Metal
Wanita Ini Mencabut Undangan Pernikahan Akibat Pacar Temannya Bela Tim Lambesis

Dilema seputar etika menghadiri pesta pernikahan kerap muncul dalam berbagai bentuk, namun sebuah kisah terbaru dari komunitas musik heavy metal menghadirkan skenario yang sangat tak biasa. Seorang calon pengantin wanita membagikan pengalamannya di kolom diskusi MetalSucks setelah ia memutuskan untuk mencabut fasilitas undangan tambahan (+1) milik sahabatnya. Keputusan drastis ini diambil lantaran kekasih baru sang sahabat menyampaikan pernyataan yang dinilai sangat mengkhawatirkan terkait kasus kriminal yang melibatkan vokalis ternama, Tim Lambesis.
Kisah ini bermula ketika sang calon pengantin, yang mengidentifikasikan dirinya dan pasangannya sebagai penggemar berat musik metal, sedang mempersiapkan hari bahagianya. Demi memastikan para tamu dapat menikmati acara tanpa merasa canggung, ia memberikan hak untuk membawa pasangan atau pendamping kepada seluruh tamu yang diundang, meskipun biaya penyelenggaraan acara terbilang sangat mahal. Namun, kehadiran seorang pria baru dalam lingkaran pertemanan mereka justru memicu konflik emosional yang berdampak langsung pada daftar tamu pernikahan tersebut.
Perdebatan Musik Metal yang Berujung Konflik Personal
Pengirim cerita, yang menggunakan nama pengguna “AsIxLayCry1ng”, menceritakan kronologi kejadian yang berawal dari sesi kumpul santai di sebuah bar. Temannya, yang diberi nama samaran Evie, memperkenalkan kekasih barunya yang bernama Matt kepada kelompok pertemanan mereka. Pada awal pertemuan, Matt tampak ramah dan menyenangkan, meskipun menunjukkan beberapa perilaku yang tergolong unik. Namun, suasana berubah drastis ketika pembicaraan mulai memasuki topik musik favorit.
Ketika melihat calon pengantin mengenakan kaus band metal Darkest Hour, Matt mengungkapkan bahwa ia juga menyukai musik keras dan menyebut proyek sampingan bertema komedi, Austrian Death Machine, sebagai salah satu grup favoritnya. Diskusi tersebut dengan cepat mengarah pada grup musik utama pendiri proyek tersebut, yakni As I Lay Dying. Pertanyaan biasa mengenai selera musik berubah menjadi perdebatan sengit ketika calon pengantin menanyakan bagaimana Matt masih bisa mendukung karya musik tersebut mengingat rekam jejak kelam sang vokalis, Tim Lambesis.
Tanggapan yang diberikan oleh Matt membuat semua orang yang hadir terperanjat. Pria tersebut secara terbuka menyatakan bahwa ia menganggap Tim Lambesis tidak melakukan kesalahan apa pun, seraya melontarkan klaim kontroversial bahwa setiap orang pada dasarnya pernah memiliki dorongan untuk menyakiti atau membunuh pasangannya. Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari calon pengantin dan tunangannya yang menegaskan bahwa pemikiran semacam itu sama sekali tidak normal dan tidak dapat ditoleransi dalam sebuah hubungan yang sehat.
Rekam Jejak Kasus Hukum Tim Lambesis dan Sensitivitas Isunya
Untuk memahami besarnya dampak dari perdebatan ini, penting untuk melihat latar belakang kasus hukum yang melibatkan Tim Lambesis, vokalis utama dari band metalcore legendaris As I Lay Dying. Pada tahun 2013, dunia musik internasional diguncang oleh kabar penangkapan Lambesis atas tuduhan percobaan pembunuhan berencana terhadap istrinya saat itu. Lambesis terbukti mencoba menyewa seorang detektif kepolisian yang menyamar sebagai pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawa sang istri.
Atas perbuatannya, Lambesis dijatuhi hukuman penjara pada tahun 2014 dan menjalani masa tahanan sebelum akhirnya dibebaskan bersyarat pada akhir tahun 2016. Kasus ini menjadi salah satu skandal paling menyita perhatian dalam sejarah musik heavy metal modern, memicu perdebatan panjang di kalangan penggemar mengenai batas antara mengagumi karya seni dan mendukung tindakan kriminal pelakunya secara moral. Sementara sebagian penggemar memilih untuk tetap mendengarkan musiknya, mayoritas komunitas mengecam keras tindakan kekerasan dalam rumah tangga dan percobaan pembunuhan yang dilakukannya.
Sikap Matt yang tidak hanya terus mendengarkan musiknya, tetapi juga secara aktif meremehkan tindakan kriminal serta dugaan kekerasan yang dilakukan Lambesis sebagai “urusan pribadi pasangan suami istri yang biasa”, dinilai oleh sang calon pengantin sebagai ancaman nyata terhadap norma keselamatan dan moralitas dasar. Apalagi, sahabatnya yang bernama Evie memilih untuk berdiam diri dan justru memaklumi ucapan kekasihnya sebagai sekadar gurauan belaka.
Dilema Batasan Etika Tamu Pernikahan dan Keputusan Akhir
Setelah perselisihan hebat di bar tersebut yang berujung pada adu mulut, calon pengantin wanita menyadari bahwa tindakannya yang melontarkan kata-kata kasar malam itu kurang bijaksana. Pada hari berikutnya, ia menyampaikan permohonan maaf kepada Evie atas ucapan emosionalnya. Namun, ia tetap memegang teguh pendiriannya terkait keselamatan dan kenyamanan suasana di pesta pernikahannya kelak.
Ia menyampaikan syarat tegas kepada Evie: jika Matt adalah orang yang berniat diikutkan sebagai pendamping, maka fasilitas akses tamu tambahan (+1) untuk Evie secara resmi dicabut. Langkah ini diambil karena ia tidak ingin menghabiskan hari istimewanya di samping seseorang yang membenarkan tindakan kekerasan ekstrim terhadap pasangan. Respons dari Evie justru semakin memperkeruh suasana, di mana sang sahabat mengancam tidak akan menghadiri pernikahan tersebut sama sekali jika kekasihnya dilarang hadir.
Situasi ini menghadirkan refleksi mendalam mengenai dinamika pertemanan dan batas toleransi pribadi. Bagi seorang calon pengantin, pesta pernikahan bukan sekadar acara perayaan, melainkan ruang aman yang diisi oleh orang-orang yang mendukung nilai-nilai positif dan saling menghormati. Momen ini menunjukkan bahwa perbedaan pandangan terhadap isu-isu krusial, seperti kekerasan dalam rumah tangga dan keselamatan pasangan, dapat berdampak langsung pada kelangsungan hubungan pertemanan di dunia nyata.
Metal
Majalah Prog Merilis Tujuh Lagu Progressive Rock Terbaik Minggu Ini

Majalah musik internasional Prog kembali meluncurkan segmen mingguan unggulannya, Tracks Of The Week, yang menyajikan tujuh karya pilihan dari kancah musik progressive rock global. Edisi kali ini menghadirkan keragaman musikalitas yang sangat kaya, mulai dari sentuhan etnik timur, eksplorasi post-rock, hingga balutan musik elektronik retro-futuristis yang memikat perhatian para pecinta musik eksperimental.
Hasil Pemungutan Suara Edisi Sebelumnya dan Tradisi Interaktif
Sebelum memperkenalkan jajaran lagu baru, majalah tersebut mengumumkan hasil pemungutan suara dari edisi pekan lalu. Musisi legendaris Steven Wilson berhasil meraih tempat teratas lewat lagu utama dari album terbarunya yang sangat diantisipasi, Requiem For A Village. Posisi kedua ditempati oleh grup rock asal Inggris, The Pineapple Thief, sementara musisi progresif sesama Inggris, Joh. Holden, mengamankan peringkat ketiga.
Konsep yang diusung dalam program Tracks Of The Week ini dirancang untuk memudahkan para penikmat musik. Tim redaksi mengumpulkan rilisan-rilisan terbaru dari berbagai band yang bernaung di bawah payung musik progresif ke dalam satu wadah terpadu. Para pembaca diajak untuk menyaksikan video musik atau mendengarkan trek yang disajikan, sebelum akhirnya memberikan suara untuk karya favorit mereka melalui formulir pemungutan suara yang disediakan setiap minggunya.
Deretan Rilisan Baru yang Curi Perhatian Minggu Ini
Pada edisi pekan ini, tujuh grup musik dan proyek solo dari berbagai penjuru dunia memamerkan karya teranyar mereka. Sekstet asal Maastricht, Belanda, Lesoir, mengandalkan single terbaru berjudul “Hidden Fire” yang kental dengan sentuhan nada Timur Tengah. Lagu yang diambil dari album mendatang mereka, Tomorrow Is Now Today, dijadwalkan rilis melalui V2 Records pada 23 Oktober. Karya ini menggambarkan keputusasaan pasif masyarakat modern yang identitasnya mulai terkikis oleh pola konsumsi digital.
Duo rock progresif asal Kanada, Crown Lands, menyajikan nomor epik berjudul “Through The Looking Glass” yang diambil dari album Apocalypse. Lagu ini direkam secara langsung di Chalet Studios, Ontario—lokasi bersejarah yang pernah digunakan oleh pahlawan musik mereka, Rush. Gitaris dan keyboardis Kevin Comeau menegaskan bahwa rekaman live ini bertujuan untuk menangkap kejujuran dan esensi murni permainan musik mereka tanpa bantuan trek latar buatan.
Dari Jerman, musisi asal Hamburg Wolfram Zarnack meluncurkan karya terbaru melalui proyek solo introspektifnya, Pilotinthepicture. Zarnack, yang juga dikenal sebagai penggebuk drum untuk band psychedelic rock Lee Shore dan post-metal Drownship, merilis single “Run” dari album debutnya While We Escape. Lagu bergenre “post-progressive rock” ini makin memikat berkat balutan vokal merdu dari Josefine Winter.
Raja musik progressive rock asal Swedia, The Flower Kings, kembali menunjukkan taringnya lewat single “The Gods Of Rome Pt. 2”. Lagu ini merupakan bagian dari album anyar mereka, HOPE, yang dirilis melalui InsideOut Music pada 23 Oktober. Pentolan band, Roine Stolt, menjelaskan bahwa karya epik ini menggunakan metafora kekuasaan Roma kuno untuk mengkritik ambisi kekuasaan era modern yang kerap kali berakhir dengan kehancuran.
Bagi pencinta suara elektronik ala Kosmische dan Kraftwerk, proyek musik Gordon Chapman-Fox bernama Warrington-Runcorn New Town Development Plan menghadirkan single “The Machine”. Diambil dari album Industrial Growth yang rilis pada 30 Oktober via Castles In Space, lagu ini menyajikan atmosfer elektronik gelap sebagai respons atas kondisi dunia saat ini.
Kuintet post-rock instrumental asal Richmond, Virginia, Shy, Low, memamerkan kontrol dinamika yang luar biasa lewat lagu “Palmistry”. Single dari album Purity Spiral (Pelagic Records) ini menonjolkan kekuatan ritme drum sebagai fondasi yang mendorong susunan aransemen megah menuju klimaks emosional.
Sebagai penutup, trio progressive rock asal Bangalore, India, Rainburn, merilis lagu “Confessions” dari album ketiga mereka, thirty seven. Album konsep ini lahir dari pengalaman mati suri yang dialami sang vokalis, Vats Iyengar, saat terdampar di lautan. Rainburn memadukan elemen rock progresif dengan pengaruh musik industri dari band seperti Depeche Mode, Rammstein, dan Nine Inch Nails.
Eksplorasi Tanpa Batas dalam Musik Progresif Modern
Kehadiran deretan lagu baru ini membuktikan bahwa genre progressive rock terus berkembang pesat melampaui batasan-batasan tradisionalnya. Penggabungan berbagai elemen musik—mulai dari nuansa etnik, estetika elektronik pasca-perang, hingga pendekatan post-rock yang emosional—menunjukkan dinamisnya kancah musik ini di era modern.
Melalui kurasi mingguan dan partisipasi aktif dari para pendengar, ruang bagi musisi independen maupun veteran untuk memperkenalkan karya mereka semakin terbuka lebar. Pemungutan suara untuk edisi minggu ini telah dibuka, dan pemenangnya akan diumumkan pada pembaruan Tracks Of The Week edisi mendatang.
Metal
John Goblikon Mengajak Para Metalhead Menikmati Musik di Alam Terbuka

Karakter maskot sekaligus ikon dari grup musik goblin-metal Nekrogoblikon, John Goblikon, membagikan pandangan uniknya mengenai fenomena di mana para penggemar musik heavy metal mulai memberanikan diri keluar dari ruangan tertutup untuk menikmati alam terbuka. Lewat kolom terbarunya, ia menyoroti bagaimana lanskap musik ekstrem kini semakin berani mendobrak tradisi lama melalui berbagai gelaran festival outdoor yang inovatif.
Stereotip Metalhead dan Transformasi Budaya Musik Ekstrem
Selama ini, komunitas pecinta musik metal kerap diidentikkan dengan citra yang sangat spesifik dan cenderung mengisolasi diri. Dengan kulit yang pucat, rambut panjang yang jarang terawat, serta kebiasaan mengenakan pakaian berwarna serba hitam, publik sering menganggap bahwa para metalhead tidak pernah beranjak dari dalam garasi atau ruang bawah tanah rumah mereka. Persepsi ini menempatkan komunitas musik ekstrem seolah-olah alergi terhadap keindahan alam, sinar matahari, maupun warna-warna cerah yang ada di luar ruang latihan mereka.
Namun, pandangan konvensional tersebut perlahan-lahan mulai runtuh seiring berkembangnya berbagai acara musik ekstrem bergengsi di berbagai belahan dunia. John Goblikon mengungkapkan bahwa setelah menjelajahi berbagai tempat konser bersama Nekrogoblikon, ia menemukan para pecinta musik metal berada di tempat-tempat yang tak terduga, mulai dari atas kapal pesiar, wilayah pedalaman Kanada, hingga tempat makan 24 jam. Fenomena terkini bahkan menunjukkan bahwa para penikmat musik cadas kini mulai memadati kawasan perkemahan dan pegunungan untuk menikmati alunan musik favorit mereka secara langsung di tengah alam liar.
Salah satu contoh paling menonjol dari transformasi ini adalah gelaran festival Fire In The Mountains. Festival musik ini berhasil mencatatkan terobosan baru dengan menyelenggarakan konser heavy metal di kawasan perkemahan indah yang berlokasi di wilayah adat Suku Blackfeet (Blackfeet Nation). Penyelenggara acara tidak hanya menghadirkan performa musik yang bertenaga di tengah panorama alam yang megah, tetapi juga membuka ruang interaksi unik antara komunitas pecinta musik metal dengan lingkungan sekitarnya.
Kesehatan Mental dan Kesadaran Lingkungan dalam Musik Cadas
Hal yang paling mengejutkan dari tren festival alam terbuka ini adalah fokusnya yang kuat terhadap isu kesehatan mental dan pola hidup sehat. Tidak seperti festival musik ekstrem pada umumnya yang identik dengan konsumsi minuman beralkohol secara masif, gelaran seperti Fire In The Mountains justru menawarkan pendekatan yang sama sekali berbeda. Festival ini menghadirkan berbagai lokakarya bebas alkohol yang secara khusus membahas topik kesehatan mental bagi para pengunjungnya.
Inisiatif tanpa alkohol dan fokus pada kesejahteraan emosional ini membuktikan bahwa komunitas musik metal mampu menciptakan ruang yang aman dan adaptif bagi para anggotanya. Menyatu dengan alam sembari mendengarkan distorsi gitar keras dan dentuman drum yang cepat ternyata dapat memberikan pengalaman katarsis yang menenangkan jiwa. Konsep ini mengajak para pendengar musik cadas untuk sejenak melepaskan diri dari ketergantungan pada zat adiktif serta pelarian sesaat yang bersifat merusak.
Di era modern yang didominasi oleh layar gawai dan kebiasaan menatap laptop secara terus-menerus, hadirnya festival di alam bebas menjadi pengingat penting akan perlunya melakukan rehat digital. John Goblikon menekankan pentingnya bagi setiap orang untuk mematikan ponsel mereka, menutup puluhan tab peramban yang terbuka, dan kembali merasakan pengalaman hidup yang nyata bersama sesama anggota komunitas. Istilah “touch grass” atau menyentuh rumput secara harfiah menjadi sebuah anjuran yang sangat relevan bagi para penggemar musik untuk mempererat tali silaturahmi secara langsung di lapangan.
Kontras Pertunjukan Ruangan dan Prospek Tur Nekrogoblikon
Meskipun mengapresiasi keberanian para metalhead yang merambah kawasan pegunungan dan hutan, John Goblikon secara humoris membandingkan pengalaman tersebut dengan jadwal tur rutin grup musiknya sendiri. Sebagian besar pertunjukan panggung Nekrogoblikon dan grup metal lainnya masih didominasi oleh gedung-gedung pertunjukan dalam ruangan yang dilengkapi pendingin udara, yang menawarkan kenyamanan ekstra bagi para pengunjung yang enggan berurusan dengan cuaca luar ruangan.
Kendati demikian, partisipasi dalam festival luar ruangan berskala besar seperti Aftershock Festival tetap menjadi daya tarik tersendiri bagi grup musik ekstrem. Perpaduan antara panggung megah, tata suara yang dahsyat, serta energi ribuan penonton yang berkumpul di area terbuka menciptakan atmosfer yang tidak tertandingi oleh konser ruangan tertutup. Hal ini membuktikan bahwa kebersamaan komunitas tetap menjadi fondasi utama dalam kancah musik metal, baik yang diselenggarakan di dalam gedung konser modern maupun di tengah padang rumput alami.
Pada akhirnya, pergeseran budaya ini menunjukkan keanekaragaman cara bagi para penggemar musik cadas untuk merayakan kecintaan mereka terhadap seni suara yang ekstrem. Baik melalui ekspedisi berkemah di tengah pegunungan sunyi maupun menghadiri konser akbar di tengah kota, dorongan untuk membangun rasa kebersamaan, saling mendukung isu kesehatan mental, dan merayakan musik bersama tetap menjadi daya tarik utama yang menyatukan para metalhead di seluruh dunia.
Metal
Noctule Bersiap Merilis Album Black Metal Epik Extinguish Thy Flame

Serena Cherry, musisi multi-instrumentalis yang sebelumnya dikenal melalui band post-metal Svalbard, bersiap untuk meluncurkan album solo keduanya di bawah proyek black metal miliknya, Noctule. Album bertajuk Extinguish Thy Flame ini dijadwalkan rilis pada tanggal 25 September mendatang. Karya terbaru ini menandai babak baru dalam perjalanan karier Serena, menyajikan sebuah mahakarya epik yang memadukan kegelapan musik ekstrem dengan narasi fantasi yang megah.
Melarikan Diri ke Dunia Fantasi Elden Ring
Dalam band lamanya, Svalbard, Serena Cherry sering kali menulis lirik yang sangat personal dan emosional, membahas realitas kehidupan yang keras seperti kesehatan mental, trauma, dan pelecehan. Namun, melalui Noctule, Serena menemukan ruang untuk melarikan diri dari kenyataan pahit tersebut dan masuk ke dalam dunia fantasi yang luas. Jika album debut Noctule pada tahun 2021, Wretched Abyss, sangat dipengaruhi oleh game RPG legendaris Skyrim dan ditulis di tengah masa karantina pandemi Covid-19, maka album kedua ini mengambil inspirasi dari mahakarya game lainnya, yaitu Elden Ring.
Serena mengungkapkan bahwa bermain Elden Ring membantunya melewati masa-masa sulit saat berjuang melawan depresi yang mendalam. Dalam album Extinguish Thy Flame, ia mengambil sudut pandang unik dari para karakter bos tangguh yang ada di dalam game tersebut. Pendekatan tematis ini memberikan kedalaman narasi yang luar biasa, mengubah setiap lagu menjadi sebuah pertempuran epik yang layak menjadi lagu tema film layar lebar beranggaran besar.
Komposisi Mandiri dan Pengaruh Musik Ekstrem
Sama seperti album debutnya, Serena Cherry kembali menunjukkan kehebatannya dengan memainkan seluruh instrumen secara mandiri dalam proses rekaman album ini. Dari departemen gitar, bass, drum, hingga vokal utama, semuanya dikerjakan sendiri oleh Serena di dalam studio. Hal ini membuktikan dedikasi dan bakat luar biasanya sebagai salah satu musisi metal perempuan paling menonjol di kancah musik ekstrem saat ini.
Secara musikal, Extinguish Thy Flame menawarkan identitas yang jauh lebih matang dan berkarakter dibandingkan pendahulunya. Jika album pertama masih terdengar mirip dengan bagian-bagian terberat dari Svalbard, album baru ini berhasil memadukan berbagai pengaruh musik ekstrem dengan sangat apik. Pendengar akan disuguhkan dengan kombinasi permainan gitar yang tajam khas Arch Enemy, yang kemudian dipadukan dengan atmosfer apokaliptik yang megah layaknya legenda black metal asal Norwegia, Emperor.
Lagu pembuka yang berjudul “Devour The Gods” langsung menggebrak dengan teriakan perang yang liar di atas riff death/thrash metal yang agresif. Liriknya yang teatrikal dan penuh citra kolosal menggambarkan pertempuran sengit melawan dewa-dewa penguasa. Sementara itu, lagu “Grafted” mempertegas nuansa simfoni black metal dengan menghadirkan gesekan biola yang mencekam dan keyboard yang gelap, sebelum akhirnya meledak menjadi ketukan tremolo yang dingin. Lagu-lagu lain seperti “Lament Of The Omen King” menampilkan teknik melodeath tapping yang rumit, sedangkan “Age Of The Stars” menyajikan lapisan vokal yang megah dan berlapis-lapis.
Momentum Sempurna Setelah Era Svalbard
Perilisan album Extinguish Thy Flame ini hadir di saat yang sangat krusial bagi perjalanan karier Serena Cherry. Band utamanya, Svalbard, baru saja menyelesaikan penampilan terakhir mereka dan memutuskan untuk tidak aktif lagi, hanya satu bulan sebelum album solo ini dijadwalkan rilis. Album terakhir Svalbard yang bertajuk The Weight Of The Mask dirilis pada tahun 2023 dan mendapat banyak pujian, namun kini fokus sepenuhnya beralih kepada proyek solo Noctule.
Kehadiran album ini membuktikan bahwa Serena mampu berdiri sendiri dan bersinar terang di luar bayang-bayang band lamanya. Dengan aransemen yang lebih megah dan konsep yang matang, Noctule bukan lagi sekadar proyek sampingan untuk mengisi waktu luang, melainkan sebuah kekuatan baru yang patut diperhitungkan di kancah musik metal internasional. Bagi para penggemar musik ekstrem yang menyukai perpaduan antara agresi black metal dan keindahan simfoni fantasi, album ini akan menjadi salah satu rilisan paling dinantikan tahun ini.
Secara keseluruhan, Extinguish Thy Flame bukan hanya sebuah album musik biasa, melainkan sebuah perjalanan sinematik yang membawa pendengarnya ke tengah medan pertempuran fantasi yang gelap dan menegangkan. Dengan dedikasi Serena Cherry yang luar biasa dalam meramu musik dan konsep, album ini siap menjadi salah satu karya black metal paling epik di era modern.
- Jazz1 minggu ago
Rifki Soeria dan Neea Rachma Ungkap Karya Baru di WartaJazz
Metal6 hari agoJohn Goblikon Menyebut Kebangkitan Musik Nu-Metal Sebagai Sinyal Resesi
- Jazz6 hari ago
Sandhy Sondoro Menghadirkan Konser A Soulful Odyssey di Berlin
Musik1 minggu agoRamengvrl Merilis Singel #COWOBARU untuk Menyambut Album Baru
Musik2 minggu agoLea Simanjuntak Rilis Single Terbaru ‘Ruang Di Hatimu’ Setelah Hiatus
Musik2 minggu agoSpeak Up Meluncurkan Single Terbaru Semua Akan Indah Pada Waktunya
- Jazz1 minggu ago
Para Musisi Jazz Dunia Merilis Puluhan Album Baru pada September 2026
- Jazz1 minggu ago
Musisi Jazz Global Merilis Puluhan Album dan Single Baru pada Agustus 2026





