Jazz

Pekan Komponis Indonesia 2026 Gelar Diskusi Ekologi Bunyi dan Musik Spasial

Published

on

Pekan Komponis Indonesia 2026 resmi meluncurkan perhelatan tahunannya dengan menyoroti hubungan mendalam antara bunyi, tubuh, memori, dan lingkungan sosial. Melalui rangkaian pertunjukan kuliah (lecture performance), forum tahunan ini tidak hanya merayakan kuantitas karya musik kontemporer, melainkan juga menandai pergeseran mendasar tentang bagaimana ruang dan ekologi bunyi diperlakukan oleh para komponis lintas generasi.

Visi Spasial Lima Miliar Tahun Dion Nataraja

Komponis Dion Nataraja membuka perdebatan musikal dengan mempresentasikan proyek visioner bertajuk Sandikala atau Palastra. Karya ini tidak sekadar membicarakan struktur lagu konvensional, melainkan mengartikulasikan konsep waktu secara radikal. Mengutip bait Bhagavad Gita kala asmi loka-ksaya-krit—yang bermakna “Aku adalah waktu, penghancur dunia”—Dion justru melahirkan gagasan musik yang dirancang untuk melintasi batas rentang hidup manusia dan eksis melampaui zaman.

Palastra dirancang sebagai sistem musik masa depan untuk rentang waktu lima miliar tahun ke depan. Melalui kalkulasi matematis yang presisi berupa penalaan poliritme dengan rumus 29 x 510 yang menghasilkan angka 9.765.625, karya ini dijadwalkan dimulai pada 22 Juli 2028 dan baru akan usai pada 22 Juli tahun 5.000.000.000. Layaknya pembangunan gereja Sagrada Familia di Barcelona yang melampaui umur perancangnya, Dion menyusun klasifikasi penalaan baru seperti Max Diversity, Med Diversity, dan Max Uniformity guna menghasilkan ratusan sistem laras gamelan yang futuristik namun tetap berakar pada tradisi.

Eksplorasi ini didukung perancangan instrumen khusus berbusa akustik oleh Mochamad Febriyanto, yang menempatkan musik pada wilayah expanded field. Pendekatan ini mencakup aspek ketubuhan, intertekstualitas, dan pemikiran ulang terhadap infrastruktur sosial musisi. Proyek ini tidak lagi berfokus pada pertunjukan konser sesaat, melainkan pada penciptaan ekosistem berkelanjutan seperti inklusivitas gender, jaringan kolaborasi global, hingga pembangunan gedung khusus pementasan.

Kreativitas AI dan Interaksi Musikal Bersama Mesin

Di sisi lain, persoalan teknologi modern ditanggapi secara mendalam oleh Stevie J. Sutanto melalui sesi Komposisi Musik Berbasis Kecerdasan Buatan (AI). Jika Dion membangun struktur musikal berskala raksasa dalam jangka panjang, Stevie menelusuri bagaimana sistem komputasional mampu berdialog secara intim dalam proses kreatif penciptaan karya sehari-hari.

Dalam karyanya yang berjudul Kecapi Angklung Khayalan, Stevie mempertemukan rekaman instrumen kecapi tradisional yang ekspresif dengan korpus 350 suara angklung hasil olahan generatif AI. Dengan mengutip konsep structured uncertainty, Stevie menegaskan bahwa keterlibatan mesin tidak menghilangkan peran kepengarangan seorang komponis. Sebaliknya, peran komponis bergeser menjadi seorang kurator relasi yang memilih, menyusun, dan menentukan batas keterlibatan teknologi dalam membentuk narasi musikal yang baru.

Generasi Muda dan Eksplorasi Gamelan di Surakarta

Perspektif historis dan statistik sejarah komposisi gamelan baru di Surakarta turut dipaparkan oleh Wahyu Thoyyib Pambayun. Ia mencatat lonjakan signifikan karya gamelan eksperimental, dari 59 karya pada periode 1980–1990 menjadi 121 karya sepanjang periode 2019–2026. Pertumbuhan ini juga didukung oleh lebih dari 400 mahasiswa aktif di ISI Surakarta yang mengadopsi tradisi sebagai sistem operasi untuk merespons masa depan.

Semangat inovasi ini tecermin kuat dari karya-karya komponis Generasi Z Surakarta. Merak Badra Waharuyung menghadirkan Nabuh Immersive 2026 dengan tata suara quadraphonic empat titik yang membalik cara pandang penonton terhadap panggung. Totti Wahyu Bathara membawa karya Kreteg 2025 ke tengah masyarakat desa melalui pengolahan Reyog Kendhang Tulungagung yang partisipatif dan ramah anak. Sementara itu, Rizal Al Maruf menggarap Upeksha 2025 sebagai karya site-specific di area sungai, serta Yofan Firnanda dan Zildhan Wisnu yang memodifikasi instrumen siter hingga memanfaatkan material harian seperti bathok kelapa untuk membedah ulang lagu dolanan Sluku-Sluku Bathok.

Kerangka Ekologi Mendengar dan Ruang Spasial

Rangkaian gagasan spasial dan kontekstual ini akhirnya dirumuskan oleh Gatot Danar Sulistiyanto sebagai sebuah ekologi mendengar. Menurut Gatot, audio spasial merupakan bentuk relasi dinamis antara praktik mendengar, perancangan artistik komposisi, dan teknologi audio yang beroperasi dalam ruang serta konteks tertentu. Kerangka kerja yang melibatkan dimensi ruang, praktik, perhatian, konteks, dan pembadanan (embodiment) menempatkan tubuh pendengar serta instrumen sebagai bagian utuh dari karya itu sendiri.

Eksplorasi ekologi mendengar ini juga diperkaya oleh pementasan M. Hario Efenur melalui karya Candasuara, yang menggali pemetaan gerakan seni bela diri Silek (silat) ke dalam wujud ekspresi bunyi spasial. Perhelatan Pekan Komponis Indonesia 2026 pun menegaskan bahwa musik kontemporer Indonesia tidak hanya hadir sebagai hiburan auditori, tetapi juga sebagai medan pemikiran intelektual yang terus berkembang dan responsif terhadap ruang, masa depan, serta lingkungan sosialnya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version