Connect with us

Musik

Buitenstage Vol. 15 Menghadirkan NAVA, TB AJI, dan ABDIMUDA di Bogor

Published

on

Program panggung musik dwi-mingguan Buitenstage kembali menyapa para pencinta musik Tanah Air melalui gelaran teranyarnya, Buitenstage Vol. 15. Acara yang berlangsung di Kopi Wangsa, Bogor, pada Kamis, 17 September 2026 ini sukses menyatukan musisi independen, komunitas, media, dan pendengar dalam satu ruang apresiasi yang hangat.

Diinisiasi oleh Buitenfest bekerja sama dengan label dan manajemen Cadaazz Pustaka Musik, Buitenstage Vol. 15 hadir secara konsisten sebagai wadah penampil bagi para musisi yang tengah mempromosikan materi musik terbaru mereka secara langsung. Tidak sekadar menjadi panggung pertunjukan biasa, program ini dirancang sebagai titik temu yang memperkuat jejaring ekosistem musik lokal.

Tiga Warna Musik dalam Satu Panggung Pertunjukan

Pada edisi ke-15 ini, Buitenstage menyajikan keberagaman genre dan latar belakang musikal dengan menghadirkan tiga penampil utama, yakni NAVA, TB AJI, dan ABDIMUDA. Ketiga musisi tersebut sukses memberikan energi yang berbeda namun saling melengkapi sepanjang malam pertunjukan.

Grup musik independen asal Cibubur, Jakarta Timur, NAVA, menjadi salah satu penampil yang menyedot perhatian penonton. Terbentuk sejak 15 April 2025 dari jalinan persahabatan bangku sekolah dasar, NAVA tampil membawakan lagu-lagu dari EP perdana mereka Rayakan Dunia Baru serta rilisan teranyar bertajuk “Tak Ada Lagi” yang baru saja dilepas ke pasaran pada 9 September 2026. Aksi panggung mereka membuktikan bagaimana karya yang masih sangat baru dapat langsung menemukan audiensnya secara nyata di atas panggung.

Sementara itu, solois asal Bandung, TB AJI, membawa nuansa pop emosional berbalut R&B modern. Mengawali karier solonya sejak tahun 2022 lewat lagu “Tukar Rasa”, TB AJI kini tampil lebih segar dan energik melalui single terbarunya, “Ternyata Dia (Orangnya)”. Pendekatan musik yang lebih riang dan interaktif sukses mengajak penonton yang hadir di Kopi Wangsa untuk bernyanyi bersama dalam suasana pertunjukan yang intim.

Melengkapi jajaran penampil, musisi solo asal Jakarta, ABDIMUDA, turut membagikan perjalanan musiknya lewat deretan lagu dari EP debut bertajuk Belum Usai yang dirilis Juni 2026. Penampilan ABDIMUDA menjadi momentum penting baginya untuk memperkenalkan karakter musikalnya secara langsung sekaligus membangun ikatan yang lebih dekat dengan para penikmat musik di Bogor dan sekitarnya.

Sinergi Media dan Komunitas dalam Ekosistem Musik

Keberhasilan Buitenstage Vol. 15 tidak lepas dari dukungan penuh ekosistem media musik dan komunitas lokal. Program ini memposisikan media partner bukan hanya sebagai saluran publikasi formal, melainkan sebagai bagian tak terpisahkan dari pemangku kepentingan dalam memajukan industri musik independen.

Melalui publikasi editorial, berita digital, dan promosi media sosial dari belasan media partner—termasuk di antaranya iMusic ID, Berisik Radio, Cadaazz.com, Boleh Music, Dapur Letter, Warlok Bogor, hingga KISI FM Bogor—karya-karya para musisi dapat menjangkau pendengar yang jauh lebih luas melebihi batas area pertunjukan.

Fransiskus Eko dari Cadaazz Pustaka Musik menegaskan bahwa kolaborasi lintas lini ini merupakan kunci utama dalam menjaga keberlangsungan ruang kreatif musisi. Menurutnya, sinergi yang terbangun antara musisi, media, dan komunitas membuat pergerakan musik tidak berhenti saat acara usai, melainkan terus bergulir membentuk jejaring yang produktif dan saling mendukung.

Menjaga Ruang Pertunjukan Musik Independen Tetap Hidup

Di tengah maraknya era konsumsi musik secara digital, keberadaan panggung fisik seperti Buitenstage memberikan nilai tambah yang sangat krusial bagi musisi independen. Proses penyampaian karya secara langsung di atas panggung memberikan pengalaman emosional yang tidak dapat digantikan oleh platform pemutar musik digital semata.

Nanang Yuswanto dari Buitenfest mengungkapkan bahwa Buitenstage dirancang untuk terus berkembang dan tidak sekadar menjadi acara pertunjukan reguler. Komitmen ini dihadirkan agar setiap karya yang diluncurkan oleh musisi memiliki ruang bertumbuh, diuji langsung di depan pendengar, serta memicu potensi kolaborasi baru di masa depan.

Dengan konsistensi penyelenggaraan yang terus dijaga, Buitenstage Vol. 15 kembali membuktikan pentingnya keberadaan ruang temu kreatif di daerah seperti Bogor. Sinergi antara talenta baru, dukungan media, dan antusiasme komunitas menjadi modal utama dalam menciptakan ekosistem musik Indonesia yang berkelanjutan, inklusif, dan terus berkembang.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Musik

GUTTER CVLT Rilis Album Perdana HEXAKOSIOIHEXEKONTAHEXA

Published

on

Unit musik ekstrem asal Medan, GUTTER CVLT, secara resmi meluncurkan album perdana mereka yang bertajuk HEXAKOSIOIHEXEKONTAHEXA. Mengusung genre blackened death grind, kuartet ini menghadirkan 12 lagu yang sarat dengan tensi tinggi, agresivitas tanpa kompromi, serta nuansa gelap yang pekat. Rilisan ini menjadi penanda penting dalam perjalanan karir musik mereka sejak pertama kali dibentuk pada tahun 2020 lalu.

Agresivitas Sonik dan Kombinasi Komposisi Gelap

Sejak awal kehadirannya di kancah musik bawah tanah, GUTTER CVLT secara konsisten membangun fondasi musikal yang berkarakter kuat. Dalam album HEXAKOSIOIHEXEKONTAHEXA, mereka memadukan dua elemen utama musik ekstrem, yaitu dinamika kencang khas death grind dan atmosfer kelam yang menjadi ciri khas black metal. Hasilnya adalah jajaran trek yang didominasi oleh ketukan blast beat berkecepatan tinggi, sapuan raungan vokal yang buas, serta struktur ritem gitar yang kasar dan menekan.

Setiap komposisi dalam album ini dirancang untuk menciptakan intensitas auditori yang terus-menerus memborbardir pendengar dari awal hingga akhir durasi. Tidak sekadar mengandalkan kecepatan dan tempo tinggi, penyusunan nada dan dinamika dalam 12 trek ini juga menonjolkan aura kekacauan, keputusasaan, dan kemarahan. Pendekatan estetika audio yang mentah namun padat mempertegas pesan sonik yang ingin disampaikan oleh GUTTER CVLT kepada para penikmat musik cadas di Indonesia.

Semangat DIY dan Jejak Pengalaman Panggung

Kehadiran GUTTER CVLT tidak bisa dilepaskan dari semangat kemandirian atau kultur Do-It-Yourself (DIY) yang melandasi gerakan musik underground. Musik yang mereka hasilkan lahir dari respons terhadap realitas, gejolak emosional, serta kehancuran yang diolah menjadi ledakan sonik tanpa ruang untuk kompromi. Identitas ini menjadi daya dorong utama dalam proses kreatif pembuatan album, mulai dari tahap penulisan lagu hingga proses produksi rekaman.

Karakter unik yang tertuang dalam rekaman studio ini juga berakar dari intensitas penampilan langsung mereka. Sebelum melepas album penuh ini, GUTTER CVLT telah menempa kualitas penampilannya melalui berbagai pertunjukan lokal di Medan. Pengalaman memanaskan panggung skala kecil hingga kesempatan berbagi panggung dengan berbagai band tur dari luar daerah menjadi kawah candradimuka yang mengasah ketajaman serta energi elektritisasi aksi panggung mereka.

Kolaborasi Musisi Skena dan Formasi Personel

GUTTER CVLT digawangi oleh empat personel yang sudah tidak asing lagi dalam ekosistem musik ekstrem di Sumatra Utara. Formasi ini diisi oleh Slushgaze Astaroth pada lini vokal, Empusa Vinkag pada gitar, Kym Urzak pada bas, serta Zikdat Brimstone di posisi drum. Kolektivitas para anggota ini memberikan warna tersendiri mengingat masing-masing personel memiliki latar belakang dan keterlibatan aktif di proyek musik lainnya.

Beberapa anggota GUTTER CVLT tercatat turut memperkuat kelompok musik bawah tanah lainnya seperti Muntah Kawat, Parabangsat, Projecterror, dan Gergaji Beton. Silang keterlibatan ini memperkaya referensi musikal mereka sekaligus mempertegas solidaritas antar-musisi dalam menjaga denyut nadi skena independen lokal agar tetap hidup dan berkembang.

Pijakan Baru Bagi Skena Musik Ekstrem Medan

Kota Medan secara historis dikenal sebagai salah satu titik penting dalam peta perkembangan musik metal dan punk di Indonesia. Kehadiran album HEXAKOSIOIHEXEKONTAHEXA karya GUTTER CVLT menjadi bukti bahwa regenerasi serta kreativitas pelaku musik ekstrem di kawasan tersebut tetap berjalan dinamis. Rilisan ini memberi pasokan energi segar bagi komunitas bawah tanah yang terus bertahan secara mandiri.

Dengan diluncurkannya album penuh pertama ini, GUTTER CVLT tidak hanya menegaskan pijakan awal perjalanan diskografi mereka, tetapi juga membuka peluang lebih luas untuk menjangkau pendengar di luar wilayah Medan. Album ini diproyeksikan menjadi pendorong utama bagi mereka untuk melakukan ekspansi panggung dan terus bergerak secara konsisten di jalur musik ekstrem Tanah Air.

Continue Reading

Metal

Noctule Bersiap Merilis Album Black Metal Epik Extinguish Thy Flame

Published

on

Serena Cherry, musisi multi-instrumentalis yang sebelumnya dikenal melalui band post-metal Svalbard, bersiap untuk meluncurkan album solo keduanya di bawah proyek black metal miliknya, Noctule. Album bertajuk Extinguish Thy Flame ini dijadwalkan rilis pada tanggal 25 September mendatang. Karya terbaru ini menandai babak baru dalam perjalanan karier Serena, menyajikan sebuah mahakarya epik yang memadukan kegelapan musik ekstrem dengan narasi fantasi yang megah.

Melarikan Diri ke Dunia Fantasi Elden Ring

Dalam band lamanya, Svalbard, Serena Cherry sering kali menulis lirik yang sangat personal dan emosional, membahas realitas kehidupan yang keras seperti kesehatan mental, trauma, dan pelecehan. Namun, melalui Noctule, Serena menemukan ruang untuk melarikan diri dari kenyataan pahit tersebut dan masuk ke dalam dunia fantasi yang luas. Jika album debut Noctule pada tahun 2021, Wretched Abyss, sangat dipengaruhi oleh game RPG legendaris Skyrim dan ditulis di tengah masa karantina pandemi Covid-19, maka album kedua ini mengambil inspirasi dari mahakarya game lainnya, yaitu Elden Ring.

Serena mengungkapkan bahwa bermain Elden Ring membantunya melewati masa-masa sulit saat berjuang melawan depresi yang mendalam. Dalam album Extinguish Thy Flame, ia mengambil sudut pandang unik dari para karakter bos tangguh yang ada di dalam game tersebut. Pendekatan tematis ini memberikan kedalaman narasi yang luar biasa, mengubah setiap lagu menjadi sebuah pertempuran epik yang layak menjadi lagu tema film layar lebar beranggaran besar.

Komposisi Mandiri dan Pengaruh Musik Ekstrem

Sama seperti album debutnya, Serena Cherry kembali menunjukkan kehebatannya dengan memainkan seluruh instrumen secara mandiri dalam proses rekaman album ini. Dari departemen gitar, bass, drum, hingga vokal utama, semuanya dikerjakan sendiri oleh Serena di dalam studio. Hal ini membuktikan dedikasi dan bakat luar biasanya sebagai salah satu musisi metal perempuan paling menonjol di kancah musik ekstrem saat ini.

Secara musikal, Extinguish Thy Flame menawarkan identitas yang jauh lebih matang dan berkarakter dibandingkan pendahulunya. Jika album pertama masih terdengar mirip dengan bagian-bagian terberat dari Svalbard, album baru ini berhasil memadukan berbagai pengaruh musik ekstrem dengan sangat apik. Pendengar akan disuguhkan dengan kombinasi permainan gitar yang tajam khas Arch Enemy, yang kemudian dipadukan dengan atmosfer apokaliptik yang megah layaknya legenda black metal asal Norwegia, Emperor.

Lagu pembuka yang berjudul “Devour The Gods” langsung menggebrak dengan teriakan perang yang liar di atas riff death/thrash metal yang agresif. Liriknya yang teatrikal dan penuh citra kolosal menggambarkan pertempuran sengit melawan dewa-dewa penguasa. Sementara itu, lagu “Grafted” mempertegas nuansa simfoni black metal dengan menghadirkan gesekan biola yang mencekam dan keyboard yang gelap, sebelum akhirnya meledak menjadi ketukan tremolo yang dingin. Lagu-lagu lain seperti “Lament Of The Omen King” menampilkan teknik melodeath tapping yang rumit, sedangkan “Age Of The Stars” menyajikan lapisan vokal yang megah dan berlapis-lapis.

Momentum Sempurna Setelah Era Svalbard

Perilisan album Extinguish Thy Flame ini hadir di saat yang sangat krusial bagi perjalanan karier Serena Cherry. Band utamanya, Svalbard, baru saja menyelesaikan penampilan terakhir mereka dan memutuskan untuk tidak aktif lagi, hanya satu bulan sebelum album solo ini dijadwalkan rilis. Album terakhir Svalbard yang bertajuk The Weight Of The Mask dirilis pada tahun 2023 dan mendapat banyak pujian, namun kini fokus sepenuhnya beralih kepada proyek solo Noctule.

Kehadiran album ini membuktikan bahwa Serena mampu berdiri sendiri dan bersinar terang di luar bayang-bayang band lamanya. Dengan aransemen yang lebih megah dan konsep yang matang, Noctule bukan lagi sekadar proyek sampingan untuk mengisi waktu luang, melainkan sebuah kekuatan baru yang patut diperhitungkan di kancah musik metal internasional. Bagi para penggemar musik ekstrem yang menyukai perpaduan antara agresi black metal dan keindahan simfoni fantasi, album ini akan menjadi salah satu rilisan paling dinantikan tahun ini.

Secara keseluruhan, Extinguish Thy Flame bukan hanya sebuah album musik biasa, melainkan sebuah perjalanan sinematik yang membawa pendengarnya ke tengah medan pertempuran fantasi yang gelap dan menegangkan. Dengan dedikasi Serena Cherry yang luar biasa dalam meramu musik dan konsep, album ini siap menjadi salah satu karya black metal paling epik di era modern.

Continue Reading

Metal

Wanita Ini Mencabut Undangan Pernikahan Akibat Pacar Temannya Bela Tim Lambesis

Published

on

Dilema seputar etika menghadiri pesta pernikahan kerap muncul dalam berbagai bentuk, namun sebuah kisah terbaru dari komunitas musik heavy metal menghadirkan skenario yang sangat tak biasa. Seorang calon pengantin wanita membagikan pengalamannya di kolom diskusi MetalSucks setelah ia memutuskan untuk mencabut fasilitas undangan tambahan (+1) milik sahabatnya. Keputusan drastis ini diambil lantaran kekasih baru sang sahabat menyampaikan pernyataan yang dinilai sangat mengkhawatirkan terkait kasus kriminal yang melibatkan vokalis ternama, Tim Lambesis.

Kisah ini bermula ketika sang calon pengantin, yang mengidentifikasikan dirinya dan pasangannya sebagai penggemar berat musik metal, sedang mempersiapkan hari bahagianya. Demi memastikan para tamu dapat menikmati acara tanpa merasa canggung, ia memberikan hak untuk membawa pasangan atau pendamping kepada seluruh tamu yang diundang, meskipun biaya penyelenggaraan acara terbilang sangat mahal. Namun, kehadiran seorang pria baru dalam lingkaran pertemanan mereka justru memicu konflik emosional yang berdampak langsung pada daftar tamu pernikahan tersebut.

Perdebatan Musik Metal yang Berujung Konflik Personal

Pengirim cerita, yang menggunakan nama pengguna “AsIxLayCry1ng”, menceritakan kronologi kejadian yang berawal dari sesi kumpul santai di sebuah bar. Temannya, yang diberi nama samaran Evie, memperkenalkan kekasih barunya yang bernama Matt kepada kelompok pertemanan mereka. Pada awal pertemuan, Matt tampak ramah dan menyenangkan, meskipun menunjukkan beberapa perilaku yang tergolong unik. Namun, suasana berubah drastis ketika pembicaraan mulai memasuki topik musik favorit.

Ketika melihat calon pengantin mengenakan kaus band metal Darkest Hour, Matt mengungkapkan bahwa ia juga menyukai musik keras dan menyebut proyek sampingan bertema komedi, Austrian Death Machine, sebagai salah satu grup favoritnya. Diskusi tersebut dengan cepat mengarah pada grup musik utama pendiri proyek tersebut, yakni As I Lay Dying. Pertanyaan biasa mengenai selera musik berubah menjadi perdebatan sengit ketika calon pengantin menanyakan bagaimana Matt masih bisa mendukung karya musik tersebut mengingat rekam jejak kelam sang vokalis, Tim Lambesis.

Tanggapan yang diberikan oleh Matt membuat semua orang yang hadir terperanjat. Pria tersebut secara terbuka menyatakan bahwa ia menganggap Tim Lambesis tidak melakukan kesalahan apa pun, seraya melontarkan klaim kontroversial bahwa setiap orang pada dasarnya pernah memiliki dorongan untuk menyakiti atau membunuh pasangannya. Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari calon pengantin dan tunangannya yang menegaskan bahwa pemikiran semacam itu sama sekali tidak normal dan tidak dapat ditoleransi dalam sebuah hubungan yang sehat.

Rekam Jejak Kasus Hukum Tim Lambesis dan Sensitivitas Isunya

Untuk memahami besarnya dampak dari perdebatan ini, penting untuk melihat latar belakang kasus hukum yang melibatkan Tim Lambesis, vokalis utama dari band metalcore legendaris As I Lay Dying. Pada tahun 2013, dunia musik internasional diguncang oleh kabar penangkapan Lambesis atas tuduhan percobaan pembunuhan berencana terhadap istrinya saat itu. Lambesis terbukti mencoba menyewa seorang detektif kepolisian yang menyamar sebagai pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawa sang istri.

Atas perbuatannya, Lambesis dijatuhi hukuman penjara pada tahun 2014 dan menjalani masa tahanan sebelum akhirnya dibebaskan bersyarat pada akhir tahun 2016. Kasus ini menjadi salah satu skandal paling menyita perhatian dalam sejarah musik heavy metal modern, memicu perdebatan panjang di kalangan penggemar mengenai batas antara mengagumi karya seni dan mendukung tindakan kriminal pelakunya secara moral. Sementara sebagian penggemar memilih untuk tetap mendengarkan musiknya, mayoritas komunitas mengecam keras tindakan kekerasan dalam rumah tangga dan percobaan pembunuhan yang dilakukannya.

Sikap Matt yang tidak hanya terus mendengarkan musiknya, tetapi juga secara aktif meremehkan tindakan kriminal serta dugaan kekerasan yang dilakukan Lambesis sebagai “urusan pribadi pasangan suami istri yang biasa”, dinilai oleh sang calon pengantin sebagai ancaman nyata terhadap norma keselamatan dan moralitas dasar. Apalagi, sahabatnya yang bernama Evie memilih untuk berdiam diri dan justru memaklumi ucapan kekasihnya sebagai sekadar gurauan belaka.

Dilema Batasan Etika Tamu Pernikahan dan Keputusan Akhir

Setelah perselisihan hebat di bar tersebut yang berujung pada adu mulut, calon pengantin wanita menyadari bahwa tindakannya yang melontarkan kata-kata kasar malam itu kurang bijaksana. Pada hari berikutnya, ia menyampaikan permohonan maaf kepada Evie atas ucapan emosionalnya. Namun, ia tetap memegang teguh pendiriannya terkait keselamatan dan kenyamanan suasana di pesta pernikahannya kelak.

Ia menyampaikan syarat tegas kepada Evie: jika Matt adalah orang yang berniat diikutkan sebagai pendamping, maka fasilitas akses tamu tambahan (+1) untuk Evie secara resmi dicabut. Langkah ini diambil karena ia tidak ingin menghabiskan hari istimewanya di samping seseorang yang membenarkan tindakan kekerasan ekstrim terhadap pasangan. Respons dari Evie justru semakin memperkeruh suasana, di mana sang sahabat mengancam tidak akan menghadiri pernikahan tersebut sama sekali jika kekasihnya dilarang hadir.

Situasi ini menghadirkan refleksi mendalam mengenai dinamika pertemanan dan batas toleransi pribadi. Bagi seorang calon pengantin, pesta pernikahan bukan sekadar acara perayaan, melainkan ruang aman yang diisi oleh orang-orang yang mendukung nilai-nilai positif dan saling menghormati. Momen ini menunjukkan bahwa perbedaan pandangan terhadap isu-isu krusial, seperti kekerasan dalam rumah tangga dan keselamatan pasangan, dapat berdampak langsung pada kelangsungan hubungan pertemanan di dunia nyata.

Continue Reading

Trending