Musik
MORFEM Gelar Thursday Noise Vol 15 untuk Penggalangan Donasi Karhutla
Grup musik indie rock kenamaan, MORFEM, kembali menginisiasi panggung pertunjukan kolektif mereka melalui ajang Thursday Noise Volume 15. Gelaran musik yang dijadwalkan berlangsung pada 29 Oktober mendatang di Krapela ini mengusung tema Misfits Night untuk menyambut kemeriahan perayaan Halloween. Menariknya, selain menyajikan penghormatan terhadap unit horror punk legendaris asal Amerika Serikat, ajang ini juga dikemas sebagai aksi sosial untuk menggalang donasi bagi korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan.
Konsep Horor Misfits Night dan Penampil Spesial
Pengangkatan tema Misfits pada edisi Thursday Noise kali ini menjadi momen yang sangat pas dengan atmosfer Halloween di akhir bulan Oktober. Misfits, yang dikenal sebagai salah satu band pelopor subgenre horror punk asal New Jersey, Amerika Serikat, memiliki warisan musik yang sangat kuat serta estetika visual horor yang ikonik. Melalui konsep ini, MORFEM berusaha menyajikan atmosfer panggung yang liar, berenergi tinggi, sekaligus sarat akan nuansa mistis dan fiksi horor yang khas bagi para penikmat musik independen.
Untuk menghidupkan panggung Misfits Night, MORFEM tidak tampil sendirian. Mereka memboyong jajaran penampil lintas daerah yang dikenal memiliki karakter kuat di kancah musik independen. Nama-nama seperti Negatifa dari Jakarta, Kraskombat dari Jakarta, Zephter asal Magelang, hingga Kelelawar Malam dari Jakarta dipastikan bakal menggemuruhkan arena pertunjukan. Kehadiran Kelelawar Malam secara khusus menjadi sorotan utama, mengingat identitas musik mereka yang kental dengan nuansa horor dan lirik bertema supranatural, menjadikan mereka pasangan yang sangat serasi untuk tema Misfits Night.
Tidak hanya itu, MORFEM juga mengumumkan kehadiran sejumlah kolaborator lintas figur yang akan bergabung secara khusus di atas panggung. Para kolaborator ini diajak untuk melakukan aksi teatrikal dan mengenakan kostum ala Glenn Danzig, vokalis legendaris Misfits, dengan julukan “Danzig Grave”. Sejumlah nama kondang yang dipastikan terlibat antara lain Matay Vampira, Arian 13 dari Seringai, Sayiba Malam, Mika Tobing, Prabu Barpinson, Ukien Skins, hingga Bobby Mandela. Kolaborasi unik ini diproyeksikan bakal memberikan pengalaman visual dan audio yang berkesan bagi para penonton yang hadir.
Perjalanan Thursday Noise dan Aksi Sosial Lewat Musik
Thursday Noise sendiri telah lama dikenal sebagai salah satu wadah pertunjukan alternatif yang konsisten diinisiasi oleh MORFEM. Panggung ini menjadi ruang temu bagi berbagai komunitas musik independen untuk saling berbagi energi dan melestarikan budaya pertunjukan langsung. Sebelum mengusung tema Misfits pada volume ke-15 ini, Thursday Noise sempat mencuri perhatian publik lewat gelaran tribute untuk band pionir madchester asal Inggris, The Stone Roses. Fleksibilitas dalam mengeksplorasi ide dan konsep pertunjukan inilah yang membuat Thursday Noise selalu ditunggu oleh para pencinta musik.
Namun, edisi ke-15 ini membawa nilai tambah yang jauh lebih dalam berkat dimensi kemanusiaan yang diusungnya. Di tengah maraknya gelaran musik komersial, langkah MORFEM menjadikan acara ini sebagai sarana penggalangan dana menunjukkan keterikatan yang kuat antara komunitas musik dengan isu-isu sosial serta lingkungan yang sedang terjadi di Indonesia. Musik tidak sekadar difungsikan sebagai sarana hiburan atau pelepasan penat semata, melainkan juga sebagai instrumen kepedulian yang mampu menggerakkan massa untuk terlibat aktif dalam membantu sesama.
Kepedulian Terhadap Bencana Karhutla di Kalimantan
Hasil penjualan tiket acara yang dibanderol seharga Rp150.000 per lembar seluruhnya akan dialokasikan untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kalimantan. Calon penonton yang ingin mengamankan tiket pertunjukan dapat mengasesnya secara langsung melalui tautan resmi yang tertera pada profil akun Instagram @morfem_band. Skema donasi transparan yang terintegrasi langsung dengan penjualan tiket ini diharapkan dapat mengumpulkan dana yang signifikan demi meringankan beban korban bencana.
Bencana kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan sendiri merupakan isu ekologi kronis yang membawa dampak sangat buruk bagi kehidupan masyarakat lokal. Kabut asap pekat yang ditimbulkan tidak hanya merusak ekosistem hutan tropis dan keanekaragaman hayati di dalamnya, tetapi juga memicu krisis kesehatan serius seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang merenggut kenyamanan hidup ribuan warga. Selain itu, aktivitas perekonomian dan mata pencaharian masyarakat di daerah terdampak sering kali lumpuh total akibat jarak pandang dan kualitas udara yang berbahaya.
Melalui penyelenggaraan Thursday Noise Vol. 15, MORFEM membuktikan bahwa solidaritas komunitas musik independen mampu melampaui sekat-sekat pertunjukan panggung. Inisiatif ini menegaskan kembali peran strategis musisi dalam menyuarakan isu lingkungan hidup sekaligus memberikan bantuan riil di lapangan. Malam perayaan Halloween yang identik dengan kostum dan musik cadas pun bertransformasi menjadi sebuah momentum solidaritas nasional, di mana setiap dentuman musik dan setiap tiket yang terjual membawa harapan baru bagi pemulihan wilayah Kalimantan dari bencana karhutla.