Connect with us

Musik

Dinda Ghania Rilis Single “Half of Me” Tentang Akhir Hubungan

Published

on

Penyanyi muda Dinda Ghania kembali menghadirkan karya terbaru yang menyentuh hati setelah sebelumnya merilis single “Bad Connection”. Kali ini, Dinda Ghania memperkenalkan lagu berjudul “Half of Me” yang dirilis secara resmi pada 4 Juli 2026, mengangkat tema emosional tentang kehilangan dan patah hati yang mendalam.

Konsep dan Makna Lagu “Half of Me”

“Half of Me” menghadirkan perspektif yang sangat personal tentang pengalaman kehilangan seseorang yang dicintai. Lagu ini bercerita tentang seseorang yang telah memberikan segalanya untuk orang yang disayang, namun pada akhirnya hubungan tersebut tetap berakhir. Menurut Dinda Ghania, makna mendalam dari lagu ini adalah perasaan kehilangan yang tidak hanya menyangkut orang yang dicintai, tetapi juga kehilangan sebagian dari diri sendiri. Ketika sebuah hubungan berakhir, seseorang tidak hanya meninggalkan orang lain, tetapi juga meninggalkan bagian penting dari identitas dan kepribadian mereka yang telah terbentuk selama hubungan tersebut berlangsung.

Dinda Ghania menjelaskan dengan detail bahwa lagu ini lahir dari keinginannya untuk menceritakan pengalaman kehilangan dari sudut pandang yang lebih intim dan relatable. Ia berharap bahwa “Half of Me” dapat menjadi teman bagi siapa pun yang sedang menghadapi fase kehilangan atau patah hati. Melalui lirik-lirik yang jujur dan emosional, Dinda Ghania ingin menyampaikan pesan bahwa tidak apa-apa untuk merasakan semua emosi yang datang, karena itu adalah bagian alami dari proses penyembuhan. Dengan cara ini, ia berharap pendengar yang sedang berjuang dengan kehilangan dapat merasa lebih dimengerti dan menyadari bahwa mereka tidak sendirian dalam perjalanan mereka.

Proses Kreatif dan Kolaborasi Musisi

Dalam menghadirkan “Half of Me”, Dinda Ghania kembali berkolaborasi dengan Josh Cumbee sebagai music producer dan arranger, serta Gaston Pong sebagai rekan penulis lirik. Kolaborasi ini merupakan kelanjutan dari kesuksesan mereka dalam menciptakan “Bad Connection”, namun kali ini dengan pendekatan musikal yang sama sekali berbeda. Jika “Bad Connection” dibangun dengan nuansa modern pop yang dinamis dan sentuhan dance-pop yang energik, “Half of Me” justru hadir dengan pendekatan yang lebih minimalis dan intim.

Josh Cumbee memilih untuk membangun fondasi aransemen “Half of Me” dengan menggunakan gitar akustik dan piano sebagai instrumen utama. Pilihan ini bukan kebetulan, melainkan strategi kreatif yang disengaja untuk memberikan ruang yang lebih luas bagi emosi dalam setiap lirik agar dapat berbicara dengan lebih jelas dan menyentuh. Aransemen yang sederhana ini menjadi kekuatan utama lagu, karena permainan melodi dan pilihan notasi yang dibangun Josh Cumbee menciptakan atmosfer yang hangat sekaligus melankolis. Kombinasi ini memungkinkan karakter vokal Dinda Ghania yang dibawakan secara natural untuk bersinar, membuat setiap bagian lagu terasa lebih intim dan personal bagi pendengar.

Perbedaan Gaya Musik dengan Single Sebelumnya

Perbedaan signifikan antara “Half of Me” dan “Bad Connection” terletak pada filosofi aransemen dan pendekatan emosional. Dinda Ghania sendiri mengakui bahwa kedua lagu ini memiliki karakter yang sangat berbeda. Sementara “Bad Connection” menggunakan elemen-elemen modern pop dengan beat yang lebih kuat dan sentuhan dance-pop yang membuat lagu terasa lebih energik dan dinamis, “Half of Me” mengambil pendekatan yang lebih stripped-down dan vulnerable. Dominasi gitar akustik dan piano dalam “Half of Me” menciptakan suasana yang lebih intim, memungkinkan pendengar untuk benar-benar terhubung dengan emosi yang disampaikan dalam setiap baris lirik.

Pilihan untuk menggunakan aransemen yang lebih sederhana ini menunjukkan pertumbuhan artistik Dinda Ghania sebagai penyanyi. Ia tidak hanya mampu membawakan lagu-lagu yang energik dan catchy, tetapi juga mampu mengeksplorasi dimensi emosional yang lebih dalam melalui pendekatan musik yang lebih vulnerable. Dengan cara ini, Dinda Ghania menunjukkan bahwa ia memiliki jangkauan vokal dan interpretasi yang luas, mampu beradaptasi dengan berbagai gaya musik sambil tetap mempertahankan identitas artistiknya yang unik.

Momentum Peluncuran dan Penampilan di Festival

Peluncuran “Half of Me” menjadi semakin istimewa karena bertepatan dengan penampilan Dinda Ghania di Prambanan Jazz Festival 2026. Momentum ini menjadi langkah strategis bagi Dinda Ghania untuk memperkenalkan karya terbarunya kepada publik yang lebih luas, terutama kepada penggemar musik jazz dan pendengar yang menghargai musik dengan pendekatan yang lebih artistik dan sophisticated. Prambanan Jazz Festival merupakan salah satu festival musik terkemuka di Indonesia yang menarik perhatian penggemar musik dari berbagai kalangan dan latar belakang.

Lagu “Half of Me” sudah dapat dinikmati di seluruh platform streaming digital sejak 4 Juli 2026, sementara video klip telah dirilis melalui kanal YouTube resmi Dinda Ghania. Dengan ketersediaan di berbagai platform, lagu ini dapat diakses dengan mudah oleh pendengar di mana pun mereka berada, memungkinkan pesan dan emosi yang terkandung dalam lagu untuk menjangkau audiens yang lebih luas.

Perjalanan Karier Dinda Ghania

Dinda Ghania, yang lahir di Jakarta pada 10 November 2009, merupakan penyanyi dan aktris Gen Z yang telah memulai karier profesionalnya sejak 2020. Meskipun masih muda, Dinda Ghania telah menunjukkan dedikasi yang luar biasa terhadap seni musik dan seni peran. Dalam perjalanan kariernya, ia telah merilis berbagai karya orisinal yang menunjukkan pertumbuhan artistik yang konsisten, termasuk “Unfinished” (2024), “Backseat Memories” (2025), “Here’s To Us” (2025), dan “Bad Connection” (2026).

Selain karya-karya orisinalnya, Dinda Ghania juga dikenal melalui berbagai kolaborasi dengan musisi lintas generasi, menunjukkan kemampuannya untuk bekerja dengan artis-artis berpengalaman. Kolaborasi-kolaborasi ini meliputi kerja sama dengan Melly Goeslaw, Yovie Widianto, dan Ariel NOAH, yang semuanya merupakan musisi ternama di industri musik Indonesia. Di dunia seni peran, Dinda Ghania turut membintangi film “Adagium” (2023), menunjukkan bahwa bakat dan potensinya tidak terbatas hanya pada musik saja. Dengan terus mengembangkan karya-karyanya dan berkolaborasi dengan berbagai artis, Dinda Ghania memposisikan dirinya sebagai salah satu talenta muda yang paling menjanjikan dalam industri hiburan Indonesia.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Metal

Wanita Ini Mencabut Undangan Pernikahan Akibat Pacar Temannya Bela Tim Lambesis

Published

on

Dilema seputar etika menghadiri pesta pernikahan kerap muncul dalam berbagai bentuk, namun sebuah kisah terbaru dari komunitas musik heavy metal menghadirkan skenario yang sangat tak biasa. Seorang calon pengantin wanita membagikan pengalamannya di kolom diskusi MetalSucks setelah ia memutuskan untuk mencabut fasilitas undangan tambahan (+1) milik sahabatnya. Keputusan drastis ini diambil lantaran kekasih baru sang sahabat menyampaikan pernyataan yang dinilai sangat mengkhawatirkan terkait kasus kriminal yang melibatkan vokalis ternama, Tim Lambesis.

Kisah ini bermula ketika sang calon pengantin, yang mengidentifikasikan dirinya dan pasangannya sebagai penggemar berat musik metal, sedang mempersiapkan hari bahagianya. Demi memastikan para tamu dapat menikmati acara tanpa merasa canggung, ia memberikan hak untuk membawa pasangan atau pendamping kepada seluruh tamu yang diundang, meskipun biaya penyelenggaraan acara terbilang sangat mahal. Namun, kehadiran seorang pria baru dalam lingkaran pertemanan mereka justru memicu konflik emosional yang berdampak langsung pada daftar tamu pernikahan tersebut.

Perdebatan Musik Metal yang Berujung Konflik Personal

Pengirim cerita, yang menggunakan nama pengguna “AsIxLayCry1ng”, menceritakan kronologi kejadian yang berawal dari sesi kumpul santai di sebuah bar. Temannya, yang diberi nama samaran Evie, memperkenalkan kekasih barunya yang bernama Matt kepada kelompok pertemanan mereka. Pada awal pertemuan, Matt tampak ramah dan menyenangkan, meskipun menunjukkan beberapa perilaku yang tergolong unik. Namun, suasana berubah drastis ketika pembicaraan mulai memasuki topik musik favorit.

Ketika melihat calon pengantin mengenakan kaus band metal Darkest Hour, Matt mengungkapkan bahwa ia juga menyukai musik keras dan menyebut proyek sampingan bertema komedi, Austrian Death Machine, sebagai salah satu grup favoritnya. Diskusi tersebut dengan cepat mengarah pada grup musik utama pendiri proyek tersebut, yakni As I Lay Dying. Pertanyaan biasa mengenai selera musik berubah menjadi perdebatan sengit ketika calon pengantin menanyakan bagaimana Matt masih bisa mendukung karya musik tersebut mengingat rekam jejak kelam sang vokalis, Tim Lambesis.

Tanggapan yang diberikan oleh Matt membuat semua orang yang hadir terperanjat. Pria tersebut secara terbuka menyatakan bahwa ia menganggap Tim Lambesis tidak melakukan kesalahan apa pun, seraya melontarkan klaim kontroversial bahwa setiap orang pada dasarnya pernah memiliki dorongan untuk menyakiti atau membunuh pasangannya. Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari calon pengantin dan tunangannya yang menegaskan bahwa pemikiran semacam itu sama sekali tidak normal dan tidak dapat ditoleransi dalam sebuah hubungan yang sehat.

Rekam Jejak Kasus Hukum Tim Lambesis dan Sensitivitas Isunya

Untuk memahami besarnya dampak dari perdebatan ini, penting untuk melihat latar belakang kasus hukum yang melibatkan Tim Lambesis, vokalis utama dari band metalcore legendaris As I Lay Dying. Pada tahun 2013, dunia musik internasional diguncang oleh kabar penangkapan Lambesis atas tuduhan percobaan pembunuhan berencana terhadap istrinya saat itu. Lambesis terbukti mencoba menyewa seorang detektif kepolisian yang menyamar sebagai pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawa sang istri.

Atas perbuatannya, Lambesis dijatuhi hukuman penjara pada tahun 2014 dan menjalani masa tahanan sebelum akhirnya dibebaskan bersyarat pada akhir tahun 2016. Kasus ini menjadi salah satu skandal paling menyita perhatian dalam sejarah musik heavy metal modern, memicu perdebatan panjang di kalangan penggemar mengenai batas antara mengagumi karya seni dan mendukung tindakan kriminal pelakunya secara moral. Sementara sebagian penggemar memilih untuk tetap mendengarkan musiknya, mayoritas komunitas mengecam keras tindakan kekerasan dalam rumah tangga dan percobaan pembunuhan yang dilakukannya.

Sikap Matt yang tidak hanya terus mendengarkan musiknya, tetapi juga secara aktif meremehkan tindakan kriminal serta dugaan kekerasan yang dilakukan Lambesis sebagai “urusan pribadi pasangan suami istri yang biasa”, dinilai oleh sang calon pengantin sebagai ancaman nyata terhadap norma keselamatan dan moralitas dasar. Apalagi, sahabatnya yang bernama Evie memilih untuk berdiam diri dan justru memaklumi ucapan kekasihnya sebagai sekadar gurauan belaka.

Dilema Batasan Etika Tamu Pernikahan dan Keputusan Akhir

Setelah perselisihan hebat di bar tersebut yang berujung pada adu mulut, calon pengantin wanita menyadari bahwa tindakannya yang melontarkan kata-kata kasar malam itu kurang bijaksana. Pada hari berikutnya, ia menyampaikan permohonan maaf kepada Evie atas ucapan emosionalnya. Namun, ia tetap memegang teguh pendiriannya terkait keselamatan dan kenyamanan suasana di pesta pernikahannya kelak.

Ia menyampaikan syarat tegas kepada Evie: jika Matt adalah orang yang berniat diikutkan sebagai pendamping, maka fasilitas akses tamu tambahan (+1) untuk Evie secara resmi dicabut. Langkah ini diambil karena ia tidak ingin menghabiskan hari istimewanya di samping seseorang yang membenarkan tindakan kekerasan ekstrim terhadap pasangan. Respons dari Evie justru semakin memperkeruh suasana, di mana sang sahabat mengancam tidak akan menghadiri pernikahan tersebut sama sekali jika kekasihnya dilarang hadir.

Situasi ini menghadirkan refleksi mendalam mengenai dinamika pertemanan dan batas toleransi pribadi. Bagi seorang calon pengantin, pesta pernikahan bukan sekadar acara perayaan, melainkan ruang aman yang diisi oleh orang-orang yang mendukung nilai-nilai positif dan saling menghormati. Momen ini menunjukkan bahwa perbedaan pandangan terhadap isu-isu krusial, seperti kekerasan dalam rumah tangga dan keselamatan pasangan, dapat berdampak langsung pada kelangsungan hubungan pertemanan di dunia nyata.

Continue Reading

Musik

Buitenstage Vol. 15 Menghadirkan NAVA, TB AJI, dan ABDIMUDA di Bogor

Published

on

Program panggung musik dwi-mingguan Buitenstage kembali menyapa para pencinta musik Tanah Air melalui gelaran teranyarnya, Buitenstage Vol. 15. Acara yang berlangsung di Kopi Wangsa, Bogor, pada Kamis, 17 September 2026 ini sukses menyatukan musisi independen, komunitas, media, dan pendengar dalam satu ruang apresiasi yang hangat.

Diinisiasi oleh Buitenfest bekerja sama dengan label dan manajemen Cadaazz Pustaka Musik, Buitenstage Vol. 15 hadir secara konsisten sebagai wadah penampil bagi para musisi yang tengah mempromosikan materi musik terbaru mereka secara langsung. Tidak sekadar menjadi panggung pertunjukan biasa, program ini dirancang sebagai titik temu yang memperkuat jejaring ekosistem musik lokal.

Tiga Warna Musik dalam Satu Panggung Pertunjukan

Pada edisi ke-15 ini, Buitenstage menyajikan keberagaman genre dan latar belakang musikal dengan menghadirkan tiga penampil utama, yakni NAVA, TB AJI, dan ABDIMUDA. Ketiga musisi tersebut sukses memberikan energi yang berbeda namun saling melengkapi sepanjang malam pertunjukan.

Grup musik independen asal Cibubur, Jakarta Timur, NAVA, menjadi salah satu penampil yang menyedot perhatian penonton. Terbentuk sejak 15 April 2025 dari jalinan persahabatan bangku sekolah dasar, NAVA tampil membawakan lagu-lagu dari EP perdana mereka Rayakan Dunia Baru serta rilisan teranyar bertajuk “Tak Ada Lagi” yang baru saja dilepas ke pasaran pada 9 September 2026. Aksi panggung mereka membuktikan bagaimana karya yang masih sangat baru dapat langsung menemukan audiensnya secara nyata di atas panggung.

Sementara itu, solois asal Bandung, TB AJI, membawa nuansa pop emosional berbalut R&B modern. Mengawali karier solonya sejak tahun 2022 lewat lagu “Tukar Rasa”, TB AJI kini tampil lebih segar dan energik melalui single terbarunya, “Ternyata Dia (Orangnya)”. Pendekatan musik yang lebih riang dan interaktif sukses mengajak penonton yang hadir di Kopi Wangsa untuk bernyanyi bersama dalam suasana pertunjukan yang intim.

Melengkapi jajaran penampil, musisi solo asal Jakarta, ABDIMUDA, turut membagikan perjalanan musiknya lewat deretan lagu dari EP debut bertajuk Belum Usai yang dirilis Juni 2026. Penampilan ABDIMUDA menjadi momentum penting baginya untuk memperkenalkan karakter musikalnya secara langsung sekaligus membangun ikatan yang lebih dekat dengan para penikmat musik di Bogor dan sekitarnya.

Sinergi Media dan Komunitas dalam Ekosistem Musik

Keberhasilan Buitenstage Vol. 15 tidak lepas dari dukungan penuh ekosistem media musik dan komunitas lokal. Program ini memposisikan media partner bukan hanya sebagai saluran publikasi formal, melainkan sebagai bagian tak terpisahkan dari pemangku kepentingan dalam memajukan industri musik independen.

Melalui publikasi editorial, berita digital, dan promosi media sosial dari belasan media partner—termasuk di antaranya iMusic ID, Berisik Radio, Cadaazz.com, Boleh Music, Dapur Letter, Warlok Bogor, hingga KISI FM Bogor—karya-karya para musisi dapat menjangkau pendengar yang jauh lebih luas melebihi batas area pertunjukan.

Fransiskus Eko dari Cadaazz Pustaka Musik menegaskan bahwa kolaborasi lintas lini ini merupakan kunci utama dalam menjaga keberlangsungan ruang kreatif musisi. Menurutnya, sinergi yang terbangun antara musisi, media, dan komunitas membuat pergerakan musik tidak berhenti saat acara usai, melainkan terus bergulir membentuk jejaring yang produktif dan saling mendukung.

Menjaga Ruang Pertunjukan Musik Independen Tetap Hidup

Di tengah maraknya era konsumsi musik secara digital, keberadaan panggung fisik seperti Buitenstage memberikan nilai tambah yang sangat krusial bagi musisi independen. Proses penyampaian karya secara langsung di atas panggung memberikan pengalaman emosional yang tidak dapat digantikan oleh platform pemutar musik digital semata.

Nanang Yuswanto dari Buitenfest mengungkapkan bahwa Buitenstage dirancang untuk terus berkembang dan tidak sekadar menjadi acara pertunjukan reguler. Komitmen ini dihadirkan agar setiap karya yang diluncurkan oleh musisi memiliki ruang bertumbuh, diuji langsung di depan pendengar, serta memicu potensi kolaborasi baru di masa depan.

Dengan konsistensi penyelenggaraan yang terus dijaga, Buitenstage Vol. 15 kembali membuktikan pentingnya keberadaan ruang temu kreatif di daerah seperti Bogor. Sinergi antara talenta baru, dukungan media, dan antusiasme komunitas menjadi modal utama dalam menciptakan ekosistem musik Indonesia yang berkelanjutan, inklusif, dan terus berkembang.

Continue Reading

Jazz

The Papandayan Jazz Festival 2026 Siap Menghadirkan Puluhan Musisi Lintas Generasi

Published

on

Pecinta musik jazz di tanah air bersiaplah untuk menyambut salah satu perhelatan musik paling dinantikan tahun ini. The Papandayan Jazz Festival (TPJF) 2026 siap kembali memanjakan para penikmat musik selama dua hari berturut-turut, tepatnya pada tanggal 3 hingga 4 Oktober 2026. Bertempat di hotel bintang lima yang ikonik, The Papandayan Hotel Bandung, festival ini akan menghadirkan puluhan musisi lintas genre yang tersebar di enam area panggung yang berbeda.

Jadwal Tampil Hari Pertama: Kolaborasi Legendaris dan Nuansa Klasik

Pada hari pertama, Sabtu, 3 Oktober 2026, TPJF langsung menggebrak dengan deretan penampil papan atas di berbagai panggung. Di panggung utama, Kota Baru Parahyangan Stage yang terletak di Suagi Grand Ballroom, penonton akan disuguhi penampilan spesial “Tribute to Koes Plus” oleh The Gentlemen’s Club yang beranggotakan Adikara, Bilal, dan Teza. Tidak kalah menarik, diva legendaris Ruth Sahanaya serta kolaborasi apik antara Diskoria dan Andien juga dipastikan akan mengguncang panggung utama ini.

Sementara itu, di BRI Stage yang bertempat di HuruBatu Grill Garden, penonton dapat menikmati penampilan dari Sea Dreams, Smoove, Ambon Jazz Rock oleh Barry Likumahuwa, Rieka Roslan yang berkolaborasi dengan Lalahuta, serta Batavia Collective. Bagi penikmat jazz dengan nuansa yang lebih intim, RON88 Stage di Cimanuk Ballroom menyajikan SFG, SimakDialog, Bandung Tempo Doeloe oleh Gege Gumilar Band bersama Tiara Effendy dan Yerry T-Five, serta Arumtala.

Area TP Stage di lantai dasar akan diisi oleh sesi edukatif Master Class bersama Sri Hanuraga, dilanjutkan dengan penampilan dari SND, Dadaks, Cinere Jazz bersama Happy Pretty, dan Yonathan Godjali Quartet. Di Tropical Garden, Mojang Jajaka Stage akan menampilkan kesenian Barong Bekasi oleh Abang Mpok Kota Bekasi, Galumbira – Panen Durcing Raharja, Nakisha, dan One Note Voices. Area Pasar Jazz di tempat parkir juga akan diramaikan oleh University Jazz Band serta berbagai pameran komunitas dan kuliner.

Hari Kedua yang Penuh Eksplorasi dan Harmoni Modern

Hari Kedua yang Penuh Eksplorasi dan Harmoni Modern

Memasuki hari kedua, Minggu, 4 Oktober 2026, atmosfer festival dipastikan tetap membara. Panggung utama Kota Baru Parahyangan Stage akan menyajikan pertunjukan megah bertajuk “A Night of Frank Sinatra” yang dipimpin oleh maestro Dwiki Dharmawan & Friends bersama Dira Sugandi, Dirly Dave, dan Bandung Jazz Orchestra. Panggung utama ini juga akan dimeriahkan oleh penyanyi muda berbakat Mahalini, serta kolektif Freedom Jazz Society yang menampilkan kolaborasi antara Greybox, Jevin Julian, Kenny Gabriel, dan Winky Wiryawan bersama Rinni.

Di BRI Stage, pengunjung akan dihibur oleh Andre Dinuth Group yang berkolaborasi dengan Matthew Sayersz, solois muda Rafi Sudirman, serta reuni enerjik dari T-Five bersama Melly Mono. RON88 Stage tidak kalah seru dengan penampilan dari grup 5 Petani, Barry Likumahuwa bersama TPJC Collective, serta kolaborasi unik Reyharp dengan Balawan Project yang dikenal dengan teknik gitar tap ganda yang memukau.

Bagi yang ingin memperdalam ilmu musik, TP Stage kembali menghadirkan Master Class bersama Tommy Pratomo, disusul penampilan Funky Journal, serta kolaborasi VMS Art Collective X Artsi bersama gitaris jazz legendaris Oele Pattiselanno. Mojang Jajaka Stage akan menyuguhkan penampilan dari Swara Katresna, Ranggaswara Group, dan kolaborasi lintas seni Ki Dalang Anom bersama Swara Katresna. Area Pasar Jazz tetap setia menemani pengunjung dengan penampilan University Jazz Band dan aktivitas komunitas yang interaktif.

Menilik Sejarah dan Kontribusi TPJF bagi Musik Indonesia

The Papandayan Jazz Festival bukan sekadar acara musik tahunan biasa, melainkan sebuah wadah apresiasi seni yang konsisten menjaga ekosistem musik jazz di Indonesia, khususnya di Jawa Barat. Bandung, yang dikenal sebagai kota kreatif dengan sejarah musik yang kuat, menjadi lokasi yang sangat tepat untuk menyelenggarakan festival berskala nasional ini. Kehadiran TPJF setiap tahunnya selalu berhasil menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara untuk datang dan menikmati keindahan kota Bandung sembari ditemani alunan musik jazz berkualitas.

Konsep festival yang menggunakan berbagai sudut hotel sebagai panggung pertunjukan memberikan pengalaman menonton yang unik dan imersif. Penonton dapat dengan mudah berpindah dari satu panggung ke panggung lain, menikmati berbagai sub-genre jazz mulai dari jazz tradisional, fusion, pop-jazz, hingga eksperimental. Selain itu, adanya sesi Master Class menunjukkan komitmen festival ini dalam memberikan edukasi musik bagi generasi muda, sehingga regenerasi musisi jazz di tanah air dapat terus berjalan dengan baik.

Informasi Tiket, Paket Akomodasi, dan Promo Menarik

Untuk dapat menikmati seluruh rangkaian acara ini, pihak penyelenggara telah menyiapkan tiga kategori tiket resmi yang dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan pengunjung:

  • Silver Pass (Rp250.000): Tiket harian yang memberikan akses ke lima area festival, yaitu Pasar Jazz, RON88 Stage, TP Stage, Mojang Jajaka Stage, dan BRI Stage.
  • Gold Pass (Rp400.000): Tiket harian yang memberikan akses penuh ke seluruh area festival, termasuk panggung utama Kota Baru Parahyangan Stage.
  • Platinum Pass (Rp750.000): Tiket terusan dua hari penuh (3–4 Oktober 2026) yang memberikan akses tanpa batas ke seluruh panggung dan rangkaian acara festival.

Penyelenggara juga menawarkan berbagai promo menarik untuk memudahkan para pengunjung. Salah satunya adalah diskon sebesar 25% bagi nasabah pemegang kartu Bank BRI, promo pembelian tiket grup, hingga paket bundling akomodasi bertajuk “Stay & Fest”. Paket khusus ini menggabungkan fasilitas menginap yang nyaman di The Papandayan Hotel Bandung dengan tiket masuk festival, memberikan kenyamanan ekstra bagi pengunjung yang datang dari luar kota. Informasi lengkap mengenai pembelian tiket dan penawaran menarik lainnya dapat diakses melalui situs resmi di tpjazzfest.com atau melalui akun media sosial Instagram resmi mereka di @tpjazzfest.

Continue Reading

Trending