Musik

The Brandals Merilis Album Keenam Oposisi Berisi 10 Lagu Kritik Sosial

Published

on

Grup rock legendaris asal Jakarta, The Brandals, secara resmi merilis album studio keenam mereka yang diberi judul Oposisi pada 30 September. Rilisan penuh yang berisi 10 lagu ini menjadi penanda kembalinya band tersebut setelah terakhir kali meluncurkan album Era Agressor pada tahun 2021. Lewat album teranyar ini, The Brandals tidak hanya menyuguhkan eksplorasi musikal yang lebih menyegarkan, tetapi juga menegaskan konsistensi mereka dalam menyampaikan kritik sosial dan politik secara tajam.

Eksplorasi Warna Musikal dan Sentuhan Elemen Elektronik

Proses penggarapan album Oposisi memakan waktu sekitar satu tahun tiga bulan, berawal dari September 2024 hingga Desember 2025 di studio Atas Music, Jakarta Barat. Dalam pengerjaannya, The Brandals menggandeng dua produser kenamaan, yaitu Jonathan Mono dan Jonathan Pardede. Kehadiran kedua produser yang berlatar belakang musik elektronik tersebut memberikan warna baru pada lanskap musik The Brandals. Sentuhan instrumen seperti synthesizer, keyboard, piano, serta barisan efek suara modern kini berpadu harmonis dengan raungan gitar khas garage rock yang menjadi identitas mereka selama ini.

Secara garis besar, arah aransemen musik dalam album ini mengambil inspirasi dari persilangan genre rock, hip-hop, dan musik elektronik yang populer pada dekade 1980-an hingga 1990-an. Sejumlah nama band dan musisi dunia tercatat menjadi referensi utama dalam proses kreatif pembuatan album ini, antara lain The Clash, Blondie, INXS, Bauhaus, De La Soul, The Stone Roses, hingga Happy Mondays. Pengaruh dari nama-nama besar tersebut melahirkan kombinasi alunan ritme yang lebih bergoyang tanpa menghilangkan karakteristik vokal tegas dan agresif yang selalu melekat pada karya-karya The Brandals.

Sebelum album ini diluncurkan secara utuh, The Brandals telah memperkenalkan materi lagunya secara bertahap sejak September 2025. Langkah ini diawali dengan merilis lagu “Jari Kasar”, sebuah karya kolaborasi eksperimental bersama duo punk elektronik Sukatani. Kehadiran lagu tersebut kemudian diikuti oleh serangkaian amunisi singel berturut-turut seperti “Di Pinggir Marjin”, “Langit Biru”, “Ke Timur”, hingga lagu bertajuk “1948” yang semakin memperjelas arah konsep dan narasi utama dari album Oposisi.

Menyuarakan Isu Sosial, Lingkungan, dan Kemanusiaan Global

Pemilihan kata Oposisi sebagai judul album bukanlah tanpa alasan. Nama tersebut diambil untuk menegaskan posisi serta sikap independen The Brandals terhadap berbagai dinamika sosial dan politik yang sedang terjadi. Keberanian dalam menyuarakan realitas masyarakat tercermin kuat dalam trek seperti “Jari Kasar”, “Di Pinggir Marjin”, serta “Ke Timur”. Lagu-lagu tersebut menyoroti perjuangan kelas pekerja, ketimpangan ekonomi, serta marginalisasi yang kerap dialami oleh kelompok masyarakat di perkotaan.

Tidak berhenti pada isu sosial-politik semata, The Brandals juga memperluas cakupan narasi lirik mereka ke ranah lingkungan hidup dan hubungan personal. Lagu “Langit Biru” hadir sebagai respons kritis terhadap laju kerusakan alam dan ancaman krisis iklim yang kian memprihatinkan. Sementara itu, terdapat pula lagu yang menawarkan sudut pandang lebih kontemplatif dan intim, seperti “Midnight, Dharmawangsa Parking Lot”, yang memperlihatkan sisi emosional serta pengalaman personal para personelnya di tengah riuk-pikuk kehidupan kota.

Puncak narasi perlawanan dalam album ini tertuang secara khusus pada lagu “1948”. Judul lagu ini secara eksplisit merujuk pada peristiwa sejarah pergerakan Nakba, yaitu tragedi pengusiran massal dan pemindahan paksa ratusan ribu warga Palestina dari tanah air mereka selama konflik perang Arab-Israel tahun 1948. Berdasarkan catatan resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), terdapat lebih dari 750.000 warga Palestina yang kehilangan tempat tinggal dan menjadi pengungsi dalam peristiwa kelam tersebut. Melalui lagu “1948”, The Brandals menyampaikan pesan solidaritas kemanusiaan serta dukungan moral terhadap perjuangan rakyat Palestina.

Babak Baru dengan Formasi Kuartet dan Perayaan 25 Tahun

Album Oposisi juga menjadi perwujudan babak baru perjalanan karier The Brandals dengan kehadiran formasi teranyar mereka yang kini berbentuk kuartet. Formasi ini diisi oleh Eka Annash pada vokal, Mulyadi Natakusumah pada gitar, Radhit Syaharzam pada bas, serta Ghani Noorputrawan yang mengisi posisi drummer. Ghani resmi bergabung pada awal tahun 2025 untuk mengisi kekosongan setelah hengkangnya dua personel terdahulu, yaitu Tony Dwi Setiaji dan Firman Zaenudin. Dinamika pergantian personel ini terbukti justru memberikan energi serta warna menyegarkan dalam proses penggarapan materi album.

Peluncuran album keenam ini sekaligus menjadi kado perayaan yang sangat bersejarah bagi perjalanan The Brandals di industri musik Tanah Air. Sejak pertama kali dibentuk pada tahun 2001, band yang lahir dari gelombang pergerakan musik independen Jakarta ini telah konsisten berkarya selama 25 tahun. Konsistensi dalam mempertahankan benang merah musik rock yang lugas, sarat kritik, serta relevan dengan dinamika zaman menjadikan The Brandals tetap berdiri kokoh sebagai salah satu ikon penting dalam kancah musik alternatif Indonesia.

Kehadiran album Oposisi diharapkan tidak hanya menjadi pengobat rindu bagi para penggemar setia yang telah mengikuti perjalanan mereka selama seperempat abad, tetapi juga mampu menjangkau pendengar generasi baru. Lewat perpaduan musik yang energetik, eksplorasi genre yang lebih luas, serta pesan lirik yang kontekstual, The Brandals membuktikan bahwa keberanian untuk bersuara dan bersikap kritis akan selalu menemukan ruang di tengah dinamika perkembangan zaman dan industri musik modern.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version