Jazz
Reyharp & Balawan Project Memukau Festival Harmonika Asia Pasifik 2026

Reyharp & Balawan Project berhasil mencuri perhatian publik internasional melalui penampilan spektakuler di Asia Pacific Harmonica Festival (APHF) 2026, festival harmonika terbesar di dunia yang diselenggarakan di Longwish International Conference Hall, Jiangyin, China. Trio asal Indonesia ini menghadirkan salah satu pertunjukan paling berkesan sepanjang rangkaian festival dengan memadukan virtuositas teknis, spontanitas improvisasi, dan musikalitas yang matang dalam sebuah pertunjukan jazz berkelas dunia.
Perpaduan Harmoni yang Memukau Auditorium
Sejak komposisi pertama dimainkan, atmosfer auditorium berubah total. Harmoni yang dibangun melalui permainan gitar khas Balawan berpadu dengan improvisasi harmonika Reyharp menghasilkan dialog musikal yang kaya akan nuansa jazz modern, fusion, hingga sentuhan world music. Alih-alih sekadar menampilkan kemampuan teknis semata, keduanya menghadirkan sebuah pengalaman musikal yang emosional dan penuh eksplorasi, menciptakan momen yang tak terlupakan bagi setiap penonton yang hadir.
Sorotan utama pertunjukan datang dari permainan Reyharp, yang menunjukkan mengapa dirinya telah dikenal sebagai salah satu harmonikais jazz paling menonjol dari Indonesia. Dengan kontrol napas yang presisi, artikulasi yang bersih, serta improvisasi yang mengalir secara natural, Reyharp mampu mengubah harmonika diatonik menjadi instrumen yang penuh warna dan ekspresi. Frasa-frasa improvisasinya terdengar berani namun tetap elegan, memperlihatkan kedalaman musikal yang jarang ditemukan pada instrumen tersebut dan membuktikan bahwa harmonika dapat berdiri sejajar dengan instrumen jazz lainnya di panggung internasional.
Inovasi Gitaris dan Chemistry Musisi yang Organik
Sementara itu, Balawan kembali membuktikan reputasinya sebagai salah satu gitaris paling inovatif di Asia. Permainan gitar dua leher yang menjadi ciri khasnya menghadirkan lapisan harmoni yang kompleks tanpa kehilangan kehangatan musikal. Interaksi antara Balawan dan Reyharp berlangsung begitu organik, saling merespons melalui improvisasi yang terasa spontan namun tetap terstruktur dengan sangat baik. Chemistry keduanya menjadi kekuatan utama yang membuat setiap komposisi terasa hidup dan terus berkembang hingga nada terakhir, menciptakan pengalaman yang autentik dan menyentuh hati penonton.
Fondasi ritmis yang kokoh dibangun oleh drummer muda Indonesia, Dhariann Emillio, yang tampil dengan sensitivitas musikal tinggi. Permainannya tidak hanya menjaga dinamika pertunjukan, tetapi juga memberi ruang yang luas bagi kedua musisi utama untuk mengeksplorasi ide-ide improvisasi mereka. Kombinasi ketiganya menghasilkan sebuah pertunjukan jazz yang terasa utuh, modern, dan berkelas internasional, menunjukkan bahwa musisi Indonesia mampu bersaing dengan standar tertinggi di dunia musik.
Sambutan Meriah dan Kolaborasi Internasional
Respons penonton menjadi cerminan kualitas penampilan tersebut. Beberapa kali tepuk tangan bergema bahkan sebelum lagu selesai dimainkan, sementara standing ovation di penghujung konser menjadi penutup yang pantas bagi salah satu penampilan terbaik malam itu. Banyak penonton tampak terpukau oleh kemampuan Reyharp menghadirkan warna-warna musikal yang tidak lazim dari sebuah harmonika diatonik, membuktikan bahwa instrumen tersebut mampu berdiri sejajar dengan instrumen jazz lainnya di panggung internasional.
Malam yang istimewa itu mencapai klimaks ketika Reyharp tampil dalam sesi kolaborasi bersama dua harmonikais kelas dunia, Antonio Serrano dari Spanyol dan Marcos Coll juga dari Spanyol. Pertemuan tiga karakter musikal yang berbeda menghasilkan penampilan penutup yang penuh energi, memperlihatkan kemampuan improvisasi lintas budaya yang menjadi salah satu kekuatan utama festival ini. Kolaborasi tersebut mendapat sambutan meriah dari para peserta maupun penonton yang datang dari berbagai negara, menunjukkan bahwa musik tidak mengenal batas geografis dan bahasa.
Representasi Indonesia di Panggung Dunia
Melalui penampilan di Asia Pacific Harmonica Festival 2026, Reyharp kembali menunjukkan bahwa dirinya bukan sekadar representasi Indonesia di panggung dunia, melainkan seorang musisi yang mampu berdialog secara musikal dengan nama-nama besar dalam komunitas harmonika internasional. Penampilannya bersama Balawan Project memperlihatkan perpaduan antara penguasaan teknik tingkat tinggi, kreativitas improvisasi, dan kematangan artistik yang menjadikan pertunjukan ini sebagai salah satu sorotan utama festival.
Keberhasilan tersebut sekaligus mempertegas posisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan baru dalam perkembangan musik harmonika dan jazz di kawasan Asia-Pasifik. Di hadapan audiens internasional, Reyharp & Balawan Project tidak hanya menampilkan konser, tetapi juga menghadirkan sebuah karya musikal yang meninggalkan kesan mendalam. Pertunjukan ini menunjukkan bahwa musik Indonesia mampu berbicara dengan bahasa universal dan memperoleh apresiasi di panggung dunia, membuka peluang lebih luas bagi musisi Indonesia untuk diakui secara global dan menginspirasi generasi musisi muda untuk terus berinovasi dan mengeksplorasi potensi musik tradisional maupun kontemporer.
Jazz
Sandhy Sondoro Menghadirkan Konser A Soulful Odyssey di Berlin
Penyanyi solo kenamaan Indonesia, Sandhy Sondoro, kembali menginjakkan kakinya di Berlin, Jerman, untuk menggelar konser istimewa bertajuk Liebe in Concert – A Soulful Odyssey. Pertunjukan yang berlangsung di Bunker West pada Sabtu (19/9) ini menjadi momen emosional sekaligus ajang pembuktian musikalitasnya di kancah internasional. Dalam penampilannya kali ini, Sandhy tidak tampil sendiri, melainkan didampingi oleh dua musisi hebat tanah air, yaitu pemain bass legendaris Indro Hardjodikoro dan musisi etnik kontemporer Muhammad Fajar Nurihsan yang akrab disapa Jarwo.
Reuni Musikal dan Nostalgia Sandhy Sondoro di Berlin
Berlin memiliki tempat yang sangat istimewa di hati Sandhy Sondoro. Kota ini bukan sekadar destinasi wisata atau panggung biasa, melainkan tempat di mana fondasi karier musiknya dibangun. Sejak memutuskan menetap dan mengembangkan karier musiknya di Berlin pada tahun 1998, Sandhy telah melewati berbagai fase perjuangan yang membentuk karakternya sebagai seorang musisi sejati. Ia memulai perjalanannya dari bawah, bernyanyi dari jalanan, bar-bar kecil, hingga klub malam di sudut-sudut kota Berlin yang terkenal sangat kompetitif.
Pengalaman hidup yang keras namun kaya akan inspirasi tersebut membentuk karakter vokal dan gaya bermusiknya yang khas. Salah satu karya monumentalnya, Down on the Streets, lahir dari refleksi mendalam atas pengalamannya menyusuri jalanan Berlin yang dingin namun penuh dengan dinamika kehidupan. Kembali ke kota ini dengan sebuah konser tunggal berskala besar tentu membawa rasa nostalgia yang mendalam sekaligus rasa syukur atas pencapaiannya sejauh ini. Konser ini menjadi bukti nyata bahwa dedikasi dan konsistensi dalam bermusik akan selalu menemukan jalan untuk kembali ke tempat di mana semuanya dimulai.
Kolaborasi Lintas Genre Bersama Indro Hardjodikoro dan Jarwo
Konser A Soulful Odyssey kali ini menawarkan sesuatu yang sangat berbeda melalui kolaborasi lintas genre yang sangat dinamis. Kehadiran Indro Hardjodikoro memberikan dimensi baru pada aransemen lagu-lagu Sandhy yang bernuansa soul. Sebagai salah satu pencabik bass terbaik di Indonesia, Indro membawa pengalaman panjangnya yang melintasi berbagai genre musik, mulai dari jazz, pop, rock, hingga musik tradisional seperti keroncong dan dangdut. Permainan bass Indro yang solid dan penuh improvisasi mampu mengimbangi vokal soul Sandhy yang bertenaga dan penuh penghayatan.
Di sisi lain, kehadiran Jarwo memberikan sentuhan magis yang unik pada keseluruhan pertunjukan. Sebagai komposer dan pemain perkusi etnik asal Jawa Barat, Jarwo memasukkan elemen-elemen ritme tradisional Sunda dan nusantara ke dalam aransemen musik modern. Kolaborasi ketiganya menciptakan sebuah dialog musikal yang harmonis, di mana musik soul barat bertemu dengan kehangatan jazz dan eksotisme perkusi tradisional Indonesia. Penonton yang hadir disuguhi sebuah pertunjukan yang tidak hanya memanjakan telinga, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia dalam kemasan yang modern dan universal.
Diplomasi Budaya dan Dukungan Pemerintah Indonesia
Pertunjukan ini bukan sekadar hiburan bagi komunitas Indonesia di Jerman, melainkan sebuah misi diplomasi budaya yang sangat penting. Melalui A Soulful Odyssey, musik Indonesia diposisikan sebagai entitas yang mampu bersaing dan dinikmati oleh publik global di salah satu pusat kebudayaan Eropa. Berlin dikenal sebagai kota yang sangat menghargai keberagaman seni dan budaya, sehingga menjadi tempat yang sangat tepat untuk memperkenalkan identitas musik Indonesia yang kaya dan beragam.
Suksesnya acara ini tidak lepas dari kolaborasi erat antara Bunker West Berlin dengan Ajang Mas Kreatif. Selain itu, acara ini juga mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak seperti Gekraf Jerman, SOCreative, SON Video Works, dan 1st Pictures. Dukungan yang sangat signifikan juga datang dari pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia serta Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui program Dana Indonesia Raya atau Dana Indonesiana. Dukungan ini menunjukkan komitmen nyata pemerintah dalam mendorong ekspansi industri kreatif dan talenta lokal ke panggung dunia.
Dengan suksesnya konser Liebe in Concert – A Soulful Odyssey, Sandhy Sondoro bersama Indro Hardjodikoro dan Jarwo telah membuktikan bahwa musik adalah bahasa universal yang mampu melampaui batas-batas geografis dan budaya. Pertunjukan di Berlin ini diharapkan dapat membuka jalan yang lebih lebar bagi musisi-musisi Indonesia lainnya untuk tampil di panggung internasional. Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa karya anak bangsa memiliki kualitas yang sejajar dengan musisi global dan layak mendapatkan apresiasi di tingkat dunia. Perjalanan musikal Sandhy di Berlin kali ini tidak hanya menjadi sebuah nostalgia pribadi, tetapi juga sebuah catatan sejarah baru bagi perkembangan musik Indonesia di Eropa.
Jazz
Musisi Jazz Global Merilis Puluhan Album dan Single Baru pada Agustus 2026
Perkembangan musik jazz di tingkat global terus menunjukkan dinamika yang luar biasa, dan bulan Agustus 2026 menjadi salah satu periode paling produktif bagi para musisi genre ini. Berbagai karya terbaru, mulai dari album penuh (LP), mini album (EP), hingga single, resmi diperkenalkan ke publik untuk memberikan warna baru dalam lanskap musik dunia. Kehadiran rilisan-rilisan ini membuktikan bahwa jazz tetap menjadi wadah eksplorasi yang subur bagi para komposer dan instrumentalis lintas generasi.
Keberagaman Estetika dan Kolaborasi Lintas Batas
Pada bulan Agustus ini, para pencinta musik jazz disuguhkan dengan variasi gaya yang sangat kaya. Salah satu rilisan yang sangat dinantikan adalah kolaborasi antara pianis Ayumi Tanaka, pemain kontrabas Thomas Morgan, dan pemain drum Thomas Strønen lewat album berjudul Windflower di bawah naungan label legendaris ECM Records. Kolaborasi trio ini dikenal dengan pendekatan mereka yang sangat intuitif, tenang, dan penuh ruang kosong yang puitis, sebuah ciri khas yang selalu berhasil dihadirkan oleh ECM Records dalam menjaga kualitas produksi audio yang jernih dan atmosferik.
Selain itu, kekuatan musisi perempuan dalam kancah jazz modern juga semakin bersinar melalui kolaborasi antara pemain bas Linda May Han Oh dan pemain saksofon Melissa Aldana dalam album Beneath Lifted Skies yang dirilis oleh Biophilia Records. Kedua musisi ini dikenal memiliki teknik permainan yang luar biasa serta visi komposisi yang visioner. Kehadiran album ini mempertegas posisi mereka sebagai figur penting yang terus mendorong batas-batas musik jazz kontemporer ke arah yang lebih segar dan relevan dengan perkembangan zaman.
Bagi pendengar yang menyukai kehangatan melodi tradisional dengan sentuhan eksotis, Miguel Zenón kembali hadir dengan El Arte del Bolero, Vol. 3 melalui Miel Music. Melalui seri album ini, Zenón secara konsisten mengeksplorasi keindahan musik bolero Latin yang dikawinkan dengan improvisasi jazz yang rumit namun tetap nyaman di telinga. Sentuhan ritme yang hangat ini menjadi penyeimbang yang sempurna di tengah gempuran eksperimentasi jazz modern lainnya.
Eksperimen Elektronik dan Penghormatan Terhadap Tradisi
Perkembangan teknologi dan pergeseran zaman juga memengaruhi bagaimana jazz diproduksi dan dinikmati pada tahun 2026. Proyek musik seperti Acoustic Electronica dari grup The Court at Versailles menjadi contoh nyata bagaimana instrumen akustik konvensional dapat berpadu harmonis dengan elemen elektronik modern. Eksperimen semacam ini menciptakan dimensi suara baru yang lebih luas, menjembatani batas antara musik dansa elektronik, ambient, dan improvisasi jazz murni.
Di sisi lain, penghormatan terhadap tradisi jazz klasik tetap terjaga dengan baik. Kehadiran pianis legendaris Larry Goldings lewat album Rhombus di bawah Smoke Sessions Records, serta Sullivan Fortner dengan karya terbarunya Leave That In There, menunjukkan bahwa esensi permainan piano jazz yang berakar pada tradisi swing, blues, dan bebop masih sangat diminati. Album-album ini menawarkan keahlian teknis tingkat tinggi sekaligus kehangatan musikalitas yang intim, sangat cocok untuk dinikmati dalam berbagai suasana.
Tidak ketinggalan, format ansambel besar juga mendapatkan tempat khusus bulan ini melalui karya Martin Iaies yang bertajuk People. Places. Music For Large Ensemble. Komposisi untuk ansambel besar selalu menawarkan tantangan tersendiri dalam hal aransemen, dan Iaies berhasil menyajikan narasi musikal yang megah namun tetap memberikan ruang bagi setiap instrumen untuk menonjolkan karakter uniknya masing-masing.
Daftar Lengkap Rilisan Jazz Terpopuler Agustus 2026
Berikut adalah daftar lengkap album, EP, dan single jazz yang dirilis sepanjang bulan Agustus 2026 yang wajib masuk ke dalam daftar putar Anda:
- Ayumi Tanaka, Thomas Morgan, Thomas Strønen – Windflower (ECM Records)
- Ben Crosland Quintet – North York Skies (Jazz Cat Records / Music Connection / ECN Music)
- Clark Sommers – WaBaSH (Calligram Records)
- Danny Keane – Kinesis (MVKA)
- East of West – Velella (4000 Records)
- Enoch Smith Jr. – This Is What Love Does (Misfitme Music)
- Frank London – Touzle Your Kurchy (Adhyâropa Records)
- Henry Threadgill – Fifteen (Nonesuch Records)
- Irene Aranda – MAY (Relative Pitch Records)
- John Donaldson – We Were Together, I Forget the Rest (Hexagonal Records)
- Larry Goldings – Rhombus (Smoke Sessions Records)
- Linda May Han Oh & Melissa Aldana – Beneath Lifted Skies (Biophilia Records)
- maTrigal – Between Homes (Svitzer Music)
- Martin Iaies – People. Places. Music For Large Ensemble (Challenge Records)
- Miguel Zenón – El Arte del Bolero, Vol. 3 (Miel Music)
- Mike Clark – Kuon Ganjo (Time Without Beginning) (Wide Hive Records)
- Mike Jones – Mike Jones With Strings (Capri Records)
- Ricardo Bacelar – Aqui, Oh! (Jasmin Music)
- Rite of Strings – Dust and the Moon (Bright Shiny Things)
- Sam Sadigursky – -ish (Adhyâropa Records)
- Stephanie Borgani – Mímica: Música para Quatro Instrumentos (Yb Music)
- Stephen Philip Harvey – Golden Hour (Hidden Cinema)
- Sullivan Fortner – Leave That In There (Artwork Records)
- Terence Collie – DNA (Adhyâropa Records)
- The Court at Versailles – Acoustic Electronica (Handcrafted Records)
- The Vinyl Session – The Vinyl Session (Self Produced)
- Zaccai Curtis – Sonoluminescence Vol. 1 (TRRcollective)
Banyaknya rilisan berkualitas tinggi pada bulan Agustus 2026 ini membuktikan bahwa industri musik jazz global tidak pernah kehabisan energi kreatif. Dari proyek solo yang intim hingga aransemen orkestra yang megah, setiap karya menawarkan pengalaman auditif yang unik bagi para pendengarnya. Kehadiran album-album ini tidak hanya memperkaya khazanah musik dunia, tetapi juga memberikan inspirasi baru bagi perkembangan musik jazz di masa depan. Pastikan Anda meluangkan waktu untuk mengeksplorasi karya-karya luar biasa ini di platform musik digital favorit Anda.
Jazz
Rifki Soeria dan Neea Rachma Ungkap Karya Baru di WartaJazz
Dua musisi jazz berbakat tanah air, Rifki Soeria dan Neea Rachma, menjadi sorotan utama dalam program WartaJazz Monday Launch edisi 119. Dalam kesempatan ini, keduanya membagikan kisah inspiratif serta proses kreatif di balik pembuatan karya terbaru mereka yang menghadirkan warna segar bagi kancah musik jazz Indonesia.
Melalui obrolan mendalam di panggung WartaJazz, para penikmat musik diajak untuk menyelami latar belakang pembuatan lagu, kolaborasi antar-musisi, hingga eksplorasi genre unik yang mereka usung. Kehadiran karya dari kedua musisi ini semakin memperkaya khazanah musik Tanah Air yang terus berkembang pesat dan semakin inklusif bagi berbagai kalangan pendengar.
Eksplorasi Romansa Bossa Nova dalam Lagu “Berdua Saja”
Rifki Soeria kembali menunjukkan produktivitasnya di belantika musik lewat peluncuran lagu terbaru bertajuk “Berdua Saja”. Dalam karya teranyarnya ini, Rifki menggaet penyanyi Keshya Valerie untuk mengeksekusi sebuah lagu duet yang kental dengan nuansa romantis. Lagu ini memadukan balutan musik Jazz Pop Indonesia dengan sentuhan Bossa Nova yang lembut, menghasilkan sensasi easy listening yang kaya akan nuansa nostalgia.
Gagasan awal penciptaan “Berdua Saja” lahir secara alami dari sebuah obrolan santai di studio antara Rifki Soeria dan Abraham Song. Dari diskusi organik tersebut, terciptalah sebuah komposisi yang merayakan momen-momen sederhana namun penuh kenyamanan saat seseorang jatuh cinta. Tanpa perlu narasi drama yang berlebihan, lagu ini berhasil menangkap esensi kasih sayang yang tulus, hangat, dan menenangkan.
Aransemen yang hangat serta alunan melodi yang mengalir membuat “Berdua Saja” menjadi pendamping yang sangat pas untuk berbagai situasi. Komposisi ini dirancang agar nyaman menemani perjalanan di malam hari, memberikan ketenangan saat beristirahat di rumah, maupun sekadar menjadi musik latar ketika bersantai bersama orang terdekat. Sentuhan Bossa Nova yang elegan berpadu harmonis dengan karakter vokal Keshya Valerie, menciptakan warna musik yang ramah di telinga pendengar awam maupun penikmat jazz setia.
Nuansa Dixieland Segar dalam “Waktu Takut Nonton Film Horor”
Sementara itu, Neea Rachma menghadirkan pendekatan musik yang tidak kalah menarik melalui lagu terbarunya yang berjudul unik, “Waktu Takut Nonton Film Horor”. Tak tanggung-tanggung, dalam proyek ini Neea melakukan kolaborasi lintas negara dengan menggamit pianis kenamaan asal Jepang, Yukako Yamano. Sinergi antara keahlian bermusik kedua seniman ini menghasilkan jalinan nada yang lincah, dinamis, dan penuh energi.
Keindahan lagu ini juga didukung oleh jajaran musisi andal yang mengisi instrumen pendukung. Ricky Firmansyah dipercaya untuk memegang posisi bass yang menjaga ritme tetap stabil, sementara Shaku Hachi mengisi dentuman drum yang mantap. Nuansa khas semakin diperkuat oleh permainan tiupan trompet dari Benn Yapari. Kolaborasi solid ini melahirkan karya bergenre Dixieland—gaya jazz klasik asal New Orleans yang dikenal dengan sifatnya yang riang, penuh improvisasi, serta kaya akan permainan instrumen tiup.
Meski mengusung genre Dixieland yang identik dengan struktur musik kompleks, Neea Rachma dan tim berhasil menyajikannya dengan lirik yang sangat sederhana dan membumi. Pendekatan ini membuat lagu “Waktu Takut Nonton Film Horor” menjadi sangat mudah dicerna oleh berbagai lapisan pendengar. Tema yang unik namun sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari berhasil dibungkus dengan aransemen yang ceria, membuktikan bahwa musik jazz bisa tampil jenaka, menyenangkan, dan tidak selalu terkesan rumit.
WartaJazz Monday Launch sebagai Ruang Apresiasi dan Inspirasi
Program WartaJazz Monday Launch edisi 119 memberikan wadah yang sangat krusial bagi para musisi untuk menceritakan kisah di balik layar dari karya-karya hebat mereka. Melalui platform ini, publik tidak hanya disuguhkan hasil akhir berupa rekaman audio, tetapi juga dibawa untuk memahami perjuangan, eksperimen, dan pemikiran kreatif yang melandasi lahirnya setiap karya seni.
Kehadiran kolaborasi internasional seperti yang dilakukan Neea Rachma bersama Yukako Yamano, serta eksplorasi genre lokal yang dibawakan Rifki Soeria, menegaskan bahwa ekosistem jazz di Indonesia sangat dinamis dan terbuka terhadap berbagai pengaruh positif. Pertukaran budaya dan ide musik seperti ini menjadi bukti bahwa jazz adalah bahasa universal yang mampu menyatukan berbagai elemen seni tanpa batasan geografis.
Bagi para penggemar yang penasaran dengan detail pembuatan lagu, perbincangan seru di dalam studio, serta rencana karier kedua musisi ini ke depan, tayangan WartaJazz Monday Launch edisi 119 menjadi tontonan yang sangat menginspirasi. Kehadiran karya-karya segar ini diharapkan dapat terus memicu semangat para musisi lokal untuk terus berkarya dan memperluas jangkauan musik jazz Indonesia di kancah nasional maupun internasional.
Musik2 minggu agoFeral Stripes Ajak Kabur dari Bumi Lewat “Rocket Ride”
Musik2 minggu agoDuo Billkiss Rilis Single Hipdut Terbaru “Wanna Be With My Bubu”
Metal2 minggu agoMetalSucks Rilis Ulasan Satiris Dave Mustcomplain untuk Album Sigh
Metal2 minggu agoThe 1945 Merilis Video Musik “Roboh” dengan Sentuhan Nu Metal yang Kental
Musik2 minggu agoKumiscacing Merilis Singel Giant Fish untuk Gambarkan Kisah Merantau
- Jazz2 minggu ago
Noah Gilrandy Menghadirkan Workshop Jazz Piano di Festival JAKSTRINGS 2026
- Jazz7 hari ago
Rifki Soeria dan Neea Rachma Ungkap Karya Baru di WartaJazz
Musik7 hari agoRamengvrl Merilis Singel #COWOBARU untuk Menyambut Album Baru






