Musik

PADUKAN PSYCHEDELIC-ROCK DAN TRADISI MADURA, LAJHUNI MUNYI PERKENALKAN SINGLE DEBUT “BULÂN MOLOD”

Published

on

Mengangkat tradisi perayaan Maulid Nabi di Madura, Lajhuni Munyi meramu fenomena sosial dan refleksi spiritual dalam eksplorasi musik psychedelic-rock dan groove.

Jawa Timur, 11 September 2026 — Project musik asal Jawa Timur, Lajhuni Munyi, resmi memperkenalkan single debut bertajuk “Bulân Molod” pada 11 September 2026. Menggunakan bahasa Madura dengan balutan psychedelic-rock dan groove, rilisan ini menjadi penanda awal perjalanan Lajhuni Munyi dalam menghadirkan karya yang berangkat dari tradisi lokal, pengamatan sosial, dan eksplorasi musikal. Sebelumnya, project ini telah aktif tampil di berbagai panggung gigs dan festival.

Ditulis oleh Lutfan Hawari, yang juga bertindak sebagai frontman Lajhuni Munyi, “Bulân Molod” berangkat dari fenomena keseharian masyarakat Madura dalam menyambut bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tradisi selamatan Maulid yang berlangsung bergantian dari rumah ke rumah hingga musala menjadi inspirasi utama di balik penciptaan lagu ini.

Bagi Lutfan, ide tersebut muncul dari pengamatan terhadap lingkungan tempat tinggal dan kampung halamannya. Perayaan Maulid tidak hanya berlangsung secara kolektif di musala, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan warga yang saling bergiliran mengadakan selamatan di rumah masing-masing.

“Melihat apa yang terjadi di sekitar tempat tinggal dan kampung halaman,” ujar Lutfan mengenai awal mula gagasan lagu ini.

Ia melihat antusiasme masyarakat dalam merayakan Maulid Nabi sebagai fenomena yang menarik untuk diterjemahkan ke dalam musik. Tradisi tersebut tidak hanya memperlihatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menggambarkan kebersamaan yang terbangun melalui aktivitas warga selama bulan Maulid.

“Masyarakat tidak hanya merayakan bersama di musala terdekat, tapi juga bergiliran di rumah masing-masing,” tambahnya.

Pengalaman itu kemudian diterjemahkan ke dalam lirik, terutama pada verse pertama yang menggambarkan kesibukan masyarakat selama sebulan penuh dalam mempersiapkan hajatan dan selamatan. Melalui sudut pandang tersebut, “Bulân Molod” menghadirkan potret tradisi yang dekat dengan kehidupan masyarakat Madura, tanpa melepaskan konteks sosial dan spiritual yang melatarbelakanginya.

Namun, lagu berdurasi sekitar lima menit ini tidak semata-mata merayakan kemeriahan sebuah tradisi. Pada bagian chorus, Lutfan menyisipkan refleksi yang berangkat dari ingatan masa kecilnya tentang perenungan spiritual. Di bagian ini, “Bulân Molod” turut menyampaikan kritik terhadap sikap pamer dalam beragama, mengajak pendengar melihat kembali makna di balik praktik dan perayaan keagamaan.

Perpaduan antara pengamatan sosial, pengalaman personal, dan refleksi spiritual tersebut menjadi fondasi naratif lagu. Tradisi Maulid hadir bukan hanya sebagai latar cerita, melainkan juga sebagai ruang untuk mempertanyakan hubungan antara

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version