Jazz
Nial Djuliarso Bawa Jazz Indonesia ke African Jazz Village Ethiopia

Pianis jazz Indonesia Nial Djuliarso mencatatkan sebuah momen bersejarah dalam perjalanan musiknya ketika tampil di African Jazz Village, Ghion Hotel, Addis Ababa, Ethiopia, pada 22 Juli 2026. Melalui pertunjukan bertajuk “Jazz Journey with Nial Djuliarso”, Nial menjadi pianis jazz Indonesia pertama yang tampil di Addis Ababa, kota yang dikenal sebagai salah satu tempat penting dalam sejarah perkembangan Ethio-jazz. Penampilan tersebut sekaligus menjadi penampilan pertama Nial di benua Afrika, menandai ekspansi signifikan dalam karir internasionalnya.
Pertunjukan Bersejarah di Loka Budaya
Pertunjukan ini digelar oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Addis Ababa melalui ruang budaya yang baru diluncurkan, Loka Budaya. Lebih dari 120 penonton hadir untuk menyaksikan acara tersebut, terdiri dari kalangan diplomatik, tokoh budaya Ethiopia, pencinta jazz, serta diaspora Indonesia. Kehadiran yang begitu meriah menunjukkan antusiasme tinggi terhadap pertunjukan jazz Indonesia di benua Afrika, serta pentingnya momen ini bagi komunitas budaya di Addis Ababa.
Bagi Nial, pemilihan Addis Ababa terasa istimewa karena Ethiopia merupakan rumah bagi salah satu bahasa jazz yang paling khas di dunia, terutama melalui karya-karya Dr. Mulatu Astatke, tokoh yang dikenal luas sebagai salah satu pelopor Ethio-jazz. Kota ini memiliki warisan musik yang kaya dan mendalam, menjadikannya lokasi yang sempurna untuk mempertemukan tradisi jazz Indonesia dengan keunikan jazz Ethiopia. Keputusan untuk tampil di kota ini bukan sekadar pilihan venue, tetapi juga pernyataan artistik tentang pentingnya dialog antar budaya melalui musik.
Kolaborasi Lintas Negara dalam Satu Panggung
Nial tidak tampil sendirian dalam acara bersejarah ini. Ia berkolaborasi dengan vokalis Indonesia Tia Mutiasari dan penyanyi Ethiopia Rebka Getachew, didukung sejumlah musisi Ethiopia berbakat, yakni gitaris Girum Gizaw, double bassist Mebratu Shewa, drummer Muse Mekonen, dan saxophonist Girum G/Meskel. Kolaborasi lintas negara ini menciptakan dinamika unik yang memungkinkan penonton merasakan perpaduan autentik antara tradisi jazz Indonesia dan Ethiopia dalam satu pertunjukan yang kohesif.
Repertoar yang dipilih menjadi bagian penting dari dialog musikal tersebut. Konser dibuka dengan perpaduan “Indonesia Pusaka” karya Ismail Marzuki dan komposisi Nial, “Moscow Morning”, yang langsung menetapkan nada untuk malam yang akan menggabungkan elemen-elemen dari berbagai tradisi musik. Selanjutnya, Rebka dan Tia membawa penonton menikmati sejumlah jazz standard dan lagu dari Indonesia, termasuk “Mercy Mercy” dan “Juwita Malam”, menciptakan jembatan emosional antara penonton lokal dan internasional.
Salah satu momen paling menarik hadir ketika musik Indonesia dan Ethiopia benar-benar dipertemukan dalam sebuah medley yang menakjubkan. “Yekermo Sew” karya Mulatu Astatke dipadukan dengan lagu rakyat Sunda “Es Lilin”, sebelum kemudian mengalir menuju “St. Thomas” karya Sonny Rollins. Perpaduan ini bukan sekadar penggabungan lagu, tetapi sebuah percakapan musikal yang mendalam, menunjukkan bagaimana jazz dapat menjadi bahasa universal yang menghubungkan berbagai budaya dan tradisi.
Jam Session Spontan dan Kolaborasi Tak Terduga
Pertunjukan kemudian berkembang menjadi jam session yang lebih spontan dan organik, mencerminkan semangat sejati dari tradisi jazz. “Caravan” membuka sesi kedua, disusul penampilan vokal pada “Route 66” dan kemunculan sejumlah musisi tamu yang menambah energi panggung. Penyanyi jazz Ethiopia Hilina Berta bergabung bersama Rebka untuk membawakan “L.O.V.E.” karya Nat King Cole, menambah dimensi vokal yang kaya pada pertunjukan.
Tidak berhenti di sana, seorang penyanyi asal Kolombia bernama Guillermo, yang awalnya datang sebagai penonton, ikut naik ke panggung dan berkolaborasi dengan Nial. Momen spontan ini menunjukkan kekuatan musik jazz dalam menyatukan orang-orang dari berbagai latar belakang dan negara. Malam itu kemudian bergerak dari Ethiopian waltz menuju Latin jazz, “Bésame Mucho”, hingga “Moliendo Café (Kopi Dangdut)” dan ditutup dengan “Watermelon Man” milik Herbie Hancock. Perjalanan musikal ini mencerminkan sifat universal jazz sebagai bahasa yang dapat dipahami dan dinikmati oleh semua orang, terlepas dari asal-usul mereka.
Workshop dan Dampak Budaya Jangka Panjang
Sehari sebelum konser, Nial juga memberikan Jazz Workshop di Loka Budaya, Kedutaan Besar Indonesia di Addis Ababa. Workshop tersebut mempertemukan musisi jazz Ethiopia, mahasiswa, dan pencinta musik lokal dalam sesi yang membahas improvisasi, teknik, serta tradisi jazz. Inisiatif edukatif ini menunjukkan komitmen Nial tidak hanya untuk memberikan pertunjukan berkualitas tinggi, tetapi juga untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan komunitas musik lokal, menciptakan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan.
Penampilan di African Jazz Village ditutup dengan standing ovation yang meriah. Seusai konser, para musisi dan penonton berbaur dalam sesi meet-and-greet yang hangat. Salah satu yang hadir adalah Melaku Belay, penari, koreografer, serta pendiri Fendika Cultural Center di Ethiopia. Bagi Belay, pertemuan tersebut merupakan sesuatu yang lebih panjang daripada satu malam pertunjukan biasa. Baginya, kolaborasi antara musisi Indonesia dan Ethiopia dapat menjadi fondasi hubungan budaya yang berkelanjutan, membuka peluang untuk pertukaran artistik dan budaya di masa depan.
Ketika sebuah lagu Indonesia seperti “Es Lilin” bisa bertemu dengan “Yekermo Sew” di Addis Ababa, di situlah perjalanan jazz Indonesia ke dunia menemukan percakapan baru yang bermakna. Penampilan Nial Djuliarso tidak hanya menandai pencapaian pribadi, tetapi juga merupakan langkah penting dalam memperkuat posisi jazz Indonesia di panggung dunia, membuktikan bahwa musik Indonesia memiliki daya tarik dan relevansi universal yang dapat diapresiasi oleh audiens internasional.
Jazz
Sandhy Sondoro Menghadirkan Konser A Soulful Odyssey di Berlin
Penyanyi solo kenamaan Indonesia, Sandhy Sondoro, kembali menginjakkan kakinya di Berlin, Jerman, untuk menggelar konser istimewa bertajuk Liebe in Concert – A Soulful Odyssey. Pertunjukan yang berlangsung di Bunker West pada Sabtu (19/9) ini menjadi momen emosional sekaligus ajang pembuktian musikalitasnya di kancah internasional. Dalam penampilannya kali ini, Sandhy tidak tampil sendiri, melainkan didampingi oleh dua musisi hebat tanah air, yaitu pemain bass legendaris Indro Hardjodikoro dan musisi etnik kontemporer Muhammad Fajar Nurihsan yang akrab disapa Jarwo.
Reuni Musikal dan Nostalgia Sandhy Sondoro di Berlin
Berlin memiliki tempat yang sangat istimewa di hati Sandhy Sondoro. Kota ini bukan sekadar destinasi wisata atau panggung biasa, melainkan tempat di mana fondasi karier musiknya dibangun. Sejak memutuskan menetap dan mengembangkan karier musiknya di Berlin pada tahun 1998, Sandhy telah melewati berbagai fase perjuangan yang membentuk karakternya sebagai seorang musisi sejati. Ia memulai perjalanannya dari bawah, bernyanyi dari jalanan, bar-bar kecil, hingga klub malam di sudut-sudut kota Berlin yang terkenal sangat kompetitif.
Pengalaman hidup yang keras namun kaya akan inspirasi tersebut membentuk karakter vokal dan gaya bermusiknya yang khas. Salah satu karya monumentalnya, Down on the Streets, lahir dari refleksi mendalam atas pengalamannya menyusuri jalanan Berlin yang dingin namun penuh dengan dinamika kehidupan. Kembali ke kota ini dengan sebuah konser tunggal berskala besar tentu membawa rasa nostalgia yang mendalam sekaligus rasa syukur atas pencapaiannya sejauh ini. Konser ini menjadi bukti nyata bahwa dedikasi dan konsistensi dalam bermusik akan selalu menemukan jalan untuk kembali ke tempat di mana semuanya dimulai.
Kolaborasi Lintas Genre Bersama Indro Hardjodikoro dan Jarwo
Konser A Soulful Odyssey kali ini menawarkan sesuatu yang sangat berbeda melalui kolaborasi lintas genre yang sangat dinamis. Kehadiran Indro Hardjodikoro memberikan dimensi baru pada aransemen lagu-lagu Sandhy yang bernuansa soul. Sebagai salah satu pencabik bass terbaik di Indonesia, Indro membawa pengalaman panjangnya yang melintasi berbagai genre musik, mulai dari jazz, pop, rock, hingga musik tradisional seperti keroncong dan dangdut. Permainan bass Indro yang solid dan penuh improvisasi mampu mengimbangi vokal soul Sandhy yang bertenaga dan penuh penghayatan.
Di sisi lain, kehadiran Jarwo memberikan sentuhan magis yang unik pada keseluruhan pertunjukan. Sebagai komposer dan pemain perkusi etnik asal Jawa Barat, Jarwo memasukkan elemen-elemen ritme tradisional Sunda dan nusantara ke dalam aransemen musik modern. Kolaborasi ketiganya menciptakan sebuah dialog musikal yang harmonis, di mana musik soul barat bertemu dengan kehangatan jazz dan eksotisme perkusi tradisional Indonesia. Penonton yang hadir disuguhi sebuah pertunjukan yang tidak hanya memanjakan telinga, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia dalam kemasan yang modern dan universal.
Diplomasi Budaya dan Dukungan Pemerintah Indonesia
Pertunjukan ini bukan sekadar hiburan bagi komunitas Indonesia di Jerman, melainkan sebuah misi diplomasi budaya yang sangat penting. Melalui A Soulful Odyssey, musik Indonesia diposisikan sebagai entitas yang mampu bersaing dan dinikmati oleh publik global di salah satu pusat kebudayaan Eropa. Berlin dikenal sebagai kota yang sangat menghargai keberagaman seni dan budaya, sehingga menjadi tempat yang sangat tepat untuk memperkenalkan identitas musik Indonesia yang kaya dan beragam.
Suksesnya acara ini tidak lepas dari kolaborasi erat antara Bunker West Berlin dengan Ajang Mas Kreatif. Selain itu, acara ini juga mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak seperti Gekraf Jerman, SOCreative, SON Video Works, dan 1st Pictures. Dukungan yang sangat signifikan juga datang dari pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia serta Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui program Dana Indonesia Raya atau Dana Indonesiana. Dukungan ini menunjukkan komitmen nyata pemerintah dalam mendorong ekspansi industri kreatif dan talenta lokal ke panggung dunia.
Dengan suksesnya konser Liebe in Concert – A Soulful Odyssey, Sandhy Sondoro bersama Indro Hardjodikoro dan Jarwo telah membuktikan bahwa musik adalah bahasa universal yang mampu melampaui batas-batas geografis dan budaya. Pertunjukan di Berlin ini diharapkan dapat membuka jalan yang lebih lebar bagi musisi-musisi Indonesia lainnya untuk tampil di panggung internasional. Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa karya anak bangsa memiliki kualitas yang sejajar dengan musisi global dan layak mendapatkan apresiasi di tingkat dunia. Perjalanan musikal Sandhy di Berlin kali ini tidak hanya menjadi sebuah nostalgia pribadi, tetapi juga sebuah catatan sejarah baru bagi perkembangan musik Indonesia di Eropa.
Jazz
Musisi Jazz Global Merilis Puluhan Album dan Single Baru pada Agustus 2026
Perkembangan musik jazz di tingkat global terus menunjukkan dinamika yang luar biasa, dan bulan Agustus 2026 menjadi salah satu periode paling produktif bagi para musisi genre ini. Berbagai karya terbaru, mulai dari album penuh (LP), mini album (EP), hingga single, resmi diperkenalkan ke publik untuk memberikan warna baru dalam lanskap musik dunia. Kehadiran rilisan-rilisan ini membuktikan bahwa jazz tetap menjadi wadah eksplorasi yang subur bagi para komposer dan instrumentalis lintas generasi.
Keberagaman Estetika dan Kolaborasi Lintas Batas
Pada bulan Agustus ini, para pencinta musik jazz disuguhkan dengan variasi gaya yang sangat kaya. Salah satu rilisan yang sangat dinantikan adalah kolaborasi antara pianis Ayumi Tanaka, pemain kontrabas Thomas Morgan, dan pemain drum Thomas Strønen lewat album berjudul Windflower di bawah naungan label legendaris ECM Records. Kolaborasi trio ini dikenal dengan pendekatan mereka yang sangat intuitif, tenang, dan penuh ruang kosong yang puitis, sebuah ciri khas yang selalu berhasil dihadirkan oleh ECM Records dalam menjaga kualitas produksi audio yang jernih dan atmosferik.
Selain itu, kekuatan musisi perempuan dalam kancah jazz modern juga semakin bersinar melalui kolaborasi antara pemain bas Linda May Han Oh dan pemain saksofon Melissa Aldana dalam album Beneath Lifted Skies yang dirilis oleh Biophilia Records. Kedua musisi ini dikenal memiliki teknik permainan yang luar biasa serta visi komposisi yang visioner. Kehadiran album ini mempertegas posisi mereka sebagai figur penting yang terus mendorong batas-batas musik jazz kontemporer ke arah yang lebih segar dan relevan dengan perkembangan zaman.
Bagi pendengar yang menyukai kehangatan melodi tradisional dengan sentuhan eksotis, Miguel Zenón kembali hadir dengan El Arte del Bolero, Vol. 3 melalui Miel Music. Melalui seri album ini, Zenón secara konsisten mengeksplorasi keindahan musik bolero Latin yang dikawinkan dengan improvisasi jazz yang rumit namun tetap nyaman di telinga. Sentuhan ritme yang hangat ini menjadi penyeimbang yang sempurna di tengah gempuran eksperimentasi jazz modern lainnya.
Eksperimen Elektronik dan Penghormatan Terhadap Tradisi
Perkembangan teknologi dan pergeseran zaman juga memengaruhi bagaimana jazz diproduksi dan dinikmati pada tahun 2026. Proyek musik seperti Acoustic Electronica dari grup The Court at Versailles menjadi contoh nyata bagaimana instrumen akustik konvensional dapat berpadu harmonis dengan elemen elektronik modern. Eksperimen semacam ini menciptakan dimensi suara baru yang lebih luas, menjembatani batas antara musik dansa elektronik, ambient, dan improvisasi jazz murni.
Di sisi lain, penghormatan terhadap tradisi jazz klasik tetap terjaga dengan baik. Kehadiran pianis legendaris Larry Goldings lewat album Rhombus di bawah Smoke Sessions Records, serta Sullivan Fortner dengan karya terbarunya Leave That In There, menunjukkan bahwa esensi permainan piano jazz yang berakar pada tradisi swing, blues, dan bebop masih sangat diminati. Album-album ini menawarkan keahlian teknis tingkat tinggi sekaligus kehangatan musikalitas yang intim, sangat cocok untuk dinikmati dalam berbagai suasana.
Tidak ketinggalan, format ansambel besar juga mendapatkan tempat khusus bulan ini melalui karya Martin Iaies yang bertajuk People. Places. Music For Large Ensemble. Komposisi untuk ansambel besar selalu menawarkan tantangan tersendiri dalam hal aransemen, dan Iaies berhasil menyajikan narasi musikal yang megah namun tetap memberikan ruang bagi setiap instrumen untuk menonjolkan karakter uniknya masing-masing.
Daftar Lengkap Rilisan Jazz Terpopuler Agustus 2026
Berikut adalah daftar lengkap album, EP, dan single jazz yang dirilis sepanjang bulan Agustus 2026 yang wajib masuk ke dalam daftar putar Anda:
- Ayumi Tanaka, Thomas Morgan, Thomas Strønen – Windflower (ECM Records)
- Ben Crosland Quintet – North York Skies (Jazz Cat Records / Music Connection / ECN Music)
- Clark Sommers – WaBaSH (Calligram Records)
- Danny Keane – Kinesis (MVKA)
- East of West – Velella (4000 Records)
- Enoch Smith Jr. – This Is What Love Does (Misfitme Music)
- Frank London – Touzle Your Kurchy (Adhyâropa Records)
- Henry Threadgill – Fifteen (Nonesuch Records)
- Irene Aranda – MAY (Relative Pitch Records)
- John Donaldson – We Were Together, I Forget the Rest (Hexagonal Records)
- Larry Goldings – Rhombus (Smoke Sessions Records)
- Linda May Han Oh & Melissa Aldana – Beneath Lifted Skies (Biophilia Records)
- maTrigal – Between Homes (Svitzer Music)
- Martin Iaies – People. Places. Music For Large Ensemble (Challenge Records)
- Miguel Zenón – El Arte del Bolero, Vol. 3 (Miel Music)
- Mike Clark – Kuon Ganjo (Time Without Beginning) (Wide Hive Records)
- Mike Jones – Mike Jones With Strings (Capri Records)
- Ricardo Bacelar – Aqui, Oh! (Jasmin Music)
- Rite of Strings – Dust and the Moon (Bright Shiny Things)
- Sam Sadigursky – -ish (Adhyâropa Records)
- Stephanie Borgani – Mímica: Música para Quatro Instrumentos (Yb Music)
- Stephen Philip Harvey – Golden Hour (Hidden Cinema)
- Sullivan Fortner – Leave That In There (Artwork Records)
- Terence Collie – DNA (Adhyâropa Records)
- The Court at Versailles – Acoustic Electronica (Handcrafted Records)
- The Vinyl Session – The Vinyl Session (Self Produced)
- Zaccai Curtis – Sonoluminescence Vol. 1 (TRRcollective)
Banyaknya rilisan berkualitas tinggi pada bulan Agustus 2026 ini membuktikan bahwa industri musik jazz global tidak pernah kehabisan energi kreatif. Dari proyek solo yang intim hingga aransemen orkestra yang megah, setiap karya menawarkan pengalaman auditif yang unik bagi para pendengarnya. Kehadiran album-album ini tidak hanya memperkaya khazanah musik dunia, tetapi juga memberikan inspirasi baru bagi perkembangan musik jazz di masa depan. Pastikan Anda meluangkan waktu untuk mengeksplorasi karya-karya luar biasa ini di platform musik digital favorit Anda.
Jazz
Rifki Soeria dan Neea Rachma Ungkap Karya Baru di WartaJazz
Dua musisi jazz berbakat tanah air, Rifki Soeria dan Neea Rachma, menjadi sorotan utama dalam program WartaJazz Monday Launch edisi 119. Dalam kesempatan ini, keduanya membagikan kisah inspiratif serta proses kreatif di balik pembuatan karya terbaru mereka yang menghadirkan warna segar bagi kancah musik jazz Indonesia.
Melalui obrolan mendalam di panggung WartaJazz, para penikmat musik diajak untuk menyelami latar belakang pembuatan lagu, kolaborasi antar-musisi, hingga eksplorasi genre unik yang mereka usung. Kehadiran karya dari kedua musisi ini semakin memperkaya khazanah musik Tanah Air yang terus berkembang pesat dan semakin inklusif bagi berbagai kalangan pendengar.
Eksplorasi Romansa Bossa Nova dalam Lagu “Berdua Saja”
Rifki Soeria kembali menunjukkan produktivitasnya di belantika musik lewat peluncuran lagu terbaru bertajuk “Berdua Saja”. Dalam karya teranyarnya ini, Rifki menggaet penyanyi Keshya Valerie untuk mengeksekusi sebuah lagu duet yang kental dengan nuansa romantis. Lagu ini memadukan balutan musik Jazz Pop Indonesia dengan sentuhan Bossa Nova yang lembut, menghasilkan sensasi easy listening yang kaya akan nuansa nostalgia.
Gagasan awal penciptaan “Berdua Saja” lahir secara alami dari sebuah obrolan santai di studio antara Rifki Soeria dan Abraham Song. Dari diskusi organik tersebut, terciptalah sebuah komposisi yang merayakan momen-momen sederhana namun penuh kenyamanan saat seseorang jatuh cinta. Tanpa perlu narasi drama yang berlebihan, lagu ini berhasil menangkap esensi kasih sayang yang tulus, hangat, dan menenangkan.
Aransemen yang hangat serta alunan melodi yang mengalir membuat “Berdua Saja” menjadi pendamping yang sangat pas untuk berbagai situasi. Komposisi ini dirancang agar nyaman menemani perjalanan di malam hari, memberikan ketenangan saat beristirahat di rumah, maupun sekadar menjadi musik latar ketika bersantai bersama orang terdekat. Sentuhan Bossa Nova yang elegan berpadu harmonis dengan karakter vokal Keshya Valerie, menciptakan warna musik yang ramah di telinga pendengar awam maupun penikmat jazz setia.
Nuansa Dixieland Segar dalam “Waktu Takut Nonton Film Horor”
Sementara itu, Neea Rachma menghadirkan pendekatan musik yang tidak kalah menarik melalui lagu terbarunya yang berjudul unik, “Waktu Takut Nonton Film Horor”. Tak tanggung-tanggung, dalam proyek ini Neea melakukan kolaborasi lintas negara dengan menggamit pianis kenamaan asal Jepang, Yukako Yamano. Sinergi antara keahlian bermusik kedua seniman ini menghasilkan jalinan nada yang lincah, dinamis, dan penuh energi.
Keindahan lagu ini juga didukung oleh jajaran musisi andal yang mengisi instrumen pendukung. Ricky Firmansyah dipercaya untuk memegang posisi bass yang menjaga ritme tetap stabil, sementara Shaku Hachi mengisi dentuman drum yang mantap. Nuansa khas semakin diperkuat oleh permainan tiupan trompet dari Benn Yapari. Kolaborasi solid ini melahirkan karya bergenre Dixieland—gaya jazz klasik asal New Orleans yang dikenal dengan sifatnya yang riang, penuh improvisasi, serta kaya akan permainan instrumen tiup.
Meski mengusung genre Dixieland yang identik dengan struktur musik kompleks, Neea Rachma dan tim berhasil menyajikannya dengan lirik yang sangat sederhana dan membumi. Pendekatan ini membuat lagu “Waktu Takut Nonton Film Horor” menjadi sangat mudah dicerna oleh berbagai lapisan pendengar. Tema yang unik namun sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari berhasil dibungkus dengan aransemen yang ceria, membuktikan bahwa musik jazz bisa tampil jenaka, menyenangkan, dan tidak selalu terkesan rumit.
WartaJazz Monday Launch sebagai Ruang Apresiasi dan Inspirasi
Program WartaJazz Monday Launch edisi 119 memberikan wadah yang sangat krusial bagi para musisi untuk menceritakan kisah di balik layar dari karya-karya hebat mereka. Melalui platform ini, publik tidak hanya disuguhkan hasil akhir berupa rekaman audio, tetapi juga dibawa untuk memahami perjuangan, eksperimen, dan pemikiran kreatif yang melandasi lahirnya setiap karya seni.
Kehadiran kolaborasi internasional seperti yang dilakukan Neea Rachma bersama Yukako Yamano, serta eksplorasi genre lokal yang dibawakan Rifki Soeria, menegaskan bahwa ekosistem jazz di Indonesia sangat dinamis dan terbuka terhadap berbagai pengaruh positif. Pertukaran budaya dan ide musik seperti ini menjadi bukti bahwa jazz adalah bahasa universal yang mampu menyatukan berbagai elemen seni tanpa batasan geografis.
Bagi para penggemar yang penasaran dengan detail pembuatan lagu, perbincangan seru di dalam studio, serta rencana karier kedua musisi ini ke depan, tayangan WartaJazz Monday Launch edisi 119 menjadi tontonan yang sangat menginspirasi. Kehadiran karya-karya segar ini diharapkan dapat terus memicu semangat para musisi lokal untuk terus berkarya dan memperluas jangkauan musik jazz Indonesia di kancah nasional maupun internasional.
Musik2 minggu agoFeral Stripes Ajak Kabur dari Bumi Lewat “Rocket Ride”
Musik2 minggu agoDuo Billkiss Rilis Single Hipdut Terbaru “Wanna Be With My Bubu”
Metal2 minggu agoMetalSucks Rilis Ulasan Satiris Dave Mustcomplain untuk Album Sigh
Metal2 minggu agoThe 1945 Merilis Video Musik “Roboh” dengan Sentuhan Nu Metal yang Kental
- Jazz2 minggu ago
Noah Gilrandy Menghadirkan Workshop Jazz Piano di Festival JAKSTRINGS 2026
Musik2 minggu agoKumiscacing Merilis Singel Giant Fish untuk Gambarkan Kisah Merantau
- Jazz7 hari ago
Rifki Soeria dan Neea Rachma Ungkap Karya Baru di WartaJazz
Musik2 minggu agoThe Skit Merilis Album Perdana 1000 Kemungkinan tentang Dewasa Muda






