Connect with us

Jazz

The Papandayan Jazz Festival 2026 Siap Menghadirkan Puluhan Musisi Lintas Generasi

Published

on

Pecinta musik jazz di tanah air bersiaplah untuk menyambut salah satu perhelatan musik paling dinantikan tahun ini. The Papandayan Jazz Festival (TPJF) 2026 siap kembali memanjakan para penikmat musik selama dua hari berturut-turut, tepatnya pada tanggal 3 hingga 4 Oktober 2026. Bertempat di hotel bintang lima yang ikonik, The Papandayan Hotel Bandung, festival ini akan menghadirkan puluhan musisi lintas genre yang tersebar di enam area panggung yang berbeda.

Jadwal Tampil Hari Pertama: Kolaborasi Legendaris dan Nuansa Klasik

Pada hari pertama, Sabtu, 3 Oktober 2026, TPJF langsung menggebrak dengan deretan penampil papan atas di berbagai panggung. Di panggung utama, Kota Baru Parahyangan Stage yang terletak di Suagi Grand Ballroom, penonton akan disuguhi penampilan spesial “Tribute to Koes Plus” oleh The Gentlemen’s Club yang beranggotakan Adikara, Bilal, dan Teza. Tidak kalah menarik, diva legendaris Ruth Sahanaya serta kolaborasi apik antara Diskoria dan Andien juga dipastikan akan mengguncang panggung utama ini.

Sementara itu, di BRI Stage yang bertempat di HuruBatu Grill Garden, penonton dapat menikmati penampilan dari Sea Dreams, Smoove, Ambon Jazz Rock oleh Barry Likumahuwa, Rieka Roslan yang berkolaborasi dengan Lalahuta, serta Batavia Collective. Bagi penikmat jazz dengan nuansa yang lebih intim, RON88 Stage di Cimanuk Ballroom menyajikan SFG, SimakDialog, Bandung Tempo Doeloe oleh Gege Gumilar Band bersama Tiara Effendy dan Yerry T-Five, serta Arumtala.

Area TP Stage di lantai dasar akan diisi oleh sesi edukatif Master Class bersama Sri Hanuraga, dilanjutkan dengan penampilan dari SND, Dadaks, Cinere Jazz bersama Happy Pretty, dan Yonathan Godjali Quartet. Di Tropical Garden, Mojang Jajaka Stage akan menampilkan kesenian Barong Bekasi oleh Abang Mpok Kota Bekasi, Galumbira – Panen Durcing Raharja, Nakisha, dan One Note Voices. Area Pasar Jazz di tempat parkir juga akan diramaikan oleh University Jazz Band serta berbagai pameran komunitas dan kuliner.

Hari Kedua yang Penuh Eksplorasi dan Harmoni Modern

Hari Kedua yang Penuh Eksplorasi dan Harmoni Modern

Memasuki hari kedua, Minggu, 4 Oktober 2026, atmosfer festival dipastikan tetap membara. Panggung utama Kota Baru Parahyangan Stage akan menyajikan pertunjukan megah bertajuk “A Night of Frank Sinatra” yang dipimpin oleh maestro Dwiki Dharmawan & Friends bersama Dira Sugandi, Dirly Dave, dan Bandung Jazz Orchestra. Panggung utama ini juga akan dimeriahkan oleh penyanyi muda berbakat Mahalini, serta kolektif Freedom Jazz Society yang menampilkan kolaborasi antara Greybox, Jevin Julian, Kenny Gabriel, dan Winky Wiryawan bersama Rinni.

Di BRI Stage, pengunjung akan dihibur oleh Andre Dinuth Group yang berkolaborasi dengan Matthew Sayersz, solois muda Rafi Sudirman, serta reuni enerjik dari T-Five bersama Melly Mono. RON88 Stage tidak kalah seru dengan penampilan dari grup 5 Petani, Barry Likumahuwa bersama TPJC Collective, serta kolaborasi unik Reyharp dengan Balawan Project yang dikenal dengan teknik gitar tap ganda yang memukau.

Bagi yang ingin memperdalam ilmu musik, TP Stage kembali menghadirkan Master Class bersama Tommy Pratomo, disusul penampilan Funky Journal, serta kolaborasi VMS Art Collective X Artsi bersama gitaris jazz legendaris Oele Pattiselanno. Mojang Jajaka Stage akan menyuguhkan penampilan dari Swara Katresna, Ranggaswara Group, dan kolaborasi lintas seni Ki Dalang Anom bersama Swara Katresna. Area Pasar Jazz tetap setia menemani pengunjung dengan penampilan University Jazz Band dan aktivitas komunitas yang interaktif.

Menilik Sejarah dan Kontribusi TPJF bagi Musik Indonesia

The Papandayan Jazz Festival bukan sekadar acara musik tahunan biasa, melainkan sebuah wadah apresiasi seni yang konsisten menjaga ekosistem musik jazz di Indonesia, khususnya di Jawa Barat. Bandung, yang dikenal sebagai kota kreatif dengan sejarah musik yang kuat, menjadi lokasi yang sangat tepat untuk menyelenggarakan festival berskala nasional ini. Kehadiran TPJF setiap tahunnya selalu berhasil menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara untuk datang dan menikmati keindahan kota Bandung sembari ditemani alunan musik jazz berkualitas.

Konsep festival yang menggunakan berbagai sudut hotel sebagai panggung pertunjukan memberikan pengalaman menonton yang unik dan imersif. Penonton dapat dengan mudah berpindah dari satu panggung ke panggung lain, menikmati berbagai sub-genre jazz mulai dari jazz tradisional, fusion, pop-jazz, hingga eksperimental. Selain itu, adanya sesi Master Class menunjukkan komitmen festival ini dalam memberikan edukasi musik bagi generasi muda, sehingga regenerasi musisi jazz di tanah air dapat terus berjalan dengan baik.

Informasi Tiket, Paket Akomodasi, dan Promo Menarik

Untuk dapat menikmati seluruh rangkaian acara ini, pihak penyelenggara telah menyiapkan tiga kategori tiket resmi yang dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan pengunjung:

  • Silver Pass (Rp250.000): Tiket harian yang memberikan akses ke lima area festival, yaitu Pasar Jazz, RON88 Stage, TP Stage, Mojang Jajaka Stage, dan BRI Stage.
  • Gold Pass (Rp400.000): Tiket harian yang memberikan akses penuh ke seluruh area festival, termasuk panggung utama Kota Baru Parahyangan Stage.
  • Platinum Pass (Rp750.000): Tiket terusan dua hari penuh (3–4 Oktober 2026) yang memberikan akses tanpa batas ke seluruh panggung dan rangkaian acara festival.

Penyelenggara juga menawarkan berbagai promo menarik untuk memudahkan para pengunjung. Salah satunya adalah diskon sebesar 25% bagi nasabah pemegang kartu Bank BRI, promo pembelian tiket grup, hingga paket bundling akomodasi bertajuk “Stay & Fest”. Paket khusus ini menggabungkan fasilitas menginap yang nyaman di The Papandayan Hotel Bandung dengan tiket masuk festival, memberikan kenyamanan ekstra bagi pengunjung yang datang dari luar kota. Informasi lengkap mengenai pembelian tiket dan penawaran menarik lainnya dapat diakses melalui situs resmi di tpjazzfest.com atau melalui akun media sosial Instagram resmi mereka di @tpjazzfest.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jazz

Sandhy Sondoro Menghadirkan Konser A Soulful Odyssey di Berlin

Published

on

Penyanyi solo kenamaan Indonesia, Sandhy Sondoro, kembali menginjakkan kakinya di Berlin, Jerman, untuk menggelar konser istimewa bertajuk Liebe in Concert – A Soulful Odyssey. Pertunjukan yang berlangsung di Bunker West pada Sabtu (19/9) ini menjadi momen emosional sekaligus ajang pembuktian musikalitasnya di kancah internasional. Dalam penampilannya kali ini, Sandhy tidak tampil sendiri, melainkan didampingi oleh dua musisi hebat tanah air, yaitu pemain bass legendaris Indro Hardjodikoro dan musisi etnik kontemporer Muhammad Fajar Nurihsan yang akrab disapa Jarwo.

Reuni Musikal dan Nostalgia Sandhy Sondoro di Berlin

Berlin memiliki tempat yang sangat istimewa di hati Sandhy Sondoro. Kota ini bukan sekadar destinasi wisata atau panggung biasa, melainkan tempat di mana fondasi karier musiknya dibangun. Sejak memutuskan menetap dan mengembangkan karier musiknya di Berlin pada tahun 1998, Sandhy telah melewati berbagai fase perjuangan yang membentuk karakternya sebagai seorang musisi sejati. Ia memulai perjalanannya dari bawah, bernyanyi dari jalanan, bar-bar kecil, hingga klub malam di sudut-sudut kota Berlin yang terkenal sangat kompetitif.

Pengalaman hidup yang keras namun kaya akan inspirasi tersebut membentuk karakter vokal dan gaya bermusiknya yang khas. Salah satu karya monumentalnya, Down on the Streets, lahir dari refleksi mendalam atas pengalamannya menyusuri jalanan Berlin yang dingin namun penuh dengan dinamika kehidupan. Kembali ke kota ini dengan sebuah konser tunggal berskala besar tentu membawa rasa nostalgia yang mendalam sekaligus rasa syukur atas pencapaiannya sejauh ini. Konser ini menjadi bukti nyata bahwa dedikasi dan konsistensi dalam bermusik akan selalu menemukan jalan untuk kembali ke tempat di mana semuanya dimulai.

Kolaborasi Lintas Genre Bersama Indro Hardjodikoro dan Jarwo

Konser A Soulful Odyssey kali ini menawarkan sesuatu yang sangat berbeda melalui kolaborasi lintas genre yang sangat dinamis. Kehadiran Indro Hardjodikoro memberikan dimensi baru pada aransemen lagu-lagu Sandhy yang bernuansa soul. Sebagai salah satu pencabik bass terbaik di Indonesia, Indro membawa pengalaman panjangnya yang melintasi berbagai genre musik, mulai dari jazz, pop, rock, hingga musik tradisional seperti keroncong dan dangdut. Permainan bass Indro yang solid dan penuh improvisasi mampu mengimbangi vokal soul Sandhy yang bertenaga dan penuh penghayatan.

Di sisi lain, kehadiran Jarwo memberikan sentuhan magis yang unik pada keseluruhan pertunjukan. Sebagai komposer dan pemain perkusi etnik asal Jawa Barat, Jarwo memasukkan elemen-elemen ritme tradisional Sunda dan nusantara ke dalam aransemen musik modern. Kolaborasi ketiganya menciptakan sebuah dialog musikal yang harmonis, di mana musik soul barat bertemu dengan kehangatan jazz dan eksotisme perkusi tradisional Indonesia. Penonton yang hadir disuguhi sebuah pertunjukan yang tidak hanya memanjakan telinga, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia dalam kemasan yang modern dan universal.

Diplomasi Budaya dan Dukungan Pemerintah Indonesia

Pertunjukan ini bukan sekadar hiburan bagi komunitas Indonesia di Jerman, melainkan sebuah misi diplomasi budaya yang sangat penting. Melalui A Soulful Odyssey, musik Indonesia diposisikan sebagai entitas yang mampu bersaing dan dinikmati oleh publik global di salah satu pusat kebudayaan Eropa. Berlin dikenal sebagai kota yang sangat menghargai keberagaman seni dan budaya, sehingga menjadi tempat yang sangat tepat untuk memperkenalkan identitas musik Indonesia yang kaya dan beragam.

Suksesnya acara ini tidak lepas dari kolaborasi erat antara Bunker West Berlin dengan Ajang Mas Kreatif. Selain itu, acara ini juga mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak seperti Gekraf Jerman, SOCreative, SON Video Works, dan 1st Pictures. Dukungan yang sangat signifikan juga datang dari pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia serta Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui program Dana Indonesia Raya atau Dana Indonesiana. Dukungan ini menunjukkan komitmen nyata pemerintah dalam mendorong ekspansi industri kreatif dan talenta lokal ke panggung dunia.

Dengan suksesnya konser Liebe in Concert – A Soulful Odyssey, Sandhy Sondoro bersama Indro Hardjodikoro dan Jarwo telah membuktikan bahwa musik adalah bahasa universal yang mampu melampaui batas-batas geografis dan budaya. Pertunjukan di Berlin ini diharapkan dapat membuka jalan yang lebih lebar bagi musisi-musisi Indonesia lainnya untuk tampil di panggung internasional. Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa karya anak bangsa memiliki kualitas yang sejajar dengan musisi global dan layak mendapatkan apresiasi di tingkat dunia. Perjalanan musikal Sandhy di Berlin kali ini tidak hanya menjadi sebuah nostalgia pribadi, tetapi juga sebuah catatan sejarah baru bagi perkembangan musik Indonesia di Eropa.

Continue Reading

Jazz

Musisi Jazz Global Merilis Puluhan Album dan Single Baru pada Agustus 2026

Published

on

Perkembangan musik jazz di tingkat global terus menunjukkan dinamika yang luar biasa, dan bulan Agustus 2026 menjadi salah satu periode paling produktif bagi para musisi genre ini. Berbagai karya terbaru, mulai dari album penuh (LP), mini album (EP), hingga single, resmi diperkenalkan ke publik untuk memberikan warna baru dalam lanskap musik dunia. Kehadiran rilisan-rilisan ini membuktikan bahwa jazz tetap menjadi wadah eksplorasi yang subur bagi para komposer dan instrumentalis lintas generasi.

Keberagaman Estetika dan Kolaborasi Lintas Batas

Pada bulan Agustus ini, para pencinta musik jazz disuguhkan dengan variasi gaya yang sangat kaya. Salah satu rilisan yang sangat dinantikan adalah kolaborasi antara pianis Ayumi Tanaka, pemain kontrabas Thomas Morgan, dan pemain drum Thomas Strønen lewat album berjudul Windflower di bawah naungan label legendaris ECM Records. Kolaborasi trio ini dikenal dengan pendekatan mereka yang sangat intuitif, tenang, dan penuh ruang kosong yang puitis, sebuah ciri khas yang selalu berhasil dihadirkan oleh ECM Records dalam menjaga kualitas produksi audio yang jernih dan atmosferik.

Selain itu, kekuatan musisi perempuan dalam kancah jazz modern juga semakin bersinar melalui kolaborasi antara pemain bas Linda May Han Oh dan pemain saksofon Melissa Aldana dalam album Beneath Lifted Skies yang dirilis oleh Biophilia Records. Kedua musisi ini dikenal memiliki teknik permainan yang luar biasa serta visi komposisi yang visioner. Kehadiran album ini mempertegas posisi mereka sebagai figur penting yang terus mendorong batas-batas musik jazz kontemporer ke arah yang lebih segar dan relevan dengan perkembangan zaman.

Bagi pendengar yang menyukai kehangatan melodi tradisional dengan sentuhan eksotis, Miguel Zenón kembali hadir dengan El Arte del Bolero, Vol. 3 melalui Miel Music. Melalui seri album ini, Zenón secara konsisten mengeksplorasi keindahan musik bolero Latin yang dikawinkan dengan improvisasi jazz yang rumit namun tetap nyaman di telinga. Sentuhan ritme yang hangat ini menjadi penyeimbang yang sempurna di tengah gempuran eksperimentasi jazz modern lainnya.

Eksperimen Elektronik dan Penghormatan Terhadap Tradisi

Perkembangan teknologi dan pergeseran zaman juga memengaruhi bagaimana jazz diproduksi dan dinikmati pada tahun 2026. Proyek musik seperti Acoustic Electronica dari grup The Court at Versailles menjadi contoh nyata bagaimana instrumen akustik konvensional dapat berpadu harmonis dengan elemen elektronik modern. Eksperimen semacam ini menciptakan dimensi suara baru yang lebih luas, menjembatani batas antara musik dansa elektronik, ambient, dan improvisasi jazz murni.

Di sisi lain, penghormatan terhadap tradisi jazz klasik tetap terjaga dengan baik. Kehadiran pianis legendaris Larry Goldings lewat album Rhombus di bawah Smoke Sessions Records, serta Sullivan Fortner dengan karya terbarunya Leave That In There, menunjukkan bahwa esensi permainan piano jazz yang berakar pada tradisi swing, blues, dan bebop masih sangat diminati. Album-album ini menawarkan keahlian teknis tingkat tinggi sekaligus kehangatan musikalitas yang intim, sangat cocok untuk dinikmati dalam berbagai suasana.

Tidak ketinggalan, format ansambel besar juga mendapatkan tempat khusus bulan ini melalui karya Martin Iaies yang bertajuk People. Places. Music For Large Ensemble. Komposisi untuk ansambel besar selalu menawarkan tantangan tersendiri dalam hal aransemen, dan Iaies berhasil menyajikan narasi musikal yang megah namun tetap memberikan ruang bagi setiap instrumen untuk menonjolkan karakter uniknya masing-masing.

Daftar Lengkap Rilisan Jazz Terpopuler Agustus 2026

Berikut adalah daftar lengkap album, EP, dan single jazz yang dirilis sepanjang bulan Agustus 2026 yang wajib masuk ke dalam daftar putar Anda:

  • Ayumi Tanaka, Thomas Morgan, Thomas StrønenWindflower (ECM Records)
  • Ben Crosland QuintetNorth York Skies (Jazz Cat Records / Music Connection / ECN Music)
  • Clark SommersWaBaSH (Calligram Records)
  • Danny KeaneKinesis (MVKA)
  • East of WestVelella (4000 Records)
  • Enoch Smith Jr.This Is What Love Does (Misfitme Music)
  • Frank LondonTouzle Your Kurchy (Adhyâropa Records)
  • Henry ThreadgillFifteen (Nonesuch Records)
  • Irene ArandaMAY (Relative Pitch Records)
  • John DonaldsonWe Were Together, I Forget the Rest (Hexagonal Records)
  • Larry GoldingsRhombus (Smoke Sessions Records)
  • Linda May Han Oh & Melissa AldanaBeneath Lifted Skies (Biophilia Records)
  • maTrigalBetween Homes (Svitzer Music)
  • Martin IaiesPeople. Places. Music For Large Ensemble (Challenge Records)
  • Miguel ZenónEl Arte del Bolero, Vol. 3 (Miel Music)
  • Mike ClarkKuon Ganjo (Time Without Beginning) (Wide Hive Records)
  • Mike JonesMike Jones With Strings (Capri Records)
  • Ricardo BacelarAqui, Oh! (Jasmin Music)
  • Rite of StringsDust and the Moon (Bright Shiny Things)
  • Sam Sadigursky-ish (Adhyâropa Records)
  • Stephanie BorganiMímica: Música para Quatro Instrumentos (Yb Music)
  • Stephen Philip HarveyGolden Hour (Hidden Cinema)
  • Sullivan FortnerLeave That In There (Artwork Records)
  • Terence CollieDNA (Adhyâropa Records)
  • The Court at VersaillesAcoustic Electronica (Handcrafted Records)
  • The Vinyl SessionThe Vinyl Session (Self Produced)
  • Zaccai CurtisSonoluminescence Vol. 1 (TRRcollective)

Banyaknya rilisan berkualitas tinggi pada bulan Agustus 2026 ini membuktikan bahwa industri musik jazz global tidak pernah kehabisan energi kreatif. Dari proyek solo yang intim hingga aransemen orkestra yang megah, setiap karya menawarkan pengalaman auditif yang unik bagi para pendengarnya. Kehadiran album-album ini tidak hanya memperkaya khazanah musik dunia, tetapi juga memberikan inspirasi baru bagi perkembangan musik jazz di masa depan. Pastikan Anda meluangkan waktu untuk mengeksplorasi karya-karya luar biasa ini di platform musik digital favorit Anda.

Continue Reading

Jazz

Rifki Soeria dan Neea Rachma Ungkap Karya Baru di WartaJazz

Published

on

Dua musisi jazz berbakat tanah air, Rifki Soeria dan Neea Rachma, menjadi sorotan utama dalam program WartaJazz Monday Launch edisi 119. Dalam kesempatan ini, keduanya membagikan kisah inspiratif serta proses kreatif di balik pembuatan karya terbaru mereka yang menghadirkan warna segar bagi kancah musik jazz Indonesia.

Melalui obrolan mendalam di panggung WartaJazz, para penikmat musik diajak untuk menyelami latar belakang pembuatan lagu, kolaborasi antar-musisi, hingga eksplorasi genre unik yang mereka usung. Kehadiran karya dari kedua musisi ini semakin memperkaya khazanah musik Tanah Air yang terus berkembang pesat dan semakin inklusif bagi berbagai kalangan pendengar.

Eksplorasi Romansa Bossa Nova dalam Lagu “Berdua Saja”

Rifki Soeria kembali menunjukkan produktivitasnya di belantika musik lewat peluncuran lagu terbaru bertajuk “Berdua Saja”. Dalam karya teranyarnya ini, Rifki menggaet penyanyi Keshya Valerie untuk mengeksekusi sebuah lagu duet yang kental dengan nuansa romantis. Lagu ini memadukan balutan musik Jazz Pop Indonesia dengan sentuhan Bossa Nova yang lembut, menghasilkan sensasi easy listening yang kaya akan nuansa nostalgia.

Gagasan awal penciptaan “Berdua Saja” lahir secara alami dari sebuah obrolan santai di studio antara Rifki Soeria dan Abraham Song. Dari diskusi organik tersebut, terciptalah sebuah komposisi yang merayakan momen-momen sederhana namun penuh kenyamanan saat seseorang jatuh cinta. Tanpa perlu narasi drama yang berlebihan, lagu ini berhasil menangkap esensi kasih sayang yang tulus, hangat, dan menenangkan.

Aransemen yang hangat serta alunan melodi yang mengalir membuat “Berdua Saja” menjadi pendamping yang sangat pas untuk berbagai situasi. Komposisi ini dirancang agar nyaman menemani perjalanan di malam hari, memberikan ketenangan saat beristirahat di rumah, maupun sekadar menjadi musik latar ketika bersantai bersama orang terdekat. Sentuhan Bossa Nova yang elegan berpadu harmonis dengan karakter vokal Keshya Valerie, menciptakan warna musik yang ramah di telinga pendengar awam maupun penikmat jazz setia.

Nuansa Dixieland Segar dalam “Waktu Takut Nonton Film Horor”

Sementara itu, Neea Rachma menghadirkan pendekatan musik yang tidak kalah menarik melalui lagu terbarunya yang berjudul unik, “Waktu Takut Nonton Film Horor”. Tak tanggung-tanggung, dalam proyek ini Neea melakukan kolaborasi lintas negara dengan menggamit pianis kenamaan asal Jepang, Yukako Yamano. Sinergi antara keahlian bermusik kedua seniman ini menghasilkan jalinan nada yang lincah, dinamis, dan penuh energi.

Keindahan lagu ini juga didukung oleh jajaran musisi andal yang mengisi instrumen pendukung. Ricky Firmansyah dipercaya untuk memegang posisi bass yang menjaga ritme tetap stabil, sementara Shaku Hachi mengisi dentuman drum yang mantap. Nuansa khas semakin diperkuat oleh permainan tiupan trompet dari Benn Yapari. Kolaborasi solid ini melahirkan karya bergenre Dixieland—gaya jazz klasik asal New Orleans yang dikenal dengan sifatnya yang riang, penuh improvisasi, serta kaya akan permainan instrumen tiup.

Meski mengusung genre Dixieland yang identik dengan struktur musik kompleks, Neea Rachma dan tim berhasil menyajikannya dengan lirik yang sangat sederhana dan membumi. Pendekatan ini membuat lagu “Waktu Takut Nonton Film Horor” menjadi sangat mudah dicerna oleh berbagai lapisan pendengar. Tema yang unik namun sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari berhasil dibungkus dengan aransemen yang ceria, membuktikan bahwa musik jazz bisa tampil jenaka, menyenangkan, dan tidak selalu terkesan rumit.

WartaJazz Monday Launch sebagai Ruang Apresiasi dan Inspirasi

Program WartaJazz Monday Launch edisi 119 memberikan wadah yang sangat krusial bagi para musisi untuk menceritakan kisah di balik layar dari karya-karya hebat mereka. Melalui platform ini, publik tidak hanya disuguhkan hasil akhir berupa rekaman audio, tetapi juga dibawa untuk memahami perjuangan, eksperimen, dan pemikiran kreatif yang melandasi lahirnya setiap karya seni.

Kehadiran kolaborasi internasional seperti yang dilakukan Neea Rachma bersama Yukako Yamano, serta eksplorasi genre lokal yang dibawakan Rifki Soeria, menegaskan bahwa ekosistem jazz di Indonesia sangat dinamis dan terbuka terhadap berbagai pengaruh positif. Pertukaran budaya dan ide musik seperti ini menjadi bukti bahwa jazz adalah bahasa universal yang mampu menyatukan berbagai elemen seni tanpa batasan geografis.

Bagi para penggemar yang penasaran dengan detail pembuatan lagu, perbincangan seru di dalam studio, serta rencana karier kedua musisi ini ke depan, tayangan WartaJazz Monday Launch edisi 119 menjadi tontonan yang sangat menginspirasi. Kehadiran karya-karya segar ini diharapkan dapat terus memicu semangat para musisi lokal untuk terus berkarya dan memperluas jangkauan musik jazz Indonesia di kancah nasional maupun internasional.

Continue Reading

Trending