Musik
Falaci Rilis Singel Another Cycle Menuju Peluncuran Album Perdana

Unit musik elektronik alternatif asal Bogor, Falaci, secara resmi meluncurkan singel perdana mereka yang bertajuk “Another Cycle”. Perilisan karya terbaru ini menjadi momentum krusial bagi perjalanan karier musik mereka setelah sukses menarik perhatian pendengar melalui perilisan materi demo sebelumnya. Kehadiran lagu ini sekaligus membuka jalan bagi Falaci dalam merangkai rangkaian menuju peluncuran album penuh perdana mereka yang direncanakan meluncur pada akhir tahun 2026.
Proses Kreatif Panjang dan Kolaborasi Lintas Disiplin
Lagu “Another Cycle” bukanlah sebuah karya yang tercipta secara instan. Proses penulisan materi lagu ini sejatinya telah dimulai sejak tiga tahun yang lalu. Namun, karena tingginya kesibukan masing-masing personel di luar dunia musik, penggarapan aransemen lagu harus melewati proses bongkar pasang yang cukup alot dan memakan waktu panjang sebelum akhirnya benar-benar rampung dan siap diperdengarkan kepada publik.
Dalam proses perancangan dan produksinya, Falaci tidak berjalan sendiri. Mereka menggandeng sejumlah nama profesional di industri musik independen tanah air untuk mematangkan kualitas audio lagu ini. Posisi produser sekaligus penulis lagu dipegang oleh Afiandi D. Lacborra. Sementara itu, proses perekaman suara ditangani oleh Reney Karamoy selaku recording engineer, dengan bimbingan Stella Gareth yang bertindak sebagai pengarah vokal.
Kualitas tata suara lagu ini semakin disempurnakan melalui sentuhan Nabil Favian yang bertanggung jawab atas proses mixing, serta Reyner Ferdinand yang menggarap tahap akhir mastering. Kolaborasi yang solid antara para musisi dan teknisi audio ini berhasil menghasilkan karakter suara yang presisi, megah, dan mewakili visi bermusik Falaci secara utuh.
Introspeksi Diri di Tengah Dinamika Realitas Modern
Dari segi lirik dan pesan, “Another Cycle” menghadirkan narasi mendalam yang berfokus pada dinamika kehidupan masa kini. Lagu ini merupakan bentuk rangkuman dari hasil introspeksi para personel Falaci dalam menyikapi kondisi realitas modern yang dirasakan semakin hari semakin kompleks dan muram. Lewat balutan nada elektronik dan sentuhan alternatif, mereka mencoba menuangkan refleksi emosional tersebut menjadi sebuah sajian musik yang menggugah.
Perilisan karya ini juga ditandai dengan perubahan struktur dan kekuatan internal dalam tubuh Falaci. Saat ini, grup musik tersebut resmi menyambut dua personel baru, yakni Aliefta Widhiawan pada posisi gitar serta Devhara Carnadi yang memegang instrumen piano dan synth. Kehadiran dua anggota baru ini melengkapi formasi awal yang diisi oleh Naufal Dzaky (vokal dan synth), Arafat Zawaid (bas), dan Alfian Prasetyo (gitar).
Penambahan anggota baru ini memberikan nuansa aransemen yang lebih kaya dan dinamis. Eksplorasi bunyi piano serta lapisan synth yang lebih tebal diyakini mampu memperkuat fondasi musik Falaci, baik untuk rekaman studio maupun saat tampil di atas panggung.
Visual Memikat dan Rencana Besar di Panggung Musik
Tidak hanya berfokus pada kualitas audio, Falaci juga memberikan perhatian besar pada aspek visual penunjang singel ini. Penggarapan arahan visual dan video musik “Another Cycle” dipercayakan kepada Pandu Wiguna yang bertindak sebagai sutradara sekaligus pembuat sampul seni (artwork). Kerja visual ini didukung oleh Siswa Junianto dan Heta SR sebagai pengarah kamera (DOP), Gumilang Damar Budiman selaku art director, serta Stephany Azali yang mengabadikan foto profil resmi Falaci.
Kehadiran singel “Another Cycle” menjadi jembatan penting menuju masa depan Falaci. Keberhasilan demo berisi empat lagu yang mereka rilis pada Oktober 2025 lalu terbukti memberikan dorongan energi positif. Sambutan hangat dari para pencinta musik saat itu membawa Falaci tampil di berbagai panggung skala besar yang tak pernah mereka duga sebelumnya.
Pengalaman berharga tersebut kian memicu semangat Falaci untuk mematangkan karya-karya selanjutnya. Setelah merilis “Another Cycle”, grup ini telah menyusun agenda penampilan yang padat. Salah satu jadwal terdekat mereka adalah tampil dalam ajang festival musik bergengsi, Joyland Festival 2026, yang akan digelar pada bulan November mendatang. Selain itu, Falaci juga tengah mempersiapkan agenda showcase mandiri dan rangkaian tur konser yang siap direalisasikan pada tahun depan guna menyambut album debut mereka.
Musik
GUTTER CVLT Rilis Album Perdana HEXAKOSIOIHEXEKONTAHEXA

Unit musik ekstrem asal Medan, GUTTER CVLT, secara resmi meluncurkan album perdana mereka yang bertajuk HEXAKOSIOIHEXEKONTAHEXA. Mengusung genre blackened death grind, kuartet ini menghadirkan 12 lagu yang sarat dengan tensi tinggi, agresivitas tanpa kompromi, serta nuansa gelap yang pekat. Rilisan ini menjadi penanda penting dalam perjalanan karir musik mereka sejak pertama kali dibentuk pada tahun 2020 lalu.
Agresivitas Sonik dan Kombinasi Komposisi Gelap
Sejak awal kehadirannya di kancah musik bawah tanah, GUTTER CVLT secara konsisten membangun fondasi musikal yang berkarakter kuat. Dalam album HEXAKOSIOIHEXEKONTAHEXA, mereka memadukan dua elemen utama musik ekstrem, yaitu dinamika kencang khas death grind dan atmosfer kelam yang menjadi ciri khas black metal. Hasilnya adalah jajaran trek yang didominasi oleh ketukan blast beat berkecepatan tinggi, sapuan raungan vokal yang buas, serta struktur ritem gitar yang kasar dan menekan.
Setiap komposisi dalam album ini dirancang untuk menciptakan intensitas auditori yang terus-menerus memborbardir pendengar dari awal hingga akhir durasi. Tidak sekadar mengandalkan kecepatan dan tempo tinggi, penyusunan nada dan dinamika dalam 12 trek ini juga menonjolkan aura kekacauan, keputusasaan, dan kemarahan. Pendekatan estetika audio yang mentah namun padat mempertegas pesan sonik yang ingin disampaikan oleh GUTTER CVLT kepada para penikmat musik cadas di Indonesia.
Semangat DIY dan Jejak Pengalaman Panggung
Kehadiran GUTTER CVLT tidak bisa dilepaskan dari semangat kemandirian atau kultur Do-It-Yourself (DIY) yang melandasi gerakan musik underground. Musik yang mereka hasilkan lahir dari respons terhadap realitas, gejolak emosional, serta kehancuran yang diolah menjadi ledakan sonik tanpa ruang untuk kompromi. Identitas ini menjadi daya dorong utama dalam proses kreatif pembuatan album, mulai dari tahap penulisan lagu hingga proses produksi rekaman.
Karakter unik yang tertuang dalam rekaman studio ini juga berakar dari intensitas penampilan langsung mereka. Sebelum melepas album penuh ini, GUTTER CVLT telah menempa kualitas penampilannya melalui berbagai pertunjukan lokal di Medan. Pengalaman memanaskan panggung skala kecil hingga kesempatan berbagi panggung dengan berbagai band tur dari luar daerah menjadi kawah candradimuka yang mengasah ketajaman serta energi elektritisasi aksi panggung mereka.
Kolaborasi Musisi Skena dan Formasi Personel
GUTTER CVLT digawangi oleh empat personel yang sudah tidak asing lagi dalam ekosistem musik ekstrem di Sumatra Utara. Formasi ini diisi oleh Slushgaze Astaroth pada lini vokal, Empusa Vinkag pada gitar, Kym Urzak pada bas, serta Zikdat Brimstone di posisi drum. Kolektivitas para anggota ini memberikan warna tersendiri mengingat masing-masing personel memiliki latar belakang dan keterlibatan aktif di proyek musik lainnya.
Beberapa anggota GUTTER CVLT tercatat turut memperkuat kelompok musik bawah tanah lainnya seperti Muntah Kawat, Parabangsat, Projecterror, dan Gergaji Beton. Silang keterlibatan ini memperkaya referensi musikal mereka sekaligus mempertegas solidaritas antar-musisi dalam menjaga denyut nadi skena independen lokal agar tetap hidup dan berkembang.
Pijakan Baru Bagi Skena Musik Ekstrem Medan
Kota Medan secara historis dikenal sebagai salah satu titik penting dalam peta perkembangan musik metal dan punk di Indonesia. Kehadiran album HEXAKOSIOIHEXEKONTAHEXA karya GUTTER CVLT menjadi bukti bahwa regenerasi serta kreativitas pelaku musik ekstrem di kawasan tersebut tetap berjalan dinamis. Rilisan ini memberi pasokan energi segar bagi komunitas bawah tanah yang terus bertahan secara mandiri.
Dengan diluncurkannya album penuh pertama ini, GUTTER CVLT tidak hanya menegaskan pijakan awal perjalanan diskografi mereka, tetapi juga membuka peluang lebih luas untuk menjangkau pendengar di luar wilayah Medan. Album ini diproyeksikan menjadi pendorong utama bagi mereka untuk melakukan ekspansi panggung dan terus bergerak secara konsisten di jalur musik ekstrem Tanah Air.
Metal
Noctule Bersiap Merilis Album Black Metal Epik Extinguish Thy Flame

Serena Cherry, musisi multi-instrumentalis yang sebelumnya dikenal melalui band post-metal Svalbard, bersiap untuk meluncurkan album solo keduanya di bawah proyek black metal miliknya, Noctule. Album bertajuk Extinguish Thy Flame ini dijadwalkan rilis pada tanggal 25 September mendatang. Karya terbaru ini menandai babak baru dalam perjalanan karier Serena, menyajikan sebuah mahakarya epik yang memadukan kegelapan musik ekstrem dengan narasi fantasi yang megah.
Melarikan Diri ke Dunia Fantasi Elden Ring
Dalam band lamanya, Svalbard, Serena Cherry sering kali menulis lirik yang sangat personal dan emosional, membahas realitas kehidupan yang keras seperti kesehatan mental, trauma, dan pelecehan. Namun, melalui Noctule, Serena menemukan ruang untuk melarikan diri dari kenyataan pahit tersebut dan masuk ke dalam dunia fantasi yang luas. Jika album debut Noctule pada tahun 2021, Wretched Abyss, sangat dipengaruhi oleh game RPG legendaris Skyrim dan ditulis di tengah masa karantina pandemi Covid-19, maka album kedua ini mengambil inspirasi dari mahakarya game lainnya, yaitu Elden Ring.
Serena mengungkapkan bahwa bermain Elden Ring membantunya melewati masa-masa sulit saat berjuang melawan depresi yang mendalam. Dalam album Extinguish Thy Flame, ia mengambil sudut pandang unik dari para karakter bos tangguh yang ada di dalam game tersebut. Pendekatan tematis ini memberikan kedalaman narasi yang luar biasa, mengubah setiap lagu menjadi sebuah pertempuran epik yang layak menjadi lagu tema film layar lebar beranggaran besar.
Komposisi Mandiri dan Pengaruh Musik Ekstrem
Sama seperti album debutnya, Serena Cherry kembali menunjukkan kehebatannya dengan memainkan seluruh instrumen secara mandiri dalam proses rekaman album ini. Dari departemen gitar, bass, drum, hingga vokal utama, semuanya dikerjakan sendiri oleh Serena di dalam studio. Hal ini membuktikan dedikasi dan bakat luar biasanya sebagai salah satu musisi metal perempuan paling menonjol di kancah musik ekstrem saat ini.
Secara musikal, Extinguish Thy Flame menawarkan identitas yang jauh lebih matang dan berkarakter dibandingkan pendahulunya. Jika album pertama masih terdengar mirip dengan bagian-bagian terberat dari Svalbard, album baru ini berhasil memadukan berbagai pengaruh musik ekstrem dengan sangat apik. Pendengar akan disuguhkan dengan kombinasi permainan gitar yang tajam khas Arch Enemy, yang kemudian dipadukan dengan atmosfer apokaliptik yang megah layaknya legenda black metal asal Norwegia, Emperor.
Lagu pembuka yang berjudul “Devour The Gods” langsung menggebrak dengan teriakan perang yang liar di atas riff death/thrash metal yang agresif. Liriknya yang teatrikal dan penuh citra kolosal menggambarkan pertempuran sengit melawan dewa-dewa penguasa. Sementara itu, lagu “Grafted” mempertegas nuansa simfoni black metal dengan menghadirkan gesekan biola yang mencekam dan keyboard yang gelap, sebelum akhirnya meledak menjadi ketukan tremolo yang dingin. Lagu-lagu lain seperti “Lament Of The Omen King” menampilkan teknik melodeath tapping yang rumit, sedangkan “Age Of The Stars” menyajikan lapisan vokal yang megah dan berlapis-lapis.
Momentum Sempurna Setelah Era Svalbard
Perilisan album Extinguish Thy Flame ini hadir di saat yang sangat krusial bagi perjalanan karier Serena Cherry. Band utamanya, Svalbard, baru saja menyelesaikan penampilan terakhir mereka dan memutuskan untuk tidak aktif lagi, hanya satu bulan sebelum album solo ini dijadwalkan rilis. Album terakhir Svalbard yang bertajuk The Weight Of The Mask dirilis pada tahun 2023 dan mendapat banyak pujian, namun kini fokus sepenuhnya beralih kepada proyek solo Noctule.
Kehadiran album ini membuktikan bahwa Serena mampu berdiri sendiri dan bersinar terang di luar bayang-bayang band lamanya. Dengan aransemen yang lebih megah dan konsep yang matang, Noctule bukan lagi sekadar proyek sampingan untuk mengisi waktu luang, melainkan sebuah kekuatan baru yang patut diperhitungkan di kancah musik metal internasional. Bagi para penggemar musik ekstrem yang menyukai perpaduan antara agresi black metal dan keindahan simfoni fantasi, album ini akan menjadi salah satu rilisan paling dinantikan tahun ini.
Secara keseluruhan, Extinguish Thy Flame bukan hanya sebuah album musik biasa, melainkan sebuah perjalanan sinematik yang membawa pendengarnya ke tengah medan pertempuran fantasi yang gelap dan menegangkan. Dengan dedikasi Serena Cherry yang luar biasa dalam meramu musik dan konsep, album ini siap menjadi salah satu karya black metal paling epik di era modern.
Metal
Wanita Ini Mencabut Undangan Pernikahan Akibat Pacar Temannya Bela Tim Lambesis

Dilema seputar etika menghadiri pesta pernikahan kerap muncul dalam berbagai bentuk, namun sebuah kisah terbaru dari komunitas musik heavy metal menghadirkan skenario yang sangat tak biasa. Seorang calon pengantin wanita membagikan pengalamannya di kolom diskusi MetalSucks setelah ia memutuskan untuk mencabut fasilitas undangan tambahan (+1) milik sahabatnya. Keputusan drastis ini diambil lantaran kekasih baru sang sahabat menyampaikan pernyataan yang dinilai sangat mengkhawatirkan terkait kasus kriminal yang melibatkan vokalis ternama, Tim Lambesis.
Kisah ini bermula ketika sang calon pengantin, yang mengidentifikasikan dirinya dan pasangannya sebagai penggemar berat musik metal, sedang mempersiapkan hari bahagianya. Demi memastikan para tamu dapat menikmati acara tanpa merasa canggung, ia memberikan hak untuk membawa pasangan atau pendamping kepada seluruh tamu yang diundang, meskipun biaya penyelenggaraan acara terbilang sangat mahal. Namun, kehadiran seorang pria baru dalam lingkaran pertemanan mereka justru memicu konflik emosional yang berdampak langsung pada daftar tamu pernikahan tersebut.
Perdebatan Musik Metal yang Berujung Konflik Personal
Pengirim cerita, yang menggunakan nama pengguna “AsIxLayCry1ng”, menceritakan kronologi kejadian yang berawal dari sesi kumpul santai di sebuah bar. Temannya, yang diberi nama samaran Evie, memperkenalkan kekasih barunya yang bernama Matt kepada kelompok pertemanan mereka. Pada awal pertemuan, Matt tampak ramah dan menyenangkan, meskipun menunjukkan beberapa perilaku yang tergolong unik. Namun, suasana berubah drastis ketika pembicaraan mulai memasuki topik musik favorit.
Ketika melihat calon pengantin mengenakan kaus band metal Darkest Hour, Matt mengungkapkan bahwa ia juga menyukai musik keras dan menyebut proyek sampingan bertema komedi, Austrian Death Machine, sebagai salah satu grup favoritnya. Diskusi tersebut dengan cepat mengarah pada grup musik utama pendiri proyek tersebut, yakni As I Lay Dying. Pertanyaan biasa mengenai selera musik berubah menjadi perdebatan sengit ketika calon pengantin menanyakan bagaimana Matt masih bisa mendukung karya musik tersebut mengingat rekam jejak kelam sang vokalis, Tim Lambesis.
Tanggapan yang diberikan oleh Matt membuat semua orang yang hadir terperanjat. Pria tersebut secara terbuka menyatakan bahwa ia menganggap Tim Lambesis tidak melakukan kesalahan apa pun, seraya melontarkan klaim kontroversial bahwa setiap orang pada dasarnya pernah memiliki dorongan untuk menyakiti atau membunuh pasangannya. Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari calon pengantin dan tunangannya yang menegaskan bahwa pemikiran semacam itu sama sekali tidak normal dan tidak dapat ditoleransi dalam sebuah hubungan yang sehat.
Rekam Jejak Kasus Hukum Tim Lambesis dan Sensitivitas Isunya
Untuk memahami besarnya dampak dari perdebatan ini, penting untuk melihat latar belakang kasus hukum yang melibatkan Tim Lambesis, vokalis utama dari band metalcore legendaris As I Lay Dying. Pada tahun 2013, dunia musik internasional diguncang oleh kabar penangkapan Lambesis atas tuduhan percobaan pembunuhan berencana terhadap istrinya saat itu. Lambesis terbukti mencoba menyewa seorang detektif kepolisian yang menyamar sebagai pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawa sang istri.
Atas perbuatannya, Lambesis dijatuhi hukuman penjara pada tahun 2014 dan menjalani masa tahanan sebelum akhirnya dibebaskan bersyarat pada akhir tahun 2016. Kasus ini menjadi salah satu skandal paling menyita perhatian dalam sejarah musik heavy metal modern, memicu perdebatan panjang di kalangan penggemar mengenai batas antara mengagumi karya seni dan mendukung tindakan kriminal pelakunya secara moral. Sementara sebagian penggemar memilih untuk tetap mendengarkan musiknya, mayoritas komunitas mengecam keras tindakan kekerasan dalam rumah tangga dan percobaan pembunuhan yang dilakukannya.
Sikap Matt yang tidak hanya terus mendengarkan musiknya, tetapi juga secara aktif meremehkan tindakan kriminal serta dugaan kekerasan yang dilakukan Lambesis sebagai “urusan pribadi pasangan suami istri yang biasa”, dinilai oleh sang calon pengantin sebagai ancaman nyata terhadap norma keselamatan dan moralitas dasar. Apalagi, sahabatnya yang bernama Evie memilih untuk berdiam diri dan justru memaklumi ucapan kekasihnya sebagai sekadar gurauan belaka.
Dilema Batasan Etika Tamu Pernikahan dan Keputusan Akhir
Setelah perselisihan hebat di bar tersebut yang berujung pada adu mulut, calon pengantin wanita menyadari bahwa tindakannya yang melontarkan kata-kata kasar malam itu kurang bijaksana. Pada hari berikutnya, ia menyampaikan permohonan maaf kepada Evie atas ucapan emosionalnya. Namun, ia tetap memegang teguh pendiriannya terkait keselamatan dan kenyamanan suasana di pesta pernikahannya kelak.
Ia menyampaikan syarat tegas kepada Evie: jika Matt adalah orang yang berniat diikutkan sebagai pendamping, maka fasilitas akses tamu tambahan (+1) untuk Evie secara resmi dicabut. Langkah ini diambil karena ia tidak ingin menghabiskan hari istimewanya di samping seseorang yang membenarkan tindakan kekerasan ekstrim terhadap pasangan. Respons dari Evie justru semakin memperkeruh suasana, di mana sang sahabat mengancam tidak akan menghadiri pernikahan tersebut sama sekali jika kekasihnya dilarang hadir.
Situasi ini menghadirkan refleksi mendalam mengenai dinamika pertemanan dan batas toleransi pribadi. Bagi seorang calon pengantin, pesta pernikahan bukan sekadar acara perayaan, melainkan ruang aman yang diisi oleh orang-orang yang mendukung nilai-nilai positif dan saling menghormati. Momen ini menunjukkan bahwa perbedaan pandangan terhadap isu-isu krusial, seperti kekerasan dalam rumah tangga dan keselamatan pasangan, dapat berdampak langsung pada kelangsungan hubungan pertemanan di dunia nyata.
Musik2 minggu agoFeral Stripes Ajak Kabur dari Bumi Lewat “Rocket Ride”
- Jazz1 minggu ago
Rifki Soeria dan Neea Rachma Ungkap Karya Baru di WartaJazz
Musik2 minggu agoLea Simanjuntak Rilis Single Terbaru ‘Ruang Di Hatimu’ Setelah Hiatus
Musik1 minggu agoRamengvrl Merilis Singel #COWOBARU untuk Menyambut Album Baru
Musik2 minggu agoSpeak Up Meluncurkan Single Terbaru Semua Akan Indah Pada Waktunya
Metal5 hari agoJohn Goblikon Menyebut Kebangkitan Musik Nu-Metal Sebagai Sinyal Resesi
Metal2 minggu agoAnggota Band Metal Perdebatkan Rencana Mengganti Pendiri yang Dipenjara
- Jazz5 hari ago
Sandhy Sondoro Menghadirkan Konser A Soulful Odyssey di Berlin






