Uncategorized
Masuk ke Lolliverse: Whimsy Bawa 11 Wahana Emosi di Album Debutnya

SEMARANG, 29 Agustus 2026 — Setelah memperkenalkan warna musik mereka lewat tiga single sejak 2023, kuintet story-driven asal Semarang, Whimsy, akhirnya membuka pintu menuju dunianya sendiri lewat album debut Lolliverse yang resmi dirilis pada 28 Agustus 2026.
Berisi 11 track, Lolliverse bukan sekadar kumpulan lagu, melainkan sebuah dunia penuh warna yang mengajak pendengar naik-turun melewati berbagai wahana emosi. Terinspirasi dari permen lolipop yang identik dengan warna dan rasa yang beragam, Whimsy menerjemahkan pengalaman manusia ke dalam musik—mulai dari harapan, kerapuhan, kerinduan, kehilangan, rasa penasaran, hingga penyesalan.
“Setiap manusia punya cerita dan cerita punya suaranya sendiri. Kami mencoba menangkap suara-suara setiap cerita, setiap emosi di dalamnya, lalu kami hadirkan dalam komposisi musik di album ini,” ujar Ferdi Sembodo, drummer Whimsy.
Whimsy yang diperkuat Naora Anindya (vokal), Ferdi Sembodo (drum), Abel Chaska (gitar), Anky Ardy (gitar), dan Rafael Siloam (bass) menyebut gaya musik mereka sebagai lolli-POP!. Di Lolliverse, identitas tersebut semakin mereka eksplorasi tanpa terlalu memusingkan batas genre.
Pop manis bisa tiba-tiba berubah menjadi riuhnya EDM, blues hadir dengan sisi yang lebih menyayat, musik elektronika membawa nuansa euphoric, sementara balada menjadi ruang untuk berhenti sejenak dan melakukan kontemplasi.
Bagi Whimsy, keberagaman tersebut justru menjadi bagian penting dari cerita Lolliverse.
“Manusia tidak hidup dengan satu emosi, mengapa musik harus terbatas?”
Eksplorasi tersebut juga lahir dari proses kreatif yang cukup personal. Lagu-lagu dalam Lolliverse tidak dikerjakan dalam satu periode waktu tertentu. Bagi Whimsy, musik berfungsi seperti buku harian—setiap track menjadi catatan dari cerita, pengalaman, dan fase kehidupan yang dialami para personelnya.
Karena itu, 11 lagu dalam Lolliverse tidak harus didengarkan sebagai satu cerita yang sama. Setiap pendengar bisa menemukan cerita mereka sendiri di dalamnya.
“Kami berharap para pendengar bisa mendapat soundtrack bagi fase-fase hidup mereka di 11 track di album ini,” tutur Ferdi.
Setelah resmi dirilis pada 28 Agustus 2026, perjalanan Lolliverse belum akan berhenti. Whimsy berencana membawa dunia tersebut lebih dekat kepada pendengar melalui perilisan merchandise serta showcase di kota asal mereka, Semarang.
Album Lolliverse kini sudah tersedia di berbagai digital streaming platform.
Whimsy — Lolliverse
11 track. 11 wahana. Satu dunia penuh warna dan emosi.
Instagram: @hai.whimsy
Spotify: Whimsy
YouTube: Whimsy
WH!MSY — Lolliverse Album Credits
Producer: Abel Chaska
Songwriting: Ferdi Sembodo, Abel Chaska, Naora Anindya, Anky Ardy, Rafael Siloam
Lyrics: Ferdi Sembodo, Abel Chaska, Naora Anindya, Anky Ardy, Rafael Siloam
Arrangement: Ferdi Sembodo, Abel Chaska, Naora Anindya, Anky Ardy, Rafael Siloam
Recording: WH!MSY Studio
Editing: WH!MSY Studio
Mixing: Adi Oebant
Mastering: Adi Oebant
Artwork: Sukit.works
Photography: Naufal Ammar & Maulana Akbar
Creative Direction: Naufal Ammar & Ferdi Sembodo
Visual Production: Naufal Ammar, Marvelino Soeparmo, Maulana Akbar, Ferdi Sembodo
Management: Marvelino Soeparmo
Distribution: Irama Records
Publishing: Irama Records
Special Thanks: Gregorius Manurung, Suryani Safitri
Uncategorized
Theo Nugraha Rilis Album Bareng Eks Drummer Sepultura Iggor Cavalera

Samarinda – Theo Nugraha, seniman bunyi asal Samarinda, Kalimantan Timur, kembali membawa karyanya ke skena musik eksperimental internasional. Kali ini, Theo Nugraha terlibat dalam album 4-way split bertajuk “Prosthetic Reality” bersama sejumlah nama dari dunia musik ekstrem.
Album “Prosthetic Reality” dirilis melalui Drama Recorder, label independen yang berbasis di Zaragoza, Spanyol, pada 31 Agustus 2026. Rilisan tersebut mempertemukan empat nama dari berbagai latar belakang musik eksperimental dan ekstrem dari Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Spanyol, dan Indonesia.
Salah satu nama yang menjadi perhatian dalam rilisan ini adalah Iggor Cavalera, mantan drummer sekaligus salah satu pendiri band metal Brasil, Sepultura. Iggor menyumbangkan karya berjudul “Present to be Absent” yang menempati sisi B1 album dengan durasi 10 menit 53 detik.
Selain Iggor Cavalera, Prosthetic Reality juga mempertemukan Black Leather Jesus dari Amerika Serikat dan duo Japanoise Incapacitants dari Jepang. Sementara itu, Theo Nugraha berkolaborasi dengan Savage Doctrine dalam karya berjudul “Distortion Storm”.
Bagi Theo Nugraha, keterlibatan dalam proyek tersebut menjadi salah satu pencapaian penting dalam perjalanan musik eksperimental yang selama ini dijalankannya secara independen dari Samarinda.
Album ini sekaligus memperlihatkan bagaimana jaringan musik bawah tanah dapat mempertemukan seniman dari berbagai negara tanpa harus bergantung pada pusat industri musik konvensional.
Theo Nugraha dan Empat Karya dalam “Prosthetic Reality”
Album Prosthetic Reality berisi empat karya dengan karakter bunyi yang berbeda dari masing-masing artis.
Sisi A1 diisi Black Leather Jesus dari Amerika Serikat melalui lagu “Manic Men” dengan durasi 09:46. Material tersebut melibatkan Sean E. Ramirez, Richard Ramirez, Thomas Puopolo, Anjilla Ulfhednar, Scott Kindberg, Kevin Novak, dan Domokos. Materi tersebut dimixing di Chestnut Ridge Foothills, Pennsylvania, pada 2026.
Sisi A2 kemudian diisi Incapacitants dari Jepang melalui karya “Release of Demon Rice” berdurasi 09:57. Incapacitants terdiri dari T. Mikawa pada elektronik dan vokal serta F. Kosakai pada elektronik dan vokal.
Sementara itu, Iggor Cavalera mengisi sisi B1 dengan karya “Present to be Absent” berdurasi 10:53. Karya tersebut dikomposisi dan direkam Iggor Cavalera di London pada Februari 2026. Proses mixing dan mastering dilakukan oleh BOT di Balance Mixing and Mastering.
Pada sisi B2 terdapat karya Theo Nugraha + Savage Doctrine berjudul “Distortion Storm” dengan durasi 08:00.
Karya tersebut menggabungkan elektronik dan field recording dari Theo Nugraha dengan pengolahan elektronik serta layered sound mix oleh Savage Doctrine. Keduanya terlibat dalam proses komposisi dan rekaman, sementara proses mixing dan mastering dikerjakan oleh Savage Doctrine pada 2026.
Dari Samarinda ke Jaringan Musik Internasional
Keterlibatan Theo Nugraha dalam Prosthetic Reality menjadi contoh bagaimana seniman dari daerah dapat membangun koneksi langsung dengan jaringan musik internasional melalui jalur independen.
Produksi album ini dilakukan oleh Theo Nugraha dan Antonio Drama. Theo Nugraha juga mengerjakan desain artwork sampul depan album.
Pendekatan independen dan Do It Yourself atau D.I.Y. selama ini menjadi bagian penting dalam perkembangan skena musik eksperimental. Melalui jaringan komunitas, komunikasi langsung antarseniman, serta distribusi independen, karya yang diproduksi dari berbagai wilayah dapat terhubung dengan pendengar dan kolektor di negara lain.
Hal tersebut juga menjadi bagian penting dari perjalanan Theo Nugraha yang menjalankan aktivitas musik eksperimental dari Samarinda.
“Samarinda berada dalam frekuensi global,” menjadi salah satu semangat yang dibawa Theo dalam proyek tersebut.
Melalui Prosthetic Reality, aktivitas musik eksperimental dari Kalimantan terhubung dengan jaringan seniman dari Amerika Serikat, Jepang, Spanyol, Inggris, dan negara lainnya.
“Prosthetic Reality” Hadir dalam Format Vinyl dan Kaset
“Prosthetic Reality” tidak hanya dirilis dalam format digital. Drama Recorder juga memproduksi album tersebut dalam dua format fisik dengan jumlah terbatas.
Format pertama adalah 12-inch vinyl 180 gram Multi-Colored Marble Vinyl yang dicetak sebanyak 100 kopi.
Format kedua berupa handmade analog cassette C-40 Ferro yang diproduksi sebanyak 50 kopi.
Kehadiran dua format fisik tersebut memberikan dimensi lain bagi rilisan Prosthetic Reality, khususnya bagi kolektor musik eksperimental dan ekstrem yang masih mengapresiasi format analog.
Dengan jumlah produksi yang terbatas, rilisan fisik ini juga menjadi dokumentasi dari pertemuan empat proyek musik dari berbagai negara dalam satu album.
Album Theo Nugraha, Iggor Cavalera, Incapacitants, dan Black Leather Jesus tersebut kini dapat diakses melalui kanal resmi Drama Recorder di Bandcamp.
Detail Rilisan
Title: Prosthetic Reality
Label: Drama Recorder
Release Date: 31 Agustus 2026
Format: 12-inch Vinyl / Handmade C-40 Cassette
Producer: Theo Nugraha & Antonio Drama
Cover Artwork: Theo Nugraha
Official Bandcamp:
Drama Recorder – Prosthetic Reality
Uncategorized
Fornication Merilis “Suaka Samsara”, Death Metal tentang Kekuasaan, Eksploitasi, dan Sisi Gelap Manusia

Fornication Merilis “Suaka Samsara”, Death Metal tentang Kekuasaan, Eksploitasi, dan Sisi Gelap Manusia
Jogjakarta, Indonesia — 6 Juni 2026 — Fornication, unit death metal asal Jogjakarta yang terbentuk sejak 2016, kembali melanjutkan eksistensinya di ranah musik ekstrem dengan merilis single terbaru berjudul “Suaka Samsara”.
Single ini merupakan bagian dari album debut Fornication yang bertajuk “Birai Delirium”, yang direncanakan akan dirilis pada akhir 2026.
Sebelumnya, Fornication telah merilis sejumlah materi, termasuk Demo II “Deformity” pada 6 Juni 2023 dalam format CD dan streaming online melalui Bandcamp. “Suaka Samsara” menjadi kelanjutan dari perjalanan musikal Fornication dalam mengeksplorasi tema-tema gelap dan realitas sosial melalui pendekatan death metal.
“Suaka Samsara” mengeksplorasi sisi gelap manusia, khususnya bagaimana kekuasaan dapat digunakan untuk mempertahankan dominasi dan mengakumulasi kekayaan. Di balik kebijakan publik, terdapat berbagai bentuk manipulasi sistemik yang pada akhirnya melanggengkan siklus penderitaan, ketidaksetaraan, dan keterasingan.
Melalui lagu ini, Fornication mencoba merefleksikan mekanisme kekuasaan tersembunyi yang terus membentuk sekaligus mendistorsi kondisi manusia.
Proses kreatif “Suaka Samsara” dimulai sejak akhir 2025 oleh Taufik Noor Nugroho (vokal), Fidika Arif Kurniawan (gitar), Adlan Barizzufaruddin (bass), dan Gilang Hardjuna Wibowo (drum).
Dari sisi produksi, proses mixing dan mastering ditangani oleh Hendika Dwi P, drummer dari Alceena Inside dan Death Artery, melalui Endless Gruesome Studio.
Secara musikal, “Suaka Samsara” menggabungkan karakter modern Metalcore bernuansa gelap dengan brutalitas Death Metal. Aransemen lagu ini mendapat pengaruh dari sejumlah band seperti Hour Of Penance, Hideous Divinity, Aborted, Fit For An Autopsy, dan Ingested.
Musiknya dibangun dengan permainan yang padat, traditional blast beat, riff gitar cepat, serta groove yang kuat, menghasilkan intensitas tinggi yang menjadi salah satu karakter utama “Suaka Samsara”.
VIDEO MUSIK
Konsep video musik “Suaka Samsara” turut memperkuat tema yang dibawa oleh lagu. Video tersebut menyisipkan berbagai dokumentasi mengenai sisi gelap manusia dan realitas sosial yang memicu kemarahan masyarakat, mulai dari keserakahan penguasa, pencemaran lingkungan, demonstrasi besar-besaran, pembakaran gedung akibat kebijakan yang dianggap menguntungkan penguasa, hingga persoalan korupsi di Indonesia.
Produksi video musik dilakukan secara mandiri oleh Fornication, mulai dari pembiayaan, penyediaan properti, lokasi pengambilan gambar, hingga proses pengonsepan.
Dalam proses pengambilan gambar, Fornication dibantu oleh Reza dan Krisna, sementara pengarahan produksi serta proses pengolahan video dilakukan oleh Gilang Hardjuna bersama tim.
Melalui “Suaka Samsara”, Fornication tidak hanya menghadirkan sebuah karya death metal dengan intensitas tinggi, tetapi juga membawa refleksi mengenai bagaimana kekuasaan, kepentingan, dan manipulasi sistem dapat memengaruhi kehidupan manusia.
Single ini menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan menuju album debut “Birai Delirium”, sekaligus menegaskan posisi Fornication dalam mengeksplorasi musik ekstrem sebagai medium untuk menyuarakan keresahan terhadap realitas sosial.
BAND MEMBERS
Taufik Noor Nugroho — Vocal
Fidika Arif Kurniawan — Guitar
Adlan Barizzufaruddin — Bass
Gilang Hardjuna Wibowo — Drums
DISCOGRAPHY
The Fallen King Is Rising — Debut Single, 2016
Bangsat Moderat — Single, 2019
Trilogy — Demo, 2020
Sky Burial — Single, 2021
Deformity: Demo II — Demo, 2023
Suaka Samsara — Single, 2026
CONTACT
Juna
Telp/WhatsApp: +62 8953 3899 97853
Email: fornication.ina666@gmail.com
SOCIAL MEDIA
Instagram: @fornication_ina
Facebook: Fornication INA
Twitter: @fornicationINA
YouTube: Fornication INA
MUSIC PLATFORM
Bandcamp: https://fornication666.bandcamp.com
Spotify: https://open.spotify.com/album/3SNjrsOzwCF2YgW7eVVoyj
SoundCloud: https://soundcloud.com/user-335990139
ReverbNation: https://www.reverbnation.com/fornication7
Uncategorized
MAUT Rilis Album Debut “EXTINCTION”: Death Metal sebagai Refleksi Kehancuran Peradaban

MAUT Rilis Album Debut “EXTINCTION”: Death Metal sebagai Refleksi Kehancuran Peradaban
Indonesia, 2026 — Terbentuk pada awal 2024 di Indonesia, MAUT merupakan band death metal yang diperkuat oleh Agung (vokal), Irriszka (gitar), Riyo (bass), dan Arief (drum). Berawal dari sebuah proyek yang lahir dari Komunitas Pangkalan Bun Metal Force dan kecintaan terhadap musik ekstrem, MAUT berkembang dengan satu visi: menyuarakan realitas kelam dunia melalui musik death metal yang brutal, agresif, dan penuh atmosfer.
Sebagai langkah awal memperkenalkan identitas musikalnya, MAUT merilis dua single perdana, “Venomous Dominion” dan “Mass Produced Salvation”. Kedua lagu tersebut menjadi fondasi karakter musik MAUT—riff-riff berat, permainan drum yang intens, vokal brutal, serta lirik yang mengangkat isu kemanusiaan dan kehancuran peradaban modern.
Setelah hampir satu tahun menjalani proses penulisan lagu, penyusunan konsep, dan pengembangan materi, MAUT akhirnya menyelesaikan album penuh pertamanya yang bertajuk EXTINCTION.
EXTINCTION bukan sekadar kumpulan lagu. Album ini merupakan sebuah konsep yang menggambarkan dunia yang perlahan menuju kepunahan akibat keserakahan manusia. MAUT mengangkat berbagai realitas yang terjadi di Indonesia maupun di berbagai belahan dunia, mulai dari perusakan lingkungan, eksploitasi sumber daya alam, kepunahan spesies, kemiskinan, perbudakan modern, perang, hingga genosida.
Setiap lagu menjadi representasi dari sisi tergelap peradaban manusia—sebuah peradaban yang terus menghancurkan kehidupan demi kekuasaan dan keuntungan.
Melalui lirik yang tajam dan musik yang tanpa kompromi, EXTINCTION mengajak pendengar untuk menghadapi kenyataan yang sering diabaikan. Album ini menjadi refleksi sekaligus peringatan bahwa manusia sedang membangun kehancurannya sendiri.
Pertanyaannya bukan lagi apakah kehancuran akan datang, melainkan apakah masih ada waktu untuk menghentikannya sebelum semuanya benar-benar lenyap.
Seluruh lirik dalam album EXTINCTION ditulis oleh Priyanka Agung, yang menerjemahkan berbagai isu sosial, kemanusiaan, dan lingkungan menjadi narasi yang gelap, emosional, dan penuh kritik. Sementara visual artwork album dikerjakan oleh Hakami_SDT, menghadirkan ilustrasi yang merepresentasikan kehancuran, kematian, dan kepunahan sebagai simbol utama konsep album.
Dari sisi produksi, proses rekaman instrumen dilakukan di Kawitan Records Lab, dengan Irriszka sebagai Recording Engineer sekaligus menangani proses mixing untuk membangun karakter suara yang berat, padat, dan agresif. Proses vocal recording serta mastering dikerjakan di Incun Studio, menghasilkan kualitas audio yang tetap brutal namun jelas dan bertenaga.
Dengan EXTINCTION, MAUT menegaskan identitasnya sebagai band death metal yang tidak hanya menawarkan kebrutalan musikal, tetapi juga membawa pesan yang relevan terhadap kondisi dunia saat ini. Album ini merupakan representasi kemarahan, keputusasaan, dan peringatan bagi umat manusia yang terus bergerak menuju jurang kepunahan.
ALBUM CREDITS
MAUT
Agung — Vocals
Irriszka — Guitars
Riyo — Bass
Arief — Drums
Lyrics
Priyanka Agung
Artwork
Hakami_SDT
Recording Studio
Kawitan Records Lab
Recording Engineer & Mixing
Irriszka
Vocal Recording & Mastering
Incun Studio
Musik2 minggu agoFeral Stripes Ajak Kabur dari Bumi Lewat “Rocket Ride”
Musik2 minggu agoDuo Billkiss Rilis Single Hipdut Terbaru “Wanna Be With My Bubu”
Metal2 minggu agoMetalSucks Rilis Ulasan Satiris Dave Mustcomplain untuk Album Sigh
Musik2 minggu agoKumiscacing Merilis Singel Giant Fish untuk Gambarkan Kisah Merantau
Metal2 minggu agoThe 1945 Merilis Video Musik “Roboh” dengan Sentuhan Nu Metal yang Kental
- Jazz2 minggu ago
Noah Gilrandy Menghadirkan Workshop Jazz Piano di Festival JAKSTRINGS 2026
- Jazz7 hari ago
Rifki Soeria dan Neea Rachma Ungkap Karya Baru di WartaJazz
Musik2 minggu agoThe Skit Merilis Album Perdana 1000 Kemungkinan tentang Dewasa Muda






