Musik
Edy Khemod Mengelelang Bass Drum Head Seringai demi Korban Karhutla
Drummer dari grup musik rock Seringai, Edy Khemod, menggelar aksi sosial dengan menggalang dana untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Aksi kemanusiaan ini dilakukan melalui lelang barang pribadi bernilai sejarah tinggi dalam perjalanan karier musiknya, yakni sebuah membran drum (bass drum head) custom yang pernah menemani proses kreatif serta penampilan panggung Seringai.
Detail Lelang dan Memorabilia Bersejarah Seringai
Memorabilia yang dilelang tersebut bukan sekadar peralatan musik biasa. Membran drum ini memiliki nilai sentimental dan histori yang sangat mendalam bagi grup musik Seringai. Barang tersebut digunakan langsung oleh Edy Khemod mulai dari sesi rekaman album penuh ketiga Seringai yang bertajuk Seperti Api, hingga digunakan dalam berbagai panggung pertunjukan sebelum band tersebut memutuskan untuk mengambil masa jeda atau hiatus.
Salah satu daya tarik utama dari bass drum head ini terletak pada tampilan visualnya. Permukaan membran dilapisi oleh stiker vinil yang menampilkan karya seni sampul album Seperti Api. Tidak hanya itu, memorabilia ini menjadi makin istimewa karena dibubuhi tanda tangan asli dari seluruh personel Seringai. Khemod menegaskan bahwa benda ini hanya diproduksi satu buah di dunia dan tidak pernah dirilis ulang atau direproduksi dalam bentuk apa pun.
Lelang memorabilia langka ini dibuka melalui platform media sosial Instagram pribadi milik Edy Khemod. Penawaran diawali dengan harga awal sebesar Rp1.000.000, dengan ketentuan kenaikan penawaran minimal kelipatan Rp100.000. Seluruh proses penawaran dilakukan secara terbuka di kolom komentar unggahan Instagram tersebut selama jangka waktu 48 jam, dan dijadwalkan berakhir pada hari Sabtu pukul 18.00 WIB.
Pengumuman pemenang lelang akan dilakukan setelah batas waktu berakhir, di mana penawar tertinggi akan dihubungi langsung oleh Khemod melalui pesan pribadi. Khemod juga mengimbau agar para peserta lelang bersikap bijak dan bertanggung jawab terhadap angka penawaran yang mereka ajukan. Pasalnya, seluruh hasil dana yang terkumpul dari lelang ini akan dialokasikan sepenuhnya tanpa potongan untuk meringankan beban para korban karhutla di Kalimantan melalui lembaga penyalur yang kompeten.
Jejak Album ‘Seperti Api’ dan Identitas Visual Seringai
Album Seperti Api sendiri memiliki posisi yang sangat krusial dalam katalog musik Seringai. Dirilis secara resmi pada 29 Juli 2018, album ini diproduseri oleh sang gitaris, Ricky Siahaan. Mengusung 12 trek lagu berenergi tinggi, album ini memuat sejumlah nomor populer seperti “Selamanya”, “Adrenalin Merusuh”, hingga “Ishtarkult” yang menggaet penyanyi solo Danilla Riyadi sebagai kolaborator vokal tamu. Album ini sukses mengukuhkan posisi Seringai sebagai salah satu raksasa musik rock di tanah air.
Keterkaitan antara memorabilia ini dengan karya visual Seringai juga sangat erat. Sampul album Seperti Api yang terpasang pada membran drum tersebut lahir dari tangan dingin para seniman ternama. Konsep ilustrasi serta tata letak artistiknya dikerjakan langsung oleh Arian Arifin, atau yang lebih dikenal dengan nama Arian13, yang merupakan vokalis utama Seringai. Sementara itu, proses pewarnaan detail ilustrasi tersebut dipercayakan kepada perupa Riza Prawiro.
Kehadiran karya visual Arian13 pada bass drum head tersebut mempertegas bagaimana musik dan seni rupa saling melengkapi dalam identitas Seringai. Sebagai seorang vokalis sekaligus ilustrator, Arian13 kerap merancang estetika visual yang menjadi ciri khas rilisan fisik maupun produk suvenir Seringai. Oleh karena itu, membran drum ini tidak hanya bernilai sebagai alat musik panggung, melainkan juga sebuah karya seni rupa kolektif dari keluarga besar Seringai.
Bencana Karhutla Kalimantan dan Kepedulian Sektor Kreatif
Langkah sosial yang diambil oleh Edy Khemod menjadi bentuk respons nyata terhadap krisis lingkungan dan kemanusiaan yang diakibatkan oleh kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kalimantan. Bencana karhutla yang terjadi berulang kali di berbagai titik di Kalimantan selalu membawa dampak buruk yang meluas, mulai dari kerusakan ekosistem, pencemaran udara akibat kabut asap tebal, hingga ancaman serius bagi kesehatan masyarakat setempat, khususnya anak-anak dan lansia yang rentan terserang penyakit saluran pernapasan.
Penanganan pascabencana maupun pertolongan darurat di lapangan membutuhkan sumber daya dan dana yang tidak sedikit. Dalam situasi seperti ini, keterlibatan aktif dari para figur publik, musisi, dan pelaku industri kreatif sangat berharga untuk menarik perhatian publik sekaligus menggalang bantuan finansial secara efisien. Aksi pelelangan memorabilia bernilai sejarah tinggi seperti ini terbukti mampu menggerakkan antusiasme para penggemar musik rock dan kolektor untuk berkontribusi secara nyata.
Penggunaan media sosial sebagai sarana lelang terbuka juga memberikan transparansi serta kemudahan akses bagi publik yang ingin berpartisipasi. Dengan menyalurkan seluruh dana hasil lelang kepada lembaga kemanusiaan yang terpercaya, aksi ini diharapkan dapat memberikan bantuan konkret, baik berupa penyediaan alat pelindung diri, bantuan medis, suplai makanan, maupun program pemulihan lingkungan pascabencana di tanah Kalimantan.
Inisiatif kepedulian sosial yang ditunjukkan oleh personel Seringai ini membuktikan bahwa musik tidak sekadar berfungsi sebagai hiburan di atas panggung, tetapi juga dapat menjadi alat perubahan dan gerakan solidaritas bagi sesama yang membutuhkan. Antusiasme yang tinggi dari para penawar di media sosial menjadi bukti bahwa semangat gotong royong dan kepedulian sosial di kalangan penikmat musik Indonesia tetap menyala hangat di tengah berbagai ujian bencana alam.