Metal

John Carpenter Mengungkapkan Deretan Lagu yang Mengubah Perjalanan Hidupnya

Published

on

Sutradara legendaris sekaligus komposer musik film horor, John Carpenter, baru-baru ini membagikan daftar rekaman musik yang memiliki makna mendalam dan telah mengubah perjalanan hidupnya. Maestro di balik karya-karya sinematik monumental seperti Halloween, The Thing, Assault On Precinct 13, hingga Escape From New York ini dikenal tidak hanya karena keahliannya merancang ketegangan di layar lebar, tetapi juga lewat tata musik ikonik yang ia gubah sendiri.

Kiprah Sinematik dan Karya Musik Terbaru

Meskipun John Carpenter belum lagi menyutradarai film panjang sejak merilis The Ward pada tahun 2010, aktivitas kreatifnya sama sekali tidak pernah surut. Sejak menggubah musik untuk film Halloween pada tahun 1979, Carpenter secara konsisten merilis album musik mandiri. Karya terbarunya, sebuah album bertajuk Cathedral, memiliki keterikatan langsung dengan novel grafis berjudul sama yang ia ciptakan. Musik dalam album tersebut diproduksi untuk menjadi pengiring yang menyempurnakan pengalaman membaca bagi para penggemarnya.

Carpenter menjelaskan bahwa irama dan nada dalam karya terbarunya sangat dipengaruhi oleh genre musik heavy metal. Inspirasi cerita novel grafis tersebut berasal dari sebuah mimpi yang kemudian dikembangkan menjadi narasi fiksi. Karakter cerita tersebut pada akhirnya mendikte arah musik yang harus ia ciptakan. Carpenter mengungkapkan bahwa kecintaannya pada nuansa gelap sudah tumbuh sejak ia kecil pada era 1950-an, ketika ia sangat menggemari komik serta film fiksi ilmiah dan horor. Elemen-elemen inilah yang terus memantik imajinasinya hingga saat ini.

Pengaruh Musik Rock Gelap dan Nostalgia Era 1950-an

Dalam wawancara mengenai referensi musiknya, Carpenter menyebut lagu “(Don’t Fear) The Reaper” dari band Blue Öyster Cult sebagai salah satu lagu paling menakutkan yang pernah ditulis. Lagu tersebut dianggapnya sebagai sebuah lagu kebangsaan bagi aliran dark rock ‘n’ roll. Ia juga mengenang bagaimana masa remajanya diwarnai oleh kemunculan grup-grup musik besar. Saat mendengarkan lagu “You Won’t See Me” milik The Beatles, ia selalu teringat kembali pada masa-masa indahnya saat berusia 16 atau 17 tahun.

Lahir pada era 1940-an, Carpenter tumbuh bersama perkembangan awal musik rock ‘n’ roll. Selain The Beatles, ia juga mengingat dengan jelas penampilan Elvis Presley di acara stasiun televisi terkenal The Ed Sullivan Show, serta musisi legendaris lainnya seperti The Big Bopper dan Bill Haley And His Comets. Menurutnya, kehadiran The Beatles terjadi pada momen yang sangat tepat dalam fase kehidupan remajanya, sehingga band asal Liverpool tersebut meninggalkan kesan yang amat mendalam.

Kenangan Bersama Sang Ayah dan Musik Soul Motown

Musik juga memiliki ikatan emosional yang kuat antara John Carpenter dan mendiang ayahnya. Ayah Carpenter merupakan seorang musisi sesi dan pemain biola klasik ternama di Nashville yang pernah mengiringi banyak penyanyi besar, termasuk Roy Orbison dalam lagu “I’m Hurtin'”. Carpenter menceritakan bahwa setiap kali mendengar bagian instrumen gesek dalam lagu tersebut, ia selalu teringat pada sosok ayahnya. Meskipun sang ayah yang berlatar belakang musik klasik sempat memandang sebelah mata genre rock ‘n’ roll, pekerjaan tersebut memberikan penghasilan yang sangat baik bagi keluarga mereka.

Selain musik rock, Carpenter juga mengagumi grup vokal R&B dan soul legendaris seperti The Supremes dan Four Tops. Ia mengenang kebahagiaannya saat menonton pertunjukan mereka secara langsung dalam tur konser yang dipandu oleh pembawa acara Dick Clark di Bowling Green, Kentucky. Lagu-lagu seperti “Stop! In The Name Of Love” dan “It’s The Same Old Song” menjadi kenangan manis tempat ia menikmati musik dan menari pada masa mudanya.

Eksplorasi Heavy Metal, Rock Klasik, hingga Musik Elektronik

Kecintaan Carpenter terhadap musik terus berkembang melintasi berbagai generasi dan subgenre. Ia mengaku mulai menyukai band heavy metal Metallica berkat anak-anaknya, terutama setelah mendengarkan album legendaris bertajuk The Black Album dengan lagu andalan “Enter Sandman”. Carpenter bahkan menyatakan ketertarikannya untuk menjadi sutradara video musik Metallica jika mendapatkan kesempatan tersebut di masa depan.

Daftar lagu favoritnya juga mencakup grup rock Inggris Procol Harum dengan lagu “Bringing Home The Bacon”, serta Derek & The Dominos lewat lagu klasik “Layla” yang dipopulerkan oleh Eric Clapton. Di samping musik gitar yang membara, Carpenter tidak melupakan pengaruh besar musik elektronik dalam kariernya. Pengalaman menyaksikan pertunjukan Vangelis serta mendengarkan grup musik eksperimental Tangerine Dream turut membentuk pendekatan komposisinya dalam menciptakan musik sintetis yang menjadi ciri khas film-film horor buatannya.

Musik Sebagai Mahakarya Tertinggi Kemanusiaan

Menutup pandangannya mengenai dunia seni suara, Carpenter menyatakan bahwa musik mungkin merupakan bentuk kesenian terbesar yang pernah diciptakan oleh peradaban manusia. Menurutnya, musik memiliki kemampuan ajaib untuk menembus batas-batas bahasa, budaya, dan wilayah geografis. Seseorang yang berada di belahan dunia mana pun dapat merasakan emosi dan kecintaan yang sama saat mendengarkan sebuah lagu dari negara lain.

Meskipun lanskap musik populer saat ini telah banyak bergeser ke genre lain seperti rap, Carpenter percaya bahwa musik rock akan tetap hidup dan berjiwa kuat. Bagi Carpenter, musik terus menjadi kekuatan transendental yang mampu menyentuh jiwa pendengarnya dari generasi ke generasi, persis seperti apa yang dirasakannya puluhan tahun lalu.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version