Connect with us

Metal

Bon Jovi Mengumumkan Konser di BST Hyde Park dan Tur Stadion 2027

Published

on

Grup musik rock legendaris asal Amerika Serikat, Bon Jovi, secara resmi mengumumkan jadwal tur konser besar untuk tahun 2027. Band yang telah berkiprah selama puluhan tahun ini dipastikan menjadi pengisi acara utama pertama untuk festival musik bergengsi British Summer Time (BST) Hyde Park di London, Inggris, yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 24 Juni 2027. Selain penampilan di Inggris, Bon Jovi juga merilis serangkaian tanggal konser stadion di Australia, Amerika Serikat, dan Kanada sebagai bagian dari rangkaian The Forever Tour.

Kembalinya Bon Jovi ke Panggung Historis Hyde Park

Kembalinya Bon Jovi ke panggung Hyde Park menjadi momen yang sangat emosional dan penting bagi perjalanan karier mereka. Penampilan pada tahun 2027 mendatang akan mencatatkan kali kelima bagi band pelantun tembang “Livin’ on a Prayer” ini beraksi di lokasi terbuka yang ikonik di pusat kota London tersebut. Sebelumnya, Bon Jovi pernah mengguncang Hyde Park pada tahun 2000, 2003, 2011, serta pada tahun 2013. Momen pada 2013 memiliki sejarah khusus karena Bon Jovi menjadi penampil utama pada edisi perdana gelaran BST Hyde Park. Penampilan di tahun 2027 nanti menandai tepat 14 tahun sejak mereka membantu meluncurkan festival musik tersebut.

Vokalis utama band, Jon Bon Jovi, mengungkapkan kebahagiaannya bisa kembali menyapa para penggemar di Inggris. Menurutnya, Hyde Park memiliki tempat tersendiri dalam sejarah perjalanan musik mereka. Jon menyatakan bahwa kembali ke festival BST Hyde Park setelah 14 tahun adalah sebuah momen lingkaran penuh yang sangat berharga. Ia menambahkan bahwa The Forever Tour merupakan bentuk perayaan atas karya musik mereka dan loyalitas para penggemar yang telah setia mendampingi selama bertahun-tahun. Menurut Jon, energi dari penonton di Inggris sangat luar biasa dan tidak ada tandingannya, sehingga membawa kembali energi tersebut ke Hyde Park adalah hal yang amat bermakna bagi seluruh personel band.

Pernyataan senada juga disampaikan oleh Jim King, CEO dari AEG Presents UK and European Festivals, yang menjadi pihak penyelenggara. King menyambut hangat kembalinya grup rock legendaris ini ke panggung BST Hyde Park. Ia menegaskan bahwa Bon Jovi merupakan salah satu band rock paling menentukan di generasinya, dengan katalog lagu-lagu hits yang sangat kaya serta pertunjukan langsung yang tetap kuat dan memikat hingga saat ini. Kehadiran kembali Bon Jovi di Hyde Park dinilai sebagai sebuah peristiwa yang sangat langka dan istimewa bagi dunia pertunjukan musik internasional.

Jadwal Tur Stadion Internasional dan Informasi Tiket

Rangkaian pertunjukan Bon Jovi pada tahun 2027 tidak hanya terbatas di London. Mereka telah menyiapkan tur stadion bertaraf internasional yang akan melintasi beberapa benua. Tur akan dimulai di belahan bumi selatan, tepatnya di Australia pada bulan Maret 2027, sebelum akhirnya menuju Inggris pada bulan Juni, dan berlanjut ke stadion-stadion besar di Amerika Utara sepanjang bulan Juli hingga Agustus 2027.

Berikut adalah jadwal lengkap tur stadion Bon Jovi untuk tahun 2027 yang telah dikonfirmasi:

  • 4 Maret 2027: Melbourne, Australia – Marvel Stadium
  • 11 Maret 2027: Sydney Olympic Park, Australia – Accor Stadium
  • 24 Juni 2027: London, Inggris – BST Hyde Park
  • 15 Juli 2027: East Rutherford, New Jersey, AS – MetLife Stadium
  • 21 Juli 2027: Chicago, Illinois, AS – Soldier Field Stadium
  • 28 Juli 2027: Foxborough, Massachusetts, AS – Gillette Stadium
  • 4 Agustus 2027: Toronto, Ontario, Kanada – Rogers Stadium

Bagi para penggemar yang ingin menyaksikan langsung penampilan Bon Jovi di BST Hyde Park London, proses penjualan tiket dilakukan dalam beberapa tahapan pra-penjualan sebelum akhirnya dibuka untuk umum. Pra-penjualan khusus pemegang kartu American Express (Amex) akan dibuka pada Senin, 19 Oktober. Tahap berikutnya adalah pra-penjualan bagi anggota klub penggemar resmi pada Rabu, 21 Oktober, disusul oleh pra-penjualan AEG pada Kamis, 22 Oktober. Sementara itu, penjualan tiket secara umum akan resmi dibuka pada Jumat, 23 Oktober melalui situs web resmi BST Hyde Park.

Eksistensi Album ‘Forever’ dan Warisan Musik Bon Jovi

Pengumuman tur stadion dan festival besar ini menyulut antusiasme tinggi dari para pecinta musik rock di seluruh dunia, terlebih setelah Bon Jovi merilis album studio terbaru mereka yang bertajuk Forever pada tahun 2024. Album tersebut menjadi bukti nyata bahwa semangat berkarya dari unit rock asal New Jersey ini tidak pernah padam, meskipun mereka telah berkarier selama lebih dari empat dekade di industri musik global.

Sejak dibentuk pada awal tahun 1980-an, Bon Jovi telah menjelma menjadi salah satu fenomena musik rock paling sukses sepanjang masa. Dengan puluhan juta keping album yang terjual di seluruh dunia, lagu-lagu arena rock buatan mereka seperti “It’s My Life”, “Always”, “Wanted Dead or Alive”, hingga “You Give Love a Bad Name” telah menjadi lagu kebangsaan lintas generasi. Keberhasilan mereka bertahan di puncak industri musik hingga era modern menunjukkan daya tarik universal dari musik yang mereka usung, yang memadukan melodi pop-rock yang kuat dengan lirik yang menyentuh hati.

Keputusan untuk menggelar tur di stadion-stadion berkapasitas puluhan ribu penonton membuktikan bahwa permintaan atas pertunjukan langsung Bon Jovi tetap sangat tinggi. Konser di tempat-tempat megah seperti MetLife Stadium di New Jersey dan Marvel Stadium di Melbourne menegaskan status mereka sebagai salah satu raksasa pertunjukan panggung terbesar di dunia. Bagi banyak penggemar, menyaksikan Bon Jovi secara langsung di panggung terbuka bukan sekadar menikmati konser musik, melainkan sebuah pengalaman nostalgia dan perayaan kebersamaan yang emosional.

Dengan persiapan yang matang menuju tahun 2027, Bon Jovi bersiap untuk kembali mengukir sejarah baru dalam perjalanan karier mereka. Kombinasi antara deretan lagu hits klasik dan materi baru dari album Forever dipastikan akan menghadirkan pertunjukan yang megah, energetik, dan tak terlupakan bagi puluhan ribu penonton yang akan memadati tempat-tempat pertunjukan tersebut di berbagai belahan dunia.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Metal

Phoebe Bridgers Ditunjuk Menjadi Headliner All Points East Festival 2027

Published

on

Musisi dan penyanyi-penulis lagu asal Amerika Serikat, Phoebe Bridgers, resmi diumumkan sebagai penampil utama atau headliner pertama untuk festival musik bergengsi All Points East 2027. Pertunjukan spektakuler ini dijadwalkan berlangsung di Victoria Park, London Timur, pada Jumat, 27 Agustus 2027. Konser ini dipastikan akan menjadi pertunjukan solo terbesar yang pernah dipimpin oleh musisi tersebut sepanjang kariernya.

Panggung Spektakuler dan Jajaran Pengisi Acara Pendukung

Penampilan Phoebe Bridgers di Victoria Park mendatang menandai pencapaian penting dalam perjalanan karier musiknya. Festival All Points East dikenal luas sebagai salah satu perhelatan musik tahunan paling bergengsi di Inggris yang kerap menghadirkan deretan musisi papan atas dunia di hadapan puluhan ribu penonton. Sebagai penampil utama, Bridgers diprediksi bakal membawakan setlist istimewa yang merangkum perjalanan bermusiknya.

Pada penyelenggaraan hari pertama tersebut, Bridgers tidak akan tampil sendirian. Pihak penyelenggara telah mengonfirmasi jajaran musisi pendukung berbakat yang siap memanaskan panggung, di antaranya Caroline Polachek, Kelsey Lu, Danielle Ponder, serta jasmine.4.t. Deretan nama ini dipastikan akan menambah keberagaman warna musik dalam festival tersebut, sementara nama-nama pengisi acara tambahan lainnya baru akan diumumkan secara bertahap dalam beberapa waktu ke depan.

Sistem penjualan tiket untuk konser besar ini rencananya akan dibuka secara umum mulai 29 Oktober pukul 10.00 waktu setempat. Tingginya antusiasme penggemar diperkirakan bakal membuat tiket festival ini habis terjual dalam waktu singkat, mengingat basis penggemar Bridgers yang terus meluas secara global dalam beberapa tahun terakhir.

Pencapaian Album ‘Lost Weekend’ dan Eksplorasi Musik

Pengumuman manis ini melengkapi deretan kesuksesan yang diraih Phoebe Bridgers sepanjang periode belakangan ini. Pada musim panas lalu, Bridgers berhasil mencetak rekor pribadi yang mengesankan dengan meraih posisi puncak pertamanya di tangga lagu Britania Raya (UK Albums Chart). Album solo ketiganya yang bertajuk Lost Weekend sukses bertengger di posisi nomor satu segera setelah dirilis pada bulan Agustus.

Salah satu aspek menarik yang menjadi perbincangan dalam album Lost Weekend adalah hadirnya kolaborasi yang tidak terduga. Album ini menghadirkan penampilan musisi legendaris Justin Broadrick, yang dikenal sebagai pelopor genre musik industrial metal dan post-metal melalui band Godflesh. Keterlibatan Broadrick berawal dari kekaguman mendalam Bridgers terhadap proyek musik sampingan sang musisi, yaitu Jesu. Perpaduan lirik emosional khas Bridgers dengan eksperimentasi suara dari Broadrick memberikan dimensi estetika baru pada karya terbarunya.

Debut Akting dan Langkah Baru di Dunia Perfilman

Tidak hanya mengukir prestasi di ranah industri musik, Phoebe Bridgers juga secara resmi mulai mengepakkan sayapnya ke dunia seni peran. Pekan ini, sang seniman dijadwalkan untuk melangsungkan debut akting resminya dalam film drama produksi studio film ternama A24 yang berjudul Primetime. Film ini disutradarai oleh sutradara berbakat Lance Oppenheim dan menampilkan aktor papan atas Robert Pattinson sebagai pemeran utama.

Film Primetime sendiri dijadwalkan meluncur ke bioskop pada 30 Oktober. Selain unjuk kebolehan dalam berakting, Bridgers juga turut berkontribusi dalam mengisi lagu tema penutup (end title song) untuk film tersebut dengan meluncurkan karya terbaru berjudul On Video. Keterlibatannya dalam proyek layar lebar ini kian mempertegas posisinya sebagai salah satu seniman lintas disiplin paling dinamis di industri hiburan saat ini.

Tradisi Festival All Points East dan Harapan Mendatang

Festival All Points East yang berlangsung di Victoria Park memang dikenal memiliki rekam jejak yang sangat kuat dalam menghadirkan festival musik kelas dunia. Pada edisi tahun 2026 lalu, festival ini sukses menggelar pertunjukan berskala besar dengan menghadirkan jajaran penampil utama lintas genre, seperti Jorja Smith dan Tems, Lorde, Deftones, Tyler, The Creator, hingga grup Twenty One Pilots.

Dengan dipilihnya Phoebe Bridgers sebagai penampil utama pertama untuk edisi 2027, All Points East kembali membuktikan komitmennya untuk menghadirkan pengalaman musik berkualitas tinggi bagi para penikmat musik di London dan sekitarnya. Pihak penyelenggara berjanji akan mengumumkan deretan nama besar lainnya yang akan menjadi *headliner* pada hari-hari berikutnya dalam beberapa pekan mendatang, yang diprediksi akan menjadikan festival All Points East 2027 sebagai salah satu agenda musik yang paling diantisipasi.

Continue Reading

Metal

Stepforward Meluncurkan Video Musik Camkan Memarku Bergaya Hardcore 90-an

Published

on

Grup musik hardcore veteran, Stepforward, secara resmi meluncurkan video musik pertama mereka untuk lagu yang berjudul “Camkan Memarku”. Karya visual ini lahir sebagai bentuk keresahan mendalam para personel terhadap maraknya kasus kekerasan terhadap perempuan yang masih terus terjadi di masyarakat. Dengan memadukan energi musik yang cepat dan keras serta sentuhan visual khas era 1990-an, video klip ini menyajikan perlawanan yang lugas dan sarat akan pesan kepedulian sosial.

Respon Musikal Terhadap Maraknya Kekerasan pada Perempuan

Lagu “Camkan Memarku” bukan sekadar karya musik berdistorsi tinggi, melainkan sebuah manifestasi kemarahan dan bentuk kepedulian atas ketidakadilan sosial. Isu kekerasan terhadap perempuan, baik secara fisik, verbal, maupun psikologis, menjadi pendorong utama di balik penciptaan lagu serta konsep visualisasi klip ini. Stepforward memanfaatkan kanal musik mereka sebagai media untuk menyuarakan perlawanan terhadap segala bentuk penindasan yang dialami oleh para korban.

Dalam sejarah perjalanan musik underground, pesan-pesan kritis seperti ini kerap menjadi fondasi utama gerakan hardcore punk. Stepforward menegaskan bahwa seni musik tidak boleh berhenti pada batas hiburan semata, melainkan harus memiliki taji dalam merespons realitas sosial yang memprihatinkan. Melalui narasi visual dalam video musik “Camkan Memarku”, penonton diajak untuk melihat secara langsung betapa berdampaknya kekerasan terhadap kehidupan korban, sekaligus memantik kesadaran kolektif untuk bersama-sama menghentikan rantai kekerasan tersebut.

Pendekatan lirik dan dinamika musik yang agresif dalam lagu ini menjadi pemantik amarah yang positif. Keliaran yang ditampilkan dalam video klip tidak hadir tanpa arah, melainkan disalurkan untuk mempertegas posisi band yang berdiri sejajar dengan para korban dan penyintas kekerasan. Hal ini membuktikan bahwa dedikasi mereka terhadap isu-isu kemanusiaan tetap konsisten dan relevan di sepanjang perjalanan karier bermusik mereka.

Estetika Visual dan Roh Hardcore Era 1990-an

Sesuai dengan identitas musik yang mereka usung sejak era awal kemunculannya, Stepforward memilih untuk mengeksekusi video musik “Camkan Memarku” dengan pendekatan visual khas hardcore tahun 1990-an. Gaya visual era tersebut terkenal dengan nuansa yang mentah, intens, tanpa polesan berlebih, serta mengedepankan atmosfer panggung underground yang intim dan enerjik. Pilihan estetika ini sengaja diambil untuk mempertahankan keotentikan rasa serta karakter dari skena musik yang membesarkan nama mereka.

Penggunaan pencahayaan yang dramatis, pergerakan kamera yang dinamis dan cepat, serta sorotan fokus pada ekspresi emosi para personel menjadi ciri utama dalam video musik ini. Berbeda dengan tren video klip modern yang sering kali sangat mengandalkan efek visual digital atau estetika yang terlalu bersih, Stepforward memilih jalur yang mengedepankan kejujuran rasa. Estetika era 90-an ini memberikan kesan nostalgia sekaligus menegaskan bahwa nilai-nilai kebebasan ekspresi hardcore tidak pernah usang oleh zaman.

Gaya pengambilan gambar yang agresif berhasil menangkap esensi performa panggung Stepforward secara nyata. Setiap gerakan, hentakan drum, dan teriakan vokal diterjemahkan ke dalam bingkai visual yang penuh tekanan emosional. Hasilnya adalah sebuah tontonan visual yang tidak hanya memanjakan mata para pencinta musik keras, tetapi juga mampu menggetarkan perasaan siapa saja yang menyaksikannya.

Pentingnya Menyuarakan Kritis Sosial Lewat Musik Keras

Kehadiran video musik “Camkan Memarku” memberikan angin segar sekaligus pengingat penting bagi ekosistem musik independen di Indonesia. Di tengah gempuran tren industri musik yang cenderung seragam, keberanian untuk mengusung isu sensitif seperti kekerasan berbasis gender merupakan langkah yang sangat bernilai. Musik hardcore sejak dulu memang dikenal sebagai wadah bagi mereka yang ingin menyuarakan kebenaran dan medium paling jujur untuk menyampaikan kritik terhadap penindasan.

Eksplorasi visual dan musikal yang dilakukan oleh Stepforward memperlihatkan bahwa keberadaan sebuah band tidak hanya diukur dari durasi bertahan mereka di industri, melainkan dari konsistensi pesan yang disampaikan. Langkah merilis video musik ini juga diharapkan dapat menginspirasi musisi-musisi muda di ranah underground untuk tidak ragu menyelipkan pesan kepedulian sosial, hak asasi manusia, dan kesetaraan ke dalam karya-karya mereka.

Secara keseluruhan, peluncuran video klip “Camkan Memarku” menjadi penanda penting dalam perjalanan kreatif Stepforward. Video musik ini tidak hanya menjadi pelengkap audio dari lagu mereka, tetapi juga berdiri sebagai pernyataan sikap yang tegas. Melalui perpaduan antara suara distorsi khas hardcore 90-an dan pesan kemanusiaan yang mendalam, Stepforward berhasil membuktikan bahwa musik keras memiliki daya ubah dan kekuatan yang besar untuk menggugah kesadaran publik.

Continue Reading

Metal

Ricky Warwick Menceritakan Pengalaman Liar Bersama Lemmy Hingga David Bowie

Published

on

Musisi rock veteran Ricky Warwick baru saja merayakan ulang tahun ke-60 dengan cara yang sangat luar biasa. Selain tampil di hadapan puluhan ribu penggemar musik cadas dalam gelaran Eddfest bersama bandnya, The Almighty, penyanyi dan gitaris kelahiran Irlandia Utara ini juga merilis album solo terbarunya yang bertajuk Fire & Vengeance. Sepanjang perjalanan kariernya yang membentang selama lebih dari empat dekade, Warwick telah mengumpulkan begitu banyak kisah menarik bersama para legenda musik dunia.

Kenangan Gila Bersama Lemmy Kilmister

Salah satu kenangan paling berkesan bagi Ricky Warwick terjadi saat ia berinteraksi dengan mendiang Lemmy Kilmister, vokalis dan basis ikonik dari band Motörhead. Pengalaman tersebut bermula pada tahun 1991 ketika band Warwick, The Almighty, ditawari untuk menjadi penampil pembuka dalam tur album “1916” milik Motörhead. Sebelum tur dimulai, Warwick diundang ke kamar hotel Lemmy di Los Angeles saat menghadiri konferensi musik Foundations Forum.

Di dalam kamar hotel yang dipenuhi asap, Lemmy menyambutnya dengan ramah, menuangkan minuman keras Jack Daniel’s, dan memutarkan lagu-lagu terbaru dari album Motörhead melalui pelantun telinga. Namun, Warwick yang mengalami mabuk pascapenerbangan (jet lag) parah tidak sanggup menandingi daya tahan minum sang ikon heavy metal tersebut. Kondisi fisik yang lelah dan efek alkohol membuat Warwick mendadak pingsan hingga jatuh tersungkur ke lantai.

Insiden tersebut menyebabkan gelas yang dipegangnya pecah dan melukai alisnya. Di tengah kondisi tergeletak di lantai, Lemmy justru mendekatinya dan melontarkan lelucon khas bahwa Warwick tidak cukup kuat untuk bertahan di dunia rock. Kendati demikian, Warwick menegaskan bahwa Lemmy dan seluruh personel Motörhead memberikan perlakuan yang sangat luar biasa hangat serta bersahabat kepada bandnya sepanjang tur berlangsung.

Momen Bertemu David Bowie dan Pertemanan dengan Joe Elliott

Perjalanan karier Ricky Warwick juga diwarnai oleh momen-momen surealis bersama nama-nama besar di industri musik global. Pada tahun 1987, saat ia masih menjadi bagian dari New Model Army, Warwick mendapat kesempatan emas untuk menjadi penampil pembuka dalam konser David Bowie di Berlin Barat. Konser yang digelar di luar gedung Reichstag tersebut disaksikan oleh 85.000 penonton di lokasi dan sekitar 50.000 pendengar lainnya yang berkumpul di balik Tembok Berlin.

Momen ketika Bowie mendatangi ruang ganti untuk sekadar mengucapkan terima kasih menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi Warwick muda. Bertahun-tahun kemudian, pada tahun 1997, Warwick kembali berpapasan dengan David Bowie di sebuah studio latihan bernama The Factory di Dublin, Irlandia. Pada kesempatan yang sama, Warwick juga pertama kali bertemu dengan Joe Elliott, vokalis utama dari band Def Leppard.

Pertemuan dengan Joe Elliott yang diawali dari obrolan santai mengenai musik dan sepak bola tersebut berkembang menjadi persahabatan erat yang bertahan hingga puluhan tahun. Warwick memuji Elliott sebagai sosok yang tetap rendah hati dan tidak pernah melupakan akar kelas pekerja tempat ia berasal, meskipun telah meraih kesuksesan finansial dan popularitas global bersama Def Leppard.

Kedekatan dengan Tokoh Heavy Metal dan Hard Rock Dunia

Koneksi Ricky Warwick di panggung musik cadas terus meluas seiring berjalannya waktu. Pendiri sekaligus basis Iron Maiden, Steve Harris, diketahui merupakan penggemar berat The Almighty sejak awal kemunculan band tersebut. Momen keakraban keduanya sering kali terjalin di luar panggung, seperti saat mereka menghabiskan waktu minum bir bersama di sebuah kedai di Marseille, Prancis, tanpa dikenali oleh para penggemar.

Selain Steve Harris, Warwick juga membagikan cerita unik tentang musisi eksentrik Alice Cooper. Setiap kali akan naik ke atas panggung saat melakukan tur bersama, Alice Cooper sering menyapa Warwick secara jenaka dengan menepuk bagian belakang kepalanya menggunakan cambuk. Warwick juga mengakui kehebatan karakter Alice Cooper yang dinilainya sangat profesional namun tetap menjadi pribadi yang sangat ramah ketika kembali menjadi sosok aslinya, Vincent Furnier.

Pengalaman berharga lainnya dirasakan Warwick saat berinteraksi dengan grup-grup raksasa seperti Thin Lizzy, Guns N’ Roses, dan Metallica. Warwick yang kelak dipercaya menjadi vokalis untuk Thin Lizzy dan Black Star Riders mengaku sangat bersyukur bisa bekerja sama dengan musisi yang ia idolakan sejak kecil, seperti Scott Gorham. Pertemuannya dengan gitaris Billy Duffy dari The Cult serta para personel Metallica pada pertengahan 1990-an semakin mempertegas posisinya di lingkaran musik rock internasional.

Di usianya yang telah memasuki kepala enam, Ricky Warwick membuktikan bahwa semangat untuk berkarya dalam panggung musik rock tidak pernah padam. Seluruh pengalaman hidup dan persahabatannya dengan para ikon musik dunia tidak hanya menjadi catatan sejarah pribadi, tetapi juga menginspirasi karya-karyanya hingga saat ini. Melalui album terbarunya dan komitmen yang kuat untuk terus menggelar tur konser, Warwick mengukuhkan posisinya sebagai salah satu figur hard rock paling konsisten di dunia.

Continue Reading

Trending