Musik
Kadri Hadirkan Kisah Cinta dan Adat Minangkabau dalam Video Musik “Mambangkik Batang Tarandam”
Video musik terbaru Kadri, “Mambangkik Batang Tarandam”, membawa kisah tentang cinta, tradisi, dan pilihan hidup ke lanskap Teluk Bayur, Padang. Melalui visual yang berpijak pada budaya Minangkabau, karya ini mengangkat persoalan hubungan yang berhadapan dengan nilai adat, sekaligus menyampaikan pesan tentang keberanian untuk bangkit setelah perpisahan.
Disutradarai oleh DVH Bale, video musik ini menjadikan Teluk Bayur sebagai salah satu elemen penting dalam membangun suasana cerita. Kawasan pelabuhan tersebut bukan sekadar latar pengambilan gambar, tetapi juga memiliki kaitan dengan tema perjalanan, jarak, dan pergulatan cinta yang menjadi inti lagu.
Bale menghubungkan pemilihan lokasi itu dengan novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Buya Hamka. Karya sastra tersebut dikenal mengangkat persoalan cinta yang bersinggungan dengan adat Minangkabau. Meski bukan adaptasi langsung, kesamaan nuansa itulah yang menjadi salah satu inspirasi dalam membangun visual “Mambangkik Batang Tarandam”.
Ketika Hujan Menjadi Bagian dari Cerita
Proses produksi video musik ini turut diwarnai kejadian tak terduga. Hujan badai yang turun pada tengah malam saat pengambilan gambar di Teluk Bayur justru menghadirkan atmosfer dramatis yang mendukung karakter lagu.
Kondisi alam tersebut memberikan dimensi visual yang berbeda dari sekadar menampilkan keindahan lokasi. Suasana hujan memperkuat kesan emosional sekaligus selaras dengan makna judul “Mambangkik Batang Tarandam”, sebuah ungkapan Minangkabau tentang sesuatu yang pernah terendam atau terpendam, kemudian diangkat kembali.
Makna tersebut juga menjadi landasan bagi pesan yang dibawa Kadri melalui lagu ini. Hubungan yang berakhir tidak harus membuat seseorang larut dalam kesedihan. Sebaliknya, perpisahan dapat menjadi titik untuk kembali melangkah dan membuka lembaran baru.
“Orang Minang pantang menyerah. Cinta itu adalah komitmen saling setia. Namun jika putus, janganlah terpuruk, cari lagi yang lebih lucu,” ujar Kadri, sebagaimana dikutip Medcom.id.
Pernyataan tersebut memperlihatkan pendekatan Kadri yang tidak semata-mata menempatkan patah hati sebagai tragedi. Di balik tema yang emosional, ia menyisipkan perspektif yang lebih ringan tentang bagaimana seseorang menghadapi berakhirnya sebuah hubungan.
Tradisi di Tengah Perubahan Zaman
Persoalan cinta dan adat dalam “Mambangkik Batang Tarandam” juga membuka pembicaraan tentang perubahan sosial di lingkungan masyarakat Minangkabau.
Nando Satoko, yang terlibat sebagai kolaborator dalam lagu ini, menyoroti bagaimana perkembangan zaman turut memengaruhi pandangan masyarakat terhadap hubungan dan pernikahan, termasuk ketika pasangan berasal dari latar budaya yang berbeda.
Meski batasan tersebut semakin terbuka, harapan sebagian orang tua untuk mempertahankan warisan budaya tetap menjadi bagian dari dinamika antargenerasi. Persinggungan antara pilihan pribadi, keluarga, dan adat inilah yang membuat tema lagu tersebut relevan untuk dibicarakan dalam konteks kehidupan masa kini.
Lagu “Mambangkik Batang Tarandam” diciptakan oleh Jimmo dari The KadriJimmo, dengan aransemen musik oleh Popo Fauza. Melalui karya ini, Kadri membawa cerita yang berakar pada identitas Minangkabau ke dalam pendekatan musik kontemporer.
Video musik garapan DVH Bale kemudian memperluas cerita tersebut melalui visual yang menghubungkan lanskap Teluk Bayur, ingatan budaya, dan pengalaman emosional manusia.
Pada akhirnya, “Mambangkik Batang Tarandam” tidak hanya berbicara tentang cinta yang terhalang atau hubungan yang berakhir. Karya ini juga mengajak pendengar melihat perpisahan sebagai bagian dari perjalanan hidup, tanpa harus kehilangan semangat untuk bangkit dan melangkah kembali.
Penulis: BR | Disadur dari rilis pers yang kami terima.