Musik

Iwan Abdulrachman Gelar Pertunjukan Musik Api Unggun Berkonsep Tutur

Published

on

Musisi dan pengubah lagu senior, Iwan Abdulrachman atau yang akrab disapa Abah Iwan, kembali menyapa penikmat musik Indonesia melalui perjumpaan intim bertajuk “Musik Api Unggun”. Pertunjukan yang digelar pada Selasa ini membawa nuansa hangat dan penuh makna, di mana musik tidak hanya disajikan sebagai hiburan panggung semata, melainkan sebagai ruang untuk bertemu, bercerita, dan berbagi pengalaman hidup secara mendalam.

Konsep Perjumpaan Intim dan Tradisi Seni Tutur

Berbeda dengan kebanyakan pertunjukan musik modern yang mengandalkan panggung megah serta tata cahaya spektakuler, “Musik Api Unggun” mengusung kesederhanaan yang penuh dengan kehangatan. Di sela-sela melodi lagu, Abah Iwan memilih untuk berhenti sejenak, mengajak para penonton berbincang, menyampaikan kisah di balik lahirnya setiap karya, lalu melanjutkan gubahan musiknya. Pendekatan ini mengingatkan pada tradisi seni tutur Nusantara, seperti pantun Sunda, yang mengedepankan komunikasi intim serta kedekatan emosional antara penutur dan pendengarnya.

Dalam kesempatan tersebut, sejumlah karya legendaris dibawakan dengan penuh penghayatan. Lagu-lagu yang terlantun antara lain “Sejuta Kabut”, “Tajam Tak Bertepi”, “Bulan Merah”, “Melati dari Jayagiri”, “Flamboyant”, “Burung Camar”, “Bunga Putih Bunga Ungu”, “Detik Hidup”, “Mentari”, hingga karya bernuansa kebangsaan “Bagimu Indonesiaku”. Deretan lagu ini merupakan bagian kecil dari ratusan karya gubahan Abah Iwan yang telah tercipta sepanjang perjalanan karier dan kehidupannya.

Ketua Panitia “Musik Api Unggun”, Berlin TR Hasan, menjelaskan bahwa gagasan acara ini bermula dari pertemuan sederhana antara Abah Iwan dan Dimas Wahab. Kedua sosok tersebut merupakan kawan lama yang pernah bermain musik bersama di Bandung. Dari perbincangan itu, muncul keinginan kuat untuk kembali menghadirkan lagu-lagu Abah Iwan dalam format perjumpaan yang lebih personal dan tidak kaku, sehingga peristiwa yang terjadi di lokasi dapat berkembang secara alami.

Inspirasi dari Alam dan Refleksi Hidup 80 Tahun

Karakter musik karya Abah Iwan memang dikenal sangat lekat dengan nuansa alam terbuka. Selama bertahun-tahun, lagu-lagunya sering kali dinyanyikan di kawasan pegunungan atau di sekitar api unggun saat para pendaki beristirahat. Pengalaman Abah Iwan sebagai pendaki yang telah menaklukkan berbagai puncak gunung, mulai dari Gunung Rinjani hingga Gunung Kilimanjaro, menjadi sumber inspirasi utama yang mengalir dalam setiap lirik dan nada gubahannya.

Kendati telah memasuki usia 80 tahun, kualitas vokal dan stamina Abah Iwan terbukti tetap terjaga dengan baik. Sutradara pertunjukan, Aat Soeratin, menambahkan bahwa Abah Iwan tidak pernah menyebut karya-karyanya sebagai sekadar “ciptaan”, melainkan sebuah “gubahan”. Bagi Abah Iwan, lirik dan melodi sebenarnya sudah terhampar luas di alam semesta, dan ia hanya bertugas merangkainya kembali melalui proses internalisasi atas pengalaman hidup yang panjang.

Upaya membawa atmosfer akustik api unggun ke atas panggung dengan tata suara yang lebih terkontrol tidak mengurangi keaslian karakter musiknya. Menurut penyelenggara, musik Abah Iwan memiliki keunikan tersendiri yang dapat dipandang sebagai sebuah genre tersendiri. Pertunjukan ini juga membawa pesan pencerahan agar masyarakat senantiasa menjaga rasa syukur, tidak mudah tersulut emosi dalam dinamika sosial politik, serta terus menebar kebaikan kepada sesama.

Dukungan Promotor dan Warisan untuk Generasi Muda

Pertunjukan ini turut mendapatkan apresiasi positif dari para tokoh dan promotor senior musik tanah air. Harry ‘Koko’ Santoso dari Deteksi Production bersama promotor senior Ais Suhana hadir memberikan dukungan penuh atas terselenggaranya perjumpaan tersebut. Harry menegaskan bahwa lagu-lagu Abah Iwan memiliki kontribusi besar dalam sejarah musik Indonesia, bahkan banyak yang menjadi populer secara nasional hingga internasional saat dibawakan oleh kelompok musik ternama seperti Bimbo.

Lebih dari sekadar hiburan komersial, karya-karya Abah Iwan dinilai sarat akan nilai-nilai edukasi lingkungan dan rasa cinta tanah air. Di tengah kondisi alam saat ini yang menghadapi ancaman kerusakan hutan dan eksploitasi sumber daya, lagu-lagu bertema alam seperti “Melati dari Jayagiri” dan “Flamboyant” menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Konsistensi Abah Iwan dalam melestarikan alam dan menyuarakan pesan-pesan kebudayaan melalui musik mendapatkan penghormatan tinggi dari industri hiburan. Melalui perjumpaan semacam ini, diharapkan tradisi musik bermakna dan berakar pada kearifan lokal dapat terus diwariskan serta menginspirasi generasi muda di masa depan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version