Metal
Al Murray Mengungkap Kecintaannya pada Musik Progressive Rock dan Genesis
Komedian kenamaan asal Inggris, Al Murray, yang sangat populer lewat karakter panggungnya “The Pub Landlord”, membagikan kisah perjalanan musiknya yang unik serta kecintaannya yang mendalam terhadap genre progressive rock. Di tengah gelombang popularitas musik punk yang mendominasi kalangan remaja pada masa sekolahnya, Murray justru memilih jalan yang berbeda dengan mendalami musik eksperimental dari band-band legendaris seperti Genesis, King Crimson, hingga Tool.
Awal Mula Ketertarikan pada Musik Eksperimental
Kisah cinta Al Murray dengan musik progressive rock bermula saat ia menempuh pendidikan di sekolah asrama di Bedford. Ketika hampir seluruh teman sebayanya sedang tergila-gila dengan musik punk rock, Murray merasa ingin menemukan identitas musik tersendiri yang benar-benar mewakili dirinya. Pencarian tersebut membawanya pada album rekaman langsung milik Genesis yang bertajuk Seconds Out, serta album studio mereka yang dirilis pada tahun 1978, And Then There Were Three….
Pengalaman masa kecilnya yang pernah bermain dalam orkestra dan mempelajari instrumen perkusi membuat Murray tidak merasa asing dengan struktur musik yang rumit maupun instrumen gesek. Berbeda dengan anggapan banyak orang yang menilai progressive rock sebagai jenis musik yang elitis dan berjarak, Murray justru melihatnya sebagai wujud keahlian bermusik yang murni dan penuh dedikasi. Latar belakang musik klasik dan permainan perkusi yang dimilikinya menjadi fondasi penting dalam mengapresiasi kompleksitas musik rock eksperimental.
Kegemarannya terhadap musik semakin berkembang pesat ketika ia melanjutkan studi jurusan Sejarah di Universitas Oxford. Di kampus tersebut, Murray bertemu dengan sesama pencinta musik, seperti Simon Oakes dari band Suns of The Tundra, yang memperkenalkannya pada rekaman langka Genesis saat tampil di festival Knebworth. Selama masa kuliahnya, Murray tidak hanya menjadi pendengar pasif, tetapi juga aktif bermain musik dalam sebuah band penutup (covers band). Ia kerap menantang rekan-rekan bermusiknya untuk memainkan lagu-lagu dengan ritme yang tidak biasa, salah satunya lagu “Solsbury Hill” karya Peter Gabriel yang menggunakan ketukan birama 7/8 yang cukup rumit bagi pemain musik awam.
Eksplorasi Karya King Crimson dan Pengaruh Musik Klasik
Di antara sekian banyak grup musik progressive rock, King Crimson menduduki posisi yang sangat spesial dalam perjalanan hidup Al Murray. Ia menganggap era keemasan King Crimson, yang terbentang dari album Larks’ Tongues in Aspic hingga album Red pada medio 1970-an, sebagai satu kesatuan karya magis yang penuh dengan energi, kemarahan, dan inovasi. Album Red bahkan menjadi musik latar wajib baginya saat menghabiskan malam bermain permainan papan di apartemen pertamanya di London.
Selain King Crimson, Murray juga memiliki perspektif sejarah yang menarik mengenai perkembangan genre ini. Menurutnya, batasan antara musik pop, rock, dan progressive rock sering kali bersinggungan. Ia berargumen bahwa album Revolver karya The Beatles pada tahun 1966 sebenarnya merupakan album progressive rock sejati yang pertama. Lagu ikonik seperti “Tomorrow Never Knows” dinilainya telah melampaui zamannya dan menjadi cikal bakal lahirnya musik modal serta musik dansa modern yang berkembang puluhan tahun kemudian.
Murray juga menyoroti bagaimana band-band besar saling memengaruhi satu sama lain. Genesis, misalnya, menurut pengamatannya sangat dipengaruhi oleh keberanian dan daya ledak The Who, namun dibalut dengan nuansa klasik yang lebih halus berkat latar belakang pemain kibor yang terampil. Hal ini menghasilkan karya-karya abadi seperti album Selling England by the Pound, sebuah album yang tidak hanya bercerita tentang patah hati, melainkan sebuah ratapan puitis tentang perubahan sosial dan budaya di Inggris.
Perspektif Unik tentang Elvis Presley dan Apresiasi Musik Modern
Ketika genre progressive rock sempat kehilangan popularitasnya pada era 1980-an dan 1990-an akibat dominasi genre musik lain, Murray tetap setia mengamati perkembangannya. Ia menyambut hangat kebangkitan kembali musik rock kompleks pada era modern melalui kemunculan band-band hebat seperti Tool. Album Lateralus milik Tool dinilainya sebagai karya yang sangat elegan, abadi, dan menampilkan permainan drum yang luar biasa dari Danny Carey. Ia juga mengagumi karya-karya solois modern seperti Steven Wilson lewat album Hand. Cannot. Erase. yang menggabungkan melodi indah dengan teknik permainan tingkat tinggi.
Salah satu pandangan paling menarik dan tidak terduga dari Al Murray adalah penilaiannya terhadap sosok Elvis Presley. Murray menganggap sang “Raja Rock and Roll” memiliki jiwa progressive rock yang sangat kuat. Menurut Murray, Elvis adalah sosok pembaru yang menciptakan rock and roll dengan cara menggabungkan dua elemen musik berbeda secara berani. Pada era pertunjukannya di Las Vegas, Elvis menghadirkan aransemen orkestra yang megah di panggung rock, memimpin para musisi secara langsung, bahkan memasuki panggung dengan diiringi komposisi simfoni megah “Also Sprach Zarathustra” karya Richard Strauss.
Bagi Al Murray, kecintaan terhadap musik tidak boleh terbatasi oleh sekat-sekat fanatisme genre. Pengalaman mendengarkan berbagai jenis musik—mulai dari album eksperimental King Crimson, dinamika prog modern Steven Wilson, hingga musik rock and roll klasik milik Elvis Presley—menunjukkan bahwa eksplorasi rasa dalam bermusik adalah sebuah perjalanan yang tanpa batas. Pandangan Murray ini memberikan inspirasi bahwa musik yang baik akan selalu menemukan jalannya untuk diapresiasi, terlepas dari label atau kategori genre yang disematkan padanya.