Musik
Superman Is Dead Merilis Ulang Album Perdana Case 15 Setelah 30 Tahun
Grup musik punk rock asal Bali, Superman Is Dead (SID), mengumumkan rencana perilisan ulang album perdana mereka yang bertajuk Case 15. Album yang pertama kali lahir tiga dekade lalu tersebut dijadwalkan kembali beredar pada 30 September 2026 melalui label Bojakrama Press. Rilisan bersejarah ini akan hadir dalam dua format analog, yaitu piringan hitam (vinyl) dan kaset pita, lengkap dengan bonus foto-foto memorabilia aksi panggung awal karier mereka di balik sampulnya.
Perjalanan Historis dan Rekaman Bermodal Keterbatasan
Album Case 15 pertama kali direkam pada tahun 1996 dan berisi 14 trek lagu yang menjadi fondasi awal dari perjalanan panjang Superman Is Dead di kancah musik nasional. Secara musikal, album ini merupakan cetak biru dari identitas musik SID yang dikenal hingga saat ini. Karakter punk rock bertempo cepat, agresif, namun tetap menyelipkan ketukan groove yang khas menjadi daya tarik utama karya-karya awal mereka.
Proses pembuatan album ini dipenuhi dengan semangat swadaya atau Do It Yourself (DIY) yang sangat kental. Bermodalkan dana hasil tampil di sebuah panggung kecil di wilayah Tabanan, Bali, para personel SID memberanikan diri masuk ke studio rekaman profesional untuk pertama kalinya. Mereka menyelesaikan seluruh proses rekaman 14 lagu tersebut hanya dalam kurun waktu dua shift studio.
Jerinx, drummer Superman Is Dead, mengungkapkan bahwa proses mixing dan mastering album tersebut bahkan diselesaikan pada hari yang sama. Sebelum akhirnya merasakan rekaman di studio resmi, proses penggarapan materi awal SID jauh lebih sederhana. Mereka sempat merekam lagu-lagu di kamar tidur Jerinx dengan peralatan seadanya, seperti menutupi drum menggunakan selimut tebal dan merekam suara menggunakan perangkat tape compo tua.
Keterbatasan pengetahuan teknis pada masa itu juga diakui oleh sang vokalis dan gitaris, Bobby Kool. Ia mengenang bahwa saat proses rekaman berlangsung, dirinya belum memahami secara mendalam penggunaan berbagai jenis efek gitar elektrik. Pengetahuan mengenai perbedaan antara efek distorsi, flanger, dan efek gitar lainnya masih sangat minim, sehingga hasil rekaman album Case 15 menjadi sangat mentah, murni, dan penuh energi kepemudaan.
Upaya Pencarian Master Album dan Proses Restorasi
Selain proses rekamannya yang tergolong nekat, metode distribusi album Case 15 pada dekade 1990-an juga sangat terbatas. Sebagian besar salinan fisik album ini hanya beredar di kawasan Bali dan didistribusikan secara mandiri oleh para personel. Salah satu pusat penjualan utamanya adalah Twice Tape Shop, sebuah toko musik independen milik Jerinx yang berlokasi di seberang Tugu Bom Bali, Kuta.
Pada saat rilis perdana, album ini hanya dicetak sebanyak kurang lebih 400 keping kaset. Bobby Kool bahkan harus bertolak langsung dari Bali menuju Malang, Jawa Timur, untuk mengurus proses penggandaan kaset tersebut secara mandiri. Dalam proses duplikasi tersebut, SID mendapat bantuan dari rekan-rekan musisi pergerakan punk independen lainnya, seperti personel No Man’s Land dan The Babies.
Karena jumlah produksinya yang sangat sedikit dan sistem distribusi yang terbatas, keberadaan master rekaman Case 15 sempat menghilang dan nyaris dilupakan oleh sejarah perkembangan musik Indonesia. Pihak Bojakrama Press sempat menemukan pita arsip berformat Digital Audio Tape (DAT) dari Kori, sosok penggerak Independent Entertainment yang dahulu memprakarsai konser SID di Tabanan pada 1996. Namun, karena faktor usia dan kerusakan fisik, arsip DAT tersebut gagal dipindai.
Pencarian berlanjut hingga akhirnya Bojakrama Press berhasil mendapatkan satu kaset pita original milik Rio Tantomo, seorang jurnalis musik yang berdomisili di Bali. Kaset fisik tersebut kemudian dipinjamkan untuk melalui proses digitalisasi. Tim produksi melakukan tahap balancing, remixing, serta remastering ulang agar kualitas audio yang dihasilkan dapat disesuaikan dengan standar rilisan fisik modern tanpa menghilangkan karakter asli rekaman tahun 1996.
Dokumenter Pendek dan Warisan Musik Punk Rock Indonesia
Perilisan ulang album ini juga dilengkapi dengan peluncuran sebuah film dokumenter pendek berjudul Awakening The Past: 30 Years of Case 15. Disutradarai oleh Dendy Ariza Putra bersama Reno Surya dari Bojakrama Press, film dokumenter ini akan menceritakan kisah di balik layar, perjuangan, serta nostalgia penggarapan album perdana Superman Is Dead. Dokumenter tersebut dijadwalkan tayang bersamaan dengan dibukanya masa pemesanan awal (pre-order) album pada 30 September 2026.
Hadirnya kembali Case 15 bukan sekadar ajang nostalgia bagi para penggemar setia Superman Is Dead yang dikenal dengan sebutan Lady Rose dan Outsiders. Lebih dari itu, album ini merupakan dokumen sejarah yang mencatat bagaimana sebuah grup musik asal Bali merintis karier dari skala lokal hingga akhirnya berkembang menjadi salah satu band rock terbesar di Indonesia.
Kembalinya album debut ini dalam format fisik analog seperti vinyl dan kaset pita juga menyikapi tren kebangkitan media fisik di kalangan kolektor musik. Melalui restorasi ini, rekam jejak perjuangan awal Superman Is Dead dalam membangun identitas musik mereka lewat keterbatasan alat dan energi mandiri kini dapat kembali dinikmati serta dipelajari oleh generasi baru penikmat musik tanah air.