Musik
The Kitty Story Rilis Singel “Singa Padang Pasir” dengan Pendekatan DIY dan Estetika Pixel Art

Band asal Bandung, The Kitty Story, kembali menghadirkan karya terbaru mereka dengan merilis singel berjudul “Singa Padang Pasir” pada 5 Agustus 2026. Singel ini menampilkan formasi lengkap band yang terdiri dari Levy pada vokal, Reza sebagai bassis, Derry sebagai drummer, dan Yuki sebagai gitaris. Dengan rilisan ini, The Kitty Story sekali lagi menunjukkan komitmen mereka terhadap pendekatan DIY (Do It Yourself) yang telah menjadi filosofi inti dalam proses kreatif mereka sejak awal perjalanan bermusik.
Proses Rekaman DIY di Rumah Kakek Buyut
Salah satu aspek yang paling menarik dari pembuatan “Singa Padang Pasir” adalah lokasi rekaman yang tidak konvensional. Alih-alih menggunakan studio musik profesional dengan peralatan canggih, The Kitty Story memilih rumah kakek buyut Levy sebagai salah satu tempat untuk mengerjakan materi singel terbaru mereka. Pilihan ini mungkin terdengar tidak biasa bagi band-band lain, namun bagi The Kitty Story, hal tersebut merupakan bagian dari proses kreatif yang sudah mereka jalani berkali-kali sebelumnya.
Yuki, gitaris band, menjelaskan bahwa proses rekaman DIY sederhana bukanlah hal yang asing bagi mereka. “Sebenarnya The Kitty Story sudah cukup terbiasa dengan proses rekaman DIY sederhana. Kami lebih sering memproduksi musik di bedroom studio dibandingkan di studio musik yang proper, jadi dari sisi proses rekamannya sendiri tidak ada tantangan yang terlalu berat,” ujar Yuki saat dihubungi media. Pengalaman bertahun-tahun dalam menggunakan bedroom studio membuat mereka memiliki keahlian dan adaptabilitas yang tinggi dalam menghadapi keterbatasan fasilitas teknis.
Pendekatan DIY ini bukan sekadar pilihan ekonomis, tetapi juga merupakan refleksi dari nilai-nilai yang dipegang oleh The Kitty Story. Dengan merekam di rumah, mereka mempertahankan kontrol penuh atas proses kreatif dan dapat bekerja dengan kecepatan yang mereka tentukan sendiri. Suasana rumah yang lebih santai dan personal juga memungkinkan mereka untuk bereksperimen tanpa tekanan yang biasanya ada di studio profesional.
Tantangan Utama: Menyeimbangkan Kesibukan Personel
Meskipun aspek teknis rekaman tidak menjadi hambatan signifikan, The Kitty Story menghadapi tantangan yang jauh lebih besar dalam hal koordinasi waktu. Setiap personel band memiliki kesibukan masing-masing yang membuat proses pengerjaan lagu menjadi lebih kompleks. Levy masih memiliki jadwal sekolah yang padat, sementara Reza dan Derry bekerja di Bandung, dan Yuki bekerja di Jakarta. Perbedaan lokasi dan jadwal ini memerlukan perencanaan yang matang agar mereka dapat berkumpul dan bekerja bersama pada waktu yang tepat.
Namun, keterbatasan waktu ini justru menjadi bagian dari dinamika unik The Kitty Story sebagai sebuah band. Alih-alih menganggapnya sebagai hambatan utama yang harus dihindari, mereka menerima situasi ini sebagai realitas yang harus dikelola dengan baik. Proses pengerjaan “Singa Padang Pasir” berjalan sesuai dengan kondisi yang mereka miliki, dengan fleksibilitas yang tinggi dalam penjadwalan dan eksekusi. Pendekatan ini menunjukkan bahwa kreativitas tidak selalu memerlukan kondisi ideal, tetapi lebih membutuhkan dedikasi dan adaptabilitas dari para anggota band.
Estetika Visual: Pixel Art Sebagai Identitas Artistik
Selain aspek musik, “Singa Padang Pasir” juga memperkenalkan pendekatan visual yang kuat melalui konsep pixel art. Pilihan estetika ini bukan sekadar gaya visual yang trendy, tetapi merupakan bentuk apresiasi The Kitty Story terhadap para seniman lokal dan juga cerminan dari minat personal para anggota band. Pixel art, dengan karakteristiknya yang sederhana namun penuh makna, dipilih sebagai bahasa visual yang akan memperkuat identitas singel ini.
Inspirasi visual mereka berasal dari gim-gim klasik yang mereka sukai sejak masa kecil. Yuki menjelaskan, “Saya sangat suka dengan visual pixel art yang terinspirasi dari game Mega Man, Metal Slug, dan Zelda.” Gim-gim tersebut adalah judul-judul ikonik yang telah meninggalkan kesan mendalam pada generasi yang tumbuh besar di era 1980-an dan 1990-an. Dengan mengadopsi estetika pixel art, The Kitty Story tidak hanya menciptakan visual yang menarik, tetapi juga membangun koneksi emosional dengan audiens yang memiliki nostalgia yang sama terhadap gim-gim klasik tersebut.
Pendekatan visual ini membuat “Singa Padang Pasir” hadir sebagai karya seni yang utuh, bukan hanya sebagai lagu yang dapat didengar. Musik dan visual berjalan beriringan, saling memperkuat dan menciptakan pengalaman artistik yang kohesif. Pilihan bentuk yang sederhana dan akrab, namun tetap dekat dengan referensi personal yang mereka miliki, menunjukkan perhatian The Kitty Story terhadap detail dan konsistensi artistik.
Preferensi Pertunjukan: Skala Kecil dan Intim
Dalam hal pertunjukan langsung, The Kitty Story menunjukkan preferensi yang jelas terhadap format yang lebih kecil dan intim. Mereka tidak tertarik pada pertunjukan berskala besar dengan ribuan penonton, melainkan lebih memilih ruang-ruang yang memiliki suasana hangat dan personal. Salah satu venue yang ingin mereka kunjungi adalah Mutual Cherish, sebuah tempat yang menurut mereka memiliki suasana yang cocok dengan karakter pertunjukan yang mereka sukai.
Preferensi ini sejalan dengan filosofi DIY dan pendekatan personal yang telah mereka tunjukkan dalam proses kreatif mereka. Pertunjukan skala kecil memungkinkan interaksi yang lebih dekat dengan audiens dan menciptakan pengalaman yang lebih bermakna bagi semua pihak yang terlibat. Dalam konteks musik indie dan alternatif, format pertunjukan seperti ini sering kali dianggap lebih autentik dan memberikan ruang bagi artis untuk terhubung secara langsung dengan pendengar mereka.
Keterbatasan Sebagai Kekuatan Kreatif
Melalui perilisan “Singa Padang Pasir”, The Kitty Story sekali lagi memperlihatkan bagaimana keterbatasan ruang, waktu, dan fasilitas tidak selalu menjadi penghalang dalam proses kreatif. Justru sebaliknya, keterbatasan ini sering kali mendorong para seniman untuk berpikir lebih kreatif dan menemukan solusi-solusi inovatif. Dari rumah kakek buyut Levy yang menjadi studio rekaman improvisasi, hingga pendekatan pixel art yang terinspirasi dari gim-gim masa kecil, The Kitty Story merangkai singel baru dari berbagai elemen yang dekat dengan kehidupan para personelnya.
Pendekatan holistik ini menunjukkan bahwa musik yang bermakna tidak memerlukan infrastruktur mahal atau fasilitas canggih. Yang lebih penting adalah visi artistik yang jelas, dedikasi terhadap proses kreatif, dan kemampuan untuk mengubah keterbatasan menjadi peluang. The Kitty Story telah membuktikan bahwa dengan strategi yang tepat dan semangat yang kuat, sebuah band dapat menghasilkan karya yang autentik dan berkesan, terlepas dari kondisi eksternal yang mereka hadapi. Singel “Singa Padang Pasir” adalah bukti nyata dari filosofi ini, dan menjadi inspirasi bagi musisi-musisi lain yang mungkin menghadapi tantangan serupa dalam perjalanan artistik mereka.
Metal
Slipknot Isyaratkan Tur Baru Lewat Poster Misterius di Berbagai Negara

Band nu metal legendaris asal Iowa, Amerika Serikat, Slipknot, baru-baru ini mengejutkan para penggemar dengan menyebarkan poster misterius di berbagai kota di benua Amerika. Poster-poster tersebut diduga kuat menjadi isyarat awal bahwa band bertopeng ini akan segera mengumumkan tur dunia terbaru mereka dalam waktu dekat. Kemunculan promosi terselubung ini langsung memicu spekulasi liar di kalangan komunitas pencinta musik keras secara global.
Kode Misterius dan Spekulasi Tanggal Pengumuman
Poster-promosi tersebut dilaporkan telah terlihat di setidaknya sepuluh kota besar yang tersebar di Amerika Utara, Amerika Tengah, hingga Amerika Selatan, termasuk di negara-negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, Kolombia, dan Argentina. Para penggemar yang jeli segera membagikan temuan ini ke berbagai platform media sosial, yang kemudian menjadi viral. Poster tersebut menampilkan sebuah alamat situs web khusus, yaitu unlock.slipknot1.com.
Ketika mengunjungi situs tersebut, pengguna diminta untuk memasukkan data pribadi mereka sebelum akhirnya layar menampilkan angka misterius “9” dan “28”. Banyak pihak meyakini bahwa kombinasi angka ini merujuk pada tanggal 28 September, yang jatuh pada hari Senin, sebagai waktu pengumuman resmi tur baru mereka. Langkah pemasaran gerilya seperti ini sebenarnya bukan hal baru bagi Slipknot, yang kerap menggunakan taktik interaktif untuk membangun antusiasme sebelum merilis proyek besar.
Kontroversi Single Arsenal dan Persiapan Album Kedelapan
Slipknot terakhir kali melakukan perjalanan tur pada musim panas tahun 2025, di mana mereka tampil memukau di sejumlah festival besar di Eropa seperti Rock Am Ring, Rock For People, dan Nova Rock. Setelah menyelesaikan rangkaian konser tersebut, fokus mereka beralih sepenuhnya ke studio untuk menggarap album studio kedelapan mereka. Album ini diproyeksikan menjadi kelanjutan dari album The End, So Far yang dirilis pada tahun 2022 lalu. Pada bulan Juli, gitaris Jim Root mengungkapkan bahwa proses rekaman kali ini melibatkan produser ternama Matt Wallace, yang sebelumnya dikenal lewat karyanya bersama Faith No More.
Namun, langkah menuju album baru ini tidak sepenuhnya mulus. Single terbaru mereka yang berjudul “Arsenal”, yang diproduseri dan di-mix oleh Wallace, menuai reaksi yang sangat beragam dari para pendengar ketika dirilis awal bulan ini. Di platform YouTube, video musik lagu tersebut mendapatkan sekitar 96.000 tanda suka, namun diiringi oleh 68.000 tanda tidak suka, sebuah angka yang menunjukkan polarisasi tajam di kalangan penggemar. Menanggapi kritik tersebut, Jim Root menegaskan bahwa lagu “Arsenal” sebenarnya tidak sepenuhnya mewakili arah musikal dari album baru mereka nanti, dan bahkan tidak akan dimasukkan ke dalam daftar lagu resmi di album tersebut.
Badai Perubahan Personel di Tubuh Slipknot
Selain dinamika musikal, album mendatang juga akan menjadi pembuktian pertama bagi Slipknot setelah mengalami serangkaian perombakan personel yang cukup drastis dalam beberapa tahun terakhir. Badai perubahan ini dimulai pada Juni 2023 ketika band mengumumkan perpisahan dengan pemain sampler dan kibordis kawakan mereka, Craig “133” Jones, tanpa memberikan alasan yang jelas. Posisi Jones kemudian diisi oleh seorang musisi misterius yang identitasnya masih dirahasiakan hingga saat ini.
Kejutan tidak berhenti di situ. Pada November di tahun yang sama, Slipknot secara mendadak memecat drummer Jay Weinberg, yang telah mendedikasikan sepuluh tahun hidupnya untuk menggantikan mendiang Joey Jordison. Weinberg kemudian digantikan oleh mantan drummer Sepultura yang sangat bertenaga, Eloy Casagrande. Tidak berhenti sampai di situ, bulan lalu para penggemar kembali dikejutkan dengan kabar hengkangnya Sid Wilson, sang penata piringan hitam (turntablist) yang telah lama memperkuat identitas sonik Slipknot. Pengumuman kepergian Wilson sempat diunggah secara singkat di media sosial resmi band sebelum akhirnya dihapus, menyisakan banyak pertanyaan yang belum terjawab hingga kini.
Meskipun didera berbagai konflik internal dan perubahan formasi, Slipknot tetap membuktikan diri sebagai salah satu kekuatan terbesar dalam kancah musik metal modern. Kehadiran poster-poster misterius ini tidak hanya membakar semangat para penggemar yang merindukan aksi panggung teatrikal mereka, tetapi juga menandai babak baru yang sangat dinantikan. Dengan formasi baru dan materi album yang sedang dipersiapkan, pengumuman yang diduga kuat akan terjadi pada akhir September ini dipastikan akan menjadi salah satu momen paling disorot dalam industri musik keras tahun ini.
Metal
Nekrogoblikon Siap Rilis Ulang Lagu No One Survives dan Serial Komedi Baru

Band goblin metal asal Amerika Serikat, Nekrogoblikon, membawa kabar gembira bagi para penggemar musik ekstrem dan komedi cadas. Melalui maskot ikonik mereka, John Goblikon, band ini mengumumkan bahwa mereka akan merilis ulang lagu legendaris mereka yang berjudul “No One Survives” serta meluncurkan serial film pendek komedi horor baru pada hari Kamis pekan ini. Langkah ini menandai era baru bagi band yang terkenal dengan konsep unik dan aksi panggung yang jenaka tersebut.
Petualangan Baru John Goblikon dalam Serial “No One Survives: an Uber”
Serial film pendek terbaru ini diberi judul No One Survives… THE SERIES dan akan terdiri dari tiga episode menarik. Episode pertama yang bertajuk “No One Survives: an Uber” dijadwalkan tayang perdana di saluran YouTube resmi mereka, Nekrogoblitube. Dalam episode pembuka ini, kamera akan mengikuti perjalanan harian John Goblikon saat ia menggunakan jasa transportasi daring yang berakhir dengan kekacauan komedi yang mengerikan. John memberikan bocoran bahwa pengemudi Uber yang ia tumpangi adalah salah satu yang terburuk, dan perjalanan tersebut akan berakhir dengan cara yang sangat mengejutkan.
Konsep dokumenter komedi ini sebenarnya merupakan kelanjutan spiritual dari video musik asli “No One Survives” yang dirilis pada tahun 2012 silam. Pada video musik pertamanya, John digambarkan sebagai seorang pekerja kantoran biasa yang mengalami frustrasi berat hingga akhirnya menyerang bosnya yang bernama Brad. Kejadian fiktif tersebut kini sering disebut oleh manajemen John sebagai “bencana HRD terbesar tahun 2012”. Kali ini, alih-alih berfokus pada lingkungan kerja, kru kamera akan menyoroti kehidupan sehari-hari John di luar kantor, memberikan sudut pandang baru yang lebih personal sekaligus absurd bagi para penggemar setianya.
Rekaman Ulang Lagu Legendaris dengan Formasi Baru
Selain proyek film pendek, Nekrogoblikon juga masuk ke studio rekaman untuk menghidupkan kembali lagu yang membesarkan nama mereka di kancah musik internasional. Versi baru dari “No One Survives” ini akan menampilkan formasi terbaru band yang jauh lebih bertenaga. Bagian vokal ekstrem akan diisi oleh Dickie Allen, vokalis berbakat yang juga dikenal lewat proyek deathcore ternama. Sementara itu, bagian chorus yang megah akan dinyanyikan langsung oleh John Goblikon sendiri, memberikan sentuhan vokal bersih yang unik dan melodius.
Lagu “No One Survives” pertama kali dirilis dalam album Stench pada tahun 2012. Video musik aslinya sempat menjadi viral di internet dan menarik perhatian jutaan pencinta musik metal di seluruh dunia. Dengan memadukan melodi death metal yang cepat, elemen kibor yang megah, serta humor yang gelap, lagu ini berhasil mendefinisikan genre “goblin metal” yang mereka usung. Kehadiran versi re-rekaman ini diharapkan dapat memberikan energi baru yang lebih modern tanpa menghilangkan esensi kekacauan menyenangkan dari versi aslinya.
Latar Belakang John Goblikon dan Eksistensi Nekrogoblikon
Bagi para penggemar baru, sosok John Goblikon bukan sekadar maskot biasa. Dalam narasi fiktif yang dibangun oleh band, John adalah seekor goblin nyata yang dikirim oleh orang tuanya dari planet asal mereka ke Bumi demi keselamatan dirinya setelah adanya invasi troll. John mendarat di Reseda, California, sebuah wilayah di dekat Los Angeles yang kemudian menjadi tempat ia merintis karier di dunia hiburan. Perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan, mulai dari mengambil kelas akting malam hari hingga dikeluarkan karena sering menggigit lawan mainnya, menjadi bumbu komedi yang sangat disukai oleh komunitas metal.
Nekrogoblikon sendiri dibentuk pada tahun 2006 di California dan sejak saat itu konsisten merilis musik yang memadukan teknikalitas tinggi dengan tema-tema fantasi yang jenaka. Meskipun sering kali dianggap sebagai band parodi, kualitas musikalitas para personelnya tidak dapat dipandang sebelah mata. Riff gitar yang rumit, ketukan drum yang cepat, serta aransemen simfonik yang megah membuktikan bahwa mereka adalah musisi yang sangat serius dalam menggarap karya mereka, terlepas dari konsep visual mereka yang penuh dengan humor dan kostum goblin.
Pengumuman ganda ini tentu saja memicu antusiasme yang sangat besar di kalangan komunitas musik cadas. Banyak penggemar yang sudah tidak sabar untuk melihat bagaimana interaksi antara John Goblikon dan Dickie Allen di dalam lagu baru tersebut, serta bagaimana kelanjutan kisah komedi horor yang disajikan dalam serial film pendek mereka. Dengan perilisan yang dijadwalkan pada hari Kamis ini di berbagai platform penstriman musik dan YouTube, Nekrogoblikon siap membuktikan bahwa mereka masih menjadi salah satu band paling kreatif di ranah musik metal humoris saat ini.
Musik
AMI Awards 2026 Mengumumkan Kategori Baru dengan Tema Ruang Nada Nusantara

Yayasan Anugerah Musik Indonesia (YAMI) kembali bersiap menggelar ajang penghargaan tertinggi bagi insan musik kreatif tanah air, AMI Awards 2026. Memasuki penyelenggaraan yang ke-29, ajang bergengsi ini hadir dengan membawa semangat baru melalui tema “Ruang Nada Nusantara”. Langkah ini menegaskan komitmen YAMI yang secara konsisten sejak tahun 1996 terus mengapresiasi prestasi luar biasa para musisi Indonesia sekaligus mendorong peningkatan kualitas karya musik di dalam negeri.
Penyelenggaraan AMI Awards tahun ini terasa semakin istimewa karena mendapatkan dukungan penuh dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Antusiasme para pelaku industri musik pun terlihat sangat tinggi sejak pendaftaran karya dibuka secara daring pada 17 Juni hingga 15 Juli 2026. Tercatat sebanyak 5.360 karya, baik dalam bentuk single maupun album yang dirilis pada periode 1 Juli 2025 hingga 30 Juni 2026, telah didaftarkan untuk memperebutkan piala emas prestisius tersebut.
Makna Mendalam di Balik Tema “Ruang Nada Nusantara”
Tema “Ruang Nada Nusantara” yang diusung pada tahun ini bukan sekadar slogan belaka, melainkan sebuah representasi mendalam tentang Indonesia sebagai wadah kreativitas yang tidak pernah kehabisan harmoni. Nusantara digambarkan sebagai ruang dinamis di mana berbagai bunyi saling bertemu dan berinteraksi. Mulai dari musik tradisional yang diwariskan secara turun-temurun dari berbagai daerah, denting instrumen khas daerah, penggunaan bahasa ibu dalam lirik lagu, hingga eksplorasi musik modern yang terus berkembang mencari bentuk-bentuk baru.
Melalui tema ini, AMI Awards 2026 ingin merayakan musik sebagai jembatan yang mempertemukan berbagai perbedaan. Di dalam “Ruang Nada Nusantara”, tradisi dan inovasi dapat saling berdialog dengan harmonis. Ini adalah tempat di mana akar budaya bangsa bertemu dengan kreativitas masa kini, memungkinkan musisi dari berbagai generasi dan latar belakang budaya untuk bersatu dalam satu bahasa universal, yaitu nada. Dengan demikian, setiap karya musik yang lahir memiliki identitas yang kuat dan menjadi bagian penting dari sejarah panjang perkembangan musik di Indonesia.
Penambahan Empat Kategori Baru yang Adaptif
Sebagai bentuk adaptasi terhadap perkembangan zaman dan tren musik yang terus berubah, AMI Awards 2026 melakukan terobosan penting dalam sistem kategorisasi. Berdasarkan hasil Sidang Kategorisasi AMI yang berlangsung ketat pada 22 Juli hingga 2 Agustus 2026, diputuskan bahwa ajang penghargaan tahun ini akan menganugerahkan piala untuk 67 kategori. Dari puluhan kategori tersebut, terdapat empat kategori baru yang secara resmi diperkenalkan kepada publik.
Keempat kategori baru tersebut adalah Album Rap/HipHop Terbaik, Karya Produksi Musik Etno Terbaik, Karya Produksi HipDut Terbaik, dan Karya Produksi Lagu Pesta Timur Terbaik. Penambahan kategori-kategori ini mencerminkan kepekaan YAMI terhadap dinamika genre musik yang sedang digandrungi oleh masyarakat Indonesia saat ini. Misalnya, kehadiran kategori “HipDut” (Hip Hop Dangdut) dan “Lagu Pesta Timur” menunjukkan pengakuan resmi terhadap subgenre lokal yang memiliki basis massa sangat besar dan memberikan warna baru yang segar dalam industri musik arus utama. Sementara itu, kategori “Musik Etno” mempertegas komitmen untuk terus melestarikan dan mengapresiasi karya-karya yang mengangkat nilai-nilai tradisional Indonesia.
Dampak Positif bagi Ekosistem Musik Nasional
Kehadiran AMI Awards selama hampir tiga dekade telah menjadi tolok ukur utama pencapaian prestasi bagi para pelaku industri musik di tanah air. Dengan adanya dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem kreatif nasional. Banyaknya jumlah karya yang terdaftar tahun ini—mencapai lebih dari lima ribu lagu—menjadi bukti nyata bahwa gairah berkarya para musisi Indonesia tidak pernah padam, bahkan terus tumbuh subur di tengah tantangan era digital dan perubahan model bisnis musik global.
Melalui apresiasi yang konsisten seperti ini, para musisi, pencipta lagu, penata musik, hingga label rekaman didorong untuk terus menghasilkan karya dengan standar kualitas yang semakin tinggi. AMI Awards tidak hanya berfungsi sebagai ajang penghargaan, tetapi juga sebagai katalisator yang memotivasi lahirnya inovasi-inovasi baru dalam bermusik. Dengan demikian, industri musik Indonesia diharapkan dapat terus berdiri tegak sebagai tuan rumah di negeri sendiri dan siap bersaing di kancah internasional.
Musik2 minggu agoFeral Stripes Ajak Kabur dari Bumi Lewat “Rocket Ride”
Musik2 minggu agoDuo Billkiss Rilis Single Hipdut Terbaru “Wanna Be With My Bubu”
Metal2 minggu agoThe 1945 Merilis Video Musik “Roboh” dengan Sentuhan Nu Metal yang Kental
Metal2 minggu agoMetalSucks Rilis Ulasan Satiris Dave Mustcomplain untuk Album Sigh
Musik2 minggu agoKumiscacing Merilis Singel Giant Fish untuk Gambarkan Kisah Merantau
- Jazz7 hari ago
Rifki Soeria dan Neea Rachma Ungkap Karya Baru di WartaJazz
- Jazz2 minggu ago
Noah Gilrandy Menghadirkan Workshop Jazz Piano di Festival JAKSTRINGS 2026
Musik2 minggu agoThe Skit Merilis Album Perdana 1000 Kemungkinan tentang Dewasa Muda






