Musik
Galeri Indonesia Kaya Gelar Musikal Menanggung Dua Panggung
Galeri Indonesia Kaya merayakan perjalanan 13 tahun kiprahnya dalam merawat ekosistem seni pertunjukan dengan menggelar pementasan teater musikal bertajuk “Menanggung Dua Panggung”. Pertunjukan musikal jukebox ini dibawakan oleh para peserta program Ruang Kreatif Intensif Musikal Budaya dan menjadi wujud nyata dari komitmen regenerasi seniman panggung di tanah air. Pementasan ini tidak hanya menampilkan bakat-bakat muda berbakat, tetapi juga menandai keberlanjutan proses pembelajaran yang telah mereka tempuh hingga ke panggung internasional.
Kisah Realitas Hidup dan Refleksi Generasi Muda
Secara naratif, “Menanggung Dua Panggung” mengangkat kisah yang sangat relevan dengan dinamika kehidupan pemuda Indonesia masa kini. Fokus cerita tertuju pada sosok Ranting, seorang aktor teater di kelompok Teater Jalar yang sekaligus memikul beban sebagai tulang punggung keluarga. Setelah menyelesaikan pendidikan tingkat tinggi, Ranting dihadapkan pada dilema besar: keharusan memasuki dunia kerja formal demi menopang perekonomian keluarga atau terus mengejar cita-citanya di panggung teater musikal. Pergulatan batin Ranting dalam membagi waktu, tenaga, serta fokus di antara dua dunia tersebut menjadi inti dari alur cerita yang disajikan selama lebih dari 60 menit.
Format pementasan dirancang dalam bentuk musikal jukebox, sebuah pendekatan yang memadukan dialog dengan pengolahan ulang lagu-lagu populer Indonesia untuk menguatkan emosi serta pesan cerita. Sebanyak tujuh lagu lintas genre dihadirkan dalam pementasan ini, mulai dari tembang tradisional hingga lagu pop modern. Beberapa di antaranya meliputi karya legendaris “Keroncong Kemayoran”, “Semua Ini Untuk Apa” dari Donne Maulana, “Makin Lelah” karya Payung Teduh, “Melukis Senja” oleh Budi Doremi, “Sempurnanya Aku” dari NPD, “Hasrat Menyala” ciptaan Mus Mulyadi, hingga “Kroncong Protol” dari Bondan Prakoso & Fade2Black. Perpaduan lagu-lagu ini berhasil membangun dinamika emosional yang menyentuh hati penonton.
Pergumulan tokoh Ranting dalam pertunjukan ini seolah menjadi cermin bagi banyak pekerja seni muda di Indonesia. Dunia seni sering kali dihadapkan pada tantangan keberlanjutan ekonomi, sehingga para pelaku di dalamnya dituntut untuk lihai menyeimbangkan idealisme seni dengan realitas hidup sehari-hari. Melalui pengadegangan yang apik, pementasan ini tidak sekadar memberikan hiburan visual dan audio, melainkan juga mengajak penonton merenungkan kembali makna dedikasi, pengorbanan, dan pencarian identitas diri di tengah gempuran tuntutan sosial.
Ekosistem Pembinaan dan Kolaborasi Lintas Generasi
Pementasan “Menanggung Dua Panggung” dibangun dari proses panjang yang terstruktur melalui program Ruang Kreatif Intensif Musikal Budaya. Program pelatihan yang diinisiasi oleh Indonesia Kaya sejak tahun 2019 ini dirancang khusus untuk memperkuat kapasitas para seniman muda pertunjukan di Indonesia. Pada Mei 2025, sebanyak 45 peserta dari angkatan ketiga berhasil menyelesaikan masa pelatihan intensif selama delapan bulan. Dari total peserta tersebut, 15 di antaranya terpilih untuk mengikuti pelatihan lanjutan bersama West End Stage di London pada Desember 2025.
Ke-15 peserta yang kembali dari London inilah yang kemudian mengaplikasikan ilmu dan pengalaman internasional mereka ke dalam pementasan “Menanggung Dua Panggung” pada Oktober 2026. Menariknya, keberlanjutan ekosistem ini juga terlihat dari keterlibatan para alumni program sebelumnya yang memegang posisi kunci di balik layar. Posisi sutradara dipercayakan kepada Aldafi Adnan, pengarah vokal ditangani oleh Mariska Setiawan, sedangkan koreografi dirancang oleh Ayu Gurnitha. Kolaborasi ini membuktikan bahwa program pelatihan Indonesia Kaya mampu menciptakan siklus regenerasi yang mandiri dan saling mendukung.
Sektor penulisan naskah juga menjadi sorotan penting dalam pementasan ini. Naskah orisinal “Menanggung Dua Panggung” ditulis oleh dua talenta muda hasil program Ruang Kreatif Penulisan Naskah Teater Musikal, yaitu Aprillia Ramadhina dan Jessica Gabriella, di bawah bimbingan penulis naskah profesional Widya Arifianti. Aprillia membawa pengalaman satu dekade di industri media serta rekam jejak menulis karya musikal bertema lagu Sheila on 7. Sementara bagi Jessica, seorang lulusan Kimia ITB, pementasan ini menjadi debut profesionalnya dalam dunia penulisan musikal. Kehadiran penulis-penulis baru ini melengkapi rantai produksi seni pertunjukan nasional agar tidak kekurangan karya-karya orisinal yang segar.
Komitmen 13 Tahun Galeri Indonesia Kaya
Program Director Galeri Indonesia Kaya, Renitasari Adrian, menegaskan bahwa hadirnya pementasan ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan organisasi dalam mendukung ruang belajar dan penciptaan karya bagi talenta muda. Selama 13 tahun berdiri, Galeri Indonesia Kaya berupaya konsisten untuk tidak hanya menjadi tempat pertunjukan, tetapi juga menjadi inkubator bagi ekosistem seni pertunjukan Indonesia. Proses dari masa pelatihan hingga melahirkan sebuah karya pementasan utuh dianggap sebagai langkah krusial dalam membangun rasa percaya diri serta profesionalisme para seniman muda.
Sejak diresmikan pada 10 Oktober 2013, Galeri Indonesia Kaya telah mencatatkan pencapaian luar biasa. Tempat ini telah dikunjungi oleh lebih dari satu juta pengunjung dan menggelar lebih dari 3.000 pertunjukan budaya. Lebih dari 2.000 pekerja seni dari berbagai disiplin—mulai dari seni tari, teater, teater musikal, monolog, musik, hingga sastra—telah melahirkan karya-karya kreatif yang memadukan kebudayaan tradisi dengan kemasan modern yang relevan bagi generasi muda.
Melalui pertunjukan “Menanggung Dua Panggung” yang digelar dalam tiga sesi pementasan pada 23 dan 24 Oktober 2026, Indonesia Kaya berharap apresiasi masyarakat terhadap teater musikal lokal semakin meningkat. Keterlibatan aktif generasi muda baik di depan maupun di belakang panggung menjadi sinyal positif bahwa industri seni pertunjukan Indonesia memiliki masa depan yang cerah dan berkelanjutan.