Musik
Yello Artspace Menghadirkan Afterhour Vol. 1 Guna Dukung Musisi Lokal

Yello Artspace bersama dengan Yello Harmoni Hotel kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung industri kreatif tanah air dengan menggelar acara perdana bertajuk Afterhour Vol. 1. Kolaborasi apik ini menggandeng GVU World untuk menghadirkan sebuah ruang kreatif yang mempertemukan berbagai elemen seni, mulai dari musik, komedi, hingga interaksi lintas komunitas. Diselenggarakan sebagai wadah apresiasi bagi para pelaku seni, acara ini sukses menarik perhatian para penikmat musik dan tamu hotel yang hadir.
Pada edisi perdananya, Afterhour Vol. 1 menampilkan deretan talenta berbakat seperti penyanyi pendatang baru Bryan Zparta, duo musik asal Bogor Billkiss, DJ Riva, serta komika Sarif. Kehadiran para penampil ini memberikan warna yang sangat beragam, menciptakan atmosfer yang hangat sekaligus menghibur bagi seluruh penonton yang memadati area pertunjukan.
Mengangkat Keindahan Tema Lagu Timur Punya Cerita
Salah satu daya tarik utama dari gelaran Afterhour Vol. 1 ini adalah pemilihan tema yang sangat kuat, yaitu “Lagu Timur Punya Cerita”. Tema ini sengaja diangkat untuk membawa kehangatan, keunikan melodi, serta narasi mendalam yang menjadi ciri khas dari karya musik Indonesia Timur ke tengah-tengah penikmat musik perkotaan. Musik dari wilayah timur Indonesia dikenal memiliki jiwa yang kuat, harmoni vokal yang indah, serta lirik yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Bryan Zparta, sebagai salah satu penampil utama, berhasil membawakan nuansa tersebut dengan sangat apik melalui karakter vokalnya yang khas. Sementara itu, duo Billkiss asal Bogor memberikan sentuhan eksplorasi musik yang segar, membuktikan bahwa batasan geografis tidak menghalangi para musisi untuk mengapresiasi dan mengadopsi kekayaan budaya dari daerah lain. Kolaborasi ini menciptakan jembatan kultural yang memperkaya pengalaman mendengarkan bagi para audiens.
Tidak hanya menyajikan pertunjukan musik yang emosional, Afterhour Vol. 1 juga menghadirkan hiburan yang bervariasi melalui penampilan DJ Riva yang memanaskan suasana dengan ketukan ritmisnya, serta komika Sarif yang sukses mengocok perut penonton dengan banyolan-banyolan segarnya. Kombinasi antara musik yang menyentuh hati dan komedi yang menghibur membuat acara ini terasa sangat dinamis dan tidak membosankan dari awal hingga akhir.
Sinergi Sektor Hospitality dan Ekosistem Kreatif
Kolaborasi antara Yello Artspace, Yello Harmoni Hotel, dan GVU World ini bukan sekadar acara hiburan biasa, melainkan sebuah langkah strategis untuk membangun ekosistem kreatif yang berkelanjutan. Di era modern ini, hotel tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat menginap, tetapi juga bertransformasi menjadi pusat kegiatan sosial dan budaya. Yello Harmoni Hotel berhasil memanfaatkan ruang yang mereka miliki untuk menjadi wadah interaksi antara seniman, komunitas, industri, dan masyarakat umum.
Bagi para musisi seperti Billkiss, kesempatan tampil di Afterhour Vol. 1 menjadi momentum penting untuk memperluas jangkauan pendengar mereka. Tampil di hadapan audiens yang beragam, termasuk para tamu hotel dari berbagai daerah, memberikan peluang besar bagi mereka untuk memperkenalkan identitas musik mereka secara lebih luas. Hal senada juga dirasakan oleh Bryan Zparta, yang menganggap platform ini sebagai ruang apresiasi yang sangat berharga bagi musisi pendatang baru untuk menunjukkan taji mereka di industri musik yang kompetitif.
Antusiasme yang ditunjukkan oleh para penonton dan tamu undangan sepanjang acara berlangsung menjadi bukti nyata bahwa konsep yang ditawarkan oleh Afterhour Vol. 1 sangat diminati. Penonton tidak hanya duduk diam menikmati musik, tetapi juga aktif berinteraksi dan larut dalam atmosfer kebersamaan yang dibangun oleh para penampil. Respons positif ini memberikan energi tambahan bagi penyelenggara untuk terus mempertahankan kualitas pertunjukan di masa mendatang.
Komitmen Keberlanjutan dan Rencana Masa Depan
Melihat kesuksesan dan animo yang luar biasa pada edisi perdana ini, pihak penyelenggara telah merencanakan Afterhour sebagai program rutin yang akan digelar setiap bulan. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa ruang kolaborasi bagi para musisi dan seniman lokal tetap terbuka lebar secara konsisten. Setiap bulannya, Afterhour akan hadir dengan tema yang berbeda, konsep yang lebih segar, serta kolaborasi dengan talenta-talenta kreatif baru yang tidak kalah menarik.
Dengan menggabungkan konsep pelayanan hotel yang ramah (hospitality), ruang seni yang ekspresif (artspace), dan pertunjukan musik yang intim, Afterhour diharapkan dapat tumbuh menjadi salah satu program ikonik yang selalu dinantikan oleh para pencinta seni di ibu kota. Program ini menjadi bukti nyata bahwa dengan kolaborasi yang tepat, industri kreatif dan sektor pariwisata dapat berjalan beriringan untuk saling mendukung dan memberikan dampak positif bagi perkembangan industri musik tanah air.
Pada akhirnya, Afterhour Vol. 1 telah berhasil meletakkan fondasi yang kuat bagi sebuah gerakan kreatif yang berkelanjutan. Melalui musik, cerita, dan ruang yang inklusif, acara ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menginspirasi banyak pihak untuk terus berkarya dan mengapresiasi keanekaragaman seni budaya Indonesia. Publik kini menantikan kejutan-kejutan baru yang akan dihadirkan pada episode-episode Afterhour selanjutnya.
Musik
Float Gelar Float2Nature 2026 dan Ungkap Tantangan Garap EP Terbaru

Band indie legendaris Indonesia, Float, sukses menyelenggarakan kembali acara tahunan khas mereka, Float2Nature (F2N) 2026, yang kali ini berlokasi di kawasan pantai Batukaras, Jawa Barat. Selain menyajikan petualangan alam dan penampilan musik yang intim, momen ini juga menjadi ajang bagi para personel Float untuk membagikan kisah eksklusif mengenai perjalanan kreatif mereka. Dalam kesempatan tersebut, mereka mengungkapkan proses panjang di balik perilisan mini album (EP) terbaru yang sempat tertunda selama empat tahun akibat berbagai tantangan internal dan eksternal.
Perjalanan Menuju Batukaras dan Aksi Nyata Peduli Lingkungan
Perjalanan Float2Nature 2026 dimulai dari Floatlab yang berlokasi di Gunung Putri. Rombongan yang terdiri dari manajer Float, rekan media nasional, dan tim dokumentasi berangkat menggunakan mikrobus menuju penginapan Los Londos di Batukaras. Meskipun perjalanan memakan waktu lebih lama dari perkiraan karena beberapa kali singgah untuk beristirahat dan makan, antusiasme peserta tidak surut. Setibanya di lokasi, aroma khas udara pantai dan kehangatan sinar matahari sore menyambut rombongan, yang kemudian dilanjutkan dengan sesi pengarahan malam untuk mematangkan agenda hari berikutnya.
Agenda hari pertama dibuka dengan kegiatan Beach Clean Up atau aksi bersih-bersih pantai. Kegiatan ini bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk kepedulian nyata Float terhadap kelestarian alam yang menjadi panggung utama acara mereka. Dari aksi tersebut, sampah plastik dan sedotan menjadi barang yang paling banyak ditemukan pagi itu. Fenomena ini memicu diskusi menarik mengenai efektivitas kampanye antiplastik di perkotaan, yang tampaknya belum sepenuhnya berdampak atau terintegrasi dengan baik di daerah-daerah wisata pesisir. Melalui Float2Nature, Float ingin menyebarkan kesadaran bahwa menikmati keindahan alam harus dibarengi dengan tanggung jawab untuk menjaganya tetap bersih.
Kedewasaan Personal dan Hambatan Kreatif Selama Empat Tahun
Di sela-sela rangkaian acara, para personel Float yang terdiri dari Meng, Binsar, David, dan Timur membagikan kisah di balik mini album terbaru mereka yang bertajuk Constant Changes. Judul ini dirasa sangat relevan dengan perjalanan hidup mereka sebagai manusia, bukan hanya sebagai musisi. Meng, sang vokalis yang kini berusia 52 tahun, mengakui bahwa banyak perubahan besar yang terjadi dalam hidupnya, terutama setelah melewati masa pandemi global. Sementara itu, Binsar dan David sepakat bahwa seiring bertambahnya usia, mereka menjadi lebih bijak dalam menyikapi berbagai hal, beralih dari sekadar menilai benar atau salah menjadi menilai apakah sesuatu itu baik atau tidak untuk dilakukan.
Proses penggarapan EP ini ternyata memakan waktu hingga empat tahun, sebuah durasi yang cukup lama untuk sebuah mini album. Meng mengungkapkan bahwa hambatan terbesar terletak pada penulisan lirik. Sebagai satu-satunya penulis lirik di band sebelum akhirnya berkolaborasi dengan Binsar, Meng sempat mengalami fase di mana ia merasa kesulitan menuangkan ide. Ia merasa kehabisan cerita, atau sebaliknya, memiliki cerita yang terlalu besar untuk diringkas ke dalam sebuah lagu berdurasi beberapa menit. Selain itu, ada beban psikologis untuk tidak mengulangi formula kesuksesan lagu-lagu lama seperti “Sementara” atau “Pulang”, yang justru membuat proses kreatifnya menjadi terhambat oleh ekspektasi diri sendiri.
Strategi Rilis di Era Digital dan Harapan Masa Depan
Dukungan dari sesama personel akhirnya berhasil memecahkan kebuntuan kreatif tersebut. Rekan-rekan satu band meyakinkan Meng untuk kembali ke akar proses pembuatan musik yang organik, yaitu membuat karya yang mereka sukai tanpa terlalu banyak memikirkan teori atau batasan teknis. Hasilnya, Float berhasil merampungkan empat lagu untuk EP ini, yaitu “Yang Kembali Pulih”, “Emily”, “Dimabuk Cahaya”, dan “The Mirror Song (Constant Change)”. Keputusan untuk merilis format EP alih-alih album penuh juga didasari oleh realitas industri musik digital saat ini, di mana platform streaming lebih ramah terhadap format rilisan yang lebih ringkas.
Menghadapi era digital streaming platform (DSP), Float memilih untuk tetap adaptif tanpa kehilangan identitas mereka. Meskipun industri musik kini sangat dinamis dengan tren perilisan singel secara berkala, Float melihat hal ini sebagai peluang tambahan untuk memperkenalkan karya baru kepada pendengar lama maupun generasi baru. Melalui Float2Nature dan karya-karya terbarunya, Float berharap ekosistem musik yang mereka bangun tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga sebuah wadah yang mampu menghidupi orang-orang di baliknya secara berkelanjutan, sekaligus terus menginspirasi para pendengar setianya di seluruh Indonesia.
Metal
Rush Menyumbang 785 Ribu Dolar AS untuk Monumen Peringatan Neil Peart

Grup band rock legendaris asal Kanada, Rush, telah mendonasikan dana sebesar 785.000 dolar AS (sekitar Rp12,4 miliar) guna memastikan pembangunan monumen peringatan permanen untuk mendiang drummer mereka, Neil Peart, di Lakeside Park, St. Catharines, Ontario. Sumbangan luar biasa ini secara resmi menggenapi target penggalangan dana sebesar 1 juta dolar AS yang telah berjalan selama beberapa tahun terakhir. Penyerahan bantuan ini dilakukan langsung oleh dua personel Rush yang tersisa, Geddy Lee dan Alex Lifeson, setelah mereka menyelesaikan rangkaian konser di kota asal mereka di Scotiabank Arena, Toronto.
Hubungan Emosional Neil Peart dengan Lakeside Park
Lakeside Park bukan sekadar taman biasa bagi Neil Peart maupun para penggemar Rush di seluruh dunia. Taman yang terletak di tepi pantai Port Dalhousie ini merupakan tempat di mana Peart menghabiskan masa mudanya, bekerja di musim panas, dan mencari inspirasi kreatif. Pengalaman masa kecil dan remaja di tempat ini begitu membekas di hati Peart, hingga akhirnya menginspirasi lahirnya lagu klasik berjudul “Lakeside Park” yang termuat dalam album ketiga Rush, Caress Of Steel, yang dirilis pada tahun 1975.
Kampanye untuk mendirikan monumen peringatan ini sebenarnya telah dimulai sejak awal tahun 2020, sesaat setelah kabar duka mengenai wafatnya Neil Peart mengejutkan dunia musik. Sebuah petisi daring yang menuntut adanya patung atau plakat penghormatan untuk Peart di Lakeside Park berhasil mengumpulkan lebih dari 20.000 tanda tangan dari penggemar global. Sejak saat itu, pemerintah kota St. Catharines membentuk komite khusus, Neil Peart Commemorative Task Force, untuk merealisasikan aspirasi tersebut melalui penggalangan dana publik.
Sumber Dana dan Desain Monumen yang Megah
Keberhasilan penggalangan dana ini tidak lepas dari kepedulian mendalam para personel Rush dan dukungan setia dari komunitas penggemar. Sebagian besar dana sumbangan dari Rush dikumpulkan melalui hasil penjualan paket VIP selama tur mereka. Selain itu, sang basis dan vokalis, Geddy Lee, juga turut menyumbangkan 1 dolar AS dari setiap tiket yang terjual selama tur promosi buku autobiografinya yang bertajuk “My Effin’ Life” pada tahun 2023 lalu. Sinergi antara band dan penggemar ini membuktikan betapa besarnya pengaruh dan kecintaan publik terhadap sosok Neil Peart.
Monumen peringatan ini nantinya akan digarap oleh seniman patung ternama, Morgan MacDonald, dari Newfoundland Bronze Foundry. Desain monumen ini dirancang dengan sangat personal dan penuh makna, yang akan menampilkan dua patung perunggu Neil Peart dalam dua fase kehidupan yang berbeda. Patung pertama akan menggambarkan Peart sebagai musisi muda yang penuh ambisi, memegang buku dan stik drum—merepresentasikan kecintaannya pada sastra dan musik sejak usia dini. Sementara itu, patung kedua akan menampilkan sosok Peart di masa tuanya, sedang mendekap sebuah drum snare, melambangkan dedikasi seumur hidupnya terhadap dunia perkusi. Proyek seni publik yang monumental ini ditargetkan selesai dan diresmikan pada akhir tahun 2027.
Warisan Abadi Sang Profesor Drum
Bagi dunia musik internasional, Neil Peart bukan hanya seorang drummer dengan teknik permainan yang luar biasa rumit, melainkan juga seorang penulis lirik yang jenius. Julukan “The Professor” yang melekat padanya merujuk pada kecerdasan intelektualnya dalam merangkai kata-kata puitis yang menjadi fondasi lagu-lagu Rush. Kehadiran monumen ini diharapkan tidak hanya menjadi tempat penghormatan bagi keluarga dan kerabat dekat, tetapi juga menjadi destinasi wisata budaya berskala global.
Pemerintah kota St. Catharines meyakini bahwa monumen ini akan meningkatkan daya tarik Lakeside Park sebagai landmark budaya kelas dunia. Dengan adanya karya seni publik ini, para penggemar dari berbagai belahan dunia kini memiliki tempat fisik yang nyata untuk berkumpul, mengenang, dan merayakan warisan musik yang ditinggalkan oleh sang legenda. Keberadaan monumen ini akan memperkuat ikatan emosional antara lirik-lirik lagu Rush dengan tempat bersejarah yang menginspirasinya, memastikan bahwa kontribusi Neil Peart terhadap dunia seni akan terus hidup dan menginspirasi generasi musisi di masa depan.
Metal
Penonton Konser Musik Ramai Membahas Etika Menangkap Crowd Surfer

Dunia musik keras dan festival rock kembali dihangatkan oleh perdebatan sengit mengenai etika penonton dalam menjaga keselamatan sesama pengunjung. Sebuah pengakuan anonim yang dipublikasikan melalui media musik MetalSucks memicu diskusi mendalam mengenai apakah seorang penonton berkewajiban secara moral dan fisik untuk menangkap crowd surfer atau stage diver yang meluncur ke arah mereka di tengah riuhnya konser.
Dilema Fisik dan Risiko Cedera Penonton Senior
Isu ini mengemuka setelah pergelaran festival musik Warped Tour di Long Beach, California, Amerika Serikat, di mana seorang penonton berusia menjelang 40 tahun membagikan pengalamannya. Penonton tersebut mengaku secara sengaja merunduk dan menghindar ketika melihat aksi crowd surfing mengarah kepadanya. Alasan utamanya adalah faktor keterbatasan fisik, suhu udara festival yang sangat terik, serta risiko cedera lutut dan tubuh yang kian meningkat seiring bertambahnya usia penonton.
Dalam pengakuannya, ia menjelaskan bahwa dinamika di area festival telah mengalami perubahan signifikan jika dibandingkan dengan era sebelumnya. Dahulu, para pelaku crowd surfing umumnya memiliki postur tubuh yang relatif mudah ditopang dan diangkat oleh kerumunan. Namun kini, tidak sedikit pelaku aksi tersebut yang memiliki postur tubuh sangat besar dan tinggi, sehingga beban yang ditanggung oleh penonton di bawahnya menjadi berlipat ganda dan berisiko memicu cedera serius pada persendian.
Kondisi fisik di festival luar ruangan yang berlangsung selama berjam-jam di bawah terik matahari turut memperburuk situasi. Berdiri di tengah kerumunan padat dalam durasi panjang membuat stamina penonton cepat terkuras. Ketika energi sudah habis dan kemampuan fisik mulai melemah, menahan beban tubuh orang lain yang jatuh dari atas panggung menjadi sebuah tindakan yang sangat berisiko bagi kesehatan dan keselamatan pribadi.
Antara Kebiasaan Konser dan Hak Keselamatan Pribadi
Secara tradisional, terdapat aturan tidak tertulis dalam budaya konser musik rock, metal, dan punk bahwa area dua pertiga depan panggung merupakan wilayah berisiko tinggi. Penonton yang memilih berdiri di area tersebut kerap dianggap secara implisit telah menyetujui konsekuensi berada di tengah kerumunan, termasuk risiko terkena dorongan, benturan di area mosh pit, hingga kewajiban gotong royong mengangkat crowd surfer agar tidak jatuh terhempas ke tanah.
Namun, pandangan tradisional ini mulai berbenturan dengan kesadaran akan hak keselamatan dan kenyamanan pribadi. Banyak penonton senior yang telah menikmati musik keras selama puluhan tahun merasa bahwa membeli tiket konser tidak seharusnya menempatkan mereka dalam situasi yang membahayakan diri. Mereka hadir semata-mata untuk menyaksikan penampilan musisi favorit secara langsung tanpa harus menanggung risiko terkena pukulan, tendangan, atau kontak fisik berbahaya lainnya.
Keputusan untuk menghindar atau membiarkan crowd surfer jatuh tentu menimbulkan ketegangan di antara penonton di sekitar lokasi. Penonton lain sering kali merasa jengkel karena beban untuk menopang tubuh yang meluncur menjadi lebih berat akibat ada orang yang melepaskan tanggung jawab tersebut. Hal ini menciptakan dilema etis tersendiri di arena konser: apakah tindakan menyelamatkan diri sendiri dapat dibenarkan jika hal itu berpotensi meningkatkan beban dan risiko bahaya bagi orang lain di sekitarnya?
Usulan Aturan Baru dan Masa Depan Etika Festival Musik
Maraknya insiden cedera dan rasa tidak nyaman di arena konser mendorong munculnya berbagai usulan baru di media sosial. Beberapa pengamat dan komunitas penikmat musik bahkan mengusulkan perlunya batasan tertentu bagi mereka yang ingin melakukan crowd surfing, mulai dari pertimbangan pembatasan usia, berat badan, hingga aturan pakaian demi menjaga keselamatan bersama di area kerumunan.
Meskipun usulan pembatasan tersebut relatif sulit untuk diterapkan secara formal oleh penyelenggara acara karena sifat konser yang dinamis dan bebas, munculnya diskusi ini mencerminkan adanya pergeseran cara pandang penonton terhadap keselamatan. Budaya crowd surfing yang dulunya dianggap sebagai simbol kebebasan dan ekspresi kegembiraan yang tak terpisahkan dari konser rock kini mulai dipertanyakan kesesuaiannya dengan standar keselamatan modern.
Pada akhirnya, perdebatan ini membuka ruang refleksi bagi seluruh komunitas penikmat musik keras mengenai pentingnya rasa saling menghormati dan tenggang rasa di area konser. Penyelenggara acara dan para penonton dituntut untuk dapat menemukan titik temu antara mempertahankan tradisi energi konser yang dinamis dengan menjaga batas-batas keselamatan serta kenyamanan fisik setiap individu yang hadir.
Musik2 minggu agoFeral Stripes Ajak Kabur dari Bumi Lewat “Rocket Ride”
Musik2 minggu agoDuo Billkiss Rilis Single Hipdut Terbaru “Wanna Be With My Bubu”
- Jazz1 minggu ago
Rifki Soeria dan Neea Rachma Ungkap Karya Baru di WartaJazz
Musik2 minggu agoThe Skit Merilis Album Perdana 1000 Kemungkinan tentang Dewasa Muda
Musik2 minggu agoLea Simanjuntak Rilis Single Terbaru ‘Ruang Di Hatimu’ Setelah Hiatus
Musik1 minggu agoRamengvrl Merilis Singel #COWOBARU untuk Menyambut Album Baru
Musik2 minggu agoSpeak Up Meluncurkan Single Terbaru Semua Akan Indah Pada Waktunya
Metal5 hari agoJohn Goblikon Menyebut Kebangkitan Musik Nu-Metal Sebagai Sinyal Resesi






