampil langsung bersama para senior di panggung. Saat ini, lanskap telah bertransformasi secara signifikan berkat tersedianya program gelar resmi di LASALLE College of the Arts serta kehadiran Jazz Association (Singapore) atau JASS yang aktif memberikan pembinaan, program latihan, dan beasiswa bagi talenta muda.

Kemudahan teknologi digital dan platform seperti YouTube kini memungkinkan generasi muda membedah solo dan mempelajari teknik para maestro secara mendalam. Meski demikian, Jeremy menegaskan bahwa esensi utama dari musik jazz tidak pernah berubah. Jazz adalah bentuk seni yang tetap bertumpu pada interaksi langsung, kejujuran performa di atas panggung, dan koneksi emosional dengan penonton yang hadir secara fisik di dalam satu ruangan.

Sinergi Lintas Generasi dan Kolaborasi Internasional

Konser di Esplanade ini juga menjadi panggung pembuktian bagi musisi-musisi muda berbakat yang telah mengukir prestasi di kancah internasional. Jeremy berkolaborasi dengan saksofonis Sean Hong Wei, yang pernah tampil bersama Dizzy Gillespie All-Stars Big Band serta memerankan peran penting pada John Coltrane Festival di New York bersama para legenda jazz dunia. Selain itu, hadir pula vokalis muda Maya Raisha, penerima beasiswa JASS yang saat ini sedang menempuh studi magister di New York. Bagi Jeremy, kehadiran mereka bukan sekadar regenerasi, melainkan sebuah pertunjukan keahlian tingkat tinggi dari para musisi yang sudah sejajar di panggung global.

Keberagaman warna musik dalam konser ini semakin diperkaya oleh kehadiran para kolaborator internasional yang telah menjadi sahabat dekat Jeremy selama puluhan tahun. Gitaris veteran asal Hong Kong, Eugene Pao, yang telah bermain bersama Jeremy sejak tahun 1985, turut ambil bagian dalam proyek ini. Pertunjukan ini juga melibatkan pemain terompet asal Prancis, Nicolas Folmer, drumer Chanutr “Hong” Techatananan asal Thailand yang mengajar di Silpakorn University, serta pemain bass berbakat asal Singapura, Ben Poh.

Penyatuan musisi dari berbagai latar belakang negara ini dilakukan tanpa memaksakan peleburan gaya yang artifisial. Jeremy memilih komposisi yang dirancang khusus untuk membebaskan setiap individu menampilkan karakter artistik terbaik mereka. Sinergi internasional ini mencerminkan betapa musik jazz mampu menjadi jembatan lintas budaya yang menyatukan berbagai warna musikalitas di atas satu panggung yang harmonis.

Eksplorasi Karya Orisinal dan Sentuhan Nostalgia

Dalam konser perayaan ini, penonton akan disuguhkan susunan lagu yang menggabungkan standar jazz klasik dengan sederet karya orisinal ciptaan Jeremy sendiri. Beberapa lagu penting yang akan dibawakan antara lain “From Paris to Segré”, sebuah komposisi yang ditulis bersama Eugene Pao melalui korespondensi surat elektronik usai perjalanan kereta api di Prancis, serta “Alone in Paris” (“Seul à Paris”) yang dibawakan oleh Maya Raisha dalam bahasa Prancis dan Inggris. Jeremy juga akan menghadirkan nuansa Latin melalui karya berbahasa Portugis berjudul “Samba Appasionata” (“Samba Apaixonado”) yang diciptakan bersama penulis lirik Juliana Da Silva.

Selain lagu-lagu legendaris tersebut, Jeremy berencana memperkenalkan komposisi terbarunya yang penuh dengan energi swing ceria berjudul “Smell the Roses”. Lagu ini membawa pesan filosofis mendalam tentang pentingnya berhenti sejenak untuk menikmati keindahan hidup di tengah hiruk-pikuk dan kesibukan sehari-hari. Eksplorasi karya ini menunjukkan bahwa daya cipta Jeremy tetap bergelora dan relevan meskipun telah berkiprah selama setengah abad.

Dari segi teknis, Jeremy akan memadukan permainan piano dengan organ Viscount Legend pada beberapa nomor lagu tertentu. Penggunaan instrumen organ ini menjadi bentuk penghormatan personal pada masa-masa awal kariernya di tahun 1976. Sentuhan organ memberikan karakter warna suara dan alur ritme yang berbeda pada grup instrumen. Namun demikian, Jeremy menekankan bahwa instrumen terpenting dalam perjalanan kariernya bukanlah sekadar peralatan teknis, melainkan orang-orang dan musisi yang berbagi jiwa di atas panggung bersama dirinya.

Membangun Warisan dan Masa Depan Jazz Asia Tenggara

Peran Jeremy Monteiro di kancah musik tidak terbatas sebagai komposer dan performer, tetapi juga sebagai tokoh kunci dalam pengembangan komunitas jazz melalui Jazz Association (Singapore). Melalui orkestra pemuda, program pendampingan, beasiswa, dan penyediaan panggung penampilan, JASS berkomitmen menciptakan keberlanjutan ekosistem musik jazz di wilayah Asia Tenggara.

Bagi Jeremy, pencapaian terbesar dalam 50 tahun kariernya bukanlah jumlah album yang dirilis atau banyaknya gedung pertunjukan yang telah disinggahi, melainkan warisan dan kepastian bahwa musik jazz akan terus tumbuh serta berkembang setelah era dirinya. Menampilkan para musisi penerima beasiswa JASS di panggung bergengsi seperti Esplanade Concert Hall menjadi bukti nyata dari keberhasilan misi pencerahan tersebut. Konser perayaan 50 tahun ini tidak hanya merayakan perjalanan panjang yang telah dilalui, melainkan juga meletakkan batu pertama bagi kemajuan musik jazz untuk 50 tahun ke depan.

Continue Reading

Trending