Jazz
Tohpati Ethnomission Menggelar Konser Intim Mahakarya Ethno-Fusion di Jakarta
Grup musik kontemporer Tohpati Ethnomission sukses menggelar pertunjukan konser intim yang memukau di Teater Wahyu Sihombing, Kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat. Mengusung konsep pertunjukan yang eksklusif dan terbatas hanya untuk 300 penonton, pergelaran ini menjadi sebuah oase kultural di tengah maraknya festival musik berskala masif serta dominasi genre pop arus utama di Tanah Air.
Eksplorasi Musik Tanpa Batas dan Harmoni Lintas Generasi
Dipromotori oleh POS Entertainment, konser ini dirancang secara khusus untuk menghapus batasan jarak antara musisi dan pendengarnya. Suasana teater yang rapat dan hangat berhasil menciptakan sirkulasi energi yang sangat intens sejak nada pertama dikumandangkan. Dalam pertunjukan ini, kuintet Tohpati Ethnomission membawakan setlist yang terdiri dari 11 komposisi padat, di mana seluruh karya tersebut menampilkan peleburan jenial antara aliran progresif jazz-rock dan kekayaan akar tradisi Nusantara.
Sang maestro gitar, Tohpati, memimpin orkestrasi musik dengan penuh kematangan seni. Ia tidak hanya menonjolkan kepiawaian teknis dalam permainan dawai gitar elektriknya, melainkan juga menempatkan instrumennya sebagai mitra dialog yang seimbang bagi alat musik tradisional. Formasi musisi pendukung yang tampil malam itu pun merupakan deretan nama kawakan. Kehadiran Indro Hardjodikoro pada instrumen bas dan Demas Narawangsa pada drum memberikan ketukan ritmis yang presisi dan bertenaga. Sementara itu, denyut tradisi terasa sangat kental lewat sentuhan Endang Ramdan pada kendang serta tiupan suling dan tarompet Sunda yang dimainkan secara menawan oleh Diki Suwarjiki.
Sentuhan Teatrikal dan Kolaborasi Lintas Disiplin Seni
Pertunjukan malam itu terasa kian magis dan kaya akan dimensi estetika berkat hadirnya dua aksi kolaborasi istimewa yang melibatkan cabang seni lain. Salah satu momen paling berkesan hadir ketika Dalang Cilik Kitama Arturo naik ke atas panggung. Dengan tutur kata gaya pewayangan yang khas dan emosional, dalang cilik ini menyuarakan keprihatinan mendalam atas isu lingkungan dan bencana kebakaran hutan untuk mengiringi lagu berjudul “Save The Planet”. Momen ini berhasil menyentuh sisi emosional audiens, membuktikan bahwa musik tradisi dan pesan sosial mampu menyatu secara harmonis.
Selain itu, panggung Teater Wahyu Sihombing juga diramaikan oleh penampilan Penari Widiaastri. Lewat keluwesan dan ketegasan gerak tubuhnya, ia menerjemahkan dinamika nada serta emosi dari komposisi musik bertajuk “Srikandi” ke dalam koreografi visual yang sangat anggun. Kombinasi antara alunan musik etnik-modern, seni tutur wayang, dan seni tari kontemporer ini makin mempertegas kapasitas Tohpati sebagai seorang music director bertangan dingin yang mampu merangkai berbagai unsur pertunjukan dalam presisi akustik teater yang ketat.
Komitmen Menjaga Ekosistem Musik Niche dan Pelestarian Budaya
Langkah berani POS Entertainment dalam memproduksi konser berformat intim untuk genre ethno-fusion ini patut mendapatkan apresiasi tinggi dari para penikmat musik nasional. Di tengah tren industri yang lebih banyak mengejar kuantitas penonton dan keuntungan komersial instan lewat helatan festival berskala raksasa, langkah menghadirkan ruang pertunjukan yang mengedepankan kualitas akustik, kedalaman karya, serta keaslian budaya adalah sebuah fenomena yang langka sekaligus menyegarkan.
Penataan audio dan akustik ruang Teater Wahyu Sihombing dimanfaatkan secara maksimal untuk memastikan setiap detail instrumen—mulai dari dentuman bas yang tebal, kepakan kendang yang rumit, hingga lengkingan tarompet Sunda—dapat terdengar dengan sangat jernih oleh seluruh penonton. Kejujuran tata suara ini membuat kompleksitas aransemen ethno-fusion buatan Tohpati dapat dinikmati secara menyeluruh tanpa ada elemen yang saling menutupi.
Konser intim ini pada akhirnya menjadi sebuah penyataan sikap atau statement penting bagi lanskap industri musik Indonesia. Keberhasilan acara ini membuktikan bahwa pasar untuk musik bernilai seni tinggi dan bernuansa eksistensial tetap memiliki tempat tersendiri di hati publik. Indonesia tidak hanya membutuhkan hiburan massa yang seragam, tetapi juga memerlukan ruang-ruang apresiasi yang eksklusif, intim, dan berkelas untuk merayakan kekayaan tradisi yang dikemas secara modern oleh para musisi virtuoso Tanah Air.