Musik
Dolly Parton Meninggal Dunia pada Usia 80 Tahun Setelah Berjuang Melawan Kanker

Dolly Parton, salah satu legenda musik paling berpengaruh dalam sejarah industri hiburan Amerika, telah meninggal dunia pada usia 80 tahun. Penyanyi dan penulis lagu legendaris ini meninggal setelah berjuang melawan penyakit kanker yang telah menggerogoti kesehatannya. Berita duka cita ini menandai akhir dari era bagi seorang artis yang telah memberikan kontribusi luar biasa kepada dunia musik selama lebih dari enam dekade.
Perjalanan Karir yang Luar Biasa
Dolly Parton lahir pada tahun 1946 di Tennessee dan memulai karir musiknya sejak usia sangat muda. Dengan suara yang khas dan kemampuan menulis lagu yang luar biasa, ia berhasil menciptakan beberapa lagu paling ikonik dalam sejarah musik country dan pop. Lagu-lagunya seperti “Jolene,” “9 to 5,” dan “I Will Always Love You” menjadi hits internasional yang dikenal oleh jutaan orang di seluruh dunia. Prestasi musiknya mencakup berbagai penghargaan bergengsi, termasuk Grammy Awards dan induction ke Country Music Hall of Fame.
Selain karir musiknya yang cemerlang, Dolly Parton juga dikenal sebagai seorang pengusaha yang sukses dan filantropis yang berdedikasi. Ia mendirikan Imagination Library, sebuah program yang memberikan buku gratis kepada anak-anak di berbagai negara untuk mendorong minat membaca sejak dini. Kontribusinya terhadap pendidikan dan kesejahteraan masyarakat telah diakui secara luas, dan ia menerima berbagai penghargaan humanitarian untuk karyanya.
Dampak dan Warisan yang Abadi
Warisan Dolly Parton melampaui sekadar musik yang ia ciptakan. Sebagai seorang wanita yang kuat dan independen dalam industri yang didominasi laki-laki, ia menjadi inspirasi bagi banyak artis perempuan yang datang setelahnya. Gaya hidup dan kepribadiannya yang autentik, serta komitmennya terhadap nilai-nilai kemanusiaan, telah membuat ia menjadi figur yang dicintai tidak hanya oleh penggemar musik, tetapi juga oleh masyarakat luas.
Pengaruh Dolly Parton dalam industri hiburan sangat mendalam dan berkelanjutan. Lagu-lagunya telah dicover oleh ratusan artis dari berbagai genre musik, membuktikan kualitas universal dari komposisinya. Selain itu, ia juga terlibat dalam industri film dan televisi, menunjukkan keberagaman talentanya sebagai seorang entertainer sejati.
Meninggalnya Dolly Parton meninggalkan kekosongan besar dalam dunia musik dan hiburan global. Namun, warisan yang ia tinggalkan akan terus menginspirasi generasi mendatang untuk mengejar impian mereka, berbagi kebaikan dengan sesama, dan menggunakan talenta mereka untuk membuat perbedaan positif di dunia. Musik dan amal yang ia ciptakan akan terus hidup dalam hati jutaan orang yang telah disentuh oleh kehidupan dan karya luar biasa dari legenda musik ini.
Jazz
The Papandayan Jazz Festival 2026 Siap Menghadirkan Puluhan Musisi Lintas Generasi
Pecinta musik jazz di tanah air bersiaplah untuk menyambut salah satu perhelatan musik paling dinantikan tahun ini. The Papandayan Jazz Festival (TPJF) 2026 siap kembali memanjakan para penikmat musik selama dua hari berturut-turut, tepatnya pada tanggal 3 hingga 4 Oktober 2026. Bertempat di hotel bintang lima yang ikonik, The Papandayan Hotel Bandung, festival ini akan menghadirkan puluhan musisi lintas genre yang tersebar di enam area panggung yang berbeda.
Jadwal Tampil Hari Pertama: Kolaborasi Legendaris dan Nuansa Klasik
Pada hari pertama, Sabtu, 3 Oktober 2026, TPJF langsung menggebrak dengan deretan penampil papan atas di berbagai panggung. Di panggung utama, Kota Baru Parahyangan Stage yang terletak di Suagi Grand Ballroom, penonton akan disuguhi penampilan spesial “Tribute to Koes Plus” oleh The Gentlemen’s Club yang beranggotakan Adikara, Bilal, dan Teza. Tidak kalah menarik, diva legendaris Ruth Sahanaya serta kolaborasi apik antara Diskoria dan Andien juga dipastikan akan mengguncang panggung utama ini.
Sementara itu, di BRI Stage yang bertempat di HuruBatu Grill Garden, penonton dapat menikmati penampilan dari Sea Dreams, Smoove, Ambon Jazz Rock oleh Barry Likumahuwa, Rieka Roslan yang berkolaborasi dengan Lalahuta, serta Batavia Collective. Bagi penikmat jazz dengan nuansa yang lebih intim, RON88 Stage di Cimanuk Ballroom menyajikan SFG, SimakDialog, Bandung Tempo Doeloe oleh Gege Gumilar Band bersama Tiara Effendy dan Yerry T-Five, serta Arumtala.
Area TP Stage di lantai dasar akan diisi oleh sesi edukatif Master Class bersama Sri Hanuraga, dilanjutkan dengan penampilan dari SND, Dadaks, Cinere Jazz bersama Happy Pretty, dan Yonathan Godjali Quartet. Di Tropical Garden, Mojang Jajaka Stage akan menampilkan kesenian Barong Bekasi oleh Abang Mpok Kota Bekasi, Galumbira – Panen Durcing Raharja, Nakisha, dan One Note Voices. Area Pasar Jazz di tempat parkir juga akan diramaikan oleh University Jazz Band serta berbagai pameran komunitas dan kuliner.
Hari Kedua yang Penuh Eksplorasi dan Harmoni Modern
Hari Kedua yang Penuh Eksplorasi dan Harmoni Modern
Memasuki hari kedua, Minggu, 4 Oktober 2026, atmosfer festival dipastikan tetap membara. Panggung utama Kota Baru Parahyangan Stage akan menyajikan pertunjukan megah bertajuk “A Night of Frank Sinatra” yang dipimpin oleh maestro Dwiki Dharmawan & Friends bersama Dira Sugandi, Dirly Dave, dan Bandung Jazz Orchestra. Panggung utama ini juga akan dimeriahkan oleh penyanyi muda berbakat Mahalini, serta kolektif Freedom Jazz Society yang menampilkan kolaborasi antara Greybox, Jevin Julian, Kenny Gabriel, dan Winky Wiryawan bersama Rinni.
Di BRI Stage, pengunjung akan dihibur oleh Andre Dinuth Group yang berkolaborasi dengan Matthew Sayersz, solois muda Rafi Sudirman, serta reuni enerjik dari T-Five bersama Melly Mono. RON88 Stage tidak kalah seru dengan penampilan dari grup 5 Petani, Barry Likumahuwa bersama TPJC Collective, serta kolaborasi unik Reyharp dengan Balawan Project yang dikenal dengan teknik gitar tap ganda yang memukau.
Bagi yang ingin memperdalam ilmu musik, TP Stage kembali menghadirkan Master Class bersama Tommy Pratomo, disusul penampilan Funky Journal, serta kolaborasi VMS Art Collective X Artsi bersama gitaris jazz legendaris Oele Pattiselanno. Mojang Jajaka Stage akan menyuguhkan penampilan dari Swara Katresna, Ranggaswara Group, dan kolaborasi lintas seni Ki Dalang Anom bersama Swara Katresna. Area Pasar Jazz tetap setia menemani pengunjung dengan penampilan University Jazz Band dan aktivitas komunitas yang interaktif.
Menilik Sejarah dan Kontribusi TPJF bagi Musik Indonesia
The Papandayan Jazz Festival bukan sekadar acara musik tahunan biasa, melainkan sebuah wadah apresiasi seni yang konsisten menjaga ekosistem musik jazz di Indonesia, khususnya di Jawa Barat. Bandung, yang dikenal sebagai kota kreatif dengan sejarah musik yang kuat, menjadi lokasi yang sangat tepat untuk menyelenggarakan festival berskala nasional ini. Kehadiran TPJF setiap tahunnya selalu berhasil menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara untuk datang dan menikmati keindahan kota Bandung sembari ditemani alunan musik jazz berkualitas.
Konsep festival yang menggunakan berbagai sudut hotel sebagai panggung pertunjukan memberikan pengalaman menonton yang unik dan imersif. Penonton dapat dengan mudah berpindah dari satu panggung ke panggung lain, menikmati berbagai sub-genre jazz mulai dari jazz tradisional, fusion, pop-jazz, hingga eksperimental. Selain itu, adanya sesi Master Class menunjukkan komitmen festival ini dalam memberikan edukasi musik bagi generasi muda, sehingga regenerasi musisi jazz di tanah air dapat terus berjalan dengan baik.
Informasi Tiket, Paket Akomodasi, dan Promo Menarik
Untuk dapat menikmati seluruh rangkaian acara ini, pihak penyelenggara telah menyiapkan tiga kategori tiket resmi yang dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan pengunjung:
- Silver Pass (Rp250.000): Tiket harian yang memberikan akses ke lima area festival, yaitu Pasar Jazz, RON88 Stage, TP Stage, Mojang Jajaka Stage, dan BRI Stage.
- Gold Pass (Rp400.000): Tiket harian yang memberikan akses penuh ke seluruh area festival, termasuk panggung utama Kota Baru Parahyangan Stage.
- Platinum Pass (Rp750.000): Tiket terusan dua hari penuh (3–4 Oktober 2026) yang memberikan akses tanpa batas ke seluruh panggung dan rangkaian acara festival.
Penyelenggara juga menawarkan berbagai promo menarik untuk memudahkan para pengunjung. Salah satunya adalah diskon sebesar 25% bagi nasabah pemegang kartu Bank BRI, promo pembelian tiket grup, hingga paket bundling akomodasi bertajuk “Stay & Fest”. Paket khusus ini menggabungkan fasilitas menginap yang nyaman di The Papandayan Hotel Bandung dengan tiket masuk festival, memberikan kenyamanan ekstra bagi pengunjung yang datang dari luar kota. Informasi lengkap mengenai pembelian tiket dan penawaran menarik lainnya dapat diakses melalui situs resmi di tpjazzfest.com atau melalui akun media sosial Instagram resmi mereka di @tpjazzfest.
Metal
Bless The Knights Merilis Album “Phoenix” Sebagai Simbol Kebangkitan

Unit progressive metal dan djent kebanggaan Indonesia, Bless The Knights, secara resmi mengumumkan pembukaan babak baru dalam perjalanan bermusik mereka melalui peluncuran album studio terbaru bertajuk “Phoenix”. Karya anyar ini tidak hanya sekadar menjadi penambah katalog diskografi mereka, melainkan juga ditegaskan sebagai simbol kebangkitan serta evolusi terbesar yang pernah dialami oleh grup musik tersebut sejak pertama kali berdiri.
Evolusi Musikal dan Filosofi di Balik Nama Phoenix
Pemilihan nama “Phoenix” untuk album ini memiliki makna mendalam yang mencerminkan perjalanan dinamis Bless The Knights di kancah musik keras Tanah Air. Burung mitologi Phoenix yang dikenal mampu bangkit kembali dari abu penderitaan menjadi analogi yang sangat tepat untuk menggambarkan ketangguhan, regenerasi, serta visi baru yang diusung oleh band ini. Melalui deretan trek yang disajikan dalam album tersebut, pendengar diajak untuk merasakan transformasi musikal yang lebih matang, tajam, dan penuh dengan energi positif.
Dari segi teknis dan komposisi, “Phoenix” memperlihatkan peningkatan kualitas eksplorasi musik djent yang sangat signifikan. Karakteristik khas berupa ketukan sinkopasi yang rumit, distorsi gitar dengan lowered-tuning yang padat, serta harmoni melodi yang megah terangkum secara presisi dalam setiap lagu. Bless The Knights berhasil menyelaraskan teknikalitas tingkat tinggi khas progressive metal dengan struktur lagu yang tetap memiliki daya pikat emosional bagi para pencinta musik cadas.
Proses produksi album ini juga melibatkan pendekatan tata suara (audio engineering) yang lebih modern dan mutakhir. Setiap instrumen, mulai dari dentuman drum yang bertenaga, garis bas yang tebal, hingga raungan gitar yang kompleks, dirancang untuk memberikan pengalaman mendengarkan yang imersif dan penuh tenaga. Kematangan aransemen ini menjadi bukti nyata bahwa Bless The Knights terus mendorong batasan kreatif mereka demi menghadirkan standar baru bagi lanskap musik heavy metal lokal.
Jejak Langkah dan Konsistensi di Kancah Djent Indonesia
Bless The Knights, yang diprakarsai oleh gitaris berbakat Fritz Faraday, telah lama dikenal sebagai salah satu pionir yang secara konsisten mengusung subgenre djent dan progressive metal di Indonesia. Sejak awal kemunculannya—yang sempat menggunakan nama Blitzkrieg sebelum bertransformasi menjadi Bless The Knights—proyek musik ini konsisten menyuguhkan permainan gitar bertempo cepat dengan teknik kompleks yang memukau para penikmat musik cadas berteknik tinggi.
Perjalanan karir Bless The Knights tidak lepas dari berbagai tantangan, mulai dari pergantian personel hingga dinamika industri musik independen yang terus berubah. Namun, konsistensi Fritz Faraday dalam merawat visi musikal band ini terbukti mampu menjaga eksistensi Bless The Knights di tengah gempuran tren musik populer. Kehadiran album “Phoenix” menjadi bukti konkret bahwa semangat berkarya mereka tidak pernah padam, melainkan semakin membara seiring berjalannya waktu.
Genre djent sendiri, yang memadukan keahlian teknis tinggi dengan elemen groove metal modern, terus mendapatkan tempat khusus di hati komunitas musik independen Indonesia. Kehadiran album baru dari Bless The Knights ini dipandang sebagai angin segar sekaligus bahan bakar baru yang menyalakan kembali gairah komunitas musik progresif di dalam negeri, mendorong ranah musik ekstrem untuk terus berkembang secara kualitas maupun kuantitas.
Harapan dan Dampak Bagi Kancah Musik Cadas
Peluncuran album “Phoenix” diharapkan dapat membuka peluang yang lebih luas bagi Bless The Knights, baik di kancah nasional maupun panggung internasional. Dengan kualitas produksi yang mumpuni serta materi lagu yang solid, album ini berpotensi membawa nama Indonesia semakin diperhitungkan dalam peta musik progressive metal global. Penggemar setia maupun pendengar baru kini dapat menikmati pencapaian estetika musikal tertinggi yang pernah diraih oleh unit djent ini.
Sebagai langkah lanjutan setelah rilisnya album “Phoenix”, Bless The Knights diperkirakan akan menggelar serangkaian kegiatan promosi, termasuk penampilan panggung secara langsung dan penayangan konten visual eksklusif. Kehadiran karya ini menjadi penegas bahwa eksistensi band cadas tidak hanya diukur dari seberapa lama mereka bertahan, melainkan dari sejauh mana mereka berani bertransformasi dan melahirkan karya yang relevan serta inspiratif bagi lintas generasi pencinta musik keras.
Musik
Float Gelar Float2Nature 2026 dan Ungkap Tantangan Garap EP Terbaru

Band indie legendaris Indonesia, Float, sukses menyelenggarakan kembali acara tahunan khas mereka, Float2Nature (F2N) 2026, yang kali ini berlokasi di kawasan pantai Batukaras, Jawa Barat. Selain menyajikan petualangan alam dan penampilan musik yang intim, momen ini juga menjadi ajang bagi para personel Float untuk membagikan kisah eksklusif mengenai perjalanan kreatif mereka. Dalam kesempatan tersebut, mereka mengungkapkan proses panjang di balik perilisan mini album (EP) terbaru yang sempat tertunda selama empat tahun akibat berbagai tantangan internal dan eksternal.
Perjalanan Menuju Batukaras dan Aksi Nyata Peduli Lingkungan
Perjalanan Float2Nature 2026 dimulai dari Floatlab yang berlokasi di Gunung Putri. Rombongan yang terdiri dari manajer Float, rekan media nasional, dan tim dokumentasi berangkat menggunakan mikrobus menuju penginapan Los Londos di Batukaras. Meskipun perjalanan memakan waktu lebih lama dari perkiraan karena beberapa kali singgah untuk beristirahat dan makan, antusiasme peserta tidak surut. Setibanya di lokasi, aroma khas udara pantai dan kehangatan sinar matahari sore menyambut rombongan, yang kemudian dilanjutkan dengan sesi pengarahan malam untuk mematangkan agenda hari berikutnya.
Agenda hari pertama dibuka dengan kegiatan Beach Clean Up atau aksi bersih-bersih pantai. Kegiatan ini bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk kepedulian nyata Float terhadap kelestarian alam yang menjadi panggung utama acara mereka. Dari aksi tersebut, sampah plastik dan sedotan menjadi barang yang paling banyak ditemukan pagi itu. Fenomena ini memicu diskusi menarik mengenai efektivitas kampanye antiplastik di perkotaan, yang tampaknya belum sepenuhnya berdampak atau terintegrasi dengan baik di daerah-daerah wisata pesisir. Melalui Float2Nature, Float ingin menyebarkan kesadaran bahwa menikmati keindahan alam harus dibarengi dengan tanggung jawab untuk menjaganya tetap bersih.
Kedewasaan Personal dan Hambatan Kreatif Selama Empat Tahun
Di sela-sela rangkaian acara, para personel Float yang terdiri dari Meng, Binsar, David, dan Timur membagikan kisah di balik mini album terbaru mereka yang bertajuk Constant Changes. Judul ini dirasa sangat relevan dengan perjalanan hidup mereka sebagai manusia, bukan hanya sebagai musisi. Meng, sang vokalis yang kini berusia 52 tahun, mengakui bahwa banyak perubahan besar yang terjadi dalam hidupnya, terutama setelah melewati masa pandemi global. Sementara itu, Binsar dan David sepakat bahwa seiring bertambahnya usia, mereka menjadi lebih bijak dalam menyikapi berbagai hal, beralih dari sekadar menilai benar atau salah menjadi menilai apakah sesuatu itu baik atau tidak untuk dilakukan.
Proses penggarapan EP ini ternyata memakan waktu hingga empat tahun, sebuah durasi yang cukup lama untuk sebuah mini album. Meng mengungkapkan bahwa hambatan terbesar terletak pada penulisan lirik. Sebagai satu-satunya penulis lirik di band sebelum akhirnya berkolaborasi dengan Binsar, Meng sempat mengalami fase di mana ia merasa kesulitan menuangkan ide. Ia merasa kehabisan cerita, atau sebaliknya, memiliki cerita yang terlalu besar untuk diringkas ke dalam sebuah lagu berdurasi beberapa menit. Selain itu, ada beban psikologis untuk tidak mengulangi formula kesuksesan lagu-lagu lama seperti “Sementara” atau “Pulang”, yang justru membuat proses kreatifnya menjadi terhambat oleh ekspektasi diri sendiri.
Strategi Rilis di Era Digital dan Harapan Masa Depan
Dukungan dari sesama personel akhirnya berhasil memecahkan kebuntuan kreatif tersebut. Rekan-rekan satu band meyakinkan Meng untuk kembali ke akar proses pembuatan musik yang organik, yaitu membuat karya yang mereka sukai tanpa terlalu banyak memikirkan teori atau batasan teknis. Hasilnya, Float berhasil merampungkan empat lagu untuk EP ini, yaitu “Yang Kembali Pulih”, “Emily”, “Dimabuk Cahaya”, dan “The Mirror Song (Constant Change)”. Keputusan untuk merilis format EP alih-alih album penuh juga didasari oleh realitas industri musik digital saat ini, di mana platform streaming lebih ramah terhadap format rilisan yang lebih ringkas.
Menghadapi era digital streaming platform (DSP), Float memilih untuk tetap adaptif tanpa kehilangan identitas mereka. Meskipun industri musik kini sangat dinamis dengan tren perilisan singel secara berkala, Float melihat hal ini sebagai peluang tambahan untuk memperkenalkan karya baru kepada pendengar lama maupun generasi baru. Melalui Float2Nature dan karya-karya terbarunya, Float berharap ekosistem musik yang mereka bangun tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga sebuah wadah yang mampu menghidupi orang-orang di baliknya secara berkelanjutan, sekaligus terus menginspirasi para pendengar setianya di seluruh Indonesia.
Musik2 minggu agoFeral Stripes Ajak Kabur dari Bumi Lewat “Rocket Ride”
- Jazz1 minggu ago
Rifki Soeria dan Neea Rachma Ungkap Karya Baru di WartaJazz
Musik2 minggu agoThe Skit Merilis Album Perdana 1000 Kemungkinan tentang Dewasa Muda
Musik2 minggu agoLea Simanjuntak Rilis Single Terbaru ‘Ruang Di Hatimu’ Setelah Hiatus
Musik1 minggu agoRamengvrl Merilis Singel #COWOBARU untuk Menyambut Album Baru
Musik2 minggu agoSpeak Up Meluncurkan Single Terbaru Semua Akan Indah Pada Waktunya
Metal5 hari agoJohn Goblikon Menyebut Kebangkitan Musik Nu-Metal Sebagai Sinyal Resesi
Metal2 minggu agoAnggota Band Metal Perdebatkan Rencana Mengganti Pendiri yang Dipenjara





