Jazz
Dewa Budjana Wakili Indonesia di MoonJune Festival 2026 Italia

Italia akan kembali menjadi pusat pertemuan musisi progresif, jazz, fusion, dan world music melalui penyelenggaraan MoonJune Festival of Eclectic Music 2026 yang akan berlangsung pada 22-25 Juli 2026 di Kota Teramo, wilayah Abruzzo. Memasuki penyelenggaraan keempat, festival bergengsi ini akan menghadirkan 18 pertunjukan spektakuler, tiga sesi roundtable diskusi, MoonJune Awards, open jam session interaktif, serta sajian kuliner autentik khas Abruzzo dalam satu rangkaian acara yang komprehensif.
Dewa Budjana Mewakili Indonesia di Panggung Internasional
Bagi Indonesia, perhatian khusus tertuju pada kehadiran Dewa Budjana, gitaris berbakat yang juga dikenal luas sebagai anggota kelompok musik legendaris GIGI. Dewa Budjana telah lama menjadi bagian integral dari keluarga besar MoonJune Records, label rekaman yang didirikan oleh Leonardo Pavkovic. Kehadirannya di festival ini menandai komitmen berkelanjutan dari musisi Indonesia untuk terus berpartisipasi aktif dalam panggung musik progresif internasional yang semakin kompetitif dan prestisius.
Pada hari Kamis, 23 Juli, Dewa Budjana akan membuka penampilannya melalui sebuah duet eksklusif bersama Nicolas Meier, gitaris berbakat asal Inggris, di lokasi Largo Melatino. Pertunjukan ini akan menjadi momen spesial yang menampilkan dialog musikal antara dua gitaris dengan gaya dan pendekatan yang berbeda namun saling melengkapi. Tak lama setelah pertunjukan duet tersebut, Budjana akan kembali naik panggung sebagai bagian dari Beledo MoonUnity Band, sebuah proyek kolaborasi lintas negara yang mempertemukan musisi-musisi kaliber internasional dari berbagai belahan dunia.
Kolaborasi Internasional dalam Beledo MoonUnity Band
Beledo MoonUnity Band merupakan proyek ambisius yang menggabungkan talenta dari berbagai negara, termasuk Beledo dari Uruguay, Gilad Atzmon dari Inggris, Yaron Stavi dan Asaf Sirkis dari Israel, Boris Savoldelli dari Italia, serta Dewa Budjana dari Indonesia. Kolaborasi lintas benua ini menjadi salah satu pertunjukan paling dinantikan dalam festival karena menyatukan sejumlah musisi yang selama bertahun-tahun aktif dalam katalog MoonJune Records dan dikenal memiliki pendekatan musikal yang melampaui batas-batas genre konvensional. Setiap anggota band membawa pengalaman unik dan perspektif musikal yang kaya, menciptakan potensi untuk eksplorasi suara yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Festival tahun ini akan menghadirkan jajaran nama-nama besar dunia dalam genre progressive rock, jazz fusion, dan experimental music. Diantaranya adalah Soft Machine bersama Gary Husband, Gong dengan Steve Hillage, Osanna featuring David Jackson, Gary Husband One, Diego Amador Flamenco Free Jazz Trio, Markus Reuter Truce, Stephan Thelen Fractal Trio, hingga Anton Roolaart Band yang turut menampilkan Beledo. Kehadiran musisi-musisi legendaris ini menunjukkan tingkat prestise dan kredibilitas yang tinggi dari MoonJune Festival di mata komunitas musik progresif global.
Lebih dari Sekadar Festival Musik
MoonJune Festival bukan sekadar rangkaian konser musik semata. Festival ini dirancang sebagai ruang diskusi dan pertukaran ide melalui tiga sesi roundtable yang akan membahas topik-topik penting dalam industri musik. Sesi-sesi tersebut akan membahas 25 Tahun perjalanan MoonJune Records, 60 Tahun sejarah Soft Machine, serta perjalanan karir Derek Shulman, mantan personel band Giant yang kemudian sukses sebagai eksekutif industri musik. Selain itu, festival akan ditutup dengan MoonJune Awards, sebuah penghargaan bergengsi yang diberikan kepada sejumlah musisi yang selama ini berkontribusi signifikan dalam ekosistem MoonJune.
Pendiri MoonJune Records, Leonardo Pavkovic atau yang akrab disapa Mr. MoonJune, menyebut festival ini sebagai “festival of friends, for friends, and with friends.” Filosofi ini mencerminkan esensi sejati dari acara tersebut, di mana hampir seluruh penampil merupakan musisi yang selama ini menjadi bagian dari roster MoonJune Records maupun MoonJune Booking. Semangat persahabatan dan kolaborasi ini tercermin dari keberagaman peserta yang luar biasa. Musisi akan berasal dari 16 negara, mulai dari Indonesia, Inggris, Italia, Belgia, Brasil, Jerman, Iran, Israel, Meksiko, Uruguay, Amerika Serikat hingga Venezuela. Sementara penonton yang telah mengonfirmasi kehadiran datang dari 29 negara, menunjukkan daya tarik festival ini di kalangan penggemar musik progresif internasional yang tersebar di seluruh dunia.
Dokumentasi Profesional dan Komitmen Terhadap Warisan Musik
Seluruh konser akan direkam secara profesional dalam format audio dan video berkualitas tinggi, menegaskan komitmen MoonJune untuk mendokumentasikan setiap kolaborasi yang lahir selama festival berlangsung. Inisiatif ini penting untuk melestarikan momen-momen bersejarah dalam musik progresif dan memastikan bahwa warisan artistik dari festival ini dapat dinikmati oleh generasi musisi dan penggemar musik di masa depan.
Dalam pesan suara yang diterima oleh media musik, Dewa Budjana mengaku sangat antusias untuk kembali bermain di festival yang digagas Leonardo Pavkovic tersebut. Budjana mengatakan bahwa MoonJune Festival bukan sekadar festival musik biasa, tetapi merupakan tempat berkumpulnya teman-teman musisi dari berbagai negara yang selama ini saling mengenal dan berkolaborasi secara mendalam. Menurutnya, MoonJune memiliki karakter yang sangat berbeda dibanding festival musik pada umumnya karena dibangun atas hubungan pertemanan yang kuat sehingga suasananya terasa lebih akrab dan terbuka terhadap eksplorasi musikal yang berani dan inovatif.
Eksplorasi Tanpa Batas Genre dan Improvisasi Musikal
Apa yang membuat MoonJune Festival istimewa menurut Budjana adalah tidak adanya batasan genre yang ketat. Semua musisi datang dengan latar belakang musik yang berbeda-beda, lalu bertemu di atas panggung untuk saling mendengarkan dan berimprovisasi secara spontan. Pendekatan ini menciptakan pengalaman bermain yang unik dan tak terlupakan, di mana setiap pertunjukan memiliki potensi untuk menghasilkan sesuatu yang benar-benar baru dan belum pernah terjadi sebelumnya. Bagi Budjana, kesempatan tampil bersama Nicolas Meier maupun MoonUnity Band juga menjadi ruang untuk terus mengembangkan dialog musikal yang telah terjalin selama bertahun-tahun bersama para musisi MoonJune Records.
Hubungan MoonJune dengan Indonesia telah terjalin lebih dari satu dekade dengan hasil yang sangat memuaskan. Lewat label ini, karya-karya Dewa Budjana, Dwiki Dharmawan, Tohpati, Tesla Manaf, hingga sejumlah musisi Indonesia lainnya telah dikenal lebih luas di pasar internasional dan mendapatkan pengakuan dari komunitas musik progresif global. Kehadiran Budjana di MoonJune Festival 2026 kembali menunjukkan bahwa musisi Indonesia tidak hanya hadir sebagai tamu atau peserta tambahan, tetapi menjadi bagian penting dan integral dalam jaringan musik progresif dunia yang terus berkembang melalui kolaborasi lintas budaya dan eksplorasi musikal tanpa batas.

Jazz
Sandhy Sondoro Menghadirkan Konser A Soulful Odyssey di Berlin
Penyanyi solo kenamaan Indonesia, Sandhy Sondoro, kembali menginjakkan kakinya di Berlin, Jerman, untuk menggelar konser istimewa bertajuk Liebe in Concert – A Soulful Odyssey. Pertunjukan yang berlangsung di Bunker West pada Sabtu (19/9) ini menjadi momen emosional sekaligus ajang pembuktian musikalitasnya di kancah internasional. Dalam penampilannya kali ini, Sandhy tidak tampil sendiri, melainkan didampingi oleh dua musisi hebat tanah air, yaitu pemain bass legendaris Indro Hardjodikoro dan musisi etnik kontemporer Muhammad Fajar Nurihsan yang akrab disapa Jarwo.
Reuni Musikal dan Nostalgia Sandhy Sondoro di Berlin
Berlin memiliki tempat yang sangat istimewa di hati Sandhy Sondoro. Kota ini bukan sekadar destinasi wisata atau panggung biasa, melainkan tempat di mana fondasi karier musiknya dibangun. Sejak memutuskan menetap dan mengembangkan karier musiknya di Berlin pada tahun 1998, Sandhy telah melewati berbagai fase perjuangan yang membentuk karakternya sebagai seorang musisi sejati. Ia memulai perjalanannya dari bawah, bernyanyi dari jalanan, bar-bar kecil, hingga klub malam di sudut-sudut kota Berlin yang terkenal sangat kompetitif.
Pengalaman hidup yang keras namun kaya akan inspirasi tersebut membentuk karakter vokal dan gaya bermusiknya yang khas. Salah satu karya monumentalnya, Down on the Streets, lahir dari refleksi mendalam atas pengalamannya menyusuri jalanan Berlin yang dingin namun penuh dengan dinamika kehidupan. Kembali ke kota ini dengan sebuah konser tunggal berskala besar tentu membawa rasa nostalgia yang mendalam sekaligus rasa syukur atas pencapaiannya sejauh ini. Konser ini menjadi bukti nyata bahwa dedikasi dan konsistensi dalam bermusik akan selalu menemukan jalan untuk kembali ke tempat di mana semuanya dimulai.
Kolaborasi Lintas Genre Bersama Indro Hardjodikoro dan Jarwo
Konser A Soulful Odyssey kali ini menawarkan sesuatu yang sangat berbeda melalui kolaborasi lintas genre yang sangat dinamis. Kehadiran Indro Hardjodikoro memberikan dimensi baru pada aransemen lagu-lagu Sandhy yang bernuansa soul. Sebagai salah satu pencabik bass terbaik di Indonesia, Indro membawa pengalaman panjangnya yang melintasi berbagai genre musik, mulai dari jazz, pop, rock, hingga musik tradisional seperti keroncong dan dangdut. Permainan bass Indro yang solid dan penuh improvisasi mampu mengimbangi vokal soul Sandhy yang bertenaga dan penuh penghayatan.
Di sisi lain, kehadiran Jarwo memberikan sentuhan magis yang unik pada keseluruhan pertunjukan. Sebagai komposer dan pemain perkusi etnik asal Jawa Barat, Jarwo memasukkan elemen-elemen ritme tradisional Sunda dan nusantara ke dalam aransemen musik modern. Kolaborasi ketiganya menciptakan sebuah dialog musikal yang harmonis, di mana musik soul barat bertemu dengan kehangatan jazz dan eksotisme perkusi tradisional Indonesia. Penonton yang hadir disuguhi sebuah pertunjukan yang tidak hanya memanjakan telinga, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia dalam kemasan yang modern dan universal.
Diplomasi Budaya dan Dukungan Pemerintah Indonesia
Pertunjukan ini bukan sekadar hiburan bagi komunitas Indonesia di Jerman, melainkan sebuah misi diplomasi budaya yang sangat penting. Melalui A Soulful Odyssey, musik Indonesia diposisikan sebagai entitas yang mampu bersaing dan dinikmati oleh publik global di salah satu pusat kebudayaan Eropa. Berlin dikenal sebagai kota yang sangat menghargai keberagaman seni dan budaya, sehingga menjadi tempat yang sangat tepat untuk memperkenalkan identitas musik Indonesia yang kaya dan beragam.
Suksesnya acara ini tidak lepas dari kolaborasi erat antara Bunker West Berlin dengan Ajang Mas Kreatif. Selain itu, acara ini juga mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak seperti Gekraf Jerman, SOCreative, SON Video Works, dan 1st Pictures. Dukungan yang sangat signifikan juga datang dari pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia serta Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui program Dana Indonesia Raya atau Dana Indonesiana. Dukungan ini menunjukkan komitmen nyata pemerintah dalam mendorong ekspansi industri kreatif dan talenta lokal ke panggung dunia.
Dengan suksesnya konser Liebe in Concert – A Soulful Odyssey, Sandhy Sondoro bersama Indro Hardjodikoro dan Jarwo telah membuktikan bahwa musik adalah bahasa universal yang mampu melampaui batas-batas geografis dan budaya. Pertunjukan di Berlin ini diharapkan dapat membuka jalan yang lebih lebar bagi musisi-musisi Indonesia lainnya untuk tampil di panggung internasional. Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa karya anak bangsa memiliki kualitas yang sejajar dengan musisi global dan layak mendapatkan apresiasi di tingkat dunia. Perjalanan musikal Sandhy di Berlin kali ini tidak hanya menjadi sebuah nostalgia pribadi, tetapi juga sebuah catatan sejarah baru bagi perkembangan musik Indonesia di Eropa.
Jazz
Musisi Jazz Global Merilis Puluhan Album dan Single Baru pada Agustus 2026
Perkembangan musik jazz di tingkat global terus menunjukkan dinamika yang luar biasa, dan bulan Agustus 2026 menjadi salah satu periode paling produktif bagi para musisi genre ini. Berbagai karya terbaru, mulai dari album penuh (LP), mini album (EP), hingga single, resmi diperkenalkan ke publik untuk memberikan warna baru dalam lanskap musik dunia. Kehadiran rilisan-rilisan ini membuktikan bahwa jazz tetap menjadi wadah eksplorasi yang subur bagi para komposer dan instrumentalis lintas generasi.
Keberagaman Estetika dan Kolaborasi Lintas Batas
Pada bulan Agustus ini, para pencinta musik jazz disuguhkan dengan variasi gaya yang sangat kaya. Salah satu rilisan yang sangat dinantikan adalah kolaborasi antara pianis Ayumi Tanaka, pemain kontrabas Thomas Morgan, dan pemain drum Thomas Strønen lewat album berjudul Windflower di bawah naungan label legendaris ECM Records. Kolaborasi trio ini dikenal dengan pendekatan mereka yang sangat intuitif, tenang, dan penuh ruang kosong yang puitis, sebuah ciri khas yang selalu berhasil dihadirkan oleh ECM Records dalam menjaga kualitas produksi audio yang jernih dan atmosferik.
Selain itu, kekuatan musisi perempuan dalam kancah jazz modern juga semakin bersinar melalui kolaborasi antara pemain bas Linda May Han Oh dan pemain saksofon Melissa Aldana dalam album Beneath Lifted Skies yang dirilis oleh Biophilia Records. Kedua musisi ini dikenal memiliki teknik permainan yang luar biasa serta visi komposisi yang visioner. Kehadiran album ini mempertegas posisi mereka sebagai figur penting yang terus mendorong batas-batas musik jazz kontemporer ke arah yang lebih segar dan relevan dengan perkembangan zaman.
Bagi pendengar yang menyukai kehangatan melodi tradisional dengan sentuhan eksotis, Miguel Zenón kembali hadir dengan El Arte del Bolero, Vol. 3 melalui Miel Music. Melalui seri album ini, Zenón secara konsisten mengeksplorasi keindahan musik bolero Latin yang dikawinkan dengan improvisasi jazz yang rumit namun tetap nyaman di telinga. Sentuhan ritme yang hangat ini menjadi penyeimbang yang sempurna di tengah gempuran eksperimentasi jazz modern lainnya.
Eksperimen Elektronik dan Penghormatan Terhadap Tradisi
Perkembangan teknologi dan pergeseran zaman juga memengaruhi bagaimana jazz diproduksi dan dinikmati pada tahun 2026. Proyek musik seperti Acoustic Electronica dari grup The Court at Versailles menjadi contoh nyata bagaimana instrumen akustik konvensional dapat berpadu harmonis dengan elemen elektronik modern. Eksperimen semacam ini menciptakan dimensi suara baru yang lebih luas, menjembatani batas antara musik dansa elektronik, ambient, dan improvisasi jazz murni.
Di sisi lain, penghormatan terhadap tradisi jazz klasik tetap terjaga dengan baik. Kehadiran pianis legendaris Larry Goldings lewat album Rhombus di bawah Smoke Sessions Records, serta Sullivan Fortner dengan karya terbarunya Leave That In There, menunjukkan bahwa esensi permainan piano jazz yang berakar pada tradisi swing, blues, dan bebop masih sangat diminati. Album-album ini menawarkan keahlian teknis tingkat tinggi sekaligus kehangatan musikalitas yang intim, sangat cocok untuk dinikmati dalam berbagai suasana.
Tidak ketinggalan, format ansambel besar juga mendapatkan tempat khusus bulan ini melalui karya Martin Iaies yang bertajuk People. Places. Music For Large Ensemble. Komposisi untuk ansambel besar selalu menawarkan tantangan tersendiri dalam hal aransemen, dan Iaies berhasil menyajikan narasi musikal yang megah namun tetap memberikan ruang bagi setiap instrumen untuk menonjolkan karakter uniknya masing-masing.
Daftar Lengkap Rilisan Jazz Terpopuler Agustus 2026
Berikut adalah daftar lengkap album, EP, dan single jazz yang dirilis sepanjang bulan Agustus 2026 yang wajib masuk ke dalam daftar putar Anda:
- Ayumi Tanaka, Thomas Morgan, Thomas Strønen – Windflower (ECM Records)
- Ben Crosland Quintet – North York Skies (Jazz Cat Records / Music Connection / ECN Music)
- Clark Sommers – WaBaSH (Calligram Records)
- Danny Keane – Kinesis (MVKA)
- East of West – Velella (4000 Records)
- Enoch Smith Jr. – This Is What Love Does (Misfitme Music)
- Frank London – Touzle Your Kurchy (Adhyâropa Records)
- Henry Threadgill – Fifteen (Nonesuch Records)
- Irene Aranda – MAY (Relative Pitch Records)
- John Donaldson – We Were Together, I Forget the Rest (Hexagonal Records)
- Larry Goldings – Rhombus (Smoke Sessions Records)
- Linda May Han Oh & Melissa Aldana – Beneath Lifted Skies (Biophilia Records)
- maTrigal – Between Homes (Svitzer Music)
- Martin Iaies – People. Places. Music For Large Ensemble (Challenge Records)
- Miguel Zenón – El Arte del Bolero, Vol. 3 (Miel Music)
- Mike Clark – Kuon Ganjo (Time Without Beginning) (Wide Hive Records)
- Mike Jones – Mike Jones With Strings (Capri Records)
- Ricardo Bacelar – Aqui, Oh! (Jasmin Music)
- Rite of Strings – Dust and the Moon (Bright Shiny Things)
- Sam Sadigursky – -ish (Adhyâropa Records)
- Stephanie Borgani – Mímica: Música para Quatro Instrumentos (Yb Music)
- Stephen Philip Harvey – Golden Hour (Hidden Cinema)
- Sullivan Fortner – Leave That In There (Artwork Records)
- Terence Collie – DNA (Adhyâropa Records)
- The Court at Versailles – Acoustic Electronica (Handcrafted Records)
- The Vinyl Session – The Vinyl Session (Self Produced)
- Zaccai Curtis – Sonoluminescence Vol. 1 (TRRcollective)
Banyaknya rilisan berkualitas tinggi pada bulan Agustus 2026 ini membuktikan bahwa industri musik jazz global tidak pernah kehabisan energi kreatif. Dari proyek solo yang intim hingga aransemen orkestra yang megah, setiap karya menawarkan pengalaman auditif yang unik bagi para pendengarnya. Kehadiran album-album ini tidak hanya memperkaya khazanah musik dunia, tetapi juga memberikan inspirasi baru bagi perkembangan musik jazz di masa depan. Pastikan Anda meluangkan waktu untuk mengeksplorasi karya-karya luar biasa ini di platform musik digital favorit Anda.
Jazz
Rifki Soeria dan Neea Rachma Ungkap Karya Baru di WartaJazz
Dua musisi jazz berbakat tanah air, Rifki Soeria dan Neea Rachma, menjadi sorotan utama dalam program WartaJazz Monday Launch edisi 119. Dalam kesempatan ini, keduanya membagikan kisah inspiratif serta proses kreatif di balik pembuatan karya terbaru mereka yang menghadirkan warna segar bagi kancah musik jazz Indonesia.
Melalui obrolan mendalam di panggung WartaJazz, para penikmat musik diajak untuk menyelami latar belakang pembuatan lagu, kolaborasi antar-musisi, hingga eksplorasi genre unik yang mereka usung. Kehadiran karya dari kedua musisi ini semakin memperkaya khazanah musik Tanah Air yang terus berkembang pesat dan semakin inklusif bagi berbagai kalangan pendengar.
Eksplorasi Romansa Bossa Nova dalam Lagu “Berdua Saja”
Rifki Soeria kembali menunjukkan produktivitasnya di belantika musik lewat peluncuran lagu terbaru bertajuk “Berdua Saja”. Dalam karya teranyarnya ini, Rifki menggaet penyanyi Keshya Valerie untuk mengeksekusi sebuah lagu duet yang kental dengan nuansa romantis. Lagu ini memadukan balutan musik Jazz Pop Indonesia dengan sentuhan Bossa Nova yang lembut, menghasilkan sensasi easy listening yang kaya akan nuansa nostalgia.
Gagasan awal penciptaan “Berdua Saja” lahir secara alami dari sebuah obrolan santai di studio antara Rifki Soeria dan Abraham Song. Dari diskusi organik tersebut, terciptalah sebuah komposisi yang merayakan momen-momen sederhana namun penuh kenyamanan saat seseorang jatuh cinta. Tanpa perlu narasi drama yang berlebihan, lagu ini berhasil menangkap esensi kasih sayang yang tulus, hangat, dan menenangkan.
Aransemen yang hangat serta alunan melodi yang mengalir membuat “Berdua Saja” menjadi pendamping yang sangat pas untuk berbagai situasi. Komposisi ini dirancang agar nyaman menemani perjalanan di malam hari, memberikan ketenangan saat beristirahat di rumah, maupun sekadar menjadi musik latar ketika bersantai bersama orang terdekat. Sentuhan Bossa Nova yang elegan berpadu harmonis dengan karakter vokal Keshya Valerie, menciptakan warna musik yang ramah di telinga pendengar awam maupun penikmat jazz setia.
Nuansa Dixieland Segar dalam “Waktu Takut Nonton Film Horor”
Sementara itu, Neea Rachma menghadirkan pendekatan musik yang tidak kalah menarik melalui lagu terbarunya yang berjudul unik, “Waktu Takut Nonton Film Horor”. Tak tanggung-tanggung, dalam proyek ini Neea melakukan kolaborasi lintas negara dengan menggamit pianis kenamaan asal Jepang, Yukako Yamano. Sinergi antara keahlian bermusik kedua seniman ini menghasilkan jalinan nada yang lincah, dinamis, dan penuh energi.
Keindahan lagu ini juga didukung oleh jajaran musisi andal yang mengisi instrumen pendukung. Ricky Firmansyah dipercaya untuk memegang posisi bass yang menjaga ritme tetap stabil, sementara Shaku Hachi mengisi dentuman drum yang mantap. Nuansa khas semakin diperkuat oleh permainan tiupan trompet dari Benn Yapari. Kolaborasi solid ini melahirkan karya bergenre Dixieland—gaya jazz klasik asal New Orleans yang dikenal dengan sifatnya yang riang, penuh improvisasi, serta kaya akan permainan instrumen tiup.
Meski mengusung genre Dixieland yang identik dengan struktur musik kompleks, Neea Rachma dan tim berhasil menyajikannya dengan lirik yang sangat sederhana dan membumi. Pendekatan ini membuat lagu “Waktu Takut Nonton Film Horor” menjadi sangat mudah dicerna oleh berbagai lapisan pendengar. Tema yang unik namun sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari berhasil dibungkus dengan aransemen yang ceria, membuktikan bahwa musik jazz bisa tampil jenaka, menyenangkan, dan tidak selalu terkesan rumit.
WartaJazz Monday Launch sebagai Ruang Apresiasi dan Inspirasi
Program WartaJazz Monday Launch edisi 119 memberikan wadah yang sangat krusial bagi para musisi untuk menceritakan kisah di balik layar dari karya-karya hebat mereka. Melalui platform ini, publik tidak hanya disuguhkan hasil akhir berupa rekaman audio, tetapi juga dibawa untuk memahami perjuangan, eksperimen, dan pemikiran kreatif yang melandasi lahirnya setiap karya seni.
Kehadiran kolaborasi internasional seperti yang dilakukan Neea Rachma bersama Yukako Yamano, serta eksplorasi genre lokal yang dibawakan Rifki Soeria, menegaskan bahwa ekosistem jazz di Indonesia sangat dinamis dan terbuka terhadap berbagai pengaruh positif. Pertukaran budaya dan ide musik seperti ini menjadi bukti bahwa jazz adalah bahasa universal yang mampu menyatukan berbagai elemen seni tanpa batasan geografis.
Bagi para penggemar yang penasaran dengan detail pembuatan lagu, perbincangan seru di dalam studio, serta rencana karier kedua musisi ini ke depan, tayangan WartaJazz Monday Launch edisi 119 menjadi tontonan yang sangat menginspirasi. Kehadiran karya-karya segar ini diharapkan dapat terus memicu semangat para musisi lokal untuk terus berkarya dan memperluas jangkauan musik jazz Indonesia di kancah nasional maupun internasional.
Musik2 minggu agoFeral Stripes Ajak Kabur dari Bumi Lewat “Rocket Ride”
Musik2 minggu agoDuo Billkiss Rilis Single Hipdut Terbaru “Wanna Be With My Bubu”
- Jazz1 minggu ago
Rifki Soeria dan Neea Rachma Ungkap Karya Baru di WartaJazz
Musik2 minggu agoThe Skit Merilis Album Perdana 1000 Kemungkinan tentang Dewasa Muda
Musik1 minggu agoRamengvrl Merilis Singel #COWOBARU untuk Menyambut Album Baru
Musik2 minggu agoLea Simanjuntak Rilis Single Terbaru ‘Ruang Di Hatimu’ Setelah Hiatus
Musik2 minggu agoSpeak Up Meluncurkan Single Terbaru Semua Akan Indah Pada Waktunya
Metal5 hari agoJohn Goblikon Menyebut Kebangkitan Musik Nu-Metal Sebagai Sinyal Resesi





